
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Tubuh bagian bawah Adelia terasa perih akibat perbuatan Reqy yang melakukannya sampai berkali – kali, membuat seluruh tubuhnya sakit apalagi itu pertama kali baginya.
Posisinya sekarang berbaring miring membelakangi Reqy yang tengah memeluknya dari belakang. Reqy tengah tidur nyenyak di belakangnya dengan wajah Reqy yang begitu menempel di belakang kepalanya.
Ia meneteskan air matanya di sana tanpa mengeluarkan suaranya. Lelaki itu sudah merenggut hal yang paling ia jaga selama hidupnya. Ia sudah pasrah sekarang.
Ia kemudian memejamkan matanya untuk tidur dengan tubuhnya yang masih telanjang. Hanya selimut yang menutupi tubuhnya sementara Reqy sudah tidur nyenyak di belakangnya dengan posisi memeluknya dari belakang. Ia hanya memakai celana dalam model boxer tanpa memakai baju.
Keesokan paginya, Adelia membuka matanya. Ia masih merasakan sekucur tubuhnya yang sangat sakit. Tangan suaminya masih berada di atas tubuhnya yang terbaring miring membelakangi Reqy. Ia dengan pelan memegang tangan Reqy dan mengangkatnya untuk memindahkan tangan suaminya ke samping.
Adelia ingin bangun dari sana tanpa membangunkan suaminya yang masih tidur nyenyak. Ia tidak ingin melihat wajah dingin suaminya yang selalu di tunjukkan padanya.
Adelia pun memaksakan dirinya bangun sambil melilit selimut menutupi tubuhnya. Ketika ia ingin berdiri, tiba – tiba tangannya di tarik Reqy. Adelia langsung berbalik melihat suaminya yang sudah membuka matanya.
“Kau mau kemana?” Tanya Reqy sambil memegang tangan Adelia.
“Aku ingin mandi.”
Reqy langsung menarik kembali tangan Adelia sampai tubuhnya kembali berbaring di kasur. Ia memeluk erat tubuh istrinya di sana.
“Kau tidak boleh bangun sebelum aku mengijinkanmu bangun.” Ucap Reqy sambil mendekatkan kepalanya di samping wajah istrinya.
Ia mencium aroma harum istrinya di sana.
“Kak Reqy, biarkan aku bangun.”
“Memangnya apa yang ingin kau lakukan pagi – pagi begini...hem?” Tanya Reqy sambil menggesek – gesekkan hidung dan bibirnya di telinga Adelia membuat Adelia merasa tak nyaman.
“Aku ingin menyiapkan pakaian kantor Kak Reqy dan menyiapkan air di Bak mandi.” Adelia mencari alasan agar bisa menghindar dari cengkaraman suaminya.
“Nanti saja kau lakukan itu. Kau lakukan saja tugasmu yang paling penting.”
“Tu-tugas apa?” Tanya Adelia dengan gagap. Ia merasa jika tugas yang di maksud Reqy adalah melayaninya seperti tadi malam.
Dan tentu saja itu maksud Reqy, setelah melakukan hal itu pada istrinya membuat Reqy semakin ingin menyentuh dan mencium aroma tubuh Adelia.
Reqy yang mendengar ucapan Adelia langsung bangun dan menggerakkan tubuhnya sampai ke atas tubuh Adelia.
“Kak Reqy.....apa yang kamu lakukan?” Tanya Adelia dengan kaget.
__ADS_1
Reqy memegang dagu istrinya. “Wah...sekarang cara bicaramu sudah terdengar santai ya, apa kau sudah menganggapku sebagai suamimu?” Tanya Reqy dengan datarnya.
Adelia hanya diam, sementara Reqy mencium bibir Adelia. Adelia mendorong tubuh Reqy sampai Reqy melepaskan ciumannya dari bibirnya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Reqy dengan wajah datarnya.
“I-ini sudah pagi. Tidak seharusnya melakukan hal seperti ini di pagi hari.”
Reqy mendekatkan kembali wajahnya di depan Adelia. “Aku tidak peduli dengan semua itu, kau pernah bilang padaku kan kalau aku harus bahagia. Sekarang aku senang dan bahagia jadi apa pun yang ingin kulakukan itu terserah aku.”
“Kapan aku mengatakannya pada Kak Re....
Adelia belum menyelesaikan kalimatnya tapi bibirnya langsung di cium Reqy. Reqy melepaskan ciumannya saat ia puas mencium istrinya.
Ia mengangkat kepalanya menatap Adelia. “Lain kali, jangan tersenyum pada orang lain kalau kau tidak bisa tersenyum pada suamimu sendiri.” Reqy tak suka istrinya tersenyum pada orang lain sementara Adelia tidak pernah tersenyum padanya. Meskipun Adelia hanya tersenyum pada seorang wanita, tapi itu sudah membuatnya sangat cemburu.
Adelia hanya diam mendengar suaminya mengatakan hal seperti itu padanya. Reqy bangun dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandinya. Sementara Adelia masih diam kaku di atas kasur.
Ia menutup matanya dengan lengannya. Perasaannya sangat kesal mendengar ancaman Reqy padanya.
“Apa dia sudah tidak waras, setelah memaksaku tadi malam. Dia juga melarangku untuk tersenyum pada orang?” Dalam hati Adelia.
Ia hanya bisa memendam kekesalannya di dalam hatinya tanpa berani bicara langsung pada suaminya.
Dengan cepat, ia memaksakan tubuhnya bangun dari kasur lalu berjalan menuju Ruang Gantinya dengan selimut yang masih melilit di tubuhnya. Sesekali ia memasang wajah meringis menahan rasa perih di bagian bawah tubuhnya.
Ketika berada di dalam tepatnya di depan lemarinya, ia meraih gaun tidurnya di lemari pakaiannya untuk sementara ia pakai. Tiba - tiba ia tersadar dengan perhiasan yang masih ada di leher dan telinganya. Ia melepaskan perhiasannya dan menyimpannya dengan baik di lemari perhiasan yang ada di dekat lemari pakaiannya.
"Eh....aku baru melihat jelas isi lemari ini. Semuanya perhiasan mahal. Apa dia yang menyiapkan ini semua." Pikirnya.
"Sudahlah, aku tidak boleh menyentuhnya."
Ia menutup lemari perhiasan yang sudah di siapkan semua oleh Reqy. Reqy memang sudah menyiapkan semua apa yang di butuhkan wanita termasuk perhiasan sebelum membawa Adelia ke rumahnya.
Adelia kemudian berjalan menuju lemari pakaian suaminya yang letaknya berhadapan dengan lemari pakaiannya. Seperti kemarin ia memilih pakaian kerja untuk Reqy.
Tak lama kemudian, Reqy keluar dari kamar mandinya dan langsung berjalan menuju kamar gantinya. Di sana ia melihat istrinya tengah berdiri sambil memegang setelan jas kerjanya.
“Pergilah mandi.” Ucap Reqy sambil meraih pakaiannya.
“Iya.”
__ADS_1
Adelia masih diam di sana tanpa beranjak dari tempatnya. Reqy mengerutkan keningnya melihat istrinya, ia tahu jika Adelia ingin mengatakan sesuatu padanya.
“Ada yang ingin kau katakan padaku?” Tanya Reqy dengan serius.
Tanpa basa – basi, Adelia langsung mengatakan yang ingin ia katakan.
“Aku akan memberikan anak untuk Kak Reqy, tapi aku ingin memohon agar Kak Reqy tidak mengganggu keluargaku. Dan setelah aku melahirkan anak, tolong ijinkan aku pergi dari sini.” Ucap Adelia dengan wajahnya yang serius.
Reqy langsung menatap istrinya dengan wajah dinginnya ketika mendengar hal itu dari Adelia.
“Wanita ini, masih punya keinginan untuk pergi dari sini. Beraninya dia. Huh....kau pikir bisa pergi dari sini.” Dalam hati Reqy.
Adelia tampak gelisah. “Bagaimana ini, apa dia marah lagi?” Dalam hati Adelia.
Reqy kemudian bicara pada istrinya. “Baiklah, aku setuju. Tapi kau harus ingat, jangan pernah berhubungan dengan pria lain di belakangku.” Tegasnya dengan wajah dinginnya.
“Iya...tidak akan.”
“Bagus, pergilah mandi.” Perintahnya.
“Iya..”
Adelia berjalan melewati suaminya menuju kamar mandinya sementara Reqy memakai pakaian yang di berikan istrinya tadi. Reqy masih kesal dengan istrinya yang ingin sekali pergi dari rumahnya. Tanpa sadar ia memukul dinding tembok dekat lemari pakaiannya.
"Brengsek....apa segitu tidak sukanya kau berada di rumah ini sampai kau ingin sekali pergi dari sini?" Kesalnya yang terus mengingat ucapan istrinya tadi.
Selesai berpakaian, ia langsung keluar dari kamarnya tanpa menunggu istrinya yang masih mandi di dalam kamar mandinya. Bahkan ia tidak sarapan pagi, ia hanya berjalan pergi meninggalkan pelayannya yang menunggunya di meja makan. Pak Osmar hanya menuruti tuan mudanya itu tanpa mengatakan apa - apa. Ia mengikuti Reqy dari belakang. Ia tahu kalau suasana hati Tuan Mudanya pasti tidak baik.
Bersambung.
.
.
.
.
.
Ingat tekan LIKE di bawah ya, harus. Tulis KOMENTAR kalian juga sebagai penyemangat Author. Terserah mau berkomentar apa, yang penting positif. Kalau punya kelebihan poin, silahkan VOTE untuk mendukung karya Author ini.
__ADS_1
Terima kasih.