Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Aku merasakan kehangatan di tangannya


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Pukul 9:00 malam.


Reqy duduk di Ruang Kerjanya dengan dokumen yang menumpuk di depannya. Ia ingin menyelesaikan semua pekerjaannya sebelum pergi liburan dengan istrinya ke Italia.


Sementara Pak Osmar baru saja pulang setelah mengurus masalah Nita. Ia langsung mendatangi Tuan Mudanya yang tengah sibuk di Ruang Kerjanya.


Tok....tok....tok....


“Tuan Muda...ini saya Pak Osmar.”


“Masuk.” Terdengar suara tegas Reqy di dalam ruangannya.


Pak Osmar membuka pintu Ruang Kerja majikannya itu dan berjalan masuk ke dalam. Ia berdiri di depan meja kerja Reqy, melihat Reqy yang terus memeriksa semua dokumen proyeknya.


Pak Osmar kemudian bicara pada Reqy.


“Maaf tuan, saya dengar dari Emir kalau Anda pesan tiket ke Italia untuk liburan bersama nyonya.” Tanya Pak Osmar dengan serius.


“Iya.” Balas Reqy tanpa melihat Pak Osmar. Ia hanya sibuk menandatangani dokumen yang sudah ia periksa.


“Kenapa Anda tidak naik pesawat pribadi tuan?” Tanya Pak Osmar penasaran.


Reqy menghentikan kesibukannya dan menatap Pak Osmar dengan serius.


“Emir bilang kalau aku dan istriku harus menghabiskan waktu berdua. Aku hanya ingin Adelia merasa nyaman seperti wanita biasa lainnya. Kalau aku naik pesawat pribadi, orang – orang sana pasti akan berdatangan menyambutku apalagi kalau mereka tahu tentang Adelia. Mereka pasti membawa semua wartawan melihat Adelia. Aku hanya ingin liburan dengan nyaman bersama Adel. Kalau dia sudah nyaman padaku, aku bisa leluasa mengenalkan dia pada publik.” Jelasnya dengan serius.


Reqy tidak ingin naik pesawat pribadinya karena ingin menunjukkan pada istrinya jika ia bisa hidup seperti orang biasa lainnya. Ia ingin Adelia bisa menerimanya dan mencintainya jika ia melakukan hal seperti itu. Ia juga ingin kalau Adelia bisa merasa nyaman bersamanya. Begitu pikirnya.


“Baiklah kalau Tuan Muda ingin seperti itu. Tapi, saya dan pengawal lainnya harus mengikuti Tuan Muda sampai ke sana.”


“Tidak perlu. Paman urus saja masalah perusahaan. Biar Emir saja yang mengikutiku ke sana. Paman terlalu mencolok, apalagi sampai membawa para pengawal, takutnya para wartawan tahu semua tentang liburanku bersama istriku. Aku hanya ingin pergi bersama Adelia, Emir dan Dokter Lumi. Aku tidak memerlukan pengawal.” Ucap Reqy dengan serius.


Reqy sengaja membawa Lumi karena dia sudah di tunjuk sebagai Dokter Pribadi Adelia yang bisa merawat Adelia jika terjadi sesuatu pada istrinya di jalan.


“Baik tuan.” Jawab Pak Osmar sambil menganggukkan kepalanya dengan sopan.


Reqy kembali fokus dengan pekerjaannya. Sedangkan Pak Osmar hanya berdiri diam menatap Reqy, menemani dan menunggu perintah dari Tuan Reqy jika Tuan Reqy memerlukan bantuannya.


“Ternyata Tuan Muda benar – benar sudah jatuh cinta dengan nyonya. Saya bahagia melihatnya. Tuan sampai memikirkan perasaan yang di rasakan Nyonya Muda. Tuan Muda sampai rela naik pesawat bersama dengan orang – orang biasa yang sama sekali belum pernah di lakukannya. Kapan Nyonya Muda bisa melihat pengorbanan Anda tuan. Sudah tujuh tahun Anda selalu berada di belakang nyonya. Saya tahu kalau Tuan Muda bisa berdiri sendiri karena Nyonya Muda. Anda bisa melupakan kesedihan Anda karena kehilangan Tuan besar dan Nyonya besar berkat Nyonya Muda.” Dalam hati Pak Osmar.


Pukul 2:00 malam.


Reqy selesai dengan semua dokumennya. Ia kembali istirahat ke kamarnya begitu pun dengan Pak Osmar yang kembali istirahat setelah Reqy selesai bekerja.

__ADS_1


Saat Reqy masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Adelia sudah tidur nyenyak di kasur. Ia berjalan pelan menghampiri Adelia yang berbaring dengan posisi terlentang. Ia mengelus kepala istrinya sambil tersenyum menatap Adelia. Ia kemudian mencium kening istrinya dengan lembut.


Reqy berdiri dari sana dan melepaskan bajunya. Ia ikut berbaring di samping istrinya tanpa memakai baju. Itu memang sudah kebiasaannya yang tidur tanpa memakai baju.


Keesokan paginya.


Reqy dan Adelia sudah siap – siap untuk berangkat ke Italia. Reqy berpakaian santai dengan baju kemeja putih dan celana putih panjang di padu dengan jaket model coat panjang berwarna coklat, sedangkan Adelia memakai jumpsuit dengan atasan terbuka di bagian bahu memperlihatkan tulang selangkanya dan bawahan celana panjang di padu dengan jaket jeans tebal di tubuhnya.


Mereka berdua berangkat bersama Lumi dan Emir menuju bandara Kota Jakarta.


Mereka naik pesawat kelas bisnis menuju Italia. Tidak ada yang mengenali dirinya ketika ia berada di bandara, karena pada saat itu Reqy berpakaian biasa dan tidak terlalu mencolok apalagi ia memakai topi membuat wajahnya tidak terlihat dengan jelas.


Di dalam pesawat.


Reqy duduk bersama Adelia di kelas bisnis yang sudah Emir pesankan untuknya.


Reqy memiringkan kepalanya ke samping istrinya.


“Apa kau baik – baik saja?” Tanya Reqy. Ia khawatir jika Adelia merasa tidak nyaman duduk di sana seperti dirinya. Meskipun kursinya nyaman, tapi Reqy merasa tidak nyaman dan tidak suka duduk bersama beberapa orang yang juga berada di kelas bisnis bersamanya.


“Aku baik – baik saja kak.” Jawab Adelia sambil tersenyum pada suaminya.


“Kalau kau ingin tidur, tidurlah.”


“Iya.”


Mereka berdua naik mobil yang sudah di pesan Emir menuju Villa pribadi Reqy yang ada di Kota Italia.


Tak menunggu lama, mobil yang di tumpangi mereka sampai di Villa pribadi milik Reqy. Mereka semua turun dari mobil dan masuk ke dalam Villa pribadi Reqy. Saat berada di dalam, Adelia fokus melihat semua isi Villa milik suaminya. Sedangkan Reqy hanya berdiri bersama Emir dan Lumi, mereka memperhatikan Adelia yang sibuk melihat isi Villanya.


Reqy kemudian berbisik pada Emir.


“Tugasmu sudah selesai. Kau dan Lumi bisa kembali ke hotel.” Reqy menyuruh Emir kembali ke hotel yang sudah Emir pesan bersama Lumi sebelum keberangkatan mereka ke Italia. Letaknya tidak jauh dari Villa pribadi Reqy. Itu karena Reqy ingin berdua saja bersama istrinya tanpa di ganggu oleh siapapun.


“Baik tuan. Kalau terjadi apa – apa, Tuan Muda bisa menghubungi saya dan Lumi.” Jawab Emir sambil menganggukkan kepalanya di depan Tuan Reqy.


“Oke.” Balas Reqy dengan ekspresi datarnya.


“Saya juga sudah mengatur satu pelayan untuk Anda seperti yang Anda inginkan. Anda tenang saja, pelayan yang ada di sini tidak akan mengganggu Tuan Muda dan nyonya.” Jelasnya.


“Eem.”


Emir dan Lumi pun pergi meninggalkan Reqy dan Adelia.


“Loh...kenapa Lumi dan Emir pergi?” Tanya Adelia penasaran dan bingung melihat kepergian Emir dan Lumi.

__ADS_1


“Mereka punya kehidupan sendiri. Lagi pula mereka tinggal di hotel dekat sini. Kau tidak perlu khawatir.” Ucap Reqy dengan santainya.


“Apa kita cuma berdua sekarang?” Tanya Adelia.


“Memang kenapa kalau kita berdua. Apa kau tidak suka berdua denganku?” Reqy berbalik bertanya pada istrinya dengan ekspresi dinginnya.


“Bukan begitu kak. Aku pikir Emir dan Lumi juga tinggal di sini.” Adelia kembali menunduk saat melihat ekspresi tidak suka yang di tunjukkan Reqy padanya.


“Kita tidak berdua. Di sini ada pelayan yang akan memasak sarapan pagi dan makan malam untuk kita. Kalau kau butuh sesuatu, kau bisa meminta bantuannya. Tapi dia tidak akan menampakkan wajahnya jika tidak di perlukan.”


“Iya.”


“Ayo...aku tunjukkan kamarnya.” Reqy memegang tangan istrinya dan menariknya menuju lantai dua. Adelia seketika kaget melihat tangannya di pegang suaminya.


“Ini pertama kalinya dia memegang tanganku dengan lembut. Ternyata tangannya besar juga. Aku merasakan kehangatan di tangannya.” Dalam hati Adelia.


Adelia tersenyum menatap tangan suaminya yang terus menggenggam erat tangannya dengan lembut. Ia merasakan kehangatan untuk pertama kalinya. Sesekali ia menatap punggung lebar suaminya yang membuatnya tidak berhenti tersenyum untuk pertama kalinya.


“Aku baru sadar kalau dia juga punya punggung lebar.” Dalam hati Adelia.


Seketika ia tersadar saat Reqy berbalik melihatnya. Ia kembali menarik bibir tersenyumnya. Ia menunduk di sana ketika Reqy melihatnya.


“Ada apa, apa kau merasa tidak enak?” Tanya Reqy ketika melihat istrinya menunduk lagi.


Adelia mengangkat kepalanya melihat suaminya.


“Tidak kak. Aku baik – baik saja.”


Ketika sampai di kamarnya, Reqy kembali melihat ke depan tanpa membalas kata – kata istrinya. Ia membuka pintu kamarnya yang akan ia tempati bersama Adelia.


“Ayo masuk.” Ajak Reqy yang masih memegang tangan istrinya tanpa sekalipun melepaskannya.


Adelia melihat kamarnya yang begitu luas dan indah. Reqy langsung melepaskan genggaman tangannya untuk membiarkan Adelia berkeliling melihat kamarnya. Reqy kemudian menyimpan koper bawaan istrinya di dekat lemari pakaiannya. Ia berdiri tegak sambil tersenyum melihat Adelia yang fokus melihat kamarnya.


Bersambung.


.


.


.


Ingat tekan LIKE ya, harus....jangan sampai lupa. Tulis KOMENTAR kalian juga di bawah kolom komentar tapi komentar yang positif, tidak usah komentar novel orang di sini kalian salah kamar loh. Kalau punya koin dan poin silahkan VOTE supaya novel ini bisa dapat rangking, seikhlasnya saja.


Maaf dua hari Dewi ngga up karena sakit, drop. sama sekali ngga bisa update.

__ADS_1


Terima Kasih.


__ADS_2