
Hari ini adalah hari penyelenggaraan pameran lukisan Adelia dan Mika sahabatnya. Terlihat dari luar, beberapa pegawai yang sudah di sewa Adelia menyambut para tamu yang datang melihat pamerannya, sedangkan di dalam, sudah terlihat puluhan lukisan terpampang didinding tembok dengan cat berwarna putih polos. Beberapa pengunjung berdiri melihat lukisan indah yang terpampang di sana.
Sementara Adelia dan Mika berada di dalam sebuah ruangan yang sering mereka tempati untuk bekerja. Saat itu, Adelia membawa anaknya bersama baby sisternya. Di sana juga terlihat Nerissa yang sedang bermain dengan keponakannya itu. Ia berdiri di sana bersama dengan Emir yang sejak tadi berdiri tegak, menjaga Ikrar.
Nerissa sengaja mengambil cuti untuk bisa membantu Adelia menjaga anaknya ketika Adelia disibukkan dengan pamerannya.
Adelia dan Mika bicara tentang pameran yang hari ini mereka selenggarakan, mereka berdua tidak menyangka kalau banyak yang menyukai lukisannya, bahkan sudah ada 20 lukisan yang sudah diambil orang.
Tiba - tiba seorang perempuan masuk ke dalam ruangannya ketika Adelia tengah asyik mengobrol dengan Mika. Wania itu merupakan asisten yang mengurus semua keperluan pamerannya.
"Maaf, mengganggu nyonya," Ucap pegawainya sambil membungkuk hormat di depan Adelia.
Adelia mengangkat kepalanya, melihat pegawainya itu yang sudah berdiri di depan mejanya.
"Ada apa?" Tanya Adelia dengan serius menatap pegawainya itu.
"Ada seorang pembeli yang ingin bertemu dengan Anda." Jawabnya dengan sopan.
"Aku kan sudah bilang padamu kalau aku tidak akan menemui pembeli yang tidak membuat janji terlebih dahulu. Apa aku harus mengulangnya beberapa kali padamu, baru kamu mengerti?" Tanya Adelia mengerutkan keningnya melihat pegawainya itu.
"Maaf nyonya, pria tadi mau bertemu dengan Anda terlebih dahulu sebelum mengambil lukisannya." Jawabnya.
"Siapa namanya?" Tanya Adelia penasaran.
"Dia tidak menyebutkan namanya. Dia pria cacat yang selalu memegang tongkat ditangannya, sepertinya sebelah kakinya tidak sempurna, nyonya."
"Dimana dia?" Tanya Adelia.
"Dia terus berdiri di depan lukisan matahari terbenam yang sudah dia beli." Jawab pegawainya dengan kepala menunduk, tanpa berani melihat Adelia.
"Bawa aku ke sana."
"Baik."
__ADS_1
Adelia menoleh ke arah Nerissa yang tengah sibuk menggendong Ikrar. "Ris, aku ke depan sebentar ya. Tolong jaga Ikrar dulu."
"Iya kak."
Adelia menoleh ke arah Mika. "Apa kamu mau tetap disini?" Tanya Adelia pada sahabatnya.
"Iya, aku masih harus mengerjakan beberapa pesanan yang sudah dibeli orang - orang tadi." Jawab Mika yang masih duduk di kursinya itu.
"Baiklah, kalau begitu aku keluar sebentar ya."
"Iya, keluarlah." Balas Mika sambil tersenyum.
Adelia keluar dari ruangannya bersama pegawai perempuannya tadi diikuti Emir yang berjalan di belakangnya. Tiba - tiba Adelia menghentikan langkahnya saat sadar kalau Emir sedang mendampinginya.
Ia langsung menoleh ke belakang melihat Emir. "Kamu disini saja, temani Nerissa dan Ikrar." Pintanya
"Baik nyonya." Balas Emir sambil membungkuk hormat.
Adelia kembali berjalan keluar dari ruangannya dituntun oleh pegawainya untuk menghampiri lelaki yang tadi ia maksud.
Ia memegang sebuah tongkak di depannya setinggi pahanya. Kaki kanannya terlihat normal, sama seperti kaki kirinya, namun saat berjalan ia harus menahan langkah kaki kanannya dengan tongkak yang ia pegang. Itu karena kaki kanannya masih belum bisa kuat berjalan. Ia berdiri di sana sambil terus menatap lukisannya, terlihat senyum manis dari lelaki itu ketika ia menatap lukisannya. Lelaki itu tak lain adalah Rian, mantan tunangan Adelia.
"Ternyata dia masih ingat dengan ini. Kita pernah berjanji untuk melihat matahari terbenam setelah menikah." Dalam hati Rian.
Adelia mendekati lelaki tadi bersama pegawainya, ia belum sadar kalau yang ingin ditemuinya adalah Rian, mantan tunangannya. Itu karena tubuh Rian membelakangi dirinya.
"Apa Anda yang ingin bertemu dengan saya?" Tanya Adelia memiringkan kepalanya untuk bisa melihat wajah Rian.
Rian tersenyum mendengar suara Adelia, wajahnya terlihat kaget dan senang. Ia kemudian menoleh untuk melihat wanita yang sangat dicintainya itu.
Ia menatap sejenak, kemudian menyapa Adelia. "Hai, apa kabar?" Tanya Rian sambil tersenyum melihat Adelia.
Seketika Adelia terkejut melihat lelaki yang ada di depannya adalah Rian. Begitu syoknya dia sampai melihat Rian dengan mata melotot.
__ADS_1
"Kak Rian." Panggilnya.
"Iya, ini aku sayang. Aku sudah kembali." Ucap Rian sambil tersenyum.
Adelia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya sesaat setelah menatap jelas wajah Rian. Ia sangat - sangat syok melihat Rian berdiri di depannya.
Rian kembali bicara pada Adelia. "Apa kau tidak merindukan aku?" Tanya Rian sambil berjalan mendekati Adelia.
Adelia berjalan mundur ketika Rian mendekatinya. Ia masih sangat syok melihat Rian berdiri di depannya. Ia benar - benar tidak menyangka kalau Rian memang masih hidup. Lelaki yang ia cintai selama 4 tahun, lelaki yang tidak akan pernah ia hianati, lelaki itu sudah kembali. Apa yang harus ia lakukan sekarang pada Rian. Ia terdiam di sana dengan wajah sedihnya melihat Rian. Ingin sekali rasanya ia berlari memeluk lelaki di depannya itu, namun entah kenapa kakinya sangat berat melangkah maju mendekati Rian, bahkan langkah kakinya hanya bisa berjalan mundur menjauhi lelaki di depannya itu.
Rian membentangkan tangannya di depan Adelia. "Kemarilah, peluk aku. Aku merindukanmu Del." Pintanya yang biasa ia lakukan pada wanita yang sangat ia cintai itu. Ia tersenyum sambil membentangkan tangannya di depan Adelia untuk membiarkan Adelia berlari ke pelukannya.
Adelia tampak diam meneteskan air matanya melihat Rian. Ia sangat ingin memeluk lelaki yang ada di depannya itu. Tanpa sadar, langkah kakinya maju sesaat setelah mendengar ucapan Rian, namun seketika terhenti saat ia melihat cincin pernikahannya di jari manisnya. Ia kembali menghentikan langkahnya untuk mendekati Rian.
Ia kembali berjalan mundur, kemudian membalikkan badannya untuk berlari menjauhi Rian sambil menutup mulutnya dengan tangan kanannya, menahan suara tangisannya. Ia berlari keluar dari galeri seninya dengan perasaan sedihnya bertemu Rian. Bukan sedih, karena hal lain, namun ia sedih karena tak sanggup menatap wajah Rian yang selalu tersenyum padanya.
Saat itu, Rian sangat syok melihat Adelia berlari menjauhinya. Tidak tahu apa penyebabnya Adelia seperti itu, pikirnya. Ia pun ikut keluar mengejar Adelia yang sudah berlari menuju parkiran mobilnya.
Ketika Rian diluar, ia sama sekali tidak melihat keberadaan Adelia di sana. Wajahnya sangat kecewa melihat Adelia menjauhinya.
"Adel....Adel.......Adel" Panggilnya dengan keras.
Adelia berada dibelakang mobil mencoba bersembunyi dari Rian. Ia berjongkok di sana sambil bersandar di belakang mobil. Ia menutup mulutnya menahan suara tangisannya yang tak henti - hentinya mengalir di pipinya. Saat itu, Adelia mendengar panggilan Rian, namun ia hanya bisa diam di sana. Ia tak bisa menemui lelaki yang pernah ia cintai. Ia tak bisa melukai hati Rian kalau Rian sampai tahu tentang pernikahannya.
Rian kembali berteriak. "Adel...apa kamu marah padaku. Hah...sampai kamu tidak mau melihatku?" Rian berjalan dengan tongkatnya yang ia pegang, tongkat yang setinggi pahanya itu, tongkat yang menahan langkah kaki kanannya. Ia mencari - cari keberadaan Adelia, ia yakin sekali kalau Adelia masih di sana berusaha sembunyi darinya.
Sementara Adelia terus menangis di sana mendengar teriakan Rian.
"Kak Rian. Apa yang harus kulakukan. Aku tidak bisa menemuimu. Aku sudah bersalah, aku menghianatimu. Aku tidak sanggup kalau melihatmu terluka. Aku malu untuk melihatmu sekarang. Aku wanita yang sudah memiliki anak dan suami. Apa yang harus kukatakan kalau berhadapan denganmu. Aku tidak siap mengatakannya kalau aku mencintai orang lain?" Dalam hati Adelia.
Ia tidak tega kalau ia harus menghancurkan hati lelaki yang pernah ia cintai. lelaki yang tak pernah menyakiti perasaannya selama empat tahun pacaran, lelaki yang selalu menjaga perasaannya.
Rian yang mengelilingi daerah parkir mobil, kemudian menyadari keberadaan Adelia yang sedang bersembunyi di belakang mobil.
__ADS_1
Bersambung.