
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Adelia duduk diam di sofa sambil melihat ke arah suaminya yang tengah membuka laptopnya.
“Kenapa sih aku harus di suruh duduk di sini menemaninya, bukannya tadi di kamar dia menyuruhku untuk tidur. Aku pikir setelah buat kopi aku langsung di suruh tidur. Haaaa.....aku mengantuk sekali.”Dalam hati Adelia. Ia mengucek – ngucek mata ngantuknya itu.
Sementara Reqy sudah sibuk rapat Online dengan beberapa karyawannya yang ada di Inggris. Sesekali ia melirik ke arah istrinya yang tengah duduk diam dengan matanya yang terlihat mengantuk.
Reqy memang sengaja menyuruh Adelia menemaninya karena ia tidak suka duduk sendirian di sana.
Selama satu jam, Adelia duduk di sofa. Ia sudah tidak tahan dengan rasa ngantuknya. Ia memejamkan matanya dengan kepala mengangguk – ngangguk menahan dirinya yang kehilangan kesadaran.
Reqy kembali melirik istrinya yang seperti itu, ia sampai tersenyum melihat Adelia yang terus mengangguk – ngangguk kan kepalanya menahan rasa ngantuknya.
Semua bawahannya yang melihat senyum bosnya itu langsung memajukan semua wajahnya ke layar laptop. Mereka seperti itu karena syok melihat senyum tipis Reqy yang sama sekali belum pernah mereka lihat. Mereka ingin memastikan kalau bos dinginnya itu benar – benar tersenyum.
Reqy kembali fokus menatap laptopnya.
“Apa yang kalian lakukan?” Tanya Reqy dengan wajah dinginnya.
Semua bawahannya langsung diam menunduk karena melihat bosnya kembali berwajah dingin dan sombong.
Reqy kembali bicara pada bawahannya.
“Rapatnya kita lanjutkan besok, kalian lakukan seperti yang aku katakan tadi.”
“Baik tuan.” Sahut bersamaan.
Rapat Onlinenya pun di tutup, Reqy berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah istrinya yang sudah memejamkan matanya dengan posisinya yang duduk. Kepalanya terus mengangguk – ngangguk di sana. Reqy berjalan pelan menghampiri istrinya karena tak ingin membangunkannya dengan suara langkah kakinya. Ia berjongkok di depan Adelia dengan wajahnya yang tersenyum tipis melihat Adelia yang terus mengangguk – nganggukkan kepalanya.
Reqy lalu berdiri dan duduk pelan – pelan di samping Adelia. Ia memegang bahu dan menahan kepala istrinya lalu meletakkan kepala Adelia di pahanya dengan pelan agar wanita itu tidak bangun.
Ia menyingkirkan rambut Adelia yang menutupi sebagian wajahnya agar ia bisa melihat jelas wajah Adelia yang tengah berbaring di pahanya.
“Kenapa wanita ini setiap hari hanya menunduk saat melihatku, apa segitu bencinya kau padaku yang sudah memaksamu menikah?” Dalam hati Reqy yang menatap wajah Adelia.
Tak lama kemudian, ia menyandarkan punggung dan kepalanya di sofa. Di sana ia ikut memejamkan matanya tanpa mengganggu tidur nyenyak Adelia di pahanya. Mereka akhirnya tidur berdua di sofa dengan posisi mereka masing – masing.
Keesokan paginya.
Adelia membuka matanya secara perlahan – lahan. Sementara Reqy sudah bangun sejak tadi, ia duduk diam menunggu Adelia bangun.
“Kau sudah bangun.” Tanya Reqy.
Adelia langsung menengok melihat Reqy, ia sangat kaget melihat suaminya yang ada di depan matanya di tambah ia berbaring di paha Reqy.
Dengan sigap, ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari sana.
Brukk...
“Auw...” Tanpa sadar Adelia terjatuh ke lantai dengan posisi tengkurap.
__ADS_1
Reqy langsung berjongkok di depan Adelia.
“Apa kau tidak bisa hati – hati sedikit?” Tanya Reqy sambil memegang bahu istrinya.
Adelia dengan sigap bangun di sana sambil memegang hidungnya yang terkena benturan lantai.
“Maaf....”
Reqy terlihat khawatir melihat Adelia memegang hidungnya, ia langsung menarik tangan Adelia yang sedang memegang hidungnya itu.
Ia memajukan wajahnya untuk melihat hidung Adelia yang terbentur. Reqy sampai mengerutkan keningnya melihat hidung Adelia yang kemerahan.
Reqy melihat ke arah pintu ruangannya. “Ada orang di luar.” Teriaknya dengan keras.
Salah satu pelayan langsung membuka pintu ruangannya. “Saya di sini tuan.” Ucapnya sambil menunduk.
“Cepat panggil Lumi ke sini, istriku terluka.” Perintahnya.
“Baik tuan.”
Pelayan itu pun pergi memanggil Lumi yang ada di lantai bawah.
Sedangkan Adelia langsung kaget mendengar Reqy ingin memanggil Lumi hanya karena luka di hidungnya.
“Kak, aku tidak apa – apa. Hanya lecet sedikit, lukanya tidak berdarah kok.”
Reqy kembali menatap Adelia dengan kesal.
Sementara Adelia hanya menunduk karena tak berani melihat suaminya yang memarahinya itu apalagi ia baru pertama kali di marahi sambil di tunjuk – tunjuk langsung ke wajahnya.
“Kenapa dia sampai marah – marah sih, aku kan tidak sengaja. Memangnya aku mau terluka begini?” Dalam hati Adelia.
Tiba – tiba Dokter Lumi datang, ia berjalan cepat menghampiri Adelia yang duduk di lantai sambil menunduk dan Reqy yang masih berjongkok dengan wajahnya yang sangat kesal pada istrinya.
Lumi berjongkok di depan Adelia. “Nyonya, apa yang terjadi pada Anda?” Tanya Lumi sambil memegang bahu Adelia.
Adelia mengangkat kepalanya melihat Lumi.
“Aku....
Reqy langsung memotong kalimat Adelia yang belum selesai. “Hidungnya patah.” Sahut Reqy sambil berdiri dari sana. Saat berdiri ia langsung meletakkan kedua tangannya di pinggangnya, menatap istrinya yang masih duduk di lantai.
Adelia kembali melanjutkan kalimatnya yang terpotong tadi. “Aku tidak apa – apa.” Ucapnya sambil tersenyum melihat Lumi.
“Ayo duduk dulu di sofa nyonya, mari saya bantu.” Lumi memegang lengan Adelia membantunya berdiri.
“Terima kasih.”
Adelia duduk di sofa dan Lumi mulai memeriksa hidung Adelia yang terluka.
Lumi kemudian berdiri di depan Reqy. “Hidungnya tidak apa – apa tuan. Tidak patah sama sekali.”
__ADS_1
“Huh...pagi – pagi sudah bikin heboh seisi rumah.” Ucap Reqy dengan datarnya.
“Memangnya aku yang sudah buat heboh, kan kamu sendiri.” Dalam hati Adelia. Ia hanya bisa mengatakan rasa kesalnya di dalam hatinya tanpa berani mengatakan langsung pada suaminya.
Setelah mengatakan itu, Reqy langsung meninggalkan Lumi dan Adelia di ruangan kerjanya. Ia berjalan menuju kamar pribadinya untuk siap – siap berangkat kerja.
Sementara Adelia dan Lumi masih tetap duduk di sofa.
“Apa hidung nyonya masih sakit?” Tanya Lumi sambil melihat hidung Adelia.
“Tidak kok, sudah tidak apa – apa.”
“Aku langsung naik saat pelayan datang memanggilku. Bahkan pelayan bilang kalau nyonya terluka parah.” Jelasnya.
“Aku tadi tidak sengaja jatuh di lantai sampai hidungku membentur lantai.”
“Oh...begitu.”
Tiba – tiba datang seorang pelayan ke ruangan kerja Reqy. Ia langsung masuk ke dalam karena pada saat itu pintu tidak tertutup.
“Nyonya, Anda di panggil tuan ke kamar.” Ucapnya sambil menunduk hormat.
“Oh..iya mba.”
Adelia berdiri dari sofa. “Lumi, aku ke sana dulu ya.”
“Iya nyonya, silahkan. Saya juga mau turun ke bawah.”
Adelia berjalan keluar bersama dengan Lumi yang ikut jalan di belakangnya.
Ketika di luar, Adelia langsung berjalan ke kamar pribadinya sedangkan Lumi berjalan turun ke bawah.
 
 
 
Bersambung.
.
.
.
.
Ingat tekan LIKE di bawah ya. Jangan sampai lupa lagi. Berikan VOTE nya dan Tulis KOMENT kalian. Biar Author lebih semangat lagi nulis kelanjutannya.
 
__ADS_1
Terima Kasih.