
Jangan Lupa Like And Komentnya. Vote-nya juga ya.
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Adelia masuk ke pemakaman di dampingi Pak Osmar. Ketika ia di sana, ia melihat Darel, paman dan bibinya. Ia berjalan cepat mendatangi mereka bertiga.
“Paman, kakak. Kenapa kalian bisa di sini?” Tanya Adelia.
Di sana juga ada kedua orang tua Rian yang tengah menangisi anaknya.
Paman dan Darel menengok melihat Adelia.
“Adelia....kamu sudah di sini nak.” Sahut pamannya dengan wajahnya yang terlihat sedih.
Adelia tiba – tiba tersadar dengan kedua orang tua Rian yang terus menangis. Bu Rani terus menangis di pelukan suaminya sambil melihat kuburan anaknya yang sudah tertimbun dengan tanah.
Adelia kemudian melihat nama Rian di batu nisannya. Ia sangat syok tak percaya, matanya sampai melotot. Ia kembali bertanya pada pamannya untuk memastikan apa yang ada di depan matanya.
“Paman...siapa yang meninggal. Kenapa kalian semua ada di sini?” Tanya Adelia sambil memegang lengan Pak Ferdi.
Pak Ferdi hanya diam saja melihat Adelia tanpa menjawab ucapan keponakannya. Sedangkan Bu Susan yang melihat suaminya tak menanggapi Adelia, langsung berjalan ke arah gadis yang paling di sayangnya itu.
“Adel sayang. Rian....Rian....nak.” Ucap Bu Susan dengan wajah sedihnya.
Wajah Adelia terlihat sangat syok saat mendengar nama Rian apalagi melihat wajah sedih bibinya. Tapi ia masih tak percaya, ia tidak ingin mempercayainya.
“Rian kenapa bi?” Tanya Adelia yang kembali memastikan.
Matanya sudah mulai berkaca - kaca. Bu Susan lalu menjawab pertanyaan anaknya.
“Rian sudah meninggal nak. Dia sudah tidak ada.”
Adelia langsung kaget. “Apa?” Matanya kembali melotot karena sangat kaget mendengar ucapan bibinya.
Ia kemudian memegang kedua bahu bibinya.
“Tidak mungkin. Bibi pasti bohong padaku kan.” Dengan matanya yang sudah menangis.
Bu Susan hanya diam saja dengan wajahnya yang menangis. Adelia kemudian berlari ke arah Bu Rani dan Pak Amar untuk memastikan jika Rian benar – benar sudah meninggal.
“Tante...om. Ini pasti bukan Rian kan.” Adelia sudah mulai menangis. “Tante...katakan padaku, orang yang meninggal itu bukan Rian. Iya kan.” Sambil memegang lengan Bu Rani.
__ADS_1
Bu Rani tidak menjawab ucapan Adelia. Ia terlihat lemah akibat kesedihannya karena anaknya yang tiba – tiba meninggal.
Pak Amar yang melihat istrinya tak menanggapi Adelia pun berbicara pada Adelia.
“Adelia...Rian sudah tidak ada nak. Dia meninggal karena kecelakaan, mobilnya jatuh ke jurang. Mobilnya hangus terbakar nak.” Jelas Pak Amar dengan serius.
Adelia langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Ia tak percaya kalau orang yang di cintainya itu meninggal begitu saja. Seluruh tubuhnya gemetar karena syok. Ia lalu menengok melihat kuburan Rian yang sudah tertimbun dengan tanah.
Ia langsung menjatuhkan tubuhnya di samping kuburan Rian yang masih baru itu.
Ia mengulurkan tangannya yang gemetar untuk memegang Batu Nisan Rian di sana.
“Aaaaaa....Kak Rian..hiks....hiks....hiks....Kak Rian.” Teriaknya dengan histeris.
“Kenapa Kak Rian melakukan ini padaku. Hiks....hiks....Kak Rian?” Sambil menangis histeris.
Adelia kemudian menggali tanah kuburan Rian dengan kedua tangannya. Pak Ferdi langsung mendatangi keponakannya itu.
Ia memegang kedua bahu Adelia dari belakang.
“Adelia apa yang kamu lakukan?”
“Adelia hentikan.” Teriak Pak Ferdi.
“Biarkan aku melihatnya paman. Aku mohon, aku ingin melihat wajahnya.” Memohon sambil menangis.
Pak Ferdi langsung mengangkat tubuh Adelia sampai Adelia berdiri dari sana. Ia memegang kedua bahu keponakannya itu.
“Adelia sadarlah. Rian sudah meninggal.”
“Tidaaaaaak.....Kak Rian tidak meninggal.” Sambil menutup kedua telinganya karena tak ingin mendengar ucapan pamannya.
Bu Rani langsung berjalan ke arah Adelia. Ia menarik tangan Adelia dari telinga Adelia dengan kasar.
Plak.....ia langsung menampar pipi Adelia dengan keras.
“Adelia....tolong jangan seperti ini di kuburan anakku. Kamu hanya membuat dia tidak bisa pergi dengan tenang.” Ucap Bu Rani dengan wajahnya yang marah melihat Adelia yang seperti itu.
Adelia hanya menatap Bu Rani dengan tatapan kosong sedangkan Bu Susan yang melihat Adelia di tampar, langsung mendatanginya.
“Adelia sayang. Apa kamu lupa dengan yang kami ajarkan. Orang yang sudah meninggal itu harus di relakan kepergiannya agar dia bisa tenang di sana. Kamu masih ingatkan. Rian sudah meninggal nak. Kamu harus merelakannya. Kalau kamu seperti ini, dia tidak akan tenang di sana. Hem.”
__ADS_1
Adelia mengangguk dengan wajahnya yang masih menangis. Bu Susan kemudian memeluk Adelia sambil mengusap punggungnya.
Bu Susan kembali bicara kepada Adelia.
“Rian akan ikut sedih kalau kamu bersedih juga. Tersenyumlah nak, kamu harus bahagia.”
“Bibi....hiks....hiks...kenapa tuhan mengambil semua yang aku sayang. Kenapa bi. Apa salahku?”
“Bukan kah dulu bibi bilang kalau tuhan sangat menyayangi mereka yang pergi. Itu semua bukan karena kamu nak. Tolong jangan bersedih terus, bibi mohon. Kamu harus menegakkan tubuhmu ke depan. Jangan biarkan kesedihan membelenggumu. Kamu harus tersenyum ya.” Ucap Bu Susan.
Adelia mengangguk dengan suaranya yang tak hentinya menangis. Adelia kemudian melepaskan pelukannya dan kembali berjongkok menatap kuburan Rian. Ia memegang Batu Nisan Rian dengan kepala menunduk. Ia menghapus air matanya dan kembali mengangkat kepalanya melihat Batu Nisan Rian.
“Kak Rian....apa kamu tersenyum kalau kamu melihatku tersenyum di sini. Jika itu yang kamu suka, aku akan melakukannya. Tapi jika kamu menyuruhku untuk melupakanmu, aku tidak sanggup melakukannya. Kamu adalah orang pertama dan terakhir yang membuat hidupku berwarna. Aku akan merelakan kepergianmu, tidurlah dengan tenang di sana. Jangan pikirkan aku, senyuman ini selalu untukmu. Hanya untukmu.” Dalam hati Adelia sambil mengusap Batu Nisan Rian.
Adelia kemudian berdiri dari sana dengan tubuhnya yang terlihat tak bisa menjaga keseimbangannya. Bu Susan langsung mendatangi keponakannya itu. Ia memeluk Adelia dengan erat begitu pun dengan Adelia.
Bu Susan lalu melepaskan pelukannya. Ia mengusap air mata Adelia dengan lembut.
“Kamu tidak boleh bersedih terus ya nak.”
“Iya...aku tidak akan bersedih. Aku akan tersenyum merelakan kepergian Kak Rian.”
Bu Susan langsung tersenyum sambil mengusap rambut Adelia dengan lembut.
Bu Rani yang melihat Adelia sudah tenang, berjalan ke arahnya.
“Adelia.” Panggilnya.
Adelia langsung menengok melihat Bu Rani. Bu Rani kembali bicara pada Adelia.
“Ini cincin pemberianmu bukan, ambillah. Polisi menemukannya di lokasi kejadian. Tante tidak bisa menyimpannya, tante kembalikan padamu. Terserah kalau kamu mau membuangnya. Itu hakmu apalagi kamu sudah bukan tunangan Rian. Itu bukan milik Rian lagi. Kamu harus melupakan Rian, biarkan dia tenang di sana.” Menyodorkan kalung cincin Rian kepada Adelia.
Adelia meraihnya dengan tangannya yang terlihat gemetar. Ia menatap cincin Rian dengan wajahnya yang tersenyum. Meskipun ia masih sangat sedih tapi ia berusaha untuk tersenyum. Ia kemudian memejamkan matanya di sana sambil memegang erat cincin milik Rian.
Sementara Rian yang asli sekarang sudah terbang ke Australia bersama dengan Leta dan beberapa dokter yang mendampingi mereka. Leta dan ayahnya berencana mengoperasi Rian di sana.
Dan tentu saja, Rian belum sadarkan diri. Ia masih koma, ia hanya di bantu dengan beberapa alat yang menempel di tubuhnya.
Sedangkan jasad Jhon, sekarang masih berada di kamar mayat menunggu kedatangan keluarganya dari Malaysia.
Bersambung.
__ADS_1