
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Reqy memeluk tubuh istrinya dari belakang. Lagi – lagi Adelia merasa canggung dengan perlakuan Reqy padanya.
“Apa kau tidak suka dengan kamarnya?” Tanya Reqy.
“Ya.” Adelia terlihat kaget mendengar pertanyaan suaminya.
“Aku bilang, apa kau tidak suka dengan kamarnya?”
“Aku suka kok. Tapi, kenapa Lumi dan Emir tidak tinggal di sini bersama kita?” Tanya Adelia. Ia masih penasaran dengan Lumi dan Emir yang tidak tinggal bersamanya malah mencari hotel.
“Kenapa mereka harus tinggal di sini, mereka hanya mengganggu kita di sini?” Ucap Reqy dengan wajah datarnya.
“Mengganggu.” Adelia bingung dengan kata – kata suaminya. “Bukannya Kak Reqy dan Emir datang ke Italia untuk bekerja.” Tanya Adelia. Adelia memang masih belum tahu jika Reqy mengajaknya ke Italia untuk bulan madu.
Reqy melepaskan pelukannya, ia membalikkan badan istrinya menghadap dirinya. Ia memegang kedua bahu istrinya, menatapnya dengan serius.
“Jadi kau berpikir kalau aku mengajakmu ke Italia untuk menemaniku bekerja.” Tanya Reqy. Ia mengerutkan keningnya menatap istrinya.
“Iya....Kak Reqy kan bilang kalau aku harus mengikuti kemana pun Kak Reqy pergi.” Jawab Adelia.
Reqy mengangkat kepalanya ke atas sambil memejamkan matanya. Ia menghela nafasnya di sana dan kembali menatap istrinya dengan ekspresi datarnya.
“Hei...apa kau bodoh. Apa kau tidak bisa merasakan kalau aku sengaja ke sini untuk liburan denganmu?” Dengan ekspresi dinginnya.
“Apa?” Adelia sedikit kaget. “Liburan.”
“Iya, ini bisa di bilang bulan madu kita. Bukan kah kau harus memberikanku anak. Jadi aku sengaja merencanakan bulan madu ini.”
Adelia semakin kaget mendengar kata – kata suaminya.
“Apa...bu-bulan madu. A- anak?” Dengan ekspresi kaget dan suara gagapnya menatap Reqy.
Reqy kembali mengerutkan keningnya menatap Adelia.
“Kenapa, kau tidak bersedia?” Tanya Reqy dengan wajah dinginnya. Ia tidak suka mendengar ucapan istrinya yang terdengar tidak suka dengan bulan madu yang sudah ia rencanakan.
“Bukan begitu. Aku bersedia memberikan Kak Reqy anak tapi tidak perlu sampai liburan seperti ini.” Ucap Adelia dengan wajahnya yang serius.
Menurutnya....kalau suaminya hanya menginginkan seorang anak, mereka tidak perlu liburan sampai ke luar negri, karena di rumahnya juga bisa mereka lakukan.
“Sudahlah....kalau kau tidak suka, kita pulang besok.” Ucap Reqy dengan wajah dinginnya.
Ia kemudian melepaskan kedua bahu istrinya dan berjalan keluar dari kamarnya tanpa menunggu kata – kata istrinya lagi. Reqy langsung membanting pintu kamarnya dengan keras sampai membuat Adelia terkejut. Reqy sangat kesal melihat istrinya yang terlihat tidak suka dengan bulan madunya yang sudah ia rencanakan itu.
Adelia memegang dadanya karena masih terkejut melihat suaminya membanting pintu kamarnya. Ia sampai melotot menatap pintu kamarnya yang sudah tertutup rapat. Wajahnya terlihat ketakutan.
__ADS_1
“Apa aku salah bicara lagi padanya. Kenapa dia sangat marah sampai membanting pintu kamarnya?” Gumamnya dengan ekspresi bingungnya.
Adelia menggigit kuku jarinya dan berpikir keras di sana.
“Atau jangan – jangan dia ingin sekali liburan. Ya tuhan Adelia, kenapa kamu tidak berpikir dulu sebelum bicara. Sepertinya aku harus minta maaf padanya.” Dalam hati Adelia.
Adelia pun bergegas keluar kamarnya mencari keberadaan suaminya. Ia menuruni tangga sambil melihat
Tuan Reqy yang tengah menghubungi Emir.
“Kak Reqy.” Panggil Adelia saat ia sudah berada di lantai bawah.
Reqy langsung berbalik ke belakang melihat istrinya yang sudah berjalan ke arahnya. Ia bicara pada Emir di telfon sambil menatap Adelia dengan dingin.
“Besok naik pesawat pribadi saja.” Ucap Reqy pada Emir di telfon.
“Baik tuan.”
Adelia sudah berdiri di depan suaminya dengan ekspresi bersalahnya, apalagi saat ia mendengar Reqy menyuruh Emir untuk kembali pulang besok.
“Aku minta maaf.” Adelia menatap suaminya dengan serius.
Reqy langsung mematikan HP-nya dan menatap serius istrinya ketika mendengar istrinya minta maaf.
“Kenapa kau minta maaf?” Tanya Reqy dengan wajahnya yang masih kesal.
“Kau benar – benar senang liburan di sini.” Tanya Reqy dengan wajahnya yang terlihat senang mendengar kata – kata istrinya.
“Iya...aku senang.”
Reqy kembali menghubungi Emir.
“Batalkan penerbangannya besok. Kita tidak jadi pulang.” Ucap Reqy pada Emir di telfon. Ia bicara pada Emir sambil terus menatap istrinya yang tampak canggung. Adelia merasa malu di tatap terus oleh suaminya sendiri sampai ia memalingkan wajahnya ke samping.
“Baik Tuan Muda.” Balas Emir di balik telfon.
Reqy mematikan telfonnya lalu bicara pada istrinya.
“Hari ini kau ingin makan malam apa?” Tanya Reqy.
“Terserah Kak Reqy saja.” Jawab Adelia tanpa melihat Reqy. Ia masih dengan posisinya tadi.
Reqy membungkukkan tubuhnya, menatap wajah Adelia lebih dekat. Adelia seketika kaget sampai melotot saat melihat wajah suaminya yang begitu dekat dengannya.
“Nanti aku akan membawamu ke sebuah Restoran yang paling bagus di sini. Hem.” Ucap Reqy sambil tersenyum pada Adelia.
“I-ya.” Balas Adelia dengan gagap karena kaget melihat senyuman suaminya.
__ADS_1
Reqy kembali menegakkan tubuhnya dan menatap Adelia dengan wajahnya yang tiba – tiba tersenyum membuat Adelia semakin kaget.
“Apa aku tidak salah lihat, dia tersenyum melihatku. Ya tuhan...kenapa dia selalu membuatku kaget. Dalam sehari dia terus membuatku kaget sampai tidak terhitung jumlahnya?” Dalam hati Adelia.
“Pergilah mandi dan siap – siap berpakaian.” Pinta Reqy membuyarkan lamunannya.
“Eh..ya.”
“Apa sih yang kau pikirkan dari tadi. Hah.?” Tanya Reqy.
“Aku tidak memikirkan apapun. Aku hanya berpikir untuk memakai baju apa.”
“Terserah kau saja. Apapun yang membuatmu nyaman. Kita hanya mau makan malam kan.” Ucap Reqy.
“Benar, kita hanya makan malam. Apa lagi yang aku harapkan sih?” Dalam hati Adelia.
Ia kemudian bicara pada suaminya.
“Kalau begitu aku mandi dulu kak.”
“Eem. Pergilah.”
Adelia pun berjalan kembali ke kamarnya dengan perasaannya yang masih bingung dan penasaran melihat tingkah suaminya yang tersenyum padanya.
Ketika ia di dalam kamarnya, ia mengingat wajah suaminya yang tersenyum padanya tadi.
“Apa maksud senyumannya itu. Kenapa dia tiba – tiba tersenyum padaku. Kemarin juga perubahan sikapnya berbeda dengan biasanya. Dia sedikit lembut. Dia begitu bukan karena suka padaku kan?” gumamnya.
Ia bisa merasakan perubahan sikap suaminya terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Meskipun masih kadang berwajah dingin di depannya tapi sikapnya berubah lembut padanya.
Adelia kemudian masuk ke dalam kamar mandinya dan membersihkan dirinya di sana.
Di dalam kamar mandi.
Adelia mandi menggunakan shower sambil memikirkan makan malam bersama suaminya.
“Haaaa....makan malam bersama dia. Aku jadi ingat Kak Rian, kalau dia bilang mau makan malam denganku pasti ujung – ujungnya makan malam romantis.” Gumamnya mengingat masa lalunya dengan Rian.
Bersambung.
.
.
.
Ingat untuk LIKE setelah membaca ya, jangan lupa lagi. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar untuk menghibur author. Dewi suka lihat komentar2 positif kalian semua di saat lelah menulis. Kalau punya koin dan poin, bolehlah VOTE novel dewi.
__ADS_1
Makasih.