
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Selesai masak, Bu Susan memanggil Adelia yang tengah istirahat di kamarnya.
Tok.....tok.......tok......suara ketukan pintu Bu Susan. “Adel....ayo bangun nak. Makanan sudah bibi siapkan.” Dengan suaranya yang terdengar lembut.
Tidak ada jawaban dari dalam. Bu Susan kembali memanggil keponakan suaminya itu.
“Adelia.....ayo nak. Bibi sudah menyiapkan makanan di meja makan. Kamu bangun dulu makan baru tidur lagi.”
Adelia membuka matanya dengan pelan karena mendengar suara bibinya. Ia memaksakan tubuhnya bangun. Ia melangkahkan kakinya membuka pintu kamarnya. Ia meraih gagang pintu kamarnya dengan kondisinya yang terlihat tak semangat karena masih ingin tidur. Ia membuka pintu kamarnya dan sudah melihat bibinya berdiri di depannya.
“Bibi...” Panggilnya sambil mengucek – ucek matanya.
Bu Susan menyentuh pipi Adelia. “Kamu baik – baik saja Del” Tanya Bu Susan dengan khawatir.
“Badanku berat semua bi. Tadi sih tidak terasa, tapi setelah bangun tidur badanku berat semua.” Jawabnya dengan suara seraknya karena habis bangun tidur.
“Kamu makan dulu nak baru tidur lagi. Kamu belum makan kan. Nanti kamu sakit maag lagi kalau tidak makan.” Ucapnya sambil tersenyum.
“Ia bi.”
Adelia berjalan keluar kamarnya menuju meja makan dengan keadaannya yang terlihat lesu dan tak semangat diikuti Bu Susan di belakangnya.
Disana sudah terlihat Pak Ferdi duduk menunggu keponakan perempuannya untuk makan. Adelia langsung duduk di depan pamannya dengan wajahnya yang terlihat mengantuk. Bu Susan juga ikut duduk di samping suaminya.
“Ayo makan nak.” Sahut Pak Ferdi.
“Iya paman.”
Adelia mulai mengambil makanan ke piringnya begitu pun dengan paman dan bibinya. Mereka makan tanpa bicara sedikit pun karena Pak Ferdi memang tidak suka ada orang bicara saat mereka tengah makan.
Ya....itulah Pak Ferdi. Ia adalah orang yang sedikit disiplin di rumahnya. Meskipun miskin, tapi Pak Ferdi disiplin pada keluarganya. Ia menjunjung tinggi harga diri keluarganya itu.
Selesai makan...Pak Ferdi dan istrinya mengajak keponakannya itu duduk di Ruang Tamu sambil nonton Tv. Disana ia ingin membicarakan lamaran Tuan Reqy kepada Adelia.
“Adelia...”
“Ya paman.”
__ADS_1
“Paman dan bibimu mengajakmu duduk disini karena ingin bicara hal penting denganmu.” Seriusnya.
“Apa paman?” Tanya Adelia penasaran.
Tanpa basa – basi, Pak Ferdi langsung mengatakan masalahnya pada Adelia. Pak Ferdi memang orang yang tak suka basa – basi. Apalagi kalau hal penting.
“Kemarin ada orang yang datang ke rumah. Dia datang melamar kamu menjadi istrinya.” Ucapnya dengan serius.
Wajah Adelia langsung kaget. “Apa...melamar?”
“Iya nak.”
“Siapa?” Tanya Adelia yang terlihat penasaran.
“Tuan Reqy. Seorang pengusaha kaya di Kota ini.”
Adelia lalu menunduk sambil memejamkan matanya. Ia menghela nafasnya dengan pelan disana. Sedangkan Bu Susan hanya diam mendengarkan mereka.
Pak Ferdi yang melihat kebisuan Adelia kembali bicara pada keponakannya itu.
“Orang yang selama ini membantu paman itu adalah Tuan Reqy nak. Semua uang yang paman dapatkan selama ini dari restoran itu karena bantuan Tuan Reqy.” Jelasnya dengan serius.
“Lalu...apa yang paman katakan pada orang itu?” Tanya Adelia tanpa melihat ke arah Pak Ferdi.
“Paman bilang pada Tuan Osmar yang datang mewakili Tuan Reqy, kalau paman akan bicara dulu padamu. Tapi mereka tidak mau menerima penolakan darimu. Meskipun paman sudah mengatakan padanya, kalau paman belum bisa menerima dulu lamarannya sebelum bicara padamu, tapi mereka tetap menganggap kalau keluarga kita sudah setuju.”
Adelia masih menunduk. Kedua tangannya saling menggenggam dan kedua sikunya bertumpu di kedua pahanya sambil meletakkan tangannya di jidatnya.
Ia menghembuskan nafasnya disana lalu bicara pada pamannya tentang hubungannya dengan Rian. Rencananya sih, ia ingin mengatakan itu kalau sudah ada Rian di rumahnya. Tapi ia harus mengatakannya sekarang supaya hubungannya dengan Rian bisa di ketahui pamannya dan ia tidak di nikahkan dengan orang yang tak ia cintai apalagi tak ia kenal.
Ia lalu mengangkat kepalanya melihat wajah pamannya yang ada di sampingnya.
“Paman.....sebenarnya Adelia sudah punya pacar.”
Adelia memejamkan matanya sejenak karena tak sanggup melihat pamannya.
Pak Ferdi terlihat syok mendengar ucapan keponakannya itu. Adelia kembali bicara pada pamannya yang terlihat diam.
“Aku berencana menikah dengannya paman. Sebenarnya, besok kami ingin meminta restu pada paman dan bibi. Setelah dapat restu pada paman dan bibi, kami akan menikah secepatnya, karena Rian harus magang di Thailand. Dia bilang akan menikah dulu denganku baru ke Thailand.” Jelasnya.
__ADS_1
Pak Ferdi langsung menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Bawa dia bertemu paman besok. ” Tegasnya.
“Baik.”
“Pergilah istirahat.”
“Baik.” Sambil berdiri dan menunduk sopan di depan pamannya. Ia lalu melihat ke arah Bu Susan. “Bi...aku...
Bu Susan langsung tersenyum sambil memberikan kode dengan menganggukkan kepalanya untuk tidak membiarkan Adelia melanjutkan ucapannya. Adelia langsung pergi saat melihat bibinya seperti itu.
Setelah Adelia pergi.... Bu Susan berdiri dan duduk di samping suaminya.
Ia memegang bahu suaminya itu. “Ayah...apa yang akan kita lakukan. Adelia ternyata sudah memiliki pacar yang ingin dia nikahi, sedangkan Tuan Reqy tidak mau menerima penolakan dari kita. Bagaimana ini ayah?”
“Kita ketemu dulu dengan pacar Adelia itu. Kebahagiaan Adelia yang paling penting. Kalau laki – laki itu baik dan bisa menjaga Adelia, kita restui saja hubungannya dan menikahkan mereka secepatnya. Ayah tidak suka kalau mendengar gosip tidak benar tentang Adelia di luar sana. Jangan sampai masalah ini malah membuat keluarga kita malu. Kita memang hanya keluarga sederhana tapi setidaknya kita masih bisa di pandang sebagai keluarga baik – baik. Banyak sekali kejadian yang terjadi di luar sana. Orang tua tidak menyetujui hubungan anaknya malah berujung hamil di luar nikah. Aku tidak mau kalau Adelia juga melakukan hal seperti itu. Hanya karena tidak disetujui sama kita, dia juga mengambil jalan seperti mereka.” Dengan wajahnya yang serius.
“Terus apa yang akan kita lakukan pada Tuan Reqy?”
“Kita ketemu dulu dengan pacar Adelia baru kita memutuskan pilihan yang terbaik untuk Adelia.”
“Iya. Kalau begitu, ayah istirahat dulu di kamar, nanti tekanan darah ayah naik lagi.”
“Iya bu.”
Pak Ferdi berdiri dari tempat duduknya sambil memegang kepalanya yang sedikit pusing.
“Ayah baik – baik saja.” Sambil memegang lengan suaminya.
“Tidak apa – apa bu. Cuma sedikit pusing saja.”
Pak Ferdi kembali berjalan menuju kamarnya sedangkan Bu Susan berjalan menuju dapur. Disana ia mencuci piring kotornya yang belum ia selesaikan tadi karena mengobrol dengan Adelia dan suaminya.
Adelia yang ada di kamarnya terlihat khawatir. Ia duduk di tepi tempat tidur sambil memegang cincin yang ia jadikan kalung di lehernya. Ia mengusap - usap cincin pemberian Rian yang bertuliskan nama kekasihnya disana.
"Semoga saja paman menyukai Kak Rian. Kalau tidak, paman pasti menyuruhku menikah dengan orang lain. Aku tidak bisa membayangkannya kalau sampai itu terjadi. Apalagi paman sangat mementingkan harga diri keluarga. Semuanya harus terbaik. Paman tidak suka kalau aku dan Kak Darel sampai di bicarakan tidak baik oleh orang lain." Gumamnya.
Adelia kemudian menghempaskan tubuhnya di kasur sambil memejamkan matanya.
__ADS_1
Bersambung