Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Tugasmu Adalah Mengurusku


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Adelia masuk ke dalam kamarnya, ia berjalan menuju Ruang Ganti mencari keberadaan suaminya. Adelia langsung berdiri di depan pintu Ruang Ganti kamarnya yang terbuka lebar.


“Kak, aku sudah datang.” Ucap Adelia yang sudah berdiri di depan pintu Ruang Gantinya.


“Carikan baju kantorku.”


“Ya.” Adelia sedikit kaget mendengar suaminya yang menyuruhnya untuk mencarikan bajunya lagi seperti tadi malam.


Ia masih berdiri diam di depan pintu tanpa bergerak sedikit pun.


“Aku bilang carikan baju kerja, baju kantor. Kau tidak mengerti.” Ucap Reqy kembali mengulang ucapannya.


“Tapi.....aku tidak tahu Kak Reqy selalu pakai baju apa?” Tanya Adelia.


Reqy berjalan mendekati istrinya yang tengah berdiri di dekat pintu. Adelia langsung menurunkan bola matanya ke bawah tak ingin melihat Reqy yang berjalan mendekatinya.


Reqy berdiri di depan istrinya, ia membungkuk dan memajukan kepalanya di dekat telinga Adelia. Adelia hanya bisa memejamkan matanya di sana sambil menahan nafasnya.


“Kau itu istriku, jadi tugasmu adalah mengurusku. Siapa lagi yang mengurusku kalau bukan kau. Apa aku harus meminta wanita lain yang mengurusku?” Bisiknya di telinga Adelia.


Reqy kembali menegakkan tubuhnya. “Sana pergi.”


“Iya...akan ku lakukan.”


Adelia berjalan cepat melewati Reqy yang masih berdiri di tempatnya. Ia berjalan ke arah lemari pakaian suaminya. Sedangkan Reqy langsung menengok ke belakang melihat istrinya.


“Mulai sekarang, kau yang mengurus semua kebutuhanku. Aku tidak suka menyuruh – nyuruh orang lain atau pun pelayan di sini mengurusku sementara aku punya istri di sini.” Tegasnya.


“Iya....aku akan lakukan semuanya.” Ucapnya sambil melihat suaminya.


Kebiasaan Keluarga Abraham memang seperti itu, semua wanita yang sudah menikah hanya fokus mengurus suaminya dengan baik. Mereka akan melakukan tugasnya sebagai istri di rumah dan tugasnya sebagai Nyonya Abraham ketika berada di luar seperti menghadiri kegiatan yang memang seharusnya di datangi para istri pengusaha.


“Awas kalau kau salah lagi seperti tadi malam.” Reqy lagi – lagi mengancam istrinya.


Ia kemudian keluar dari Ruang Gantinya menuju kamar mandinya. Sedangkan Adelia hanya bisa menghela nafasnya mendengar Reqy yang setiap hari hanya bisa mengancamnya.


“Dia setiap hari bicaranya terus seperti itu. Aku ingin sekali pergi dari tempat mengerikan ini.” Dalam hati Adelia. Ia mulai mencari pakaian kantor suaminya di lemari.


“Jas mana yang selalu dia pakai, ini pertama kalinya aku memilihkan pakaian untuk seorang pria apalagi pria yang suka marah – marah itu. Kalau aku salah pilih, pasti dia marah lagi.” Gumamnya dengan kesal.


Adelia terus mencari setelan jas dari semua setelan jas kantor yang tergantung di lemari suaminya itu.


“Apa yang ini saja?” Gumamnya sambil memegang setelan jas berwarna abu – abu milik Reqy. “Yang ini saja lah.”


Ia keluar dari Ruang Gantinya dan berjalan menuju tempat tidurnya. Di tempat tidurnya itu, ia letakkan pakaian suaminya tadi.


Reqy yang selesai mandi, keluar dari kamar mandinya. Ia berdiri di depan  pintu kamar mandinya sambil mengusap – usap rambut basahnya dengan handuk kecil yang ia pegang. Ia melihat istrinya tengah berdiri di dekat tempat tidurnya membelakangi dirinya.


“Mana bajuku.” Tanya Reqy sambil berjalan ke arah Adelia.


Adelia berbalik ke belakang melihat suaminya.


“Aku sudah bawa kak.”

__ADS_1


“Bawakan ke Ruang Ganti.” Ucap Reqy sambil berjalan ke Ruang Gantinya.


“Iya.”


“Haaaa.....seharusnya aku tunggu saja dia di Ruang Ganti. Jadi bolak balik gini kan.” Dalam hati Adelia.


Ia berjalan menyusul suaminya yang sudah ada di dalam Ruang Gantinya. Ketika Adelia berada di pintu masuk, Adelia sangat kaget melihat Reqy yang hanya memakai celana dalam dengan model boxer. Terlihat lengannya yang berotot dan perut Six Packnya. Reqy memang selalu menyempatkan dirinya berolahraga saat ia tidak terlalu sibuk bekerja.


Mata Adelia sampai melotot karena kaget, ia langsung memalingkan wajahnya tak ingin melihat tubuh kekar suaminya.


“Kak, aku sudah bawa pakaiannya.” Ucap Adelia tanpa melihat Reqy.


“Bawa ke sini.” Perintahnya.


Adelia berjalan pelan ke arah suaminya dengan wajahnya yang terlihat canggung.


“Ya tuhan....kenapa dia melepaskan baju mandinya. Apa dia tidak punya rasa malu.” Dalam hati Adelia.


“Cepat jalan ke sini, apa lagi yang kau tunggu?” Reqy kesal melihat istrinya berjalan pelan ke arahnya.


Adelia kemudian mempercepat langkahnya sampai di depan suaminya. Ia menyodorkan pakaiannya itu pada Reqy.


Reqy hanya meraih celananya di tangan Adelia tanpa mengambil semua pakaiannya.


“Kenapa kau menunduk begitu, apa kau tidak mendengarkan apa yang ku katakan tadi malam?” Tanya Reqy sambil memasang celana panjangnya di depan Adelia. Ia melihat Adelia yang lagi – lagi menunduk di depannya.


Adelia masih menunduk, ia masih canggung jika harus mengangkat kepalanya melihat Reqy yang belum memakai bajunya.


“Angkat kepalamu dan lihat aku.” Tegasnya.


Reqy menarik pinggang Adelia sampai menempel di tubuhnya. Adelia langsung kaget melihat dirinya yang di tarik suaminya sampai ia menjatuhkan jas dan kemeja Reqy yang ia pegang. Ia menahan tubuhnya dengan kedua tangannya di dada Reqy agar ia tak begitu dekat dengan Reqy.


“Kau benar – benar menganggap angin lalu ucapanku tadi malam.”


“Maaf, bukan begitu.” Tanpa melihat Reqy yang sangat dekat dengan wajahnya.


Reqy semakin jengkel melihat Adelia yang tak ingin mendekatkan kepalanya padanya, malah memalingkan wajahnya ke samping. Reqy lalu memegang kepala Adelia dan menariknya. Ia mencium bibir istrinya itu dengan paksa.


“Mmm....mmm....mmm.” Suara Adelia yang menolak ciuman suaminya.


Reqy semakin mencium bibir istrinya dengan paksa. Adelia hanya bisa diam dengan memejamkan matanya. Kekuatan Reqy yang menahan kepala dan tubuhnya lebih besar dari pada usahanya untuk menolak.


Semakin lama, Reqy semakin menikmati mencium istrinya. Ia sampai memeluk erat tubuh Adelia dan memegang erat rambut bagian belakang kepala istrinya, membuat Adelia tak punya celah untuk melepaskan diri.


Setelah puas mencium Adelia, ia langsung melepaskan ciumannya dari bibir Adelia. Ia menatap wanita itu sambil mengusap bibir merah Adelia dengan ibu jarinya.


“Lain kali, jangan pernah melakukan hal yang membuatku kesal. Kalau tidak, kau akan menggantinya dengan membuatku puas. Kau mengerti.”


“Iya.” Menatap wajah suaminya. Ia tak berani lagi menunduk seperti tadi. Bisa – bisa Reqy melakukan hal yang tidak ia inginkan lagi seperti tadi.


Reqy melepaskan tubuh Adelia. “Keluarlah.”


“Iya.” Balasnya sambil menggenggam erat bagian bawah gaun tidurnya karena perasaan kesal yang ia tahan dalam dirinya.


Dengan cepat, Adelia keluar dari sana dengan perasaan kesalnya itu yang tak bisa ia tunjukkan langsung di depan suaminya.

__ADS_1


Ia duduk di tepi tempat tidurnya sambil memegang bibirnya yang habis di cium Reqy.


“Kenapa dia selalu melakukan hal – hal seperti itu. Dia hanya bisa memaksa keinginannya saja tanpa peduli perasaan orang.” Dalam hati Adelia. Tanpa sengaja ia menjatuhkan air matanya di sana. Ia dengan cepat menghapus air matanya agar tak di ketahui suaminya.


Sementara Reqy yang merapikan kemeja dan jasnya di tubuhnya, tanpa sadar tersenyum membayangkan ketika ia mencium Adelia tadi.


“Huuffft.” Reqy menghela nafasnya sambil memejamkan matanya karena menahan nafsunya.


Ia kemudian berjalan keluar dari kamar gantinya, ia menghampiri istrinya yang tengah duduk di tepi tempat tidurnya. Adelia langsung berdiri ketika Reqy sudah berdiri di depannya.


“Ayo...turun sarapan.” Ajak Reqy.


“Kak Reqy duluan saja, aku mandi dulu.”


Reqy langsung menatap tajam istrinya. Dengan sigap, Adelia kembali bicara pada suaminya.


“Aku mandinya nanti saja.” Ucap Adelia sambil melihat Reqy.


Reqy kemudian berjalan melewati Adelia dengan sombongnya itu sementara Adelia mengikutinya dari belakang.


“Pria Arrogant.” Dalam hati Adelia yang berjalan di belakang suaminya. Ia menatap Reqy dari belakang dengan wajah tak sukanya itu.


Mereka berdua turun ke lantai bawah menggunakan lift rumahnya.


Ketika sampai di sana, Reqy dan Adelia berjalan menuju Ruang Makannya. Pak Osmar langsung menarik kursi untuk Reqy begitu pun dengan Emir yang menarik kursi untuk Adelia. Adelia dan Reqy duduk di kursi yang di tarik asistennya.


Reqy kemudian sarapan pagi dengan santai tanpa bicara sekali pun begitu juga dengan Adelia yang hanya diam di sana.


Selesai makan, Reqy langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Aku pergi.” Melirik ke arah Adelia.


Adelia langsung berdiri dari kursinya. “Iya kak.”


Reqy pun pergi meninggalkan istrinya yang tengah berdiri melihat kepergiannya.


 


 


Bersambung.


.


.


.


.


Ingat tekan LIKE di bawah ya. Jangan sampai lupa lagi. Berikan VOTE nya dan Tulis KOMENT kalian. Biar Author lebih semangat lagi nulis kelanjutannya.


 


 

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2