
🌹SELAMAT MEMBACA.🌹
Sesaat setelah Reqy pergi, Adelia kembali fokus pada nerissa. Ia menyuruh Emir mengantar Nerissa ke sebuah kamar untuk istirahat di sana, sedangkan ia berjalan menuju lantai 3 untuk menyusul suaminya yang tengah marah karena dirinya.
Ketika sudah berada di lantai 3, Adelia berjalan menuju ruang kerja suaminya. Ia berpikir kalau Reqy pasti ada di sana. Dan tentu saja, Reqy ada di ruang kerjanya. Ia duduk di meja kerjanya melanjutkan kesibukannya tadi.
Saat Adelia sudah berada di depan ruang kerja Reqy, Adelia langsung masuk ke dalam tanpa mengetuk pintunya. Karena pada saat itu ruang kerja Reqy memang terbuka lebar.
Ia berjalan pelan menghampiri suaminya yang sibuk memeriksa dokumennya. Ekspresi Reqy masih terlihat marah dengan Adelia, apalagi ia tidak mengangkat kepalanya untuk melihat Adelia. Ia hanya menyibukkan dirinya dengan dokumen yang bertumpuk di depannya itu.
“By....by...hubby.” Panggil Adelia dengan suaranya yang terdengar pelan.
“Apa...?” Reqy membalas panggilan istrinya dengan nada suara yang masih terdengar marah, apalagi ia tidak melihat Adelia yang sudah berdiri di sampingnya.
“By...aku minta maaf.” Adelia meminta maaf atas apa yang ia lakukan tadi.
“Tidak perlu minta maaf padaku. Kau suka membelanya kan, kau urus saja sana Nerissa. Tidak usah mengurusku?” Reqy bicara pada istrinya tanpa sekalipun mengangkat kepalanya, apalagi dengan nada bicara yang terdengar tegas.
Adelia seketika memeluk suaminya dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya di leher Reqy sampai pipi mereka saling menempel.
“Jangan marah, aku sama sekali tidak membelanya atau pun membantah semua yang hubby lakukan. Aku Cuma mau mengingatkan hubby kalau yang hubby lakukan itu tidak pantas untuk seorang wanita. Kalau hubby menguncinya di dalam gudang terus dia pingsan bagaimana. Aku lihat gudangnya sangat gelap dan pengap. Dan aku juga lihat kalau dia sangat ketakutan. Wanita dan laki – laki itu tidak sama by. Wanita sangat lemah di bandingkan laki – laki.” Jelas Adelia yang terus memeluk suaminya dari belakang.
“Semuanya tidak ada bedanya di mataku. Kalau perbuatannya tidak pantas, dia juga harus mendapatkan pelajaran yang setimpal.”
“Iya aku tahu. Kali ini maafkan saja apa yang di lakukan Nerissa ya. Aku sudah memaafkan apa yang sudah dia lakukan padaku. Hubby juga harus memaafkannya, apalagi yang aku lihat tadi kalau dia sudah ketakutan. Dia pasti tidak akan melakukan hal seperti itu.”
Reqy menggerakkan kepalanya ke arah wajah Adelia, ia melirik wajah istrinya yang begitu dekat dengan wajahnya.
“Oke....aku akan membiarkannya kali ini. Tapi aku masih tidak bisa menerima apa yang dia katakan padamu. Kalau ke depannya dia masih tidak sopan padamu, kau tidak usah ikut campur apa yang aku lakukan.” Tegasnya.
“Iya, aku janji aku tidak akan ikut campur.” Balas Adelia sambil menaikkan tangan kirinya untuk berjanji pada suaminya. “Hubby sudah tidak marah kan.”
“Eem.”
“Kalau begitu temani aku tidur ya. Aku sudah mengantuk.” Pinta Adelia.
“Sebentar lagi, kau tidur duluan saja. Aku selesaikan semua dokumennya dulu.”
“Hubby...” Panggil Adelia dengan suaranya yang terdengar manja.
Reqy langsung menghela nafasnya dengan pelan. “Haaaaa.....baiklah, aku temani.” Ucap Reqy sambil mengelus kepala istrinya yang masih bersandar di bahunya. “Ayo....” Ajaknya.
Adelia melepaskan pelukannya saat melihat Reqy ingin berdiri dari tempat duduknya. Saat Reqy berdiri, Adelia langsung mengulurkan kedua tangannya, kemudian memeluk suaminya.
“Gendong ya.” Pinta Adelia sambil mengangkat kepalanya melihat suaminya dengan wajahnya yang tersenyum manis.
Wajah Reqy yang tadi kesal berubah tersenyum ketika melihat istrinya bersikap manja dengannya. Memang itu lah yang ia suka saat Adelia menganggapnya pria yang berguna, pria yang bisa membahagiakannya, pria yang bisa memanjakan dirinya.
Saat itu, Reqy menggendong Adelia menuju kamar pribadinya. Ketika sampai di kamarnya, Reqy membaringkan istrinya di kasur sambil membantu Adelia menyelimuti setengah badannya. Ia melepaskan bajunya seperti yang biasa ia lakukan ketika ingin tidur, kemudian ikut naik di atas kasur dan berbaring di sana.
 “Kemarilah.” Reqy menepuk – nepuk lengannya yang ia sodorkan di samping istrinya.
Sedangkan Adelia mulai menggerakkan badannya untuk mendekati Reqy, lalu meletakkan kepalanya di lengan suaminya. Saat itu, Reqy langsung memeluk Adelia yang sudah berbaring di lengannya. Ia mencium kening istrinya, kemudian memejamkan matanya di sana, begitu pun Adelia yang ikut memejamkan matanya untuk tidur.
__ADS_1
***
Keesokan paginya.
Reqy sudah membuka matanya di sana, ia menatap istrinya yang masih tertidur pulas di sampingnya. Ia menahan kepalanya dengan tangannya yang saat itu bertumpu di bantal yang ia pakai tidur. Ia tersenyum menatap istrinya sambil mengelus pipi istrinya dengan lembut. Setelah puas melihat wajah Adelia, Reqy kemudian mencium kening istrinya dengan mesra.
Saat itu, Adelia mulai membuka matanya ketika merasakan sentuhan bibir Reqy di keningnya.
“By...kamu sudah bangun.” Adelia mengangkat kepalanya melihat wajah Reqy.
“Eem...aku sudah bangun dari tadi. Apa aku membangunkanmu?” Tanya Reqy.
“Tidak apa – apa, aku memang sudah mau bangun by. Hubby mau ke kantor hari ini.”
“Tidak....tadi malam aku sudah menyelesaikan semua dokumennya. Jadi hari ini aku akan menemanimu di rumah.” Ucap Reqy sambil tersenyum melihat Adelia.
“Benar, kalau hubby mau menemaniku di rumah.”
“Iya sayang.”
Adelia langsung memeluk suaminya dengan senyuman bahagia yang ia tunjukkan. Ia sangat senang mendengar Reqy akan menemaninya di rumah. Itu karena ia sudah terbiasa di temani Reqy kemana pun ia pergi selama kehamilannya. Rasanya ia tidak terbiasa jika Reqy meninggalkannya sendiri.
“Aku mandi dulu ya, baru temani kamu melukis.” Ucap Reqy.
“Iya.” Adelia melepaskan pelukannya di sana ketika mendengar ucapan suaminya.
Sesaat setelah Adelia melepaskan pelukannya, Reqy turun dari tempat tidurnya, kemudian berjalan menuju kamar mandinya.
Adelia turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan pelan menuju depan pintu kamarnya. Saat membuka pintu kamarnya, ia melihat Emir sudah berdiri di depan pintu kamar pribadinya.
“Emir......ada apa?” Tanya Adelia.
“Maaf nyonya, kalau saya mengganggu Anda.” Emir menundukkan kepalanya dengan sopan ketika berhadapan dengan Adelia.
“Ada apa?” Tanya Adelia.
“Nona Jeny datang ke sini nyonya, dia ingin bertemu dengan Nerissa. Tapi saya belum mengizinkan dia masuk tanpa persetujuan dari Anda.” Jawab Emir.
“Biarkan saja dia masuk.”
“Baik nyonya.” Emir membungkuk hormat di depan Adelia, kemudian berjalan meninggalkan Adelia yang masih berdiri di sana.
Baru saja Emir berjalan empat langkah dari kamar Adelia, tiba – tiba Adelia memanggil namanya.
“Emir.”
Emir seketika berbalik saat mendengar panggilan dari Adelia. “Ya nyonya.” Balasnya.
“Aku ikut. Aku mau melihat keadaan Nerissa.”
“Baik nyonya.”
Adelia pun melangkahkan kakinya mengikuti Emir menuju lantai bawah menggunakan lift rumahnya.
__ADS_1
Tak lama kemudian, pintu lift sudah terbuka saat mereka sudah berada di lantai 2. Adelia langsung keluar dari lift, sedangkan Emir masih berada di dalam lift menuju lantai bawah.
Adelia berjalan pelan menuju kamar tamu yang di tempati Nerissa. Saat sudah berada di dalam pintu kamar Nerissa, ia membuka pintu kamar Nerissa dengan pelan. Di sana, ia sudah melihat Nerissa duduk bersandar di tempat tidurnya dengan wajahnya yang terlihat bengkak akibat tamparan yang di berikan Reqy.
Adelia berjalan menghampiri Nerissa.
“Bagaimana perasaanmu. Apa kamu sudah merasa baikan?” Tanya Adelia ketika sudah berdiri di samping tempat tidur Nerissa.
Nerissa tidak menjawab pertanyaan Adelia, ia hanya diam menatap Adelia, kemudian turun dari kasurnya. Ia langsung menundukkan kepalanya di depan Adelia.
“Aku minta maaf dengan kata – kataku tempo hari, aku memang salah. Kakak pasti marah padamu karena sudah membantuku.” Ia meminta maaf atas apa yang ia lakukan pada Adelia.
Adelia menghela nafasnya dengan pelan melihat Nerissa. “Aku sudah memaafkanmu. Aku tahu kamu pasti melakukan itu karena tidak menyukaiku. Aku hanya berharap kamu tidak melakukan hal seperti itu lagi. Tidak ada salahnya memberikan kesempatan kedua pada orang lain. Seperti halnya denganmu. Kamu sudah mengakui kesalahan yang sudah kamu lakukan. Tapi ini pertama dan terakhir aku bisa membantumu. Aku tidak akan membantumu kalau kamu melakukan hal seperti itu lagi. Aku bukan orang yang bisa memberikan kesempatan kedua pada orang lain.” Jelasnya dengan suaranya yang terdengar pelan namun tegas.
Nerissa mengangkat kepalanya melihat Adelia dengan ekspresi serius.
“Terima kasih karena sudah memaafkanku. Sebenarnya......aku mengatakan itu karena kupikir kakak ipar tidak mencintai Kak Reqy. Maaf....aku tidak mudah percaya pada orang. Tolong maafkan aku karena sudah berprasangka buruk.” Nerissa terlihat bersalah dengan semua kata – kata yang ia ucapkan pada Adelia. Ia tidak menyangka kalau perbuatannya itu membuat Adelia begitu sakit hati sampai menangis di tempat pesta. Bahkan pergi meninggalkan tempat pesta tanpa mengatakan apa – apa.
“Tidak masalah.” Balas Adelia sambil memegang bahu kiri Nerissa.
Di tengah – tengah pembicaraan mereka, Emir dan Jeny masuk ke dalam kamar Nerissa. Jeny langsung berjalan cepat menghampiri Nerissa tanpa menyapa Adelia yang masih berdiri di dekat Nerissa. Ia hanya fokus melihat keadaan Nerissa.
“Nerissa...kamu baik – baik saja kan.” Ucap Jeny dengan ekspresinya yang khawatir.
“Iya, aku baik – baik saja.” Balas Nerissa.
“Aku pikir kamu masih di dalam gudang.”
“Kakak ipar yang mengeluarkanku dari gudang.”
“Kakak ipar.” Jeny terlihat heran melihat Nerissa yang tiba – tiba memanggil Adelia dengan sebutan kakak ipar.
“Iya.” Balas Nerissa.
Adelia yang masih berdiri di sana, kembali bicara pada Nerissa.
“Nerissa, aku kembali ke atas dulu ya.” Ia pamit pada Nerissa, karena tak ingin mengganggu pembicaraan mereka berdua.
“Iya, terima kasih kakak ipar.” Balas Nerissa dengan sopan.
Adelia pun berjalan bersama Emir meninggalkan Nerissa dan Jeny di sana, sedangkan Jeny tidak peduli atau pun tersenyum pada Adelia seperti yang ia lakukan ketika ada Reqy. Ia hanya memasang ekspresi biasa di sana, dan hanya fokus melihat keadaan Nerissa.
Bersambung.
.
.
.
Ingat tekan LIKE ya harus. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar . VOTE......VOTE.....VOTE YA.
Terima Kasih
__ADS_1