Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Tersenyum bahagia


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Selesai berpakaian santai, Reqy keluar dari ruang gantinya menghampiri Adelia yang tengah tertidur pulas dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya.


Ia berdiri melihat istrinya yang saat itu berbaring miring ke samping. Tak tega rasanya ia membangunkan Adelia untuk makan malam, tapi yang paling penting sekarang adalah Adelia harus menjaga kondisi tubuhnya yang masih lemah. Mau tidak mau ia harus membangunkan Adelia untuk makan malam.


Ia kemudian menghubungi Pak Osmar lewat alat komunikasi yang menempel di dinding dekat pintu kamarnya. Di sana ia memberitahu Pak Osmar untuk menyuruh para pelayan membawa semua makan malam Adelia ke kamar pribadinya.


Selang beberapa menit, para pelayan datang membawa makanan di nampang yang sudah mereka pegang. Reqy membuka pintu kamarnya ketika Pak Osmar mengetuk tiga kali kamar pribadi tuan mudanya.


“Masuklah.” Reqy berdiri tegak di depan mereka dengan suaranya yang terdengar tegas.


Beberapa pelayannya langsung membungkuk hormat di depan Reqy. Mereka berjalan masuk ke dalam, mengikuti Reqy yang saat itu berjalan kembali ke arah tempat tidurnya.


Ketika sudah berada di dalam, para pelayannya itu langsung menghentikan langkahnya dan berdiri tak jauh dari tempat tidur Reqy. Mereka berdiri berjejer dengan nampang yang mereka pegang, ada 5 orang pelayan perempuan yang membawa makan malam yang sudah di masak koki rumah Keluarga Abraham.


Saat itu, Adelia masih tidur nyenyak dan tidak merasakan kehadiran mereka di dalam kamarnya. Itu karena pengaruh dari kehamilannya sekarang, ia tidak bisa menahan matanya untuk tidur bahkan tak merasakan langkah kaki dari beberapa pelayan yang masuk ke dalam kamarnya.


Di sana Reqy duduk di tepi tempat tidurnya, tepat di samping istrinya yang masih dalam posisinya tadi, bahkan sekalipun tidak menggerakkan tubuhnya yang berbaring miring menghadap ke arah Reqy saat itu. Ia kemudian memegang kepala Adelia untuk membangunkannya dari tidur lelapnya yang sudah berlangsung beberapa jam yang lalu.


“Adel....ayo bangun, sudah waktunya kau makan malam.” Dengan suaranya yang terdengar pelan.


Adelia masih tidak membuka matanya, ia masih tidak merasakan suara suaminya karena tidur lelapnya itu.


“Adel sayang, kau harus bangun untuk makan malam.” Reqy berusaha meninggikan sedikit suaranya agar Adelia bisa mendengarnya dengan jelas.


Secara perlahan, Adelia mulai membuka matanya dengan kondisi matanya yang masih sangat mengantuk, ketika ia mendengar suara suaminya. Di sana ia mengucek – ucek matanya lalu menggerakkan tubuhnya sampai ia berbaring terlentang untuk melihat jelas suaminya yang saat itu duduk di tepi tempat tidurnya.


“Hubby.” Panggilnya dengan suaranya yang terdengar serak akibat habis bangun tidur.


“Ayo bangun, kau harus makan malam dulu. Setelah itu, kau baru tidur lagi, ya.” Pinta Reqy dengan suaranya yang terdengar lembut.


Reqy segera memegang lengan dan bahu istrinya untuk membantunya bangun, di saat ia melihat Adelia yang ingin bangun dari sana.


Seketika Adelia kaget melihat beberapa pelayan yang sudah berdiri memegang nampangnya. Ia baru sadar dengan kehadiran mereka, karena saat membuka matanya tadi, ia hanya fokus pada Reqy. Jarak para pelayannya tak jauh dari tempat tidurnya saat itu, di sana juga masih terlihat Pak Osmar yang berdiri tegak melihat dirinya.


“Loh, kenapa mereka ada di sini bawa makanan?” Tanya Adelia yang tidak mengalihkan pandangannya dari beberapa pelayannya.


“Aku sengaja memanggil mereka ke sini supaya kau tidak lelah turun ke bawah. Setelah makan kau bisa melanjutkan tidurmu lagi sayang.” Ucap Reqy sambil mengelus pipi istrinya.


“Oh.”

__ADS_1


Reqy kemudian menengok ke arah para pelayannya dengan ekspresi yang biasa ia tunjukkan pada mereka.


“Bawa ke sini.”


“Baik.” Jawab secara bersamaan semua pelayaannya.


Mereka pun berjalan menghampiri Reqy yang duduk di kasur, dengan langkah cepat sambil memegang nampang di tangannya. Di sana mereka berdiri berjejer dengan kepala menunduk karena takut melihat Reqy yang ada di depan mereka. Mereka memang selalu menunduk ketika berhadapan di depan tuannya, karena takut jika di marahi dan juga takut melihat wajah dingin yang selalu Reqy tunjukkan di hadapan mereka semua.


“Makanannya bisa di letakkan di meja by, tidak perlu repot seperti ini.” Ucap Adelia saat melihat beberapa pelayannya itu berdiri di samping tempat tidurnya. Ia merasa tidak enak hati melihat mereka yang terlihat repot membawakannya makan malam.


“Tidak masalah, mereka di bayar memang untuk melakukan ini sayang.” Balas Reqy sambil tersenyum melihat istrinya. “Kau mau makan apa dulu, ada beberapa makanan bergizi yang sudah di masak koki rumah kita.” Lanjutnya.


“Yang mana saja, aku menyukai semuanya kok.”


“Oke, aku suapi ya.” Reqy mengambil salah satu makanan yang di pegang pelayannya di sana.


“Tidak perlu by, aku bisa makan sendiri.” Adelia menolak permintaan suaminya karena menurutnya ia baik – baik saja, apalagi ia malu di depan pelayannya dan Pak Osmar kalau ia harus di suapi.


“Sekarang aku ingin sekali menyuapimu, jangan menolakku terus ya. Apa kau masih belum mengenalku. Setiap yang ku katakan itu tidak ada kata penolakan sayang.”


Adelia terlihat diam tak menjawab Reqy, hanya tatapan biasa yang ia tunjukkan pada suaminya itu. Tak ada kata – kata yang bisa keluar dari bibir manisnya di saat ia mendengar ucapan Reqy.


“Kau menurut saja apa yang kukatakan ya, aku suka melakukan semua ini?” Reqy kembali melanjutkan ucapannya.


Setelah Adelia mengatakan iya, Reqy mulai mengiris – iris kecil steak yang ada di atas piringnya menggunakan pisau steak yang di pegangnya. Adelia saat itu tak hentinya memandang wajah serius Reqy yang fokus mengiris steaknya. Ia kembali tersentuh dengan perhatian yang di berikan suaminya di tambah kelembutan cara bicara Reqy padanya.


Tidak bisa di pungkiri jika ia merasa tersentuh pada Reqy yang selama dua hari ini sangat memperhatikannya, apalagi ketika ia tahu tentang kejadian tujuh tahun lalu. Perasaannya nyaman kalau berdekatan dengan lelaki yang sudah memaksanya menikah beberapa bulan yang lalu.


Hanya saja, ia belum bisa membedakannya sekarang, apakah itu rasa cinta atau kah karena ia hanya suka dengan sifat suaminya saat ini. Waktu yang bisa membuktikan semua yang ia rasakan pada Reqy.


Selesai Reqy mengiris steaknya, ia kemudian menyuapi Adelia dengan steak yang sudah ia potong – potong kecil tadi.


Adelia menerima suapan suaminya setelah memasang wajah tersenyum tanpa mengalihkan pandangannya dari Reqy.


“Bagaimana, steaknya enak?” Tanya Reqy ketika melihat Adelia tengah menguyah steak yang ia berikan.


Adelia menganggukkan kepalanya “Enak by.” Ia tersenyum ketika ia sudah menelan semua steak di dalam mulutnya.


Reqy kembali menyuapi istrinya ketika Adelia mengatakan kalau ia menyukai makanannya itu.


***

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Reqy berhenti menyuapi istrinya ketika Adelia mengatakan kalau ia sudah sangat kenyang. Reqy lalu menyuruh para pelayannya itu kembali ke bawah, sementara Pak Osmar masih berdiri di tempatnya, sejak tadi ia berdiri di sana menunggu perintah dari tuan mudanya.


“Paman.” Panggilnya.


Saat itu Reqy membalikkan badannya melihat Pak Osmar yang berdiri tak jauh di belakangnnya, ketika semua pelayannya sudah pergi.


“Iya Tuan Muda.”


“Besok pagi, paman jemput keluarga Adelia untuk datang ke sini.”


“Baik tuan.”


Seketika Adelia langsung tersenyum bahagia saat mendengar kalau Reqy ingin memanggil keluarganya datang ke sini.


“Hubby mau memanggil paman dan bibi datang ke sini.” Tanya Adelia.


Reqy kembali melihat ke arah istrinya yang saat itu memegang tangannya dengan ekspresi tersenyum bahagia.


“Iya, kau pasti merindukan mereka kan. Apalagi sekarang kau sedang hamil, kau memerlukan doa dari mereka.”


Adelia langsung memeluk suaminya di sana. “Terima kasih banyak by, aku memang sangat merindukan mereka.”


Reqy membalas pelukan istrinya diikuti wajah tersenyum dari bibirnya itu. Di sana ia mengelus – elus belakang kepala istrinya dengan lembut.


“Kalau kau merindukan mereka, aku bisa memanggil mereka datang ke sini sayang. Katakan saja padaku, hem.” Ucap Reqy sambil mencium bahu Adelia dengan lembut.


Sementara Pak Osmar tersenyum melihat kedua majikannya yang terlihat bahagia itu.


“Sepertinya Nyonya Muda sudah menerima tuan, mereka terlihat saling mencintai. Saya sangat senang melihat mereka, akhirnya tuan muda bisa bahagia setelah beberapa tahun kehilangan tuan dan nyonya besar.” Dalam hati Pak Osmar.


Bersambung.


Bahagia dulu sebelum badai menerpa, hehehehe......


Karena masuk tiga besar jadi aku berikan sedikit bocoran ya buat kalian, Rian akan hadir dalam rumah tangga Reqy dan Adelia. Tapi seperti apa, di tunggu saja kelanjutannya.


.


.


Jangan lupa tekan LIKE di bawah ya, harus. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Kalau punya koin dan poin, silahkan VOTE Reqy dan Adelia.

__ADS_1


Terima kasih banyak, love you dariku.


__ADS_2