Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Hamil


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Adelia menatap dirinya di cermin kaca wastafel di depannya. Wajahnya terlihat pucat akibat mual – mual yang ia alami sekarang. Di sana ia menyeka mulutnya yang habis muntah dengan handuk kecil yang sudah ia pegang.


“Kenapa aku tiba – tiba merasa tidak enak saat mencium bau Kak Reqy. Aku langsung mual – mual karena tidak tahan?” Gumamnya.


Reqy yang berada di luar,  mulai menggedor – gedor pintu kamar mandinya ketika ia mendengar suara Adelia yang muntah – muntah di dalam sana, apalagi saat itu Adelia mengunci pintu kamar mandinya.


“Adel, buka pintunya. Biarkan aku masuk.” Teriak Reqy yang saat itu sangat khawatir dengan istrinya. “Adel sayang, buka pintunya. Adel buka, kalau tidak, aku akan mendombrak pintunya sekarang.” Lanjutnya dengan suara yang terdengar keras.


Sesaat setelah Reqy berteriak, Adelia membuka pintu kamar mandinya, melihat Reqy berdiri tepat di depannya dengan mata yang menatapnya dengan khawatir. Kedua bahunya langsung di pegang Reqy saat itu.


“Kau baik – baik saja. Aku mendengarmu muntah – muntah. Kenapa kau mengunci pintu kamar mandinya dan tidak membiarkanku masuk hah?” Tanya Reqy. Ia menghujani banyak pertanyaan pada istrinya yang membuat Adelia tidak punya kesempatan untuk bicara.


“Sebentar, aku akan menghubungi Lumi untuk datang memeriksamu ke sini.” Ucap Reqy. Ia melepaskan tangannya dari bahu Adelia untuk pergi menghubungi Lumi.


 Tiba – tiba tangannya di tarik Adelia ketika ia baru saja berjalan dua langkah. Ia menengok melihat Adelia yang masih memegang tangannya di sana.


“Ada apa?” Tanya Reqy


“Tidak usah by. Aku hanya masuk angin. Tidak apa – apa.”


“Tidak apa – apa bagaimana, kau mual – mual terus dari tadi, kau jangan membantahku terus.” Reqy terlihat mengerutkan keningnya ketika berbicara pada istrinya.


“Baiklah, terserah hubby saja.” Balasnya dengan pasrah. Ia tak berani lagi untuk membantah lelaki arrogant yang sudah menikahinya beberapa bulan yang lalu. Ia tidak ingin membuat Reqy marah – marah lagi.


“Kau tunggu di sini, jangan banyak bergerak.” Reqy kembali bicara ketika melihat Adelia diam di sana.


“Iya.” Balas Adelia.


Reqy saat itu langsung menghubungi Lumi yang berada di hotel bersama dengan Emir, sedangkan Adelia duduk bersandar di kasur sambil memejamkan matanya di sana. Ia merasakan perasaan tidak enak yang membuatnya terus ingin muntah.


Selesai menghubungi Lumi, ia kembali mendatangi istrinya yang duduk bersandar di atas tempat tidurnya. Ia duduk di samping Adelia sambil memegang tangan istrinya dengan lembut. Bola matanya terus menatap wajah pucat Adelia tanpa sekalipun mengalihkannya ke arah lain.


“Adel, bagaimana perasaanmu sekarang. Apa kau masih merasa tidak enak?” Tanya Reqy. Tangan kanannya memegang pipi Adelia dengan lembut, mengelusnya di sana.


Seketika Adelia membuka matanya ketika merasakan tangan hangat suaminya yang menempel di pipinya. Ia kembali menutup mulut dan hidungnya karena tidak bisa menahan bau Reqy saat itu.


Adelia langsung turun dari kasur melewati Reqy yang masih duduk di sampingnya. Ia lalu berlari cepat menuju kamar mandinya sambil menutup mulutnya yang ingin muntah, sedangkan Reqy hanya bisa melihat istrinya dengan heran.


“Kenapa saat aku mendekat dia langsung mau muntah begitu?” Reqy menggerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan untuk mencium bau badannya di sana. “Badanku tidak bau sama sekali, baunya seperti biasa.”


Reqy kemudian berdiri dari tempat duduknya menuju kamar mandi ketika ia lagi – lagi mendengar Adelia muntah – muntah.


Baru saja ia melangkah masuk ke dalam sana, tapi langkahnya terhenti saat Adelia  menahannya dengan tangannya. Saat itu Reqy melihat Adelia duduk berdiri dengan kepala menunduk di wastafel. Di sana ia mual – mual kembali seperti yang ia lakukan tadi.


Reqy terlihat sangat khawatir, ia kembali melangkahkan kakinya ketika tidak tahan melihat Adelia yang terus – terusan muntah di wastafel.


“Hubby, jangan kesini.” Pinta Adelia saat melihat suaminya melangkah ke arahnya.


“Kenapa aku tidak boleh kesitu?” Tanya Reqy sambil mengerutkan keningnya.


“Di sini kotor. Aku sedang muntah.”


Reqy tidak peduli dengan kalimat istrinya yang melarangnya ke sana. Ia tetap berjalan mendekati Adelia yang masih menundukkan kepalanya ke wastafel. Ia memegang rambut panjang Adelia lalu mengangkat rambutnya agar tidak mengganggu istrinya yang saat itu masih mual. Dan tangan satunya mengusap punggung Adelia dengan lembut.


“Kenapa kau bisa seperti ini, apa karena makanan yang kau makan tadi?” Tanya Reqy dengan ekspresi serius dan khawatir.

__ADS_1


“Aku tidak tahu by.”


Adelia mengangkat kepalanya sambil membuang nafasnya di sana. Ia terlihat sangat pucat dan lemah. Ia tidak tahan jika mencium bau suaminya itu, tapi ia tidak bisa mengatakan keluhannya itu yang akan membuat Reqy tersinggung.


“Apa masih mau muntah lagi?” Tanya Reqy.


Adelia hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya di depan Reqy. Seketika Reqy menggendong istrinya sesaat setelah Adelia menggeleng – gelengkan kepalanya.


“Hubby.” Wajah Adelia terlihat kaget melihat Reqy yang tiba – tiba saja menggendongnya saat itu.


Reqy berjalan keluar dari kamar mandi menuju tempat tidur yang letaknya tidak begitu jauh dari kamar mandi mereka. Di sana ia meletakkan tubuh Adelia dengan pelan di kasur.


Dari arah luar, Lumi dan Emir berjalan cepat menuju lantai dua kamar pribadi kedua majikannya itu.


Reqy langsung menyuruh mereka masuk ketika Emir mengetuk pintu kamarnya.


“Apa yang terjadi tuan?” Tanya Emir yang sudah berjalan masuk ke dalam kamar pribadi tuannya. Saat itu ia berjalan menghampiri Reqy yang sudah berdiri melihat kedatangan mereka.


“Lumi...cepat kau periksa dia.” Perintahnya dengan tegas. Reqy tidak menjawab pertanyaan Emir dan hanya bicara pada Lumi yang sudah berdiri di hadapannya.


“Baik tuan.” Jawab Lumi.


Lumi langsung berjalan ke arah Adelia yang saat itu sedang bersandar di kasur dengan sebagian tubuhnya yang tertutupi selimut. Ia duduk di tepi tempat tidur Adelia sambil membuka tas besar yang ia bawa. Di sana ia mulai memeriksa keadaan Adelia ketika selesai mengambil alat – alatnya yang ada di dalam tasnya.


Beberapa saat kemudian, Lumi selesai memeriksa keadaan Adelia. Saat itu, ia menanyakan kapan terakhir Adelia haid? Ia kemudian tersenyum menatap Adelia yang juga ikut melihatnya.


“Lumi ada apa, aku tidak apa – apa kan?” Tanya Adelia.


“Apa nyonya tidak merasakan kalau Ada perubahan dalam diri Anda?” Tanya Lumi.


“Apa maksudmu?” Adelia bertanya maksud ucapan Lumi yang tidak ia mengerti.


“Dia sakit apa?” Tanya Reqy.


Lumi berdiri tegak ketika Reqy tengah bicara padanya dengan wajah tuannya yang terlihat khawatir.


“Selamat Tuan Muda, nyonya sedang hamil tiga minggu.” Lumi tidak menjawab pertanyaan Tuan Mudanya, ia hanya mengucapkan selamat pada Reqy diikuti senyum di bibirnya.


Adelia dan Emir langsung kaget mendengar kalimat Lumi yang mengatakan jika Adelia sedang hamil begitu pun dengan Reqy yang sangat terkejut.


“Kau bilang apa tadi?” Tanya Reqy. Ia memastikan kembali apa yang ia dengar dari dokter pribadi istrinya itu memang benar adanya.


“Nyonya Muda sedang hamil tiga minggu Tuan Muda.” Jawab Lumi dengan wajahnya yang serius menatap tuan mudanya itu.


“Apa! hamil, istriku hamil.” Seketika wajahnya tersenyum lebar dengan ekpsresi yang sangat senang mendengar ucapan Lumi yang ke dua kalinya.


“Iya Tuan Muda. Tapi Nyonya perlu periksa kembali ke dokter kandungan untuk mengetahui lebih jelas lagi tentang usia kandungan nyonya. Saya hanya menerka - nerka berdasarkan perhitungan saya tuan.” Jawab Lumi.


Sementara Adelia yang sejak tadi mendengar pembicaraan mereka, hanya memegang perutnya dengan wajahnya yang juga ikut syok.


“Aku hamil anaknya. Anakku dengan dia. Ya tuhan, aku tidak bisa percaya ini kalau aku benar – benar hamil anaknya.” Dalam hati Adelia.


Reqy kembali bertanya pada Lumi.


“Maksudnya, ada anakku di dalam perutnya?” Reqy terus – terusan menanyakan pertanyaan yang berulang – ulang pada Lumi, karena ia begitu bahagia istrinya hamil, seakan ia tidak percaya kalau ada janin di perut istrinya dan itu adalah janinnya sendiri.


“Iya Tuan Muda.” Lumi kembali manjawab.

__ADS_1


Seketika Reqy langsung memeluk erat istrinya yang masih duduk bersandar di tempat tidurnya.


“Kau dengarkan, kita akan punya anak. Sebentar lagi aku akan jadi ayah,” Ucap Reqy dengan wajahnya yang sangat bahagia. Ia sampai tidak sadar jika pelukannya membuat Adelia tidak nyaman.


“Hubby, aku tidak bisa bernafas. Lepaskan dulu.” Adelia berusaha melepaskan tangan Reqy darinya dengan memegang kedua lengan Reqy.


Reqy melepaskan pelukannya saat mendengar istrinya yang merasa tidak nyaman. Ia kembali berdiri tegak melihat Emir dengan wajahnya yang begitu bahagia mendengar kehamilan istrinya.


“Kau dengar kan, nyonyamu hamil, istriku sedang hamil.” Wajahnya begitu antusias sampai Emir tercengan melihatnya. Itu pertama kalinya Emir melihat Tuan Mudanya yang begitu sangat bahagia selama ia mengikuti bos arrogantnya itu.


“Saya ikut bahagia Tuan Muda. Saya ucapkan selamat kepada Tuan Muda dan Nyonya. Selamat nyonya, sebentar lagi Anda dan tuan akan menjadi orang tua.” Ucap Emir sambil membungkuk hormat di depan kedua majikannya itu.


“Kau atur semua malam ini. Kita akan pulang besok ke Indonesia.” Perintah Reqy.


“Baik tuan.”


“Pergilah!”


“Baik tuan muda.” Emir membungkuk hormat pada Reqy lalu berjalan keluar meninggalkan mereka bertiga.


Ketika Reqy melihat Emir pergi, ia kemudian mengalihkan pandangannya ke arah Lumi. “Dan kau tinggal di sini saja, tidak usah kembali ke hotel.” Tegasnya.


“Baik Tuan Muda.”


“Kau carilah kamar di bawah.”


“Baik, tapi sebelum saya pergi, saya ingin menjelaskan pada Tuan Muda terlebih dahulu, kalau Tuan Muda tidak boleh berhubungan dulu dengan nyonya.”


“Kenapa kau melarangku?” Reqy mengerutkan keningnya menatap heran Dokter Lumi.


“Kondisi Nyonya Muda lemah di awal kehamilannya sekarang. Akan lebih baik kalau kita berjaga – jaga sampai tiga bulan Tuan Muda.” Jelasnya.


“Okay, aku tidak akan melakukan seperti yang kau bilang selama tiga bulan, tapi setelah itu aku boleh melakukannya kan.”


“Iya tuan.”


Adelia langsung kaget dan malu melihat suaminya yang santai saat mengatakan hal tentang hubungan suami istri di depan Lumi. Tidak ada rasa malu yang tampak di wajahnya, hanya wajah serius yang Reqy tunjukkan ketika berbicara pada Lumi.


“Astaga orang ini, apa dia tidak punya rasa malu sama sekali mengatakan itu?” Dalam hati Adelia. Ia sangat malu mendengar suaminya bicara pada Lumi, apalagi dengan ekspresinya yang biasa – biasa saja.


Lumi kemudian mengeluarkan beberapa obat untuk Adelia makan.


“Ini saya resepkan obat mual – mual untuk Anda nyonya. Silahkan di makan nanti agar Anda tidak merasa mual – mual lagi” Ucap Lumi. Ia meletakkan beberapa obat di meja nakas yang ada di samping kasur Adelia.


“Iya, terima kasih Lumi.” Balas Adelia sambil tersenyum.


“Kalau begitu saya permisi turun ke bawah tuan, nyonya.” Ucapnya sambil melihat Reqy dan Adelia secara bergantian.


“Pergilah.”


Lumi kemudian melangkah keluar dari kamar pribadi kedua majikannya sedangkan Reqy duduk kembali di tepi tempat tidur, tepat di samping istrinya.


Bersambung.


.


.

__ADS_1


.


Ingat tekan LIKE sampai berwarna merah ya. Tulis KOMENTAR positif kalian juga di bawah kolom komentar. Kalau Ada kelebihan poin dan koin silahkan VOTE Reqy dan Adelia.


__ADS_2