Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Kondisi Rian sekarang


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Australia, Kota Sydney.


Di sebuah Rumah Sakit di Kota Sydney Australia. Terlihat seorang pria terbaring koma di kamar VIP dengan bantuan beberapa alat di tubuhnya. Ya, ia adalah Rian Ardiansyah, mantan tunangan Adelia yang kini terbaring koma tak sadarkan diri. Sudah beberapa bulan lamanya ia terbaring lemah di sana, hanya oksigen dan beberapa alat yang menempel di tubuhnya yang dapat membantunya bertahan. Tidak ada perkembangan jika Rian akan sadarkan diri bahkan ia di vonis dokter kalau ia akan koma selamanya.


***


Terlihat seorang wanita berparas cantik masuk ke dalam kamar yang di tempati Rian. Ia adalah Leta yang selama ini menemani Rian di Rumah Sakit. Ia masuk ke dalam kamar Rian sambil membawa beberapa tangkai bunga untuk Rian.


Ia berjalan menuju meja dekat tempat tidur Rian.


Di sana ia mengganti bunga yang selalu ia simpan di vas bunga di atas meja, tepat di samping Rian. Setiap minggu Leta memang selalu melakukan hal itu.


Leta melirik Rian ke samping sambil menyapa Rian dengan wajahnya yang tersenyum.


“Selamat pagi Rian. Hari ini aku bawa bunga mawar merah. Kau suka dengan bunga mawar merah kan.” Leta kemudian duduk di kursi tepat di samping tempat tidur Rian.


Ia memegang tangan Rian, menatap wajah Rian yang sebagian tertutupi dengan masker oksigen.


“Rian....sampai kapan kau akan tidur begini. Aku tidak sanggup melihatmu seperti ini. Apa yang harus kulakukan untukmu supaya kau sadar kembali. Apa kau tidak bisa membuka matamu sebentar saja agar aku tahu kalau kau masih di sana, atau yang kau butuhkan sekarang adalah Adelia, hah?”


Leta seketika meneteskan air matanya dengan kepala menunduk. Setiap hari ia hanya bisa menangis jika melihat keadaan Rian yang sama sekali tidak ada perkembangan. Ia kembali mengangkat kepalanya melihat Rian, menatapnya dengan air mata yang masih mengalir.


“Apa kau akan bangun kalau yang duduk menangis di sini adalah Adelia. Apa kau mau kalau aku mendatangkan Adeliamu ke sini?”


Seketika jari telunjuk dan jari tengah Rian bergerak secara bergantian membuat Leta langsung kaget dengan mata melotot.


“Tanganmu bergerak.”


Ia berdiri dari tempat duduknya lalu memencet tombol darurat yang menempel di atas tempat tidur Rian.


Tak lama, Dokter August yang merawat Rian pun datang bersama dengan beberapa perawatnya.


“Ada apa nona?” Tanya Dokter August.


Leta langsung menghampiri Dokter August dengan wajahnya yang terlihat senang karena melihat tangan Rian bergerak tadi.


“Tangannya bergerak dok,”


Dokter itu langsung memeriksa keadaan Rian. Ia memeriksa pupil matanya secara bergantian. Setelah memeriksa keadaan Rian, ia kembali berdiri tegak berhadapan dengan Leta.


“Maaf nona, keadaannya sama seperti biasa. Tidak ada respon sama sekali.” Jelas Dokter August.

__ADS_1


“Tapi dok, tangannya tadi bergerak. Bagaimana dokter bisa mengatakan kalau tidak ada perubahan.” Tanya Leta dengan ekspresi kekecewaan mendengar kalimat Dokter August. Ia tidak percaya kalau Rian masih seperti biasanya, karena ia menyaksikan sendiri tangan Rian bergerak ketika ia berbicara pada lelaki yang di cintainya itu.


“Apa ada sesuatu yang Anda katakan sampai dia menggerakkan tangannya, nona?” Tanya Dokter August.


Leta teringat saat ia menyebut nama Adelia di depan Rian.


“Ya, aku tadi menyebut nama tunangannya dok.” Jawabnya.


“Apa tidak sebaiknya Anda membawa tunangannya datang ke sini. Ini sudah beberapa bulan dia terbaring lemah. Akan lebih baik kalau tunangannya bisa menemaninya disini. Mungkin saja pasien ingin mendengar suara orang yang dia cintai, karena ada beberapa kejadian seseorang bangun dari komanya ketika mendengar suara orang yang sangat dia harapkan.”


Leta terdiam menunduk mendengar penjelasan dokter yang menangani Rian. Ia tidak tahu harus berbuat apa sekarang, mengingat kalau Adelia sekarang sudah menikah dengan orang lain, apalagi orang yang paling kejam dan di takuti.


Dokter August kembali bicara pada Leta.


“Nona Leta, apa Anda mendengar yang saya katakan?” Tanya Dokter August.


Leta langsung mengangkat kepalanya melihat Dokter August.


“Iya dok, saya dengar. Saya akan bicarakan masalah ini dengan ayah saya dulu.”


“Nona Leta, saya di sini hanya mengobati pasien bukan memberikannya keajaiban. Keajaiban itu datangnya dari tuhan. Saya memang mendiagnosa pasien tapi masalah keinginan pasien untuk sembuh itu dari dorongan dari dirinya sendiri. Anda tetap berdoa agar pasien cepat sadar. Mungkin saja dengan kehadiran orang yang dia sayang membuatnya sadar dari koma, atau Anda ceritakan hal – hal yang pasien sukai. Biarpun pasien koma, tapi dia bisa mendengar suara Anda dari alam bawah sadarnya.” Jelasnya.


“Baik dok.”


“Kalau begitu saya permisi dulu nona.”


Dokter August pun melangkah keluar meninggalkan Leta yang masih berdiri dengan wajahnya yang terlihat sedih saat mendengar kata – katanya tadi.


Leta kembali duduk di kursi, tepat di samping tempat tidur Rian. Wajahnya sedikit menunduk dengan ekspresinya yang gelisah dan khawatir.


“Bagaimana ini, aku tidak mungkin menghubungi Adelia kalau Rian masih hidup. Pasti semuanya jadi berantakan. Tapi aku kasihan kalau melihat Rian seperti ini, dia hanya mengharapkan Adelia yang duduk di sini?”


Seketika air matanya menetes di sana dengan kepala menunduk. Ia begitu bingung harus berbuat apa sekarang?


Tiba – tiba Pak Ridwan datang. Ia langsung masuk ke dalam kamar pasien yang di tempati Rian. Ketika masuk, ia melihat Leta tengah menangis dengan kepala menunduk.


Pak Ridwan pun datang menghampiri anaknya itu.


“Kamu kenapa menangis nak?” Tanya Pak Ridwan sambil memegang pundak anaknya. Ia khawatir melihat Leta menangis di sana.


Leta mengangkat kepalanya melihat ayahnya dengan wajahnya yang sudah di penuhi dengan air mata.


“Ayah, bagaimana ini?” Leta langsung memeluk tubuh ayahnya dengan posisinya yang masih duduk di sana.

__ADS_1


Pak Ridwan semakin khawatir melihat air mata anak semata wayangnya.


“Ada apa Leta, apa terjadi sesuatu dengan Rian?” Tanya Pak Ridwan sambil mengelus kepala anaknya.


Leta melepaskan pelukannya dari Pak Ridwan lalu mengangkat kepalanya melihat Pak Ridwan yang masih berdiri di depannya.


“Tadi tangannya bergerak saat aku menyebut nama Adelia. Aku langsung memanggil dokternya. Dokter August bilang kalau aku harus memanggil Adelia kesini. Sepertinya Rian hanya bereaksi kalau aku menyebut Adelia. Kalau Adelia ada di sini, mungkin Rian cepat sadarkan diri.”


“Tidak bisa Leta, ayah sudah sabar menolong temanmu ini tapi ayah tidak akan membiarkan kamu membahayakan keluarga kita. Apa kamu mau kalau Tuan Osmar tahu tentang keadaan Rian yang masih hidup, bukan  hanya kita yang bahaya tapi pria ini akan ikut bahaya juga. Lebih baik kita merawat dia di sini. Berapa tahun pun dia di sini, ayah sanggup membiayai semua pengobatannya asalkan kamu tidak menghubungi gadis itu. Kalau kamu sampai nekat, ayah tidak akan menolong temanmu lagi. Ingat itu.” Ancam Pak Ridwan.


Leta langsung melepaskan tangannya yang memeluk tubuh Pak Ridwan dengan keadaannya yang seketika lemah mendengar peringatan ayahnya. Ia hanya bisa pasrah sekarang sampai menunggu Rian sadarkan diri dari komanya.


Sedangkan Pak Ridwan langsung keluar setelah melihat anaknya duduk lemas di sana. Ia tidak ingin membahas tentang permintaan Leta. Sudah cukup baginya untuk menolong lelaki yang di cintai anaknya itu. Ia tidak akan melakukan hal di luar batas yang akan membuat bisnisnya hancur karena Rian.


Leta kemudian menegakkan tubuh di kursi melihat keadaan Rian yang terbaring lemah. Kedua tangannya memegang tangan Rian yang terpasang infus.


“Rian, aku minta maaf. Aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu itu, yang bisa kulakukan sekarang adalah merawatmu di sini. Bahkan ayah tidak mengijinkan aku untuk menghubungi keluargamu. Aku sungguh minta maaf.” Ucap Leta.


Ia menangis mengatakan hal seperti itu pada Rian. Ia kasihan melihat keadaan Rian yang terbaring koma apalagi dokter mengatakan kalau Rian bisa koma sampai bertahun – tahun bahkan selamanya.


Leta kembali bicara.


“Rian, apa kamu tidak bisa melihatku sekali saja. Apa kurangku dari Adelia sampai kamu begitu mencintainya. Hanya dia yang ada di matamu, di hatimu. Bahkan dulu kamu menjauhiku karena kamu menjaga perasaannya. Aku juga seorang wanita yang sama seperti dia. Aku bahkan mengenalmu duluan dari pada dia.” Leta semakin menangis mengatakan hal seperti itu pada Rian.


“Apa yang dia miliki, apa. Dalam keadaan tidak sadar begini pun kamu masih mengharapkan dia. Aku yang selalu menemanimu di sini bukan dia. Kumohon sadar lah Rian?” Lanjutnya dengan wajahnya yang terus menangis.


Tidak bisa di pungkiri kalau ia merasakan cemburu dan iri hati melihat Rian yang begitu mencintai Adelia.


 


Bersambung.


.


.


Semua tokoh di sini dapat bagiannya masing - masing ya, jadi Dewi bahas juga tentang kehidupan mereka meskipun bagiannya sedikit. Apalagi Rian salah satu tokoh utama setelah Reqy dan Adelia.


.


.


.

__ADS_1


Ingat tekan LIKE di bawah sampai berwarna merah. Tulis KOMENTAR kalian juga sebagai penyemangat Dewi. Silahkan VOTE Adelia dan Reqy.


Terima Kasih.


__ADS_2