
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Nerissa turun dari taksi yang ia tumpangi. Ia mendatangi apartemen mewah milik Jeny sepupunya. Ia berdiri menatap bangunan apartemen yang ada di depannya. Ia segera masuk ke dalam apartemennya ketika ia selesai menatap gedung mewah itu.
Saat berada di dalam, ia segera membunyikan bel apartemen Jeny. Dari dalam sudah terlihat Jeny berjalan ke arah pintu apartemennya dengan langkah kaki pelan. Ia membuka pintu apartemennya dan melihat Nerissa di depannya, menatapnya dengan kesal.
“Nerissa...kau sudah pulang. Kapan kau pulang?” Tanya Jeny yang baru melihat Nerissa semenjak kepulangannya.
“Kak Jeny tidak membiarkanku masuk dulu.”
“Oh...iya. Ayo masuk.” Jeny melangkah mundur ke samping membiarkan Nerissa masuk ke dalam apartemennya. Nerissa berjalan masuk ke dalam apartemen Jeny disusul Jeny yang langsung menutup pintu apartemennya.
“Kapan kau kembali. Kenapa tidak beritahu padaku?” Tanya Jeny yang terlihat penasaran dengan kedatangan Nerissa.
Nerissa membalikkan badannya melihat Jeny yang tengah berdiri di belakangnya. Ia melingkarkan kedua tangannya di depan dadanya. Tatapannya begitu kesal melihat Jeny yang terlihat santai.
Jeny kembali bertanya pada Nerissa.
“Ada apa sih. Kenapa kau memasang wajah begitu?”
“Apa Kak Jeny benar – benar mencintai Kak Reqy?” Tanya Nerissa.
Jeny menghela nafasnya lalu berjalan menuju dapurnya diikuti Nerissa yang berjalan mengikutinya di belakang. Di sana ia membuka kulkasnya dan mengambil sebuah botol minuman.
“Kau masih suka dengan minuman ini kan.” Jeny menyodorkan minuman pada Nerissa di atas meja dapur yang membatasi dirinya dengan Nerissa. Nerissa saat itu duduk di kursi tepat di depan meja dapur yang ada di depannya.
Ia tidak meraih minumannya itu dan hanya menatap Jeny dengan serius.
“Jadi Kak Jeny sudah menyerah pada Kak Reqy?” Tanya Nerissa.
Jeny kembali menghela nafasnya sambil meneguk jus yang sudah ia tuangkan di gelas miliknya.
Ia kemudian bicara pada Nerissa tentang pertanyaannya tadi.
“Aku masih mencintai Tuan Reqy, Ris. Selama 5 tahun aku berada di sampingnya, aku tidak pernah mendapatkan perhatian darinya bahkan dia tidak pernah sekalipun memandangku sebagai wanita. Aku hanyalah bawahan di matanya. Bahkan di hari pernikahannya dengan orang yang sudah dia pilih itu, dia tidak mengundangku datang ke sana. Aku tidak tahu apa yang di miliki wanita itu sampai membuat Tuan Reqy ingin sekali menikahinya.” Jeny menjelaskan pada sepupunya dengan kepala menunduk tanpa melihat Nerissa.
“Apa maksudmu?” Nerissa mengerutkan keningnya, ia penasaran dengan kata – kata Jeny.
Jeny mengangkat kepalanya melihat Nerissa di depannya.
“Tuan Reqy memaksa gadis itu untuk menikah, tepat di hari pernikahan gadis itu dengan tunangannya.”
“Kak Jeny tahu dari mana. Kak Reqy tidak mungkin memberitahukan ini pada Kak Jeny kan?” Tanya Nerissa yang semakin penasaran.
“Aku bahkan mengetahui rahasia terbesar Tuan Reqy sampai ia berhasil menikahi gadis yang bernama Adelia. Aku tidak sengaja mendengar pembicaraan Tuan Reqy dan Pak Osmar di kantor.”
“Rahasia apa kak?”
“Maaf Rissa, Kakak tidak bisa mengatakannya padamu. Pak Osmar tahu kalau aku sudah mengetahui semuanya. Dia mengancamku kalau aku membocorkan masalah ini, keluargaku bisa hancur.”
“Terus Kak Jeny akan menyerah begitu saja pada Kak Reqy.” Nerissa kembali bertanya pada Jeny dengan perasaannya pada Reqy.
Jeny menunduk dengan air mata yang seketika mengalir di pipinya. Ia tidak bisa menahan rasa sakit hatinya sekarang. Ia begitu terpukul dengan pernikahan pria yang selama bertahun – tahun ia cintai itu.
Ia kemudian mengangkat kepalanya, menatap Nerissa dengan wajahnya yang sedih.
“Aku bisa apa Ris. Bahkan aku bersyukur kalau Tuan Reqy membiarkanku tinggal di sisinya. Kalau aku terus tinggal di sisinya, mungkin suatu hari dia bisa melihatku. Aku tidak pernah berhenti berharap jika ada keajaiban datang padaku. Aku akan menunggu hari itu, menunggu sampai dia bosan pada istrinya.” Isak tangisnya terdengar jelas di sana.
“Kak Jeny, kau memang wanita yang paling cocok dengan Kak Reqy. Hanya kau yang selalu mencintai Kak Reqy. Tidak ada wanita lain yang bisa sepertimu.” Nerissa menatap Jeny dengan kasihan. Ia bisa merasakan kesedihan di mata sepupunya itu.
“Aku wanita egois kan. Aku bahkan mengharapkan rumah tangga mereka hancur sehingga aku bisa mendapatkan cintaku.” Ucap Jeny diikuti senyum paksa di bibirnya. Ia seakan menertawai dirinya sendiri yang terlihat tidak tahu malu, karena mengharapkan lelaki yang sudah menikah.
“Dari awal memang milikmu. Jadi kau sama sekali tidak egois. Wanita itu yang datang mengganggu hubunganmu dengan Kak Reqy. Aku bisa membantu Kak Jeny menyingkirkannya.” Balas Nerissa.
“Ris...aku memang sangat mencintai Tuan Reqy. Tapi aku tidak bisa berbuat jahat yang bisa menimbulkan banyak kerugian pada orang lain dan diriku sendiri. Kau tahu sendiri kan kalau sifat Tuan Reqy itu seperti apa?”
__ADS_1
“Bukan itu maksudku kak.”
Jeny mengerutkan keningnya melihat Nerissa.
“Terus apa maksud ucapanmu yang ingin menyingkirkan dia. Bukan kah kata itu seperti kau ingin berbuat jahat padanya?”
“Kemarin aku bertemu dengannya secara langsung. Aku bisa merasakan kalau dia tidak senang berada di dekat Kak Reqy. Jadi aku akan membuat dia pergi dengan kemauannya sendiri.”
“Nerissa, jangan bertindak terlalu jauh. Aku tidak mau kalau Tuan Reqy tahu dan semakin membenciku. Apa kau mau kalau Tuan Reqy mengirimmu lagi ke luar negri dan tidak membiarkanmu kembali ke negara ini.” Jeny mencoba memperingati Nerissa agar ia tidak melakukan hal – hal yang bisa membuat Reqy marah.
“Kakak tenang saja. Aku tidak akan berbuat hal yang bisa menyakiti orang.”
“Sudahlah, jangan bahas itu lagi. Sebaiknya kita keluar shopping. Kita sudah lama tidak jalan berdua kan.” Jeny berdiri dari kursinya.
“Iya...sudah lama aku tidak belanja tas bermerek. Tapi Kak Jeny yang membelikanku ya.” Balas Nerissa sambil tersenyum.
“Oke. Aku akan belikan apapun yang kamu mau.”
Nerissa dan Jeny keluar dari apartemen untuk shopping. Mereka naik mobil pribadi Jeny menuju sebuah Mall terbesar di kota itu.
Kota Italia.
Mobil Emir sudah terparkir sempurna di depan Restoran terkenal di Kota Italia. Ia keluar dari mobil dan segera membuka pintu mobil untuk Reqy dan Adelia.
Reqy turun dari mobil duluan lalu membungkukkan badannya melihat Adelia yang masih ada di dalam mobil.
“Ayo turun.” Ajak Reqy. Ia mengulurkan tangannya ke dalam mobil, mengajak Adelia turun dari mobil.
Adelia langsung menatap wajah Reqy dengan heran karena mengulurkan tangannya di depannya. Tak tahu maksudnya apa, karena itu pertama kali ia melihat suaminya begitu. Biasanya Reqy cuek saja dengannya tanpa melakukan hal seperti itu.
Reqy kembali bicara ketika melihat Adelia hanya diam kaku di sana.
“Ayo cepat turun. Apalagi yang kau tunggu.” Pintanya.
“Iya.” Adelia segera menjawab ucapan suaminya. Ia kemudian mengulurkan tangannya, memegang tangan suaminya sambil menggerakkan tubuhnya untuk turun dari mobil.
Ketika di dalam sana, Adelia terus fokus melihat sekeliling restoran yang tampak sepi. Tidak ada satu pengunjung pun yang terlihat di sana.
“Kenapa tidak ada orang. Satu pun tidak ada pengunjungnya. Bahkan di luar tadi tampak sepi. Apa ini Restoran terkenal yang di bilang Kak Reqy tadi?” Dalam hati Adelia yang bertanya – tanya.
Dari depan sudah terlihat sebuah meja yang panjang. Di atasnya sudah di penuhi dengan makanan mewah. Terlihat empat pelayan tengah berdiri di sisi kanan kiri mejanya. Salah satunya memegang sebuah botol anggur yang harganya sangat mahal.
Reqy dan Adelia sudah sampai di depan meja. Adelia sangat kaget melihat begitu banyak makanan mahal di atas meja.
Salah satu pelayan laki – laki segera berjalan ke dekat mereka untuk menarik kursi untuk Adelia. Pelayan itu baru mau memegang kursi tapi di hentikan oleh Reqy.
“Biar aku yang melakukannya. Orang lain tidak perlu melayani istriku.” Perintah Reqy sambil memegang kursinya. Ia menatap dingin si pelayan laki – laki itu. Ia tidak suka jika ada orang yang menarik kursi untuk istrinya sementara ia bisa melakukannya sendiri.
Pelayan itu pun membungkuk hormat lalu berjalan mundur kembali ke tempatnya.
Sementara Reqy menarik kursinya untuk Adelia.
“Duduklah.” Pinta Reqy sambil memegang kursi yang sudah ia tarik.
Adelia menatap suaminya dengan heran.
“Dia kenapa tiba – tiba melakukan hal seperti ini. Ini bisa membuat orang salah paham.” Dalam hati Adelia.
“Kenapa diam saja. Ayo duduk?”
“Iya.” Adelia segera duduk di kursi yang di pegang suaminya.
Ketika Adelia sudah duduk di kursinya, Reqy kemudian melangkahkan kakinya duduk di kursi yang berhadapan dengan istrinya. Ia tersenyum senang bisa melakukan hal kecil seperti itu pada Adelia.
“Hanya menarik kursi untuknya membuatku sangat senang. Aku benar – benar sudah gila di buatnya.” Dalam hati Reqy.
__ADS_1
Ia duduk di kursinya, menatap Adelia yang terlihat bingung melihat sekeliling restoran. Ia tahu jika Adelia sekarang sedang heran dengan apa yang di lihatnya.
“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu, katakan saja.” Ucap Reqy.
Adelia langsung menatap suaminya dengan serius.
“Kenapa kita cuma berdua saja kak. Bukannya ini restoran terkenal di sini, kenapa tidak ada satu pun pengunjungnya ?” Tanya Adelia dengan penuh penasaran.
“Aku sengaja memesan restoran ini secara pribadi. Aku tidak suka ada gangguan ketika aku sedang makan bersamamu.”
Sejak tadi Adelia selalu di buat bingung setiap Reqy berbicara padanya. Ia tidak mengerti kenapa suaminya tiba – tiba bersikap lembut padanya. Ia butuh penjelasan tapi ia takut bertanya langsung pada Reqy yang selalu menatap dingin padanya. Ia ingin bertanya, kenapa Reqy bersikap seperti itu?
Reqy kembali bicara pada istrinya.
“Apa kau tidak suka dengan semua yang aku lakukan ini?” Tanya Reqy dengan ekspresi datarnya. Ia penasaran dengan pendapat istrinya. Ia sengaja melakukan semua ini karena ingin berdua saja dengan istrinya.
“Apapun yang Kak Reqy lakukan. Aku suka, senang.” Jawab Adelia.
“Kalau kau tidak suka di sini. Aku bisa membawamu ke restoran yang lain.”
Adelia segera membalas ucapan suaminya dengan wajahnya yang tersenyum.
“Tidak....tidak. Aku suka kok di sini.”
“Baguslah kalau kau suka. Aku takut kalau kau tidak suka hal seperti ini.”
“Aku suka kok.”
“Ayo makan, aku memesan semua makanan enak yang ada di sini.”
“Kenapa Kak Reqy memesan begitu banyak makanan?” Tanya Adelia sambil melihat suaminya yang menyodorkan makanan di depannya.
“Aku tidak tahu apa yang kau suka jadi aku memesan semuanya?” Balas Reqy tanpa melihat istrinya dan hanya fokus mengambil makanan ke piringnya.
“Kita kan bisa memesan ketika kita di sini.”
“Aku tidak suka menunggu.”
“Oh.”
“Makanlah. Katakan kalau makanannya tidak enak.”
“Iya.”
Adelia melihat makanannya yang begitu banyak. Ia tidak sanggup kalau harus menghabiskan semuanya.
“Ya tuhan...orang ini suka sekali menghambur – hamburkan uangnya. Makanan sebanyak ini mana bisa di habiskan dua orang. Ini sih makanan yang bisa di habiskan puluhan orang. Aku benar – benar lelah di buatnya. Tapi itu bukan urusanku, terserah dia mau menghabiskan uangnya.” Dalam hati Adelia.
Reqy sudah mulai makan. Ia tiba – tiba melihat Adelia yang terlihat diam tanpa menyentuh makanannya dan hanya melihat makanannya saja.
“Kenapa kau tidak makan?” Tanya Reqy membuyarkan lamunannya.
“Ya.” Adelia seketika kaget. “Aku baru mau makan kak.”
Adelia pun mulai meraih makanan ke piringnya. Ia mulai menikmati makanannya di sana. Sesekali ia mencuri – curi pandang suaminya yang terlihat serius menguyah makan malamnya.
 
Bersambung.
.
.
Tekan LIKE di bawah ya sampai berwarna merah. Berikan KOMENTAR positif kalian buat author, karena dewi suka baca - baca komentar kalian kalau lagi malas nulis. Komentar kalian selalu membuatku semangat berimajinasi. Boleh lah VOTE novelku biar dapat Ranking gitu loh. hihihi.
__ADS_1
Terima Kasih semua.