Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Kebenaran yang menyakitkan part 3


__ADS_3

Pukul 1:00 malam.


Kini Adelia tengah tidur di kamar anaknya. Setelah pertengkarannya tadi sore dengan suaminya, ia sama sekali tak pernah bicara lagi dengan Reqy. Ia hanya berada di kamar Ikrar, menemani anaknya di sana bersama Nerissa. Tentu saja Nerissa merasa kasihan melihat kakak iparnya dan kakaknya bertengkar masalah yang sudah terjadi dimasa lalu, namun ia hanya bisa diam tanpa ikut campur masalah mereka.


Sementara Reqy sekarang berada di Ruang Kerjanya, menatap langit malam di jendela kaca ruang kerjanya. Ia sama sekali tak pernah menunjukkan dirinya pada istrinya seperti yang ia katakan tadi sore. Ia menghisap rokoknya di sana, menunggu Pak Osmar melaporkan semua yang sudah ia perintahkan tadi.


Hari ini, ia sudah mengambil keputusan untuk menyerahkan dirinya ke polisi setelah mengatur semua hartanya atas nama istrinya. Demi Adelia, ia rela melakukan apapun termasuk menyerahkan dirinya ke polisi. Baginya, itu hanyalah hal yang kecil di banding ia tidak bisa melihat Adelia seumur hidupnya. Jika tak bisa melihat Adelia, sama saja ia bagaikan manusia, tanpa jiwa.


***


Pak Osmar yang sudah selesai melakukan semua perintah Tuan Mudanya, berjalan masuk ke dalam ruang kerja Reqy tanpa mengetuk pintunya. Ia mengira kalau Reqy tengah tidur di sana, namun pemikirannya sama sekali salah. Reqy masih terjaga di dalam ruang kerjanya. Ia masih berdiri tegak sambil menghisap batang rokonya tadi.


“Tuan Muda...saya sudah melakukan semua yang Anda perintahkan.” Ucap Pak Osmar sesaat setelah ia berdiri di depan meja kerja Reqy.


Reqy menoleh ke arah Pak Osmar, kemudian mematikan api rokoknya di asbak, tepat di atas meja kerjanya.


“Eem...Terima kasih.” Ucap Reqy.


“Sama – sama Tuan Muda. Itu memang sudah menjadi tugas saya.” Balas Pak Osmar.


Saat itu, Pak Osmar merasa aneh dengan tingkah Tuan Mudanya hari ini setelah pertengkarannya dengan Adelia, namun ia masih diam disana menatap Reqy dengan penuh tanda tanya.


Reqy kemudian membuka laci mejanya, mengambil kotak musik milik istrinya disana. Ia menatapnya dengan tersenyum sambil mengusap kotak musiknya.


“Kalau dilihat, benda ini hanya benda untuk anak kecil. Benda yang sangat biasa bagi orang lain. Tapi, entah kenapa aku sangat menyukainya saat pertama kali melihatnya, bahkan tidak rela kalau ada orang yang menyentuhnya kecuali diriku. Aku bahkan menculik seseorang yang sudah berani mengambilnya dariku. Aku benar – benar pria yang begitu kejam. Hanya ingin mendapatkan benda ini, aku sampai melakukan perbuatan yang sangat di benci orang.” Ucap Reqy yang terus melihat kotak musik milik istrinya. Ia kemudian mengangkat kepalanya melihat Pak Osmar. “Aku memang salah, tapi aku hanya ingin memiliki benda ini saja paman.”


Pak Osmar sudah merasa, pasti ada sesuatu ketika mendengar ucapan Tuan Mudanya itu.


“Sebenarnya...apa yang Anda rencanakan Tuan Muda. Kenapa Anda tiba – tiba membalikkan semua harta Anda pada nyonya?” Tanya Pak Osmar yang sudah sangat penasaran dengan pemikiran Tuan Mudanya.


“Adel sudah menjadi wanita yang dewasa. Dia pasti bisa mengurus semuanya dengan baik. Apalagi ada Emir yang selalu mendampinginya.” Jawab Reqy dengan santai.


“Tuan Muda. Dari dulu Keluarga Abraham tidak menizinkan seorang wanita mengurus semua yang menyangkut bisnis. Nyonya Muda hanya cukup mengurus keadaan rumah ini saja.” Jelas Pak Osmar kembali mengingatkan Reqy tentang adat istiadat keluarganya.


“Aku tahu. Tapi hanya dia yang bisa mengurus semuanya setelah aku tiada. Saat Ikrar besar, Ikrar pasti akan mengambil alih bisnisnya.” Balas Reqy menatap Pak Osmar dengan serius.

__ADS_1


Pak Osmar semakin bingung dengan maksud semua ucapan Reqy. Ia tidak tahu apa yang ingin di lakukan Reqy.


“Anda mau kemana Tuan Muda?” Tanya Pak Osmar.


“Besok, aku akan ke kantor polisi untuk menyerahkan diri atas perbuatan yang kulakukan dimasa lalu.” Jawab Reqy dengan ekspresi santainya. Merasa kalau dirinya baik – baik saja.


Sontak saja membuat Pak Osmar kaget mendengar kata – kata Tuan Mudanya.


“Tuan Muda, Anda benar – benar serius mau menyerahkan diri ke kantor polisi,”


Reqy memejamkan matanya sejenak, kemudian menatap kembali Pak Osmar.


“Aku harus melakukannya. Aku harus menanggungnya sendiri.” Balas Reqy.


Seketika Pak Osmar menjatuhkan dirinya, berlutut di depan Reqy.


“Tuan Muda, Anda tidak boleh masuk penjara. Kalau ada orang yang masuk penjara, itu adalah saya.” Ucap Pak Osmar sambil menundukkan kepalanya tak berani melihat Reqy yang berdiri  tak jauh darinya.


“Paman....apa yang kau katakan. Disini aku yang bersalah bukan paman. Aku yang sudah menyuruh paman melakukan semuanya?”


“Apa maksud paman?” Tanya Reqy mengerutkan keningnya.


“Dua tahun lalu. Saya yang merencanakan untuk membunuh Rian. Saya menyuruh orang untuk membunuhnya.” Jawab Pak Osmar tanpa berani menatap wajah Reqy.


Reqy langsung syok mendengar pengakuan Pak Osmar. Bagaimana bisa Pak Osmar yang ia anggap sebagai orang kepercayaan keluarganya, orang yang ia anggap sebagai pengganti kedua orang tuanya tega merencanakan pembunuhan pada orang lain. Ia merasa tidak percaya dengan kata – kata yang di lontarkan Pak Osmar. Apa Pak Osmar mengatakan itu hanya untuk menggantikannya masuk penjara? Pikirnya.


Dengan langkah tegak, ia berjalan menghampiri Pak Osmar yang masih berlutut di tempatnya tadi.


“Bangun.” Perintah Reqy dengan tegas. Ia menatap Pak Osmar dengan penuh amarah.


Pak Osmar mengangkat kepalanya melihat Reqy yang sudah menatapnya dengan marah.


“Tuan Muda.”


“Aku bilang bangun.” Teriak Reqy dengan marah.

__ADS_1


Pak Osmar berusaha bangun dari sana setelah mendengar teriakan Reqy.


“Apa paman sedang bercanda denganku?” Tanya Reqy dengan tatapan tajam melihat Pak Osmar.


“Tidak Tuan Muda. Saya tidak bercanda. Saya benar – benar sengaja mau membunuh Rian.” Jawab Pak Osmar dengan serius menatap reqy.


Plak...tamparan keras langsung Pak Osmar dapatkan sesaat setelah ia mengatakan itu pada Reqy, namun ia hanya bisa diam tak bergeming menerima tamparan Tuan Mudanya.


Seketika Reqy meneteskan air matanya, menatap Pak Osmar. Namun, seketika juga ia menghapusnya tak membiarkannya jatuh sampai ke pipinya. Ia sangat terluka sekarang, melihat Pak Osmar bisa berbuat kejam pada orang lain. Ya, Reqy memang tegas, arogan, menghancurkan bisnis orang, memasukkan orang ke penjara, namun ia tidak akan pernah mau melakukan pembunuhan pada orang lain. Lelaki arogan itu akhirnya mengeluarkan air matanya tadi, tak percaya dengan perbuatan Pak Osmar yang selama ini di sembunyikan darinya.


“Aku sudah bilang, jangan pernah keluar dari jalur. Tapi kau melakukannya tanpa sepengetahuanku paman. Kenapa kau sampai merencanakan itu semua.hah?” Tanya Reqy.


“Maafkan saya Tuan Muda. Saya tidak bisa melihat Tuan Muda menderita yang kedua kalinya. Saya tidak bisa melihat Anda kehilangan sesuatu yang Anda inginkan. Jika itu bisa membuat Anda bahagia kembali, saya akan melakukannya apapun.” Jawab Pak Osmar.


“Meskipun kau menghilangkan nyawa orang,”


“Iya...saya sudah melihat Anda sejak Anda lahir sampai sekarang. Saya hanya berharap Anda mendapatkan kebahagiaan, meskipun itu adalah cara yang salah akan saya lakukan.” Jawab Pak Osmar.


“Paman tidak membuatku bahagia tapi membuatku semakin tersiksa.” Ucapnya dengan suara keras, mendengar semua perbuatan Pak Osmar.


Pak Osmar kembali berlutut di depan Tuan Mudanya.


“Maka dari itu, biarkan lah saya yang masuk penjara Tuan Muda. Saya yang akan mengakui semua perbuatan yang saya lakukan. Saya memang sudah siap jika hari itu datang.” Ucap Pak Osmar memohon di depan kaki Reqy.


Reqy memejamkan matanya, menghela nafasnya untuk mencoba menenangkan dirinya. Ia kemudian membalikkan badannya membelakangi Pak Osmar.


“Aku yang menyuruhmu melakukan penculikan, aku yang akan menanggung sendiri perbuatan yang sudah kulakukan. Aku tidak memerlukan siapapun untuk melakukannya. Besok kembalilah ke Inggris. Jangan pernah muncul di hadapanku.” Tegasnya mengusir Pak Osmar dari sana.


“Tidak Tuan Muda. Anda tidak bisa melakukannya. Saya yang akan menanggung semuanya. Tolong pikirkan tuan muda kecil kalau Anda sampai masuk penjara. Saya memang bersalah disini. Saya sudah tua, tidak punya keluarga, jadi tidak masalah kalau saya berada di penjara. Tolong pikirkan Nyonya dan Tuan Muda kecil kalau Anda sampai masuk penjara. Mereka membutuhkan Anda.” Ucap Pak Osmar memohon pada Reqy. Ia tidak


akan pernah bisa pergi begitu saja meninggalkan Tuan Mudanya menanggung derita yang tak seharusnya ia tanggung.


Reqy memejamkan matanya, mengangkat kepalanya ke atas sambil mengepalkan tangannya, merasa begitu sedih. Merasa begitu marah dengan dirinya, dengan semua yang sudah di lakukan Pak Osmar.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2