Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Jadi dia sudah punya tunangan


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Selesai membersihkan dirinya, Adelia turun ke lantai bawah mencari keberadaan Emir. Ia ingin meminta maaf pada Emir tentang masalah suaminya yang menyalahkan Emir.


Ketika di lantai bawah, seorang pelayan datang menghampirinya.


“Permisi nyonya, apa nyonya butuh sesuatu?” Tanya si pelayannya itu.


“Mba lihat Emir.”


“Oh....Tuan Emir” Jawab si pelayannya itu dengan sopan.


“Iya.” Balas Adelia sambil tersenyum.


“Tuan Emir ada di taman belakang nyonya, bersama Dokter Lumi. Apa saya perlu panggilkan Tuan Emir?” Tanya si pelayannya itu dengan sopan.


“Tidak usah mba, biar saya saja yang datang ke sana.”


“Baik nyonya.” Balas pelayannya sambil membungkuk hormat.


Adelia berjalan menuju taman belakang rumahnya. Di sana ia melihat Emir tengah duduk di kursi taman bersama Lumi. Lumi tengah mengobati wajah Emir yang habis di pukul Reqy.


Adelia berjalan menghampiri Emir. “Emir...” panggilnya.


Emir langsung menengok ke belakang melihat Adelia. Ia berdiri menatap Adelia yang berjalan ke arahnya. Lumi juga ikut berdiri di sana.


“Kenapa nyonya bisa datang ke sini?” Tanya Emir penasaran.


Adelia sudah berdiri di depan Emir. “Aku ingin meminta maaf tentang masalah tadi. Itu semua adalah kesalahanku sampai Kak Reqy memukulmu.” Adelia meminta maaf dengan ekspresi bersalahnya.


Emir menyatukan kedua tangannya di depannya, ia berdiri sopan di sana.


“Nyonya tidak perlu meminta maaf pada saya, nyonya tidak salah sama sekali. Saya yang telah lalai dalam menjaga nyonya. Itu memang kesalahan saya, nyonya.”


“Tapi gara – gara aku tidak mengatakan pada Kak Reqy tentang masalah reuninya, kamu sampai di salahkan dan di pukuli seperti ini.”


“Tidak apa – apa nyonya. Pukulan ini sudah kebal pada tubuh saya.” Jawab Emir sambil tersenyum.


“Iya nyonya. Nyonya Muda tenang saja, Emir menguasai beberapa jenis bela diri. Jadi pukulan seperti ini sudah biasa dia terima.” Sahut Lumi sambil menepuk – nepuk bahu Emir, dan tersenyum pada Adelia. Lumi membantu Emir menjelaskan pada Adelia agar Adelia tidak merasa bersalah lagi.


“Iya...tapi tetap saja aku harus meminta maaf karena sudah membuatmu di salahkan.” Balas Adelia.


“Iya nyonya, tidak apa – apa.” Jawab Emir.


Tiba – tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka.


“Maaf mengganggu nyonya.” Ucap si pelayannya itu sambil membungkuk.


“Ya..ada apa?” Tanya Adelia.

__ADS_1


“Tuan Emir di panggil Tuan Muda ke ruang kerjanya sekarang.” Jawab si pelayannya itu dengan tubuh menunduk.


“Baik....aku akan ke sana sekarang.” Jawab Emir sambil melihat si pelayan itu.


Emir kemudian melihat ke arah Adelia. “Permisi nyonya, saya tinggal dulu sebentar.”


“Iya silahkan.” Jawab Adelia sambil tersenyum.


Emir pun meninggalkan Lumi dan Adelia di sana.


Ketika Emir pergi, Lumi mempersilahkan Adelia duduk di kursi tepat di depannya.


“Silahkan duduk nyonya.”


“Iya....terima kasih.” Adelia duduk di sana karena ingin bertanya tentang wanita yang tadi berdiri di depan pintu pagar. Ia ingin menanyakannya pada Emir, tapi Emir tiba – tiba saja di panggil Reqy.


Adelia kemudian berbicara pada Lumi.


“Lumi.”


“Ya nyonya.”


“Apa kamu melihat seorang wanita yang masuk ke sini?” Tanya Adelia. Ia sangat penasaran dengan sosok Nerissa yang terlihat santai saat memanggil Reqy, apalagi yang ia tahu kalau suaminya itu sama sekali tidak memiliki saudara perempuan.


“Wanita seperti apa nyonya?” Lumi berbalik bertanya pada Adelia.


“Ooooo....maksud Anda Nona Nerissa.”


“Iya.”


“Dia sepupu Tuan Muda, anak Tuan Vincent sepupu almarhum Tuan Raiman Abraham.” Jelasnya dengan singkat.


“Oh...Kak Reqy punya keluarga. Aku pikir Kak Reqy hidup sendiri tanpa keluarga.”


“Punya nyonya, tapi Tuan Muda sudah mengusir mereka semua sejak kematian Tuan dan Nyonya Abraham. Tuan Muda juga punya mantan tunangan, namanya Nona Jenny. Nona Jenny itu sekarang jadi sekertaris pribadi Tuan Muda.”


“Hah....mantan tunangan.” Adelia terlihat kaget mendengar ucapan Lumi.


“Iya nyonya, dulu waktu kematian tuan dan nyonya besar. Seisi rumah kacau, Tuan Muda mengusir semua keluarganya dan memutuskan pertunangannya dengan Nona Jenny yang merupakan sepupu Nona Nerissa dari pihak ibu. Itu semua karena Tuan Vincent yang ingin sekali kalau Nona Jenny dan Tuan Muda menikah, tapi karena Tuan Muda tidak percaya dengan Tuan Vincent. Tuan Muda memutuskan hubungannya dan juga pertunangannya. Biar pun Tuan Muda sudah memutuskan pertunangannya dengan Nona Jenny, tapi entah kenapa Nona Jenny bisa menjadi sekertaris pribadi tuan. Padahal Nona Jenny itu termasuk gadis kaya. Orang tuanya punya perusahaan di luar negri, meskipun tidak sebesar perusahaan Abraham.” Jelas Lumi.


Lumi tidak sadar jika ia mengatakan semua masalah pribadi Reqy yang ia tahu pada Adelia. Lumi memang orang yang tidak bisa menjaga hal – hal yang ia tahu, selama itu bukan masalah besar yang harus di sembunyikan.


Adelia terlihat diam setelah mendengar ucapan Lumi.


“Jadi dia sudah punya tunangan, dan tunangannya itu menjadi sekertaris pribadinya. Terus, kenapa dia malah memaksaku menikah dengannya. Dia kan bisa menikahi tunangannya itu.” Dalam hati Adelia yang terlihat gelisah mendengar kata – kata Lumi.


Adelia kembali bertanya. “Apa kalian semua dekat?” Adelia masih penasaran dengan cerita tentang Nerissa dan Jenny.


“Tidak nyonya. Saya tidak terlalu dekat dengan mereka. Nona Nerissa itu tidak mudah percaya pada seseorang, nyonya. Saya mengatakan ini karena Anda bertanya pada saya dan saya harus mengatakan apapun yang saya tahu.” Jawab Lumi sambil tersenyum.

__ADS_1


Tiba – tiba seorang pelayan datang menghampiri mereka berdua.


“Permisi...maaf mengganggu nyonya.” Ucap si pelayannya itu sambil membungkuk hormat.


“Ada apa?” Tanya Adelia.


“Anda di suruh tuan untuk membuat kopi, nyonya.”


“Oh...iya. Aku segera ke sana.” Balasnya sambil tersenyum.


“Baik...”


Pelayannya itu pun pergi meninggalkan mereka berdua.


Saat pelayannya itu masuk ke dalam, Adelia berdiri dari tempat duduknya untuk ikut masuk ke dalam rumahnya.


“Aku masuk dulu ya Lumi.” Ucap Adelia sambil tersenyum.


“Iya nyonya, silahkan.” Balas Lumi sambil membalas senyuman majikannya itu.


Adelia pun pergi meninggalkan Lumi yang masih duduk tersenyum melihat dirinya masuk ke dalam rumah.


Ketika Adelia pergi, Lumi tersadar dengan apa yang ia katakan tadi pada Adelia.


“Ya tuhan....aku tidak salah bicara kan tadi. Nyonya tidak akan salah paham kan tentang Jenny. Mulut ku ini benar – benar tidak bisa di rem. Kalau nyonya gelisah memikirkan ucapanku tadi, bagaimana. Semoga saja nyonya tidak salah paham, lagi pula aku tidak mengatakan hal yang di luar batas.” Gumamnya.


Lumi kembali teringat dengan ucapannya. “Gawat, aku sampai bilang tunangan. Nona Jenny dan Tuan Muda kan tidak sampai mengadakan acara pertunangan. Hanya di jodohkan oleh Tuan Vincent.” Gumamnya.


Lumi menghela nafasnya dengan panjang, wajahnya menunduk di sana.


“Haaa....Lumi...Lumi...mulutmu memang cerewet.” Lumi menyesal mengatakan itu pada Adelia, ia sampai memukul – mukul mulutnya dengan jemarinya.


 


 


Bersambung.


.


.


.


Ingat bayar Dewi dengan tekan LIKE di bawah ya. Harus loh. Tulis KOMENTAR kalian juga sebagai penyemangat dewi. Kalau punya koin dan poin silahkan VOTE ya, berapapun boleh lah yang penting kalian ikhlas. Kalau sampai masuk rangkin 20, alhamdulillah. Itu semua karena kalian. Dewi hanya bisa menulis dan berimajinasi.


 


Terima Kasih dukungannya semua.

__ADS_1


__ADS_2