Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Dia Hanya Suami Di atas Kertas


__ADS_3

Jangan Lupa Like And Komentnya. Vote-nya juga ya.


🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Di dalam mobil menuju pemakaman Rian, Adelia terlihat bingung dan penasaran. Ia kemudian bertanya kembali pada Pak Osmar.


“Maaf pak.” Ucapnya dengan sopan melihat ke arah Pak Osmar.


“Iya nyonya.” Sambil melihat Adelia di cermin tengah mobilnya.


“Apa saya boleh bertanya pada bapak?” Tanya Adelia sambil melihat Pak Osmar.


“Silahkan nyonya. Anda tidak perlu sungkan begitu pada saya.” Sambil tersenyum.


“Sebenarnya kita mau ke pemakaman siapa sih pak. Kenapa saya yang pergi, kenapa bukan orang yang selalu Anda sebut Tuan Muda itu saja yang pergi?” Tanya Adelia dengan penuh tanda tanya.


“Apa nyonya sangat membenci tuan?” Tanya Pak Osmar tanpa menjawab pertanyaan dari Adelia tadi.


“Apa?” Dengan ekspresi kagetnya.


Adelia kemudian diam di sana. Ia memang membenci Reqy yang tiba – tiba datang menikahinya apalagi di hari pernikahannya dengan Rian.


Pak Osmar kembali bicara padanya.


“Maaf kalau saya lancang mengatakan ini pada nyonya, tapi saya harus mengatakan ini pada nyonya. Nyonya sekarang sudah menjadi istri Tuan Muda. Biarpun Anda benci pada Tuan Muda tapi tidak seharusnya Anda  bicara tidak sopan padanya. Setidaknya nyonya harus memanggil Tuan Muda dengan namanya. Dia sudah menjadi suami Anda yang secara otomatis Anda harus menghormati dan menghargainya.” Jelasnya dengan serius.


Adelia hanya diam saja sambil bicara dalam hatinya.


“Aku memang tidak pantas bilang begitu padanya tapi aku begini karena aku sangat membencinya yang tiba – tiba datang mengacaukan hidupku. Pernikahan itu bukan hal yang main – main. Bagaimana bisa dia ingin menikahi wanita yang tidak dia kenal bahkan wanita yang sudah memiliki pasangan. Dia seperti orang yang tidak waras. Lagi pula aku tidak tahu siapa namanya?” Dalam hati Adelia.


“Nyonya...nyonya.” Panggil Pak Osmar membuyarkan lamunannya.

__ADS_1


“Ya.” Balas Adelia dengan wajahnya yang terlihat kaget.


“Apa Anda mendengar ucapan saya?” Tanya Pak Osmar.


“Iya...saya dengar pak. Saya minta maaf kalau saya tidak sopan tapi saya mengatakan itu karena saya tidak tahu namanya siapa?”


“Jadi Nyonya Muda belum tahu nama Tuan Muda. Apa dia tidak pernah nonton berita ya. Wajah Tuan Muda ada di mana – mana tapi kenapa orang yang sudah menikah dengannya tidak tahu namanya?” Dalam hati Pak Osmar.


Adelia memang tidak terlalu mengenal Reqy karena ia lama tinggal di luar negri apalagi saat paman dan bibinya mengatakan tentang lamaran Reqy. Ia tidak begitu peduli dengan orang yang sudah melamarnya bahkan ketika pamannya menyebut nama Reqy ia tidak peduli dengan nama orang yang sudah melamarnya itu.


Pak Osmar kembali bicara.


“Nyonya harus ingat ya. Nama Tuan Muda itu Reqy Abraham, Tuan Muda Keturunan Inggris – Indonesia. Tuan Abraham, kakek Tuan Muda adalah orang Inggris.”


Adelia terlihat tak suka mendengarnya.


“Bapak ini seperti melakukan wawancara pekerjaan saja. Dia tidak perlu menjelaskan secara detail begitu kan tentang tuannya itu.” Dalam hati Adelia.


“Ayah Tuan Muda anak dari Tuan Abraham dan ibunya asli Indonesia. Tuan Muda memiliki rumah di Inggris, di sana juga ada perusahaan Keluarga Abraham yang Tuan Muda kelola. Sekarang Tuan Muda sama sekali tidak punya keluarga kecuali nyonya saja. Jadi ke depannya, nyonya harus berbicara sopan pada Tuan Muda. Biarpun Anda membicarakannya pada orang lain.” Sambil tersenyum.


“Mulut bapak ini pedas sekali. Dia bicara sambil tersenyum padaku tapi ucapannya seakan memperingatiku. Aku ingin sekali pergi dari sini. Kalau aku pergi apa mereka tidak akan melakukan hal buruk pada paman dan bibiku.” Dalam hati Adelia.


“Nyonya....” Panggilnya membuyarkan lamunan Adelia.


“Ya...”


“Apa Anda sudah mendengar semuanya tentang Tuan Muda?”


“Iya pak, saya sudah mendengar semuanya. Ke depannya saya akan memanggil Tuan Muda dengan namanya saja.”


Pak Osmar menghela nafasnya mendengar Adelia yang bicara formal padanya dan pada Reqy.

__ADS_1


“Saya tadi kan sudah bilang pada Anda. Kalau Anda tidak usah terlalu formal begitu.”


“Baik.”


“Anda harus ingat kalau Tuan Muda itu sudah menjadi suami Anda.” Kembali mengingatkan.


Adelia tidak menanggapi ucapan Pak Osmar. Ia hanya diam sambil menatap ke samping jendela mobil.


“Huh....dia bukan suamiku. Aku tidak akan menganggap dia sebagai suamiku. Hanya Rian yang pantas menjadi suamiku tidak ada yang lain. Dia hanya suami di atas kertas saja. Kalau acara ini sudah selesai, aku akan bicara baik – baik pada orang itu. Aku akan bilang padanya kalau pernikahan ini tidak boleh di lanjutkan. Aku dan dia hanyalah orang asing yang tidak saling kenal. Masih banyak wanita di luar sana yang bisa dia jadikan istri bukan orang seperti aku yang sudah memiliki tunangan. Setelah bercerai dengan orang itu, aku akan pergi mencari Kak Rian. Aku tidak rela kalau dia pergi begitu saja. Aku menerima pernikahan ini karena tidak ingin membuat paman malu di depan banyak orang.” Dalam hati Adelia.


Adelia kemudian memegang cincin Rian yang ia kenakan di lehernya. Ia mengusap – usap cincinnya sambil menatap keluar jendela kaca mobil.


“Kak Rian....aku sangat merindukanmu. Aku merindukan senyuman hangatmu, aku merindukan suaramu yang lembut. Kak Rian....kamu dimana sekarang. Tunggu aku, aku akan pergi menyusulmu setelah aku mengurus masalah ini. Kak Rian tenang saja, aku masih Adelia yang selalu mencintaimu. Selamanya. Aku yakin kamu tidak akan pernah melupakan janji kita. Selamanya akan selalu mencintai. Adeliamu selalu mencintaimu.” Dalam hati Adelia.


Ia tak sadar jika dirinya sampai meneteskan air matanya. Ia mengusapnya di sana agar tidak di ketahui Pak Osmar kalau ia sedang menangis, bisa – bisa ia di ceramahi lagi oleh bapak tua itu.


Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai Pak Osmar sampai di sebuah pemakaman di dekat tempat tinggal Rian. Pak Osmar mencari tempat parkir di sana sedangkan Adelia semakin penasaran dengan keberadaannya sekarang.


“Ini kan dekat tempat tinggal Kak Rian. Siapa yang meninggal di sini. Ah...aku lupa bertanya lagi tentang pemakaman siapa yang ku datangi. Tapi ini kebetulan ya, nanti saat selesai aku akan datang mengunjungi rumah Kak Rian. Siapa tahu tante dan om sudah tahu keberadaan Kak Rian. Aku juga ingin minta maaf pada mereka tentang pernikahanku dengan orang itu.” Dalam hati Adelia.


Pak Osmar yang selesai memarkir mobilnya kemudian turun dari sana. Ia membuka pintu mobil untuk nyonya barunya itu.


“Silahkan turun nyonya.”


“Oh....iya pak.” Sambil menggerakkan tubuhnya dan turun dari mobil.


Adelia yang berdiri di samping mobilnya kembali bicara pada Pak Osmar.


“Dimana tempatnya pak?” Tanya Adelia yang belum melihat pemakamannya.


Ia hanya melihat orang – orang yang berdatangan ke pemakamannya Rian tapi ia masih belum sadar dengan pemakaman Rian yang akan ia datangi. Itu karena tempatnya sangat luas dan memiliki pagar di depan pemakaman. Dan sekarang ia tengah berada di tempat parkiran mobil di depan pagar pemakamannya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2