
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Saat ini Adelia sudah berada di dalam kamarnya. Ia duduk di lantai, tepatnya di samping tempat tidurnya. Ia duduk di sana dengan posisi memeluk kedua lututnya sambil meletakkan kepalanya di kedua lututnya. Ia menundukkan kepalanya dan menangis di sana. Ia mengingat kata – kata Nerissa yang membuat hatinya sangat terluka.
Kata – kata Nerissa terus terngiang – ngiang di kepalanya ketika Nerissa mengatakan, kalau ia hanya bisa hamil dan tidak bisa melakukan apa – apa seperti Jeny, apalagi Nerissa mengatakan kalau dirinya adalah wanita sial yang di tinggal semua orang di cintainya.
“Hiks....hiks...hiks...aku memang wanita yang sial. Semua orang pergi karena aku. Maaf by, aku tidak bisa mengutarakan perasaanku pada hubby, aku takut sekali kalau hubby seperti Rian. Pergi meninggalkanku. Aku tidak mau kehilangan hubby seperti aku kehilangan Kak Rian. Aku mencintai hubby, tapi rasanya berat kalau aku mengatakannya. Aku takut setelah mengatakan itu, tuhan mengambil hubby dariku. Akan lebih baik kalau aku meninggalkan hubby setelah melahirkan. Lebih baik berpisah dari pada tidak melihat hubby untuk selamanya Hiks....hiks....hiks. Aku cuma membawa sial untuk semua orang.” Ucap Adelia sambil menangis sedih.
Rasa cintanya pada Reqy memang sudah ada selama beberapa bulan kehamilannya ini. Kebersamaannya dengan Reqy yang membuatnya mencintai suaminya itu. Perhatian, cinta, kasih sayang yang di berikan Reqy padanya membuat ia mencintai suaminya.
Tapi rasa ketidak percayaan dirinya yang membuat ia tidak mengutarakan perasaannya pada Reqy, di tambah sesuatu yang di katakan Nerissa membuat ia semakin tidak punya harapan untuk mengutarakan perasaannya pada lelaki yang sudah ia cintai itu.
Adelia tidak berhenti menangis di sana, kata – kata Nerissa begitu menusuk di hatinya sampai ia tidak bisa menghentikan tangisannya. Ucapan Nerissa membuatnya tersadar, kalau ia hanya lah wanita yang tidak bisa melakukan apa – apa seperti yang di katakan Nerissa. Ia merasa, kalau ia tidak bisa di bandingkan dengan Jeny dalam hal apapun.
Sementara Reqy yang baru saja sampai di rumah, langsung berjalan cepat ke dalam rumahnya bersama dengan Pak Osmar dan Emir. Ia menghentikan langkahnya saat ia berpapasan dengan salah satu pelayan rumahnya.
“Apa nyonya kalian sudah pulang?” Tanya Reqy.
“Sudah tuan, nyonya tadi langsung naik ke lantai atas.” Jawab si pelayannya itu sambil menunduk hormat.
Reqy bergegas menuju lantai 3 kamar pribadinya, sedangkan Pak Osmar dan Emir hanya berdiri melihat kepergian tuan mudanya itu, tanpa mengikutinya lagi. Mereka berdua mengerti kalau saat ini Nyonya Mudanya hanya butuh Reqy untuk menenangkannya.
Ketika Reqy sudah keluar dari lift rumahnya, ia langsung bergegas menuju kamar pribadinya dengan langkah tegas, tanpa peduli dengan pelayan yang menyapanya saat itu.
Reqy memegang gagang pintunya untuk membuka pintu kamarnya. Tapi karena terkunci dari dalam, membuat ia langsung mengetuk pintu kamarnya.
Tok....tok....tok....
“Del...apa kau di dalam. Biarkan aku masuk sayang?” Tanya Reqy sambil terus memegang dan menggerakkan gagang pintunya.
Adelia yang mendengar suara suaminya, langsung mengangkat kepalanya, kemudian menghapus air matanya di sana. Ia hanya menatap pintu kamar pribadinya tanpa beranjak dari tempatnya tadi.
“Sayang...buka pintunya. Biarkan aku masuk.” Ucap Reqy yang sedikit meninggikan suaranya agar terdengar oleh Adelia.
Tidak ada jawaban di dalam sana. Reqy kemudian menyuruh pelayannya untuk mengambil kunci cadangan kamar pribadinya.
“Hei...cepat carikan kunci cadangan kamar ini.” Perintahnya dengan tegas.
“Baik tuan.” Pelayan yang sejak tadi berdiri tak jauh darinya itu segera mengambil kunci cadangan kamar pribadi Tuan Mudanya.
Tak lama kemudian, pelayan itu kembali membawa kunci cadangan yang di minta Reqy. Reqy segera mengambil kuncinya, kemudian membuka pintu kamarnya di sana.
Sementara Adelia yang merasakan kalau Reqy akan membuka pintu kamarnya, langsung berdiri dan berbaring di kasur sambil menutupi sebagian tubuhnya. Ia memejamkan matanya di sana, karena tak ingin kalau Reqy sampai tahu ia habis menangis sedih di dalam sana.
Reqy masuk ke dalam kamar pribadinya, kemudian berjalan menghampiri istrinya yang tengah berbaring miring di kasur. Ia langsung duduk di tepi tempat tidur, tepat di samping istrinya.
“Sayang, apa kau tidur?” Tanya Reqy sambil mengelus kepala istrinya.
Adelia tidak bergerak atau pun mengeluarkan suaranya untuk menjawab pertanyaan suaminya. Ia hanya diam memejamkan matanya di sana.
Saat itu, Adelia sama sekali tidak tidur, ia hanya pura – pura tidur untuk menghindari Reqy. Ia tidak ingin berhadapan dengan suaminya sekarang, ia lebih memilih tidur daripada harus bicara pada Reqy. Apalagi ia tidak ingin menunjukkan matanya yang masih merah akibat menangis.
__ADS_1
“Adel...apa kau tidak mengganti bajumu dulu baru tidur?” Reqy kembali bertanya ketika sadar dengan pakaian istrinya yang belum di ganti.
Adelia masih diam tak menjawab suaminya.
Reqy yang melihat keadaan istrinya itu, hanya bisa menghela nafasnya dengan pelan. Ia tahu kalau Adelia pasti sakit hati dengan perkataan yang di ucapkan Nerissa. Tapi ia tidak bisa menanayakan itu semua pada Adelia yang lebih memilih tidur di bandingkan bicara padanya.
“Baiklah...kalau kau lelah dan ingin istirahat, aku akan membiarkanmu istirahat. Besok aku akan bicara padamu lagi. Ya.” Ucap Reqy. Ia kemudian mencium kening istrinya dengan lembut. “Selamat malam sayang.”
Setelah mencium istrinya, ia melangkahkan kakinya menuju ruang gantinya. Di sana, ia mengganti setelan jasnya tadi dengan pakaian santai. Selesai berpakaian, Reqy menghubungi Pak Osmar menggunakan telfon genggamnya.
Suara telfon.
“Tuan Muda. Apa Anda butuh sesuatu?” Suara Pak Osmar di balik telfon.
“Paman dimana sekarang?” Tanya Reqy.
“Saya ada di lantai bawah tuan.”
“Tarik kembali apartemen yang aku berikan pada Nerissa, jangan berikan dia apapun.”
“Baik tuan.”
“Besok pagi bawa dia ke hadapanku. Aku akan memberikannya pelajaran yang setimpal karena sudah membuat Adelia sakit hati.”
“Baik tuan.”
Reqy langsung menutup telfonnya, kemudian berjalan keluar dari ruang ganti menuju tempat tidurnya.
“Maaf sayang, karena sudah meninggalkanmu tadi.” Ucap Reqy.
Setelah mengatakan itu, ia kembali mencium kening istrinya, lalu memejamkan matanya di sana.
***
Keesokan paginya.....
Reqy yang masih memejamkan matanya, mulai menggerakkan tubuhnya ke samping kiri. Saat itu, ia ingin memeluk tubuh istrinya. Tapi....tangannya sama sekali tidak merasakan keberadaan Adelia di sampingnya. Ia pun membuka matanya secara perlahan untuk melihat istrinya, apakah masih ada di sampingnya atau sudah bangun?
Seketika Reqy bangun dari tempat tidurnya ketika tidak melihat keberadaan Adelia di sampingnya.
“Adel.....” Panggil Reqy sambil melihat sekeliling kamar , mencari keberadaan istrinya. Ia segera turun dari tempat tidur, kemudian berjalan menuju ruang gantinya.
“Adel.” Reqy kembali memanggil Adelia saat ia sudah berada di ruang ganti. Tapi di sana juga tidak terlihat Adelia. Ia kemudian berjalan cepat ke arah kamar mandi dan langsung membuka pintu kamar mandinya.
“Adel...apa kau di dalam?”
Ia juga tidak melihat keberadaan istrinya di sana.
Reqy kemudian berjalan keluar kamarnya dan menuju ruang lukis istrinya. Ia berpikir kalau Adelia pasti ada di sana.
Selama kehamilan Adelia, Adelia memang selalu menghabiskan waktunya di sana untuk melukis. Dan tentu saja seperti yang di pikirkan Reqy, kalau Adelia pasti ada di sana.
__ADS_1
Ia masuk ke dalam ruang lukis istrinya yang pada saat itu sedang sibuk melukis. Saat itu, Adelia tidak menyadari kedatangan suaminya, karena memang pintu ruangannya terbuka lebar.
Ketika Reqy sudah berada di dekat Adelia, ia langsung memeluk Adelia dari belakang.
Adelia seketika terkejut saat Reqy tiba – tiba saja memeluknya dari belakang.
“Kenapa kau pagi – pagi sudah menghilang. Biasanya kau menungguku bangun baru datang ke sini?” Tanya Reqy sambil mencium pipi istrinya dengan lembut.
“By, tolong tinggalkan aku sendiri. Aku ingin melukis sendiri tanpa di temani.” Pinta Adelia.
“Apa kau marah karena meninggalkanmu sendiri tadi malam. hem?” Tanya Reqy.
“Tidak, aku tidak marah.”
“Lalu...kenapa kau langsung pulang dan tidak menungguku?” Tanya Reqy. Ia terlihat penasaran dengan perasaan yang di rasakan istrinya saat ini.
“Aku lelah jadi aku pulang. Aku juga tidak bisa mengganggu hubby hanya karena kepentinganku sendiri. Memang seharusnya aku tidak datang ke tempat seperti itu. Aku memang pantasnya di rumah saja.” Jawab Adelia.
Reqy mengerutkan keningnya, kemudian melepaskan pelukannya dari Adelia. Ia merasakan ada sesuatu yang mengganggu pikiran istrinya saat ia mendengar kata – kata istrinya tadi, dan itu pasti berkaitan dengan Nerissa.
“Sayang...
Kalimat Reqy langsung terpotong ketika mendengar suara ketukan pintu Pak Osmar.
Reqy menengok ke arah Pak Osmar yang saat itu berdiri di depan pintu. “Ada apa?” tanya Reqy menatap serius Pak Osmar.
“Apa saya boleh masuk tuan?”
“Masuklah.”
Pak Osmar masuk ke dalam dan menghampiri Reqy yang masih berdiri di belakang istrinya. Ia langsung membisikkan sesuatu di telinga Reqy. Saat itu Pak Osmar berbisik tentang kedatangan Nerissa dan Jeny.
“Oke...aku akan ke sana.”
“Baik.” Balas Pak Osmar sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.
Reqy kembali menengok ke arah istrinya.
“Sayang, aku ke ruang kerja sebentar ya.” Ucap Reqy sambil mencium atas kepala istrinya.
“Iya.” Balas Adelia dengan ekspresi biasa.
Reqy berjalan keluar sesaat setelah mendengar balasan istrinya diikuti Pak Osmar yang berjalan di belakangnya saat itu.
Bersambung.
.
.
.Ingat Tekan LIKE ya harus loh. Tulis KOMENTAR kalian di bawah kolom komentar. Punya koin dan poin, silahkan VOTE ya, aku tunggu vote kalian.
__ADS_1
Terima kasih