Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Restu Pak Ferdi


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Pukul 10:00 pagi.


Adelia menunggu kedatangan Rian yang sudah ia hubungi tadi malam untuk datang pagi ke rumahnya.


Ia terus mondar – mandir di kamarnya. Wajahnya terlihat gelisah menunggu Rian.


“Ya tuhan..... Semoga saja Kak Rian datang tepat waktu. Paman dan bibi sampai tidak pergi bekerja hanya untuk bertemu dengannya.” Gumamnya.


Tiba – tiba....Bu Susan datang mengetuk pintu kamar Adelia.


Tok....tok....tok.....suara ketukan pintu. “Adelia...”


Dengan sigap, Adelia membuka pintu kamarnya.


“Ada apa bi?”


“Ada laki – laki yang datang ke rumah, sepertinya itu pacarmu.”


Wajah Adelia langsung kaget. “Apa...dia dimana sekarang bi?”


“Dia ada di luar duduk bersama pamanmu.”


Adelia langsung keluar dari kamarnya tanpa membalas ucapan bibinya. Ia berjalan ke Ruang Tamu diikuti bibinya dari belakang.


“Gawat....kenapa Kak Rian tidak mengirim pesan dulu kalau sudah datang?” Dalam hati Adelia sambil berjalan ke arah pamannya.


Ketika sampai di sana, Adelia langsung duduk di samping Rian sambil memegang tangan Rian.


“Kak Rian...kenapa kamu tidak kirim pesan dulu kalau sudah ada di rumah. Aku kan bisa keluar menjemputmu.” Bisiknya pada Rian.


“Adel....jaga sikapmu.” Sahut Pak Ferdi melihat Adelia yang begitu dekat dengan Rian.


Dengan sigap, Adelia duduk menjauh dari Rian.


“Kemarilah...duduk di samping paman.” Sahut Pak Ferdi melihat ke arah keponakannya.


Adelia berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah pamannya. Ia duduk di samping bibinya tanpa membantah sekali pun.


Pak Ferdi kemudian berbicara pada Rian yang duduk di depannya.


“Sudah berapa lama kamu pacaran dengan Adelia?” Tanya Pak Ferdi dengan serius.


“Sudah hampir empat tahun, om.” Jawabnya dengan sopan.


“Apa yang kamu sukai dari Adelia?” Tanya Pak Ferdi dengan tegas.


“Adelia adalah gadis yang baik, om.”


“Apa kamu tahu kalau Adelia itu tidak pernah mendapatkan perlakuan kasar. Dari kecil kami selalu memanjakan dia?”


“Saya tahu semua tentang Adelia, om. Kelebihan dan kekurangannya, saya tahu. Om Ferdi tidak perlu khawatir tentang Adelia. Saya akan membahagiakan dia selama saya masih ada.”


“Apa kamu masih punya orang tua?” Tanya Pak Ferdi serius.


“Iya...orang tua saya masih ada, om. Tapi mereka bukan orang kaya, kami cuma keluarga sederhana, om. Meskipun kami sederhana tapi saya bisa membuat hidup Adelia nyaman. Saya baru saja menyelesaikan kuliah kedokteran saya di Amerika. Saya bisa menjamin kehidupan bahagia untuknya di masa depan.”


“Apa orang tuamu mengetahui tentang hubunganmu dengan Adelia?”


“Sudah om. Orang tua saya sudah menyerahkan semua keputusannya pada saya apalagi orang tua saya sudah pernah bicara pada Adelia meskipun cuma lewat Video Call.”

__ADS_1


Pak Ferdi diam sejenak mendengar ucapan Rian. Adelia terlihat khawatir melihat pamannya yang diam saja. Ia ingin bicara tapi di tahan Bu Susan. Akhirnya, ia diam kembali melihat pamannya yang diam melihat Rian. Sesekali Adelia melihat ke arah Rian. Rian hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya dengan pelan menyuruh Adelia untuk tidak khawatir.


Sedangkan Pak Ferdi yang diam bukan menandakan kalau dia tidak setuju. Ia hanya menenangkan dirinya sejenak sebelum mengambil keputusan.


Pak Ferdi kemudian menghela nafasnya dengan pelan sambil memejamkan matanya. Ia lalu bicara pada Rian.


“Paman akan merestuimu untuk menikah dengan Adelia.”


Adelia langsung kaget mendengar ucapan pamannya yang merestui hubungan mereka begitu pun dengan Rian. Tapi Rian saat itu hanya tersenyum, ia berusaha menahan rasa senangnya di depan Pak Ferdi untuk menjaga kesopannya.


Adelia kemudian berbicara pada pamannya.


“Paman serius merestui kita.”


“Iya...tapi sebelum itu, paman ingin mengatakan sesuatu pada Rian.” Sambil melihat ke arah Rian.


“Silahkan paman.” Balas Rian.


“Kalau aku menyuruhmu menikah lusa. Apa kamu setuju?” Tanya Pak Ferdi dengan wajahnya yang serius.


Rian dan Adelia langsung syok mendengar ucapan Pak Ferdi begitu pun dengan Bu Susan.


Adelia kemudian angkat bicara.


“Paman...kami memang mau menikah tapi tidak secepat itu juga. Aku juga belum bertemu dengan keluarga Kak Rian.”


“Bukan kah kamu ingin menikah dengan pacarmu.” Ucap Pak Ferdi sambil melihat ke arah Adelia.


“Iya paman. Tapi ini terlalu cepat. Kak Rian....


Dengan sigap, Rian memotong pembicaraan Adelia. “Aku siap om.” Dengan wajahnya yang serius.


“Kak Rian....kamu juga jangan langsung setuju begitu saja. Ini masalah pernikahan satu kali dalam seumur hidup. Lusa itu terlalu cepat, banyak yang harus kita persiapkan. Orang menikah itu butuh waktu satu bulan persiapan.”


“Paman hanya ingin tahu keputusan apa yang di ambil Rian kalau paman bilang akan menikahkan kalian lusa. Tapi dia langsung menyetujui tanpa bergeming. Sekarang Paman sudah tahu dengan keseriusan kalian berdua.”


Ia kemudian melihat ke arah Rian. “Bawalah kedua orang tuamu besok datang ke rumah.”


“Baik om.”


“Minumlah teh mu.” Pintanya.


“Baik.” Sambil meraih cangkir teh yang ada di depannya.


Rian pun meminum teh yang sudah di bawakan Bu Susan tadi ketika Rian baru datang.


Setelah mendapat restu dari paman dan bibi Adelia. Adelia minta izin paman dan bibinya keluar bersama Rian untuk keliling kota menemani Jhon, teman Rian. Pamannya pun mengizinkan mereka pergi dengan satu syarat kalau Adelia harus kembali sebelum petang.


Ketika mereka pergi, Pak Ferdi masuk ke dalam kamarnya untuk menghubungi Tuan Osmar.


Suara Telfon.


“Halo....selamat siang, Pak Osmar.”


“Ya..siang.”


“Saya Pak Ferdi.”


“Oh...Pak Ferdi. Bagaimana dengan Nona Adelia pak?”


“Apa saya boleh bertemu pak. Saya ingin membicarakan tentang lamaran Tuan Reqy.”

__ADS_1


“Pak Ferdi bicara saja di telfon. Tidak apa – apa. Tuan ingin mengetahui keputusannya sekarang?”


Tanpa berbasa – basi...Pak Ferdi langsung mengatakan intinya.


“Begini Pak Osmar. Saya menghubungi bapak untuk mengatakan kalau Adelia tidak setuju dengan lamaran Tuan Reqy.”


“Ini bagaimana sih Pak Ferdi. Saya kan sudah pernah bilang kalau Tuan Muda tidak ingin mendengar penolakan dari nona.”


“Tapi pak. Anak saya tidak menyetujuinya. Saya tidak bisa memaksanya untuk menikah.”


“Maaf Pak Ferdi...saya tidak bisa menerima keputusan Anda ini. Tuan Muda tidak bisa menemui Anda sekarang karena beliau ada di Inggris. Saya ada di sini dan tidak menemani Tuan Muda karena menunggu keputusan Anda. Tuan Muda hanya berpesan pada saya untuk memberitahu Anda kalau bulan depan Tuan Muda akan datang sendiri ke rumah Anda untuk membicarakan masalah pernikahannya sekaligus bertemu dengan Adelia. Sebaiknya Pak Ferdi tidak menolak pernikahan ini kalau tidak Tuan Muda bisa melakukan apa saja untuk membuat Adelia menikah dengannya.”


Pak Ferdi tidak bisa mengatakan apa – apa mendengar ucapan Pak Osmar yang terdengar sangat memaksa.


“Pak Ferdi....apa Anda mendengar saya?”


“Iya pak. Saya akan menunggu Tuan Reqy datang.”


“Baiklah....kalau begitu saya tutup telfonnya ya.”


“Baik.”


Telfon pun di tutup.


Pak Ferdi hanya bisa menyutujui ucapan Pak Osmar untuk sementara ini karena biarpun ia bersikeras menolak, Pak Osmar tetap tak setuju.


Setelah telfonnya mati. Pak Ferdi langsung duduk di kasur dengan wajahnya yang terlihat lesu. Bu Susan masuk ke dalam kamarnya dan sudah melihat suaminya yang seperti itu.


“Ada apa ayah?” Tanya Bu Susan sambil duduk di samping suaminya.


“Ayah tadi sudah menghubungi Pak Osmar, bu. Tapi beliau tidak menerima penolakan kita bahkan bulan depan Tuan Reqy berencana untuk datang ke rumah membicarakan tanggal pernikahannya. Ayah tidak tahu harus berbuat apa, bu?”


“Ayah bilang.....ayah lebih mementingkan kebahagiaan Adelia kan.”


“Tentu saja.”


“Apa menurut ayah, Rian itu pria yang baik?”


“Sepertinya dia pria yang lembut dan baik. Ayah bisa melihat di matanya kalau dia sangat mencintai Adelia. Adelia juga sepertinya sangat mencintai pacarnya itu. Ayah tidak tega kalau harus memisahkan mereka yang saling mencintai.”


“Ayah tidak apa - apa kalau Tuan Reqy tidak membiarkan kita bekerja di Restorannya lagi?”


“Iya...bu. Anak – anak sekarang sudah selesai kuliah. Tidak ada orang lagi yang kita biayai. Masalah kebutuhan sehari – hari. Kita bisa jualan mie di pinggir jalan atau jualan di depan rumah, yang penting Adelia bisa bahagia. Darel juga kan sudah selesai kuliah.”


“Baiklah....kalau itu keputusan ayah.”


“Tapi ayah belum tahu harus berbuat apa, bu. Di sisi lain ada Tuan Reqy yang tetap ingin menikahi Adelia. Sementara Adelia ingin sekali bisa menikah dengan pacarnya.”


“Bagaimana kalau ayah menikahkan mereka berdua saja secara sembunyi – sembunyi?”


“Maksud ibu.” Sambil mengerutkan keningnya.


“Maksud ibu adalah kita nikahkan Adelia tanpa di ketahui Tuan Reqy dan Tuan Osmar. Kita hanya mengundang orang terdekat saja. Kita cari gedung pernikahan yang tidak terlalu ramai. Setelah mereka menikah, baru kita kembalikan semua hadiah yang sudah di berikan Tuan Reqy pada kita. Dengan begitu, Adelia bisa menikah dengan damai bersama Rian. Kalau Adelia sudah menikah dengan Rian kan, Tuan Reqy tidak mungkin memaksa Adelia lagi untuk menikah dengannya.”


“Itu namanya penghianatan bu.”


“Memang benar, tapi ayah bilang tidak masalah kalau Tuan Reqy tidak membiarkan kita bekerja di Restorannya. Jadi menurut ibu, itu tidak masalah. Apalagi Tuan Reqy datang bulan depan kan. Kita percepat saja pernikahan mereka bulan ini.”


“Baiklah....kalau menurut ibu, itu yang terbaik. Kita akan lakukan.”


Pak Ferdi pun tersenyum melihat istrinya begitu pun dengan Bu Susan. Ia tersenyum melihat suaminya yang ada di depannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2