
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Adelia sudah berdiri di depan pintu ruang kerja suaminya, ia mengetuk pintu ruang kerja Reqy dengan sedikit keras. Di sana juga terlihat Emir yang berdiri di belakang Adelia dengan wajahnya yang khawatir akan pertengkaran kedua majikannya itu.
“Semoga saja, nyonya dan tuan tidak bertengkar.” Dalam hati Emir.
Pak Osmar yang berada di dalam ruang kerja Reqy, langsung membuka pintu untuk mereka berdua.
“Nyonya,” Ucap Pak Osmar ketika melihat Adelia berdiri di depan matanya.
“Apa aku boleh bicara dengan Kak Reqy?” Tanya Adelia menatap Pak Osmar dengan serius.
“Boleh nyonya, silahkan masuk.” Pak Osmar mempersilahkan Adelia masuk setelah ia berjalan mundur ke samping sambil menarik pintu yang ia pegang.
Adelia masuk ke dalam diikuti Emir yang juga ikut berjalan di belakangnya.
Di sana sudah terlihat Reqy yang baru saja selesai rapat online dengan beberapa bawahannya, ia langsung berdiri saat melihat Adelia berjalan ke arahnya.
“Kau sudah selesai bicara dengan paman dan bibimu.” Tanya Reqy ketika Adelia sudah berdiri di dekat meja kerjanya.
“Aku ingin bicara serius dengan hubby.” Adelia tidak menjawab pertanyaan suaminya, dan langsung mengatakan hal lain.
“Kau mau bicara apa?” Tanya Reqy yang terlihat mengerutkan keningnya menatap Adelia.
“Apa empat tahun lalu, hubby membiayai semua kuliahku di luar negri?” Tanya Adelia sambil melihat Reqy dengan serius. Ia tak melepaskan pandangannya sekali pun dari suaminya, ia marah, kesal pada Reqy yang menghancurkan kebanggaan dirinya selama ini. Rasanya ia ingin sekali meneriaki pria yang ada di depannya sekarang. Tapi hal itu tak bisa ia lakukan, karena ia memang tidak pernah berteriak dan marah pada seseorang. Hanya tatapan marah yang bisa ia tunjukkan di depan Reqy tanpa bisa berteriak keras di depannya.
Setelah Reqy mendengar pertanyaan Adelia, ia menggerakkan kepalanya ke arah Emir yang saat itu berdiri sedikit jauh darinya. Ia menatap Emir dengan tajam sambil mengerutkan keningnya. Ia merasa kalau Emir yang sudah mengatakan pada istrinya. Saat itu.... Emir langsung menunduk ketika sadar dengan tatapan tuan mudanya.
Reqy kemudian fokus kembali melihat Adelia yang terlihat marah di depannya.
“Oke...aku jelaskan, tapi kita duduk dulu di sofa sayang. hem.” Ucap Reqy yang langsung memegang tangan istrinya. Ia mencoba menenangkan Adelia yang terus menatapnya dengan marah.
Ia lalu melingkarkan tangannya di belakang punggung Adelia dan memegang bahunya di sana.
“Ayo sini, kita duduk dulu.” Ajak Reqy. Ia menuntun Adelia untuk berjalan ke arah sofa yang letaknya tak jauh dari meja kerjanya. Adelia hanya bisa menuruti suaminya tanpa melakukan perlawanan atau pun berusaha ingin menolak.
Di sana, Reqy membantu Adelia duduk di sofa dengan pelan. Setelah Adelia duduk, ia juga ikut duduk di sana, tepat di samping istrinya. Wajah Adelia masih terlihat kesal menatap lurus ke depan, tanpa melihat Reqy yang sudah duduk di sampingnya.
“Del...siapa yang mengatakan semua itu padamu?” Tanya Reqy sambil menatap Adelia dengan santai.
Suaranya terdengar lembut ketika berbicara pada istrinya, tak seperti biasanya yang terdengar tegas dan keras. Ia tahu kalau saat ini Adelia sedang kesal padanya, jadi akan lebih baik baginya kalau ia berusaha bicara santai pada Adelia, apalagi Adelia sedang hamil.
Adelia langsung menengok ke arah Reqy dengan tatapannya yang masih kesal, sedangkan Reqy langsung menunjukkan wajah tersenyum saat Adelia berbalik ke arahnya.
“Kenapa hubby malah menanyakan hal yang tidak penting. Aku cuma butuh jawaban dari pertanyaanku tadi?” Tanya Adelia yang kembali menegaskan apa yang ia tanyakan tadi.
“Oke, aku jelaskan.” Reqy menatap serius Adelia. “Empat tahun lalu, aku memang membiayai semua kuliahmu di luar negri. Aku juga yang membeli Restoran yang di kelola paman dan bibimu, dan memberikannya pada mereka. Aku tidak memberitahu mereka karena aku tahu paman dan bibimu pasti tidak akan menerima bantuan dariku. Aku melakukan semua itu dengan tulus.” Jelas Reqy yang tak sekali pun mengalihkan tatapannya dari Adelia.
“Hubby benar – benar egois, aku tidak butuh bantuan seseorang untuk masalah karirku, aku mau melakukannya sendiri. Apa hubby tahu? Sejak kecil aku sangat bermimpi untuk bisa menjadi seorang pelukis, tapi aku ingin melakukannya dengan kemampuanku sendiri tanpa bantuan seseorang.”
“Del, apa salahnya kalau aku melakukan itu semua?” Tanya Reqy. Ia merasa kalau dirinya tidak salah sama sekali dengan apa yang ia lakukan selama ini.
__ADS_1
Adelia langsung berdiri dari tempat duduknya dengan wajahnya yang marah.
“Hubby mungkin tidak punya impian seperti orang biasa, jadi tidak mengerti dengan perasaan seseorang.”
Reqy kaget mendengar kata – kata istrinya yang membuat dirinya tersinggung. Ya, bagaimana tidak tersinggung, karena sejak lahir ia sudah di tetapkan sebagai pewaris keluarganya tanpa harus memiliki impian seperti orang lain.
“Waktu empat tahunku terbuang sia – sia karena ulahmu itu. Aku benar – benar malu dengan diriku sendiri.” Lanjutnya tanpa melihat Reqy yang masih duduk di tempatnya tadi. Ia kemudian berjalan dua langkah untuk meninggalkan suaminya di sana, tapi seketika langkahnya terhenti saat reqy langsung memegang tangannya.
Reqy berdiri lalu memegang kedua bahu istrinya menghadap di depannya. Ia mendekatkan kepalanya di depan wajah Adelia, menatap mata istrinya dalam – dalam.
“Adel, aku sungguh melakukannya dengan tulus. Jangan karena masalah ini membuatmu marah. Apa kau lupa kalau kau sedang hamil?” Tanya Reqy.
“Aku tidak lupa. Dan aku juga tidak punya hak untuk marah pada hubby, ya kan.” Ucap Adelia yang membuat Reqy tak bisa mengatakan apa – apa padanya.
Saat itu, Reqy hanya bisa terdiam melihat wajah kecewa yang di tunjukkan Adelia di depannya.
Adelia kembali melanjutkan kata – katanya tadi.
“Hubby selalu melakukan hal yang hubby inginkan tanpa peduli dengan perasaan orang, apa hakku untuk mengatakan marah. Semua yang hubby katakan harus di turuti kan. Aku hanya kecewa dengan diriku sendiri. Ternyata yang bibi dan paman bangga – banggakan tidak seperti yang mereka pikirkan. Tapi aku tetap berterima kasih atas semua bantuan yang hubby lakukan pada keluargaku dan juga padaku. Aku berterima kasih bukan berarti kalau aku sangat senang, bahagia dengan yang hubby lakukan. Tidak sama sekali, aku tidak bahagia. Hanya rasa kecewa yang kurasakan saat ini.” Ucap Adelia dengan tegas.
Adelia kemudian memegang kedua lengan suaminya untuk melepaskan dari bahunya.
Ia berjalan cepat meninggalkan Reqy di sana dengan wajahnya yang menangis kecewa. Saat itu, ia berjalan melewati Emir dan Pak Osmar yang sejak tadi diam menyaksikan pembicaraan mereka berdua.
Sementara Reqy mengangkat kepalanya ke atas dengan mata terpejam. Ia menghela nafasnya mendengar semua kata – kata istrinya tadi. Ada perasaan bersalah di dalam hatinya melihat rasa kecewa yang di tunjukkan Adelia padanya.
Ketika punggung Adelia sudah tak terlihat di sana, ia berjalan cepat mengikutinya keluar menuju kamar pribadinya.
Sesaat setelah Reqy menyusul Adelia keluar dari ruang kerjanya, Pak Osmar langsung menampar keras Emir membuat lelaki tegak itu hampir tak bisa menjaga keseimbangannya. Itu karena ia tak sadar jika Pak Osmar akan melayangkan tamparannya.
“Kau benar – benar tidak bisa menjaga mulutmu itu. Tuan Muda memang sengaja tidak ingin memberitahu nyonya muda, karena tuan tidak mau kalau nyonya sampai salah paham padanya. Nyonya memang wanita lembut dan sabar, tapi dia juga manusia biasa yang punya perasaan marah. Sekarang lihatlah hasil dari perbuatanmu itu. Kau membuat mereka berdua salah paham.” Ucap pak Osmar dengan nada marah.
“Aku minta maaf paman, karena mengatakannya pada nyonya, tapi nyonya sendiri yang sadar dengan masalah beasiswa yang di berikan tuan. Saya tidak bisa berbohong pada nyonya.” Emir berusaha membela dirinya di depan Pak Osmar.
“Jadi kau melakukannya karena permintaan nyonya muda.”
“Iya.”
“Jadi maksudmu,... kalau suatu hari nanti, nyonya sadar dengan masalah pernikahannya yang di rencanakan dengan sengaja oleh tuan. Apa kau juga akan mengatakan semua yang di lakukan tuan?” Tanya Pak Osmar menatap keponakannya dengan tajam.
“Masalah itu tidak akan pernah ku katakan pada nyonya paman, karena saya tahu kalau nyonya pasti tidak akan memaafkan tuan muda. Saya mengatakan masalah yang tadi karena saya pikir, tidak masalah kalau nyonya tahu tentang bantuan yang selama ini Tuan  Muda berikan pada keluarga nyonya.”
“Ingat, kalau sampai aku tahu kau mengatakan itu pada nyonya muda. Aku sendiri yang akan membunuhmu. Ingat itu.” Ancamnya dengan tatapan tajam melihat Emir.
“Iya paman.”
Di kamar pribadi Reqy.
Adelia membungkus dirinya dengan selimut sambil menangis di sana. Tubuhnya gemetar karena masih merasa marah dan kecewa dengan kenyataan yang baru ia ketahui. Hatinya sangat sakit, terluka, kecewa, dan tersinggung dengan suaminya sendiri. Ia hanya bisa melampiaskan kemarahannya dengan menangis di bawah selimut yang menutupi seluruh tubuh mungilnya itu.
Reqy yang sudah berada di dalam kamarnya, terlihat diam melihat istrinya menangis di bawah selimut. Ia hanya berdiri di samping tempat tidurnya dengan wajahnya yang tak tega mendengar tangisan Adelia di balik selimut.
__ADS_1
“Apa yang harus ku katakan di saat begini, aku belum pernah menghadapi seorang wanita sebelumnya. Aku tidak tahu harus berbuat apa?” Dalam hati Reqy.
Ia berdiri tegak melihat istrinya menangis. Tidak tahu, apa yang akan di lakukannya untuk menenangkan seorang wanita.
Tiba – tiba Adelia menggerak – gerakkan tubuhnya di dalam selimut dengan kesal.
“Dasar egois, hiks....hiks....hiks. Mementingkan dirinya sendiri. Apa dia tidak bisa bilang maaf kalau dia sudah salah. Apa kata maaf susah dia katakan. Egois, arrogant, kaku, semua yang jelek – jelek ada padanya. Hiks....hiks...hiks..” Umpatnya.
Ia terus – terusan menangis di sana tanpa sadar kalau Reqy sejak tadi mendengar semua yang ia katakan. Ia memang tidak menyadari dengan kedatangan suaminya tadi, karena fokus dengan kekesalannya sendiri.
Seketika Reqy tersenyum mendengar istrinya yang tengah mengatai – ngatai dirinya. Wajah khawatirnya berubah dengan senyuman tipis melihat tingkah istrinya yang sangat kesal padanya, apalagi ketika Adelia menggerakkan kedua kakinya dengan kasar.
“Jadi dia marah karena aku tidak minta maaf padanya tadi. Tapi, bagaimana caranya aku minta maaf. Aku belum pernah minta maaf pada seseorang sebelumnya.” Dalam hati Reqy.
Ia kemudian duduk di tepi tempat tidurnya, tepat di samping Adelia. Sontak saja membuat Adelia kaget dan langsung membuka selimutnya di sana.
“Hubby...kapan hubby di sini?”
“Aku mengikutimu tadi.” Ucap Reqy sambil mengusap lembut air mata di pipi Adelia.
Adelia langsung bangun dari kasurnya dan duduk menatap Reqy dengan serius.
“Hubby mendengar semua yang aku katakan tadi.”
“Iya.”
Adelia terlihat cemberut sambil memalingkan wajahnya ke samping. Ia diam di sana tanpa ingin mengatakan sesuatu pada Reqy yang sudah membuatnya sangat kesal.
Reqy kemudian memegang kedua tangan istrinya dengan lembut, menatapnya dengan tersenyum.
“Kalau aku membuatmu terluka, aku minta maaf. Ini pertama kalinya aku minta maaf pada orang, tapi permintaan maafku benar – benar tulus.”Ucap Reqy yang membuat Adelia langsung melihat wajahnya. Adelia merasa tersentuh dengan permintaan maaf yang di lontarkan Reqy, apalagi Reqy mengatakan kalau itu pertama kali ia minta maaf pada seseorang.
Reqy kembali melanjutkan kata – katanya.
“Aku benar – benar tulus melakukan itu Del. Awalnya, aku memang membayar semua biaya kuliahmu di sana. Tapi masalah kau di akui di kampus sana, itu bukan urusanku. Itu adalah kemampuanmu sendiri. Mereka mengatakan kalau kau wanita yang berbakat, bukan karena mereka takut padaku. Itu karena kau memang punya kemampuan. Menerima atau tidak menerima beasiswa, tidak menentukan seseorang itu bodoh atau pintar. Jadi kalau kau berpikir tidak menerima beasiswa karena tidak punya kemampuan, kau salah besar. Aku hanya peran pembantu dalam karirmu. Peran utamanya adalah dirimu sendiri. Hem. Apa kau mengerti dengan ucapanku sekarang.”
“Iya, aku mengerti” Memalingkan wajahnya ke samping.
“Kalau kau mengerti, kenapa kau tidak mau melihatku?” Tanya Reqy.
Adelia kembali melihat wajah Reqy di depannya, seketika ia menarik kedua sudut bibirnya untuk tersenyum di depan Reqy.
Saat itu Reqy langsung memeluk erat istrinya ketika melihat Adelia tersenyum di depan matanya. Ia sangat bahagia, akhirnya ia berhasil membuat Adelia tidak marah lagi padanya.
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1
Ingat tekan LIKE ya sampai merah, silahkan KOMENTAR positif di kolom komentar. Punya koin dan poin, tolong di VOTE ya guys. Di tunggu VOTE, LIKE dan KOMENTAR positifnya.
Terima kasih.