Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Bagaimana Seharusnya Kau Memanggil Suamimu?


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Reqy lalu menarik tubuh istrinya dengan melingkarkan tangan kanannya di pinggang Adelia. Ia menarik sampai tubuh Adelia menempel padanya. Adelia langsung memejamkan matanya tak ingin melihat Reqy yang sudah dekat dengan wajahnya. Kedua tangannya berada di dada suaminya yang berusaha menahan tubuhnya agar tak dekat dengan Reqy.


“Hei...buka matamu dan lihat aku.” Reqy kesal melihat Adelia tak ingin melihatnya. Ia merasa Adelia jijik dengannya.


Seketika Adelia membuka matanya melihat Reqy yang begitu dekat dengan wajahnya.


“Mulai sekarang, jangan memanggilku dengan sebutan Anda atau tuan. Aku adalah suamimu sekarang.” Tegasnya.


“Saya tidak tahu cara memanggil Anda.” Balas Adelia, meskipun wajahnya tak menunduk tapi bola matanya tidak tertuju pada Reqy.


“Apa begini sopan santun yang di ajarkan keluargamu. Di matamu aku adalah orang asing kan. Tapi aku sekarang sudah menjadi suamimu. Kau harus menghormati orang yang sudah menjadi suamimu. Kau tidak pantas bicara terlalu formal pada suamimu sendiri. Tuan, saya, Anda. Kata – kata itu hanya di ucapkan pada orang asing yang sama sekali tidak punya hubungan denganmu. Kau mengerti.” Tegasnya.


“Me-mengerti.” Adelia kembali menunduk.


“Kalau kau mengerti dengan yang ku katakan. Sekarang peraktekkan di depanku.” Tegasnya.


Adelia hanya diam menunduk karena tak tahu harus memanggil suaminya dengan sebutan apa. Orang yang baru ia kenal itu. Sedangkan Reqy yang melihat istrinya diam semakin menarik tubuh Adelia sampai tidak ada celah di antara mereka berdua.


“Cepat lakukan, bagaimana seharusnya kau memanggil suamimu sendiri?” Tegasnya dengan lantang membuat Adelia kaget melihatnya.


“Ka-kak Reqy.” Adelia memanggilnya dengan suara pelan. Ia merasa sangat canggung memanggil Reqy dengan sebutan kakak. Karena ia masih merasa kalau ia dan Reqy tidak dekat. Meskipun sudah menikah tapi ia masih menganggap Reqy sebagai orang asing.


“Aku tidak mendengarnya.” Tegasnya.


“Kak Reqy.”


“Bagus. Itu yang seharusnya kau lakukan. Kedepannya, kalau aku mendengarmu bicara formal lagi pada suamimu. Aku akan membuatmu menyesal.” Ancamnya.


“Iya...tidak akan kulakukan lagi.” Adelia menunduk.


Reqy menghela nafasnya melihat istrinya yang terus menunduk di depannya.


“Hei...jangan menunduk. Lihat aku.” Tegasnya.


Adelia kembali menegakkan kepalanya melihat Reqy.


“Mulai sekarang, jangan pernah menundukkan kepalamu di depanku. Lihat wajahku baik – baik.” Reqy menunjuk – nunjuk wajahnya di depan Adelia. “Kau mengerti.”


“Iya.....aku mengerti.”


“Satu lagi hal penting yang harus kau tahu. Mulai besok, kau harus menjalankan kewajibanmu sebagai istriku. Kau pasti tahu kan apa maksudku?”


Adelia kembali diam karena ia tidak siap menjalankan kewajibannya sebagai istri dari orang yang sudah memaksanya menikah. Apalagi ia hanya menganggap lelaki itu sebagai suami di atas kertas.

__ADS_1


Reqy kembali bicara.


“Kau mengerti tidak.” Tegasnya.


“Iya...aku mengerti.”


“Ingat, jangan pernah mengatakan tidak padaku. Aku paling tidak suka mendengar orang menolakku.” Tegasnya yang terus menatap istrinya.


“I-ya.”


Reqy kemudian melepaskan tubuh istrinya dari tubuhnya.


“Pergilah tidur.” Perintahnya.


“Baik.”


Reqy keluar kamarnya menuju Ruang Kerjanya sedangkan Adelia langsung menjatuhkan dirinya di lantai karena perlakuan Reqy padanya apalagi mendengar ancaman dan syarat yang di katakan Reqy padanya.


“Ya Tuhan....apa yang harus ku lakukan. Dia memintaku melahirkan anak untuknya. Kalau aku tidak melakukannya, aku akan selamanya di sini. Apa ini sudah menjadi takdirku. Aku selalu mendapatkan penderitaan. Kak Rian, Ayah dan ibu meninggalkanku. Aku hanya punya paman, bibi dan Kak Darel. Kalau aku tidak menuruti pria itu. Keluargaku bisa ikut menderita. Aku tidak ingin kehilangan lagi. Aku sudah lelah.” Dalam hati Adelia.


Adelia menunduk di sana, seketika air matanya jatuh di lantai.


Tok....tok.....tok.....tok suara ketukan pintu kamarnya membuat Adelia langsung menengok ke arah pintu. Wajahnya kaget mendengar suara ketukan pintu kamarnya, ia pikir kalau suaminya datang lagi.


Ia menghapus air matanya yang menetes dan berdiri dari sana.


“Saya Paman Osmar, nyonya.”


Adelia meraih gagang pintunya. Ia membuka pintu kamarnya dan melihat Pak Osmar berdiri tersenyum di depannya.


“Ada apa pak?” Tanya Adelia sambil memegang gagang pintu kamarnya.


“Tuan Muda menyuruh Anda memberikannya baju ganti, nyonya.”


“Baju ganti.” Adelia terlihat bingung.


“Tuan Muda mau melakukan rapat online, nyonya. Beliau hanya memakai baju mandi. Tolong di ambilkan baju santai untuknya.” Ucap Pak Osmar.


“Oh...silahkan masuk saja pak. Saya tidak tahu memilihkan baju untuknya.” Adelia mundur ke samping menyuruh Pak Osmar masuk ke dalam kamarnya.


“Maaf nyonya. Itu memang tugas Anda. Anda pilihkan saja yang mana menurut Anda bagus. Lagi pula hanya baju santai saja, nyonya.” Balas Pak Osmar yang hanya tersenyum kepadanya tanpa bergerak dari tempatnya berdiri.


“Kenapa bukan dia saja sih yang pergi mengambilnya?” Dalam hati Adelia yang terlihat kesal.


“Baiklah. Akan aku ambilkan, tunggu sebentar ya pak.” Adelia kembali bicara pada Pak Osmar.

__ADS_1


Pak Osmar hanya tersenyum mengangguk pada Nyonya Mudanya itu.


Adelia kemudian berjalan masuk menuju Ruang Gantinya. Di sana ia langsung membuka sebuah lemari putih yang besar. Ia terlihat bingung melihat semua pakaian Reqy.


“Pakaiannya banyak sekali. Satu lemari besar, isinya hanya jas. Di mana pakaian santainya.” Adelia menutup kembali lemari pakaian suaminya.


Ia membuka lemari satunya yang berada tepat di samping lemari jasnya tadi.


“Bukan ini juga.” Adelia kembali menutup dan membuka lemari yang di sampingnya.


“Akhirnya ketemu.” Adelia bernafas lega.


Ia akhirnya bisa menemukan pakaian santai dan pakaian tidur Reqy. Di sana terlihat banyak pakaian tidur dengan berbagai motif dan pakaian santai dengan warna polos tanpa motif milik Reqy.


“Aku harus memilih yang mana.” Adelia memegang dagunya melihat pakaian suaminya yang ada di depannya. “Terserah lah. Aku pilih yang mana saja. Kalau dia tidak suka, itu bukan salahku. Itu salahnya karena tidak memilih sendiri.” Gumamnya.


Ia mengambil salah satu baju tidur lengan panjang di padu dengan celana panjang dengan warna abu – abu motif tengkorak kecil di seluruh bagian baju dan celananya.


“Yang ini paling cocok dengannya. Orangnya menakutkan seperti motif tengkorak ini.” Gumamnya.


Ia kembali berjalan keluar dari Ruang Gantinya menuju depan kamarnya. Ia ingin memberikan baju tidurnya itu pada Pak Osmar. Tapi, ketika ia sampai di sana. Ia tak melihat keberadaan Pak Osmar di sana.


“Loh....dimana bapak itu tadi. Apa dia juga mau menyuruhku mengantarkannya ke sana. Seluruh tubuhku lelah kalau harus berhadapan dengannya?” Gumamnya.


Adelia berjalan keluar dari kamarnya dan menutup pintu kamarnya. Ia berjalan menghampiri ruangan suaminya yang letaknya tak jauh dari kamarnya.


 


 


 


Bersambung.


.


.


.


.


.


Ingat tekan LIKE di bawah ya. Jangan sampai lupa lagi. Berikan VOTE nya dan Tulis KOMENT kalian. Biar Author lebih semangat lagi nulis kelanjutannya.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2