
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Reqy duduk di kursi kerjanya dengan posisi menyandarkan tubuhnya di sana. Ia menghisap batang rokoknya, menatap Nerissa dengan tajam.
Reqy kemudian bicara pada Nerissa yang terlihat diam cemberut.
“Kenapa kau masih berdiri di sana, cepat pergi. Emir sudah mengatur semua yang kau butuhkan?” Tegasnya menatap Nerissa.
“Kakak, pokoknya aku tidak mau tinggal di apartemen sendirian. Aku ingin tinggal di sini.” Nerissa menolak tawaran yang di berikan Reqy padanya.
“Kalau kau ingin tinggal di sini, kau harus minta izin dulu sama istriku.” Ucap Reqy dengan wajah datarnya.
“Jadi kakak benar – benar menganggap wanita itu sebagai nyonya rumah ini. Aku tidak terima, dia itu hanya wanita murahan. Dia tidak sebanding dengan Kak Jenny.” Nerissa sedikit meninggikan suaranya di depan Reqy.
Saat mendengar Nerissa bicara seperti itu, ia langsung mematikan batang rokoknya dan berdiri dari tempat duduknya.
Ia berjalan menghampiri Nerissa.
Plakk...tamparan keras langsung mendarat di pipi Nerissa. Nerissa memegang pipinya dan langsung menunduk di depan Reqy.
Reqy kemudian bicara pada Nerissa.
“Jaga kata – katamu itu. Apa aku pernah mengajarimu bicara tidak sopan begitu pada orang. Apalagi kau bicara tidak sopan pada istriku.” Tegasnya dengan suara sedikit menekan.
Nerissa kemudian mengangkat kepalanya melihat Reqy yang masih menatapnya dengan tatapan dingin.
“Aku hanya mengatakan faktanya kak, aku bicara begitu karena aku bisa melihat dari wajah wanita itu kalau dia tidak menyukai kakak.”
Plak....lagi – lagi Reqy menampar pipi Nerissa.
“Aku bilang jaga kata – katamu. Dia punya nama. Apa kau tidak bisa menjaga cara bicaramu itu?” Reqy marah ketika Nerissa menyebut Adelia dengan sebutan wanita itu.
“Aku minta maaf, aku tidak bermaksud tidak sopan.” Nerissa menunduk sambil meminta maaf. Ia kemudian mengangkat kepalanya melihat Reqy. “Aku bicara begitu karena tidak percaya padanya. Dia pasti menikah dengan kakak karena uang. Kalau bukan uang, apalagi yang membuat seorang wanita bersedia menikah dengan orang yang tidak dia sukai.” Nerissa memang bisa tahu jika Adelia tidak menyukai Reqy dari ekspresi wajahnya saat pertama kali melihat Adelia.
Reqy tidak menanggapi semua kata – kata Nerissa. Ia hanya berjalan ke arah meja kerjanya dengan langkah kaki tegaknya. Ia kemudian bicara pada Nerissa sambil membelakangi adik sepupunya. Ia hanya meliriknya ke samping.
“Kau tidak tahu apa – apa tentang masalah pernikahanku. Sebaiknya kau pergi dari sini. Jangan tinggal di sini lagi. Orang yang tidak suka dengan istriku tidak pantas tinggal di sini. Aku sudah berbaik hati memberikanmu apartemen. Aku tidak ingin kau tinggal di sini.” Ucap Reqy sambil meraih sebatang rokok di atas mejanya. Ia menyalakan korek apinya dan menghisap rokoknya di sana.
Nerissa kembali bertanya.
“Apa kakak mencintai dia sampai kakak tega mengusirku begini hanya karena aku tidak suka dengannya. Kita ini masih satu keluarga kak?” Nerissa masih penasaran dengan kehadiran Adelia.
Reqy membalikkan badannya melihat Nerissa. Ia menyandarkan tubuhnya di meja kerjanya sambil menghisap rokoknya.
“Aku menikah dengannya itu bukan urusanmu. Orang yang tidak menghormatinya jangan harap aku bisa memperlakukannya dengan baik, meskipun dia adalah keluargaku sendiri. Lagi pula kau sudah bukan bagian dari keluarga ini lagi.” Ucapnya dengan tegas. Reqy sesekali menghisap rokoknya, menatap Nerissa dengan dingin.
“Terus, bagaimana dengan Kak Jenny. Dia adalah tunangan kakak. Dia rela menjadi sekertaris pribadi kakak hanya karena ingin dekat dengan kakak?”
“Nerissa....jangan memancing kesabaranku ya. Aku tidak pernah bertunangan dengan siapapun. Dia menjadi sekertaris pribadiku, itu atas keinginannya sendiri. Kalau dia menjadi sekertaris hanya karena alasan pribadi, berarti orang seperti itu tidak pantas bekerja di perusahaanku.” Jelasnya dengan tegas.
“Kak Reqy benar – benar sudah di butakan cinta.” Nerissa sudah tidak tahan mendengar ucapan Reqy yang seakan membela Adelia.
“Nerissa....sudah cukup. Aku hanya menikahinya karena aku butuh istri tidak lebih. Kau jangan mengungkit hal – hal seperti itu lagi, aku tidak suka. Cinta atau tidak, itu bukan urusanmu. Kalau kau terus bicara, aku akan mengirimmu kembali ke luar negri dan tidak mengijinkanmu kembali ke sini.” Reqy menyangkal perasaannya karena tidak ingin Nerissa terus bertanya padanya. Ia tahu jika Nerissa orang yang selalu ikut campur.
Sementara Adelia sudah berada di luar membawa kopi yang di minta suaminya. Ia mendengar suaminya mengatakan hal seperti itu pada Nerissa.
__ADS_1
“Kenapa aku merasa sakit hati dia mengatakan hal seperti itu pada keluarganya. Bukan kah dari awal dia menikahiku karena menginginkan anak dariku?” Dalam hati Adelia.
Tiba – tiba Emir datang menghampiri Adelia.
“Nyonya.” Panggilnya membuyarkan lamunannya.
“Ya.” Adelia sedikit kaget melihat Emir.
“Kenapa Anda berdiri di sini dan tidak masuk ke dalam?” Tanya Emir.
“Aku takut mengganggu kalau aku masuk ke dalam.”
“Kenapa Anda bilang begitu. Ayo masuk nyonya, saya juga ingin masuk melaporkan sesuatu pada Tuan Muda?”
“Iya.” Balasnya sambil tersenyum.
Emir kemudian mengetuk pintu Ruang Kerja Reqy. Tok...tok....tok...
“Tuan Muda, ini saya Emir.” Emir meninggikan suaranya agar Reqy bisa mendengarnya.
“Masuk.” Terdengar suara tegas Reqy dari dalam ruangannya.
Emir membuka pintu Ruang Kerja Reqy. Ia masuk ke dalam bersama Adelia yang tengah membawa kopi untuk suaminya. Adelia berjalan menghampiri Reqy yang masih berdiri merokok dengan posisinya tadi, sedangkan Emir berdiri di samping Nerissa.
“Kopinya sudah aku buat tanpa gula.” Ucap Adelia sambil meletakkan kopinya di atas meja, tepat di samping Reqy.
“Eem....kau boleh pergi sekarang.” Balas Reqy dengan santai. Ia tidak menyuruh Adelia duduk di sofa seperti yang biasa ia lakukan, karena ia tidak ingin jika kehadiran Nerissa yang tidak suka pada istrinya malah membuat Adelia merasa tidak nyaman.
Adelia langsung berjalan keluar. Ketika melewati Nerissa, ia sempat melirik Nerissa yang juga ikut meliriknya.
Ia keluar sambil menutup kembali pintu Ruang Kerja suaminya. Ia berdiri di luar pintu, memikirkan Reqy yang langsung menyuruhnya keluar tadi.
Ia kemudian berjalan menuju kamarnya, sedangkan Reqy yang berada di dalam ruang kerjanya masih berdiri dengan posisinya tadi.
“Apa lagi yang kau tunggu. Emir sudah mengatur semua keperluanmu. Bawa barang – barangmu sekarang keluar dari rumah ini.” Perintahnya.
“Tapi kak, aku ingin tinggal di sini.” Nerissa masih kekeh dengan keinginannya yang ingin tinggal di Mansion Abraham.
“Apa kau sudah lupa dengan adat Keluarga Abraham. Kalau kau ingin tinggal di sini, kau harus meminta izin nyonya rumah ini?” Tegas Reqy kembali mengingatkan Nerissa tentang adat keluarganya.
Ya, Keluarga Abraham memang punya peraturan dan adat turun temurun dari keluarganya. Jika pewaris Keluarga Abraham sudah menikah otomatis yang punya hak mengatur keadaan rumahnya adalah istrinya. Dan Reqy sama sekali tidak punya wewenang atas semua itu begitu pula dengan istrinya. Adelia hanya bisa mengatur keadaan rumahnya tanpa ikut campur masalah perusahaan Keluarga Abraham.
Saat Reqy mengatakan hal seperti itu padanya, Nerissa hanya bisa memejamkan matanya menerima apa yang di katakan kakak sepupunya.
“Baiklah aku pergi dari sini.” Ucapnya. Ia lebih memilih tinggal di luar dari pada harus memohon pada Adelia untuk tinggal di Mansion Abraham. Ia paling tidak suka memohon pada orang asing yang tidak ia sukai.
Ketika Nerissa keluar dari ruangan kerja Reqy, Reqy kembali duduk di kursinya dengan posisi tubuh tegak. Ia menatap serius Emir yang masih berdiri di depannya.
“Emir.” Panggilnya sambil mematikan batang rokoknya di asbak yang ada di atas mejanya.
“Ya tuan.”
“Apa kau tahu bagaimana cara membuat seorang wanita itu merasa nyaman?” Tanya Reqy dengan serius, menatap Emir.
“Apa yang Anda maksud Nyonya Muda, tuan?” Emir balik bertanya pada Tuan Mudanya.
__ADS_1
“Iya...dia memang sudah bicara santai padaku. Tapi wajahnya masih menunjukkan ekspresi tidak nyaman saat melihatku.”
“Kalau saya melihat sifat Nyonya Muda, dia orang yang ceria dan punya banyak teman. Dan yang saya lihat, dia tidak menunjukkan sifat aslinya yang ceria itu pada tuan karena dia masih merasa asing dengan Anda dan rumah ini tuan.” Jelasnya dengan sopan.
“Jadi, apa yang harus aku lakukan supaya dia bisa menunjukkan itu semua padaku?” Tanya Reqy sambil mengerutkan keningnya.
“Apa sebaiknya Anda mengajak Nyonya Muda liburan berdua. Mungkin saja kalau Anda dan nyonya liburan berdua, nyonya bisa merasa nyaman. Kalau di sini kan banyak orang tuan. Kalau Anda cuma berdua dengan nyonya, dia bisa merasa nyaman dan leluasa bicara pada Anda?”
Reqy menyatukan kedua tangannya dan meletakkannya di bawah dagunya. Ia menurunkan bola matanya ke bawah sambil memikirkan ucapan Emir.
“Benar.....tidak salahnya kalau aku membawanya liburan berdua. Apalagi aku belum membawanya pergi bersantai setelah menikah.” Reqy kembali menatap Emir. “Liburan apa namanya itu setelah orang menikah?”
“Honeymoon tuan.”
“Iya Honeymoon atau apa lah itu sebutannya. Mungkin dia bisa merasa nyaman setelah liburan denganku.”
“Apa saya boleh mengatakan sesuatu tuan?” Tanya Emir.
“Apa, tanyakanlah?”
“Mungkin kalau Anda sedikit bercanda dan melepaskan perasaan Anda pada nyonya. Dia bisa cepat nyaman dengan Anda tuan.”
“Kau tahu kan, aku paling tidak suka bercanda.” Tegasnya. Reqy tidak suka mendengar ucapan Emir, karena ia tidak pernah melakukan hal seperti itu.
“Tidak ada salahnya melakukan hal seperti itu pada nyonya, karena nyonya itu orang yang gampang berbaur dengan orang asing, tuan.” Jelasnya dengan wajah menunduk.
“Kau bilang dia gampang berbaur dengan orang. Terus, kenapa dia selalu menunduk padaku?” Tanya Reqy dengan ekspresi datarnya.
“Maaf kalau saya mengatakan ini pada Tuan Muda. Mungkin nyonya tidak berani mengeluarkan isi hatinya pada tuan, karena takut kalau tuan tersinggung. Sepertinya nyonya menjaga cara bicaranya di depan tuan, karena takut kalau tuan memarahinya.”
“Kenapa kau bisa tahu semua tentang istriku. Kau dekat dengannya?” Tanya Reqy yang terlihat tidak suka dengan ucapan Emir. Ia terlihat cemburu, kenapa Emir bisa tahu semua tentang masalah istrinya, sedangkan ia sama sekali tidak tahu dengan yang di rasakan Adelia.
“Bukan begitu tuan, saya tidak terlalu dekat dengan nyonya. Saya hanya melihat tingkah nyonya ketika saya mengawalnya, nyonya baik pada semua orang. Nyonya Muda bisa cepat bergaul dengan pelayan di rumah ini dan juga pada Lumi. Apalagi ketika saya mengantar nyonya ke acara amal. Nyonya bisa cepat bergaul dengan para wanita yang bahkan lebih tua darinya.” Jelasnya dengan sopan.
“Kalau begitu, kau siapkan tiket ke luar negri. Aku akan membawanya liburan supaya dia tidak merasa tertekan di sini.”
“Apa saya pesankan tiket ke Italia saja tuan, itu salah satu negara paling romantis di dunia?”
“Eem...kau atur saja semuanya. Kau hubungi paman, minta dia menyediakan paspor dan Visa Adelia. Semuanya dia yang pegang.”
“Baik tuan.” Balas Emir
“Keluarlah.”
“Baik tuan.” Balas Emir sambil membungkuk hormat di depan Reqy.
Emir pun keluar dari Ruang Kerja Reqy untuk melakukan semua yang di perintahkan Reqy padanya.
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1
.
Jangan lupa tekan LIKE ya, harus loh. Tulis KOMENTAR kalian di kolom komentar untuk memberikanku semangat. Silahkan VOTE novelku ini ya, seikhlasnya saja tidak apa - apa. Aku semangat kalau lihat VOTE dan KOMENTAR kalian.