
Jangan Lupa Like And Komentnya. Vote-nya juga ya.
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Pak Osmar langsung masuk ke dalam saat ia berada di depan kamar Reqy. Ia berjalan cepat menghampiri Reqy yang tengah mondar – mandir di samping tempat tidurnya. Reqy saat itu terlihat khawatir melihat Adelia yang pingsan apalagi itu pertama kalinya ia melihat seseorang pingsan di air, tepat di depan matanya. Ia berpikir kalau Adelia mau bunuh diri disana.
“Tuan Muda...saya sudah menghubungi Dokter Berry. Sebentar lagi dia akan datang ke sini.” Ucap Pak Osmar yang sudah berdiri di depan Reqy.
Reqy langsung menghentikan aksi mondar – mandirnya itu dan menatap Pak Osmar dengan serius.
“Sebenarnya apa yang terjadi saat paman mengantarnya pulang?” Tegasnya.
“Maaf tuan, saya yang ceroboh karena tidak memperhatikan Nyonya Muda. Tadi saat kembali dari pemakaman, nyonya memang sudah terlihat pucat.” Jelasnya sambil menunduk.
“Apa dia berencana bunuh diri?” Tanya Reqy penasaran.
“Bunuh diri.” Dengan wajahnya yang kaget mendengar kata bunuh diri dari Tuan Mudanya itu.
Tak lama kemudian Dokter Berry datang bersama putrinya yang juga seorang dokter.
Jarak dari Mansion Abraham dan tempat tinggal Dokter Berry memang dekat. Itu sengaja di lakukan Keluarga Abraham agar di kemudian hari Dokter Berry bisa datang cepat ketika dalam keadaan darurat seperti sekarang.
Dokter Berry dan putrinya yang bernama Dokter Lumi masuk ke dalam kamar Reqy. Ya....Dokter Lumi memang selalu mendampingi ayahnya setiap ada masalah di Mansion Abraham apalagi ia juga sudah menjadi salah satu Dokter pribadi Keluarga Abraham.
“Tuan Muda...saya sudah datang. Siapa yang sakit?” Tanya Dokter Berry yang melihat Reqy baik – baik saja.
“Istriku. Cepat kau periksa dia.” Tegasnya.
Dokter Berry dan Dokter Lumi langsung kaget mendengar kata istri dari Tuan Reqy. Itu karena mereka tak pernah menerima kabar pernikahan tuannya itu.
“Apa yang kau tunggu, cepat kau periksa dia?” Teriak Reqy melihat Dokter Berry yang hanya diam di sana.
“Baik.”
Dokter Berry pun berjalan cepat untuk memeriksa keadaan Adelia. Tiba – tiba Reqy baru teringat kalau Adelia sama sekali tidak memakai baju.
“Hei...tunggu.”
Dokter Berry langsung berbalik ke arah Reqy.
“Iya Tuan Muda.”
“Biar dia yang periksa.” Menunjuk ke arah Lumi.
“Baik....” Sambil membungkuk. “Lumi...cepat kamu periksa dia.” Perintah Dokter Berry pada anaknya.
__ADS_1
“Baik.”
Dokter Lumi maju ke depan untuk memeriksa keadaan Adelia. Ia ingin membuka selimut Adelia dan langsung kaget melihat Adelia yang tidak memakai baju.
Ia menengok melihat ketiga pria yang ada di belakangnya.
“Ada apa. Kenapa kau tidak periksa dia. Cepat periksa dia?” Perintah Reqy dengan suaranya yang sedikit tinggi.
“Maaf....apa ayah dan Pak Osmar bisa keluar dulu. Nyonya sama sekali tidak memakai baju. Saya ingin membuka selimutnya dan memeriksanya?” Dengan sopan.
Tanpa mengatakan apa – apa, Dokter Berry dan Pak Osmar langsung keluar dari kamar Reqy.
Lumi memang tahu kalau Reqy mungkin tidak suka kalau ada yang melihat tubuh telanjang istrinya meskipun dia seorang dokter. Apalagi Reqy menyuruh dirinya untuk memeriksa Adelia. Dan tidak membiarkan ayahnya yang sudah bertahun – tahun memiliki pengalaman sebagai dokter untuk memeriksa gadis yang sudah menikah dengannya itu.
Setelah mereka berdua keluar, Lumi pun membuka selimut yang menempel pada tubuh Adelia. Reqy langsung memalingkan wajahnya karena itu pertama kali ia melihat tubuh telanjang seorang gadis. Ia merasa malu sendiri.
Sementara Lumi sudah mulai memeriksa keadaan Adelia.
“Apa Tuan Muda melakukan hubungan badan beberapa kali sampai gadis ini pingsan. Kasihan sekali?” Dalam hati Lumi.
Selesai memeriksa keadaan Adelia, ia kembali berdiri di depan Reqy.
“Tuan Muda.” Panggilnya.
Reqy langsung berbalik ke arah Lumi.
“Nyonya hanya kelelahan Tuan Muda. Dia baik – baik saja. Istirahat yang cukup, tenaganya akan kembali pulih. Biarkan nyonya tidur selama satu malam. Besok pagi dia akan kembali pulih.” Jelasnya.
“Eem.....kau bantu dia memakai pakaiannya.” Perintahnya.
“Baik.”
Reqy keuar dari kamarnya menunggu Lumi selesai membantu Adelia berpakaian. Ketika di luar, ia melihat Dokter Berry dan Pak Osmar berdiri di depan kamarnya.
Di sana juga terlihat kedua pelayan yang memang bertugas di lantai 3. Reqy langsung mendatangi kedua pelayan perempuannya itu tanpa peduli dengan Pak Osmar dan Dokter Berry.
Plak....plak. Suara tamparan secara bergantian di lakukan Reqy pada kedua pelayannya. Pak Osmar dan Dokter Berry hanya diam menatap Tuan Mudanya karena mereka sudah tahu tempramen Reqy yang seperti itu.
Sementara pelayan yang di tampar Reqy hanya menunduk ketakutan tanpa sekalipun memegang pipi mereka yang kesakitan.
“Dasar tidak becus. Apa yang kalian lakukan di rumah ini. Menjaga satu orang saja tidak bisa. Aku sudah membayar kalian mahal tapi kalian tidak bisa menjaga nyonya kalian dengan baik. Tidak berguna. Untung saja dia baik – baik saja. Kalau dia meninggal, aku langsung mengubur kalian bersamanya.” Dengan wajahnya yang sangat marah.
Kedua pelayannya langsung membungkuk sambil meminta maaf pada Reqy.
“Maafkan kami Tuan Muda.” Secara bersamaan.
__ADS_1
Mereka terus membungkuk, berdiri lalu membungkuk lagi di depan Reqy.
“Kalau hal ini terulang lagi. Kalian semua akan mendapatkan akibatnya.” Ucap Reqy dengan dingin menatap kedua pelayan itu. “Kalian dengar.” Teriaknya.
“Iya tuan.” Balas secara bersamaan kedua pelayannya.
“Sana pergi.”
Kedua pelayan itu langsung pergi meninggalkan Reqy yang masih sangat marah itu.
Tiba – tiba Lumi keluar dari kamar pribadi Reqy dan Adelia. Ia langsung membungkuk hormat di depan Reqy.
“Tuan Muda. Saya sudah membantu nyonya berganti pakaian.”
“Mulai hari ini kau tinggal di sini. Kalau hal ini terjadi lagi, kau bisa langsung memeriksanya tanpa harus menunggu kalian datang. Aku paling tidak suka menunggu walaupun itu semenit.” Tegasnya.
“Baik.”
Reqy melihat ke arah Pak Osmar. “Paman....siapkan dia kamar di lantai dua.” Perintahnya.
“Baik Tuan Muda.” Sambil membungkuk di depan Reqy.
Ia kemudian melihat ke arah Lumi.
“Ayo nona. Saya antar Anda ke kamar tamu.”
“Sebaiknya saya pulang dulu bersama ayah saya untuk mengambil barang – barang saya pak.”
“Tidak masalah. Saya akan menyuruh orang untuk mengambilnya.”
“Baik.”
Pak Osmar, Dokter Lumi dan Dokter Berry membungkuk hormat di depan Reqy lalu berjalan meninggalkan Reqy yang masih berdiri di depan mereka berdua.
Saat mereka bertiga pergi, Reqy kembali masuk ke dalam kamarnya. Di dalam sana, ia membuka dasinya dan kanci bajunya sambil menatap Adelia dengan wajah datarnya.
“Wanita ini merepotkan sekali.” Gumamnya.
Ia lalu berjalan ke Ruang Gantinya. Di sana ia membuka semua pakaiannya dan memakai baju mandinya.
Ia melangkahkan kakinya menuju kamar mandinya. Ia mandi di sana dengan menggunakan air shower yang mengalir di tubuhnya.
Selama beberapa menit, ia keluar dari kamar mandinya menggunakan baju mandinya. Ia berjalan menghampiri Adelia yang masih tak sadarkan diri. Ia menatap istrinya itu sambil mengusap – usap rambut basahnya.
Ia kemudian melemparkan handuk kecilnya itu di sembarang tempat dan melepaskan baju mandinya. Ia naik ke tempat tidurnya dan berbaring di sana sambil menarik selimut menutupi sebagian tubuhnya yang tidak memakai baju dan hanya memakai celana pendek.
__ADS_1
Di sana ia berbaring membelakangi istrinya yang tengah berbaring terlentang. Ia langsung memejamkan matanya di samping Adelia. Ia memang sudah sangat lelah bekerja seharian di kantor di tambah keadaan yang terjadi di rumahnya membuatnya langsung teridur di kasurnya.
Bersambung.