
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Australia, Kota Sydney.
Terlihat seorang pria duduk di sebuah kursi roda menghadap jendela kamar pasien yang di tempatinya. Ia menatap lurus dengan pandangan kosong yang ia tunjukkan di wajahnya.
Ya, ia adalah Rian mantan tunangan Adelia yang kini duduk di kursi roda tanpa bisa menggerakkan kedua kakinya. Dua minggu yang lalu ia bangun dari komanya dengan keadaan kedua kakinya yang cacat. Semenjak bangun, ia hanya bisa duduk diam menatap jendela di dalam kamarnya itu.
Tidak lama kemudian, Leta masuk ke dalam kamar yang di tempati Rian. Seperti biasa, ia membawa bunga yang ia letakkan di vas bunga di atas meja, tepat di samping tempat tidur Rian. Setelah meletakkan bunganya di sana, ia melangkahkan kakinya menghampiri Rian yang masih duduk diam di sana.
“Kenapa kau duduk di sini?” Tanya Leta saat ia sudah berdiri di samping Rian.
“Kapan kau akan bawa Adelia ke sini?” Tanya Rian. Ia tidak menjawab pertanyaan Leta dan hanya menanyakan tentang Adelia tanpa sekali pun melihat ke arah Leta. Ia hanya menatap lurus luar jendela kamarnya.
Leta tampak diam mendengar pertanyaan Rian. Ia tidak tahu harus mengatakan apa pada lelaki yang sangat ia cintai itu. Apalagi dokter mengatakan padanya kalau Rian tidak boleh mendengar sesuatu yang bisa mengganggu pikirannya. Dan itu akan berakibat fatal pada kesehatannya.
Jika Rian sudah stabil, baru ia akan menceritakan semua tentang Adelia. Ia terpaksa membohongi Rian tentang yang terjadi dengan Adelia. Ia tidak bisa mengatakan pada Rian kalau Adelia sudah menikah dengan orang yang pernah menculiknya sampai keadaannya menjadi seperti ini.
Rian menengok ke arah Leta ketika tidak mendapat jawaban dari Leta tentang pertanyaannya tadi.
“Kau berbohong padaku kan kalau Adel akan ke sini.” Sorot mata Rian terlihat tajam saat menatap Leta, seakan ia tahu kalau ada sesuatu yang di sembunyikan Leta.
Leta lagi – lagi diam tidak menjawab kalimat yang katakan Rian.
“Melihatmu diam seperti itu. Aku tahu kalau kau pasti menyembunyikan sesuatu Leta. Cepat katakan, apa kau berbohong padaku tentang Adelia yang akan datang ke sini?” Tanya Rian menebak sesuatu yang di pikirkannya itu.
Leta memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap Rian dengan serius.
“Aku minta maaf Rian, sebenarnya Adelia tidak tahu kalau kau masuk rumah sakit.” Jawab Leta.
Dengan terpaksa, ia mengatakan kalau ia sudah berbohong tentang Adelia yang sudah tahu dengan keadaannya sekarang.
Dua minggu yang lalu ketika Rian bangun, Leta memang sengaja berbohong pada Rian kalau Adelia sudah tahu tentang keadaannya saat Rian terus – terusan mencari keberadaan Adelia. Saat itu, ia hanya ingin menenangkan Rian yang mengamuk. Apalagi Rian merasakan sakit yang begitu hebat di kepalanya akibat benturan keras yang di alaminya saat kecelakaan.
Seketika Rian membalikkan kursi rodanya menghadap Leta ketika mendengar kata – kata Leta. Wajahnya tampak syok mendengar yang di ucapkan Leta.
“Kau bilang apa tadi?”
“Adelia tidak tahu kalau kau masih hidup dan di rawat disini. Aku sama sekali belum menghubunginya. Aku juga belum menghubungi keluargamu Rian. Aku minta maaf karena sudah berbohong padamu tentang Adelia dan keluargamu yang ingin ke sini.” Jelas Leta dengan wajahnya yang terlihat bersalah.
“Apa maksud kata – katamu itu?” Tanya Rian yang semakin bingung mendengar penjelasan Leta.
“Mereka mengira kalau kau sudah meninggal.”
“Apa?” Rian sangat kaget mendengar ucapan Leta sampai matanya melotot melihat Leta.
“Maaf....”
__ADS_1
“Bukannya kau bilang kalau Adelia dan keluargaku tahu, kalau aku masih hidup.”
Leta memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap kembali Rian dengan serius. “Aku sungguh minta maaf Rian.”
Permintaan maaf Leta sudah membuktikan kalau semua yang di katakannya itu memang benar.
Saat itu, Rian memegang kepalanya dengan kedua tangannya. Ekspresinya terlihat gelisah dan khawatir. Ia tidak menyangka kalau semua orang menyangka ia sudah meninggal.
“Aku harus kembali ke Indonesia. Adelia pasti sedih dan syok karena tahu aku meninggal. Aku harus menemuinya langsung Leta” Ucap Rian dengan ekspresinya yang gelisah dan khawatir mengingat keadaan Adelia. Ia berpikir kalau Adelia pasti sangat sedih dan tidak terima mendengar berita tentang kematiannya.
Leta langsung membungkuk di depan Rian sambil memegang kedua bahu Rian sesaat setelah mendengar ucapannya.
“Rian.....keadaanmu sekarang tidak memungkinkan untuk kembali ke Indonesia. Kau masih butuh perawatan di sini.” Leta berusaha memberikan pengertian pada Rian yang masih butuh perawatan di sana.
“Tidak...Adelia lebih penting. Aku harus kembali, Leta. Dia pasti sangat sedih. Kedua orang tuaku juga pasti sedih mendengar aku meninggal.” Ucap Rian.
Saat itu, Rian melepaskan tangan Leta dari bahunya, kemudian menggerakkan kursi rodanya sendiri ke arah samping tempat tidurnya.
“Tidak bisa, kau tidak boleh pergi sebelum sembuh. Apa kau tidak sadar kalau kau itu tidak bisa jalan. Kau cacat Rian.” Teriak Leta ketika melihat Rian menggerakkan kursi rodanya ke arah tempat tidurnya.
Tiba - tiba Rian sadar saat mendengar ucapan Leta, apalagi ketika ia melihat kedua kakinya yang tidak bisa ia gerakkan. Seketika tubuhnya tampak lemah dengan wajahnya yang terlihat sedih dengan keadaannya sekarang. Ia tidak bisa melakukan apa – apa kecuali duduk diam di kursi rodanya.
Tanpa sadar ia mendorong semua barang – barang yang ada di atas meja dengan kedua tangannya termasuk Vas bunga yang selalu Leta letakkan di atas meja. Saat itu, ia tidak terima dengan keadaan yang ia alami. Ia tidak berdaya, bagaimana bisa ia ingin bertemu dengan Adelia dengan keadaannya yang lemah seperti itu. Pikirnya.
Leta yang melihat Rian menjatuhkan semua barang yang ada di atas meja hanya bisa menatap sedih lelaki yang ia cintai itu.
Leta yang melihat itu langsung memeluk tubuh Rian yang duduk di kursi roda.
“Aku disini, aku pasti akan menyembuhkan kakimu Rian. Kau masih punya aku.” Ucap Leta yang berusaha menenangkan Rian.
Rian sama sekali tidak membalas pelukan Leta. Ia hanya diam di sana dengan sorot matanya yang terlihat tajam. Saat itu, ia mengingat tentang kejadian penculikan yang menimpanya bersama temannya bernama Jhon.
“Orang yang sudah menghancurkan hidupku. Akan mendapatkan balasan yang setimpal.”
Leta langsung melepaskan pelukannya ketika mendengar kalimat Rian.
“Rian....kau mengingat orang yang sudah menculikmu.”
“Ya, aku ingat wajah mereka. Tapi aku tidak tahu alasan mereka menculikku. Selama ini aku tidak pernah punya musuh. Aku pasti akan mencari tahu alasan, kenapa mereka menculikku?”
Leta hanya bisa diam mendengar perkataan Rian tanpa berani mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak ingin membebani Rian dengan semua kenyataan tentang Adelia sampai keadaan Rian benar – benar sembuh.
“Maaf Rian, aku belum bisa mengatakan alasan di balik penculikanmu sampai kamu sembuh. Aku takut kalau kau tidak menerima kenyataan yang sebenarnya.” Dalam hati Leta.
Leta kemudian bicara pada Rian setelah diam sejenak di sana.
“Jika orang yang menculikmu adalah orang yang berkuasa, apa yang akan kau lakukan?” Tanya Leta penasaran dengan pendapat Rian.
__ADS_1
“Apa maksud pertanyaanmu itu, apa kau tahu sesuatu yang tidak kuketahui?” Tanya Rian dengan ekspresi heran mendengar pertanyaan Leta.
“Tidak...aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan. Aku sama sekali tidak tahu tentang masalah penculikanmu itu.”
“Biarpun dia orang yang berkuasa. Aku pasti akan mencari tahu alasan di balik penculikanku sampai menewaskan Jhon. Orang itu ingin sekali aku mati bersama Jhon.” Ucap Rian.
Rian memang sudah tahu tentang kematian Jhon sehari setelah ia bangun dari komanya.
“Rian....apa kau tidak bisa melupakan kejadian itu. Kita lupakan saja ya.”
Rian langsung menatap tajam Leta dengan penuh amarah.
“Kau bilang aku harus melupakan semuanya. Apa kau tidak waras hah. Apa kau tidak bisa melihat keadaanku. Kalau mereka tidak melakukan itu padaku, aku mungkin sudah menikah dengan Adelia. Aku tidak akan cacat begini. Apa kau mengerti?” Teriaknya dengan mata melotot melihat Leta yang berdiri di depannya.
Leta langsung kaget melihat Rian yang begitu marah mendengar ucapannya tadi. Ia hanya bisa diam melihat Rian di sana.
Rian kembali melanjutkan kata – katanya.
“Aku sangat berterima kasih atas semua pertolonganmu. Aku akan membayar semua biaya rumah sakit yang telah kau keluarkan untukku. Aku masih punya uang untuk membiaya perawatanku di sini. Meskipun aku hanya bisa membayarmu sebagian. Tapi....aku tidak bisa membiarkan seorang wanita membiayai hidupku.” Jelasnya dengan tegas.
“Rian....aku tulus membantumu. Tolong jangan katakan itu.”
“Aku tahu kalau kau tulus. Tapi maaf...aku tidak bisa membiarkanmu susah karena sudah membantuku.”
Leta langsung berjongkok di depan Rian, ia memegang tangan Rian di sana.
“Baiklah....aku akan menuruti semua kemauanmu. Tapi untuk saat ini biarkan aku membantumu sampai kau sembuh. Aku mohon Rian, tolong biarkan aku membantumu. Kau menganggapku teman kan. Jadi tolong terima bantuanku. Aku akan menerima uangmu jika itu memang kemauanmu.” Leta memohon pada Rian agar Rian membiarkan ia merawatnya. Leta sangat berharap jika suatu hari nanti Rian bisa melihat pengorbanannya, Rian bisa jatuh cinta padanya sama seperti Rian jatuh cinta pada Adelia. Hanya itu yang bisa ia lakukan agar Rian tetap disisinya.
“Baiklah.” Balas Rian saat melihat Leta yang memohon mohon padanya dengan wajahnya yang sedih. Ia tidak tega melihat wajah sedih wanita yang ia anggap sebagai teman itu.
“Terima kasih.”
Leta kembali memeluk tubuh Rian dengan ekspresinya yang terlihat sangat senang mendengar Rian setuju dengan permintaannya, sedangkan Rian hanya diam kaku tanpa membalas pelukan Leta.
“Maaf Rian....hanya ini yang bisa kulakukan. Aku sangat mencintaimu. Meskipun aku membantumu sembuh. Tapi didalam hatiku berharap kalau kamu akan selamanya seperti ini agar aku bisa selalu berada di sampingmu. Dan kau tidak akan pernah kembali padanya. Maaf....aku minta maaf karena sudah memiliki pikiran jahat seperti ini. Tapi meskipun aku memiliki pikiran seperti itu, aku tetap akan membantu sampai kau sembuh. Aku tulus ingin membantumu.” Dalam hati Leta.
Bersambung.
.
.
.
Ingat tekan LIKE di bawah ya, harus. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Yang punya koin dan poin silahkan VOTE ya.
 
__ADS_1
Terima kasih