
Pukul 8:00 pagi.
Adelia baru saja pulang dari rumah paman dan bibinya bersama Reqy. Mereka di jemput langsung oleh Pak Osmar di rumah pamannya. Dan saat ini, Adelia sudah berada di kamarnya bersama Reqy. Ia tengah memasang dasi untuk suaminya yang sudah selesai memakai setelan jasnya.
“By...” Panggil Adelia sambil sibuk merapikan dasi suaminya.
“Eem..”
“Apa aku boleh keluar nanti?” Tanya Adelia meminta izin pada suaminya.
“Kau mau kemana?” Tanya Reqy sambil mengerutkan keningnya melihat Adelia.
“Aku mau bertemu dengan Kak Darel. Dari kemarin aku tidak pernah bertemu dengan dia. Boleh ya,” Adelia berusaha mencari alasan pada suaminya agar ia bisa bertemu dengan Darel secara langsung. Ia ingin menanyakan berita tentang Rian pada kakak sepupunya itu. Ia yakin sekali kalau Darel pasti tahu sesuatu tentang Rian.
“Kau mau bertemu dimana dengan kakakmu itu?” Tanya Reqy serius.
“Di rumah sakit. Sepertinya dia masih ada di sanat by. Aku kangen sekali dengannya.” Jawab Adelia.
“Baiklah....kau boleh pergi, tapi kau harus di temani Emir ya.” Balas Reqy sambil membelai kepala istrinya dengan lembut.
Adelia langsung memeluk suaminya. “Terima kasih by.”
“Selama kau bahagia sayang.”
Adelia kembali melepaskan pelukannya dari suaminya.
“Ayo, aku antar sampai di depan rumah.” Ajak Adelia sambil melihat suaminya dengan ekspresi tersenyum.
“Iya sayang.” Balas Reqy sambil memegang atas kepala Adelia diikuti senyuman lembut pada istrinya.
Mereka berdua pun berjalan bersama keluar dari kamar menuju lantai bawah rumahnya. Saat itu, mereka menggunakan lift rumahnya yang letaknya tak begitu jauh dari kamar pribadinya.
Beberapa saat kemudian, Adelia dan Reqy sudah keluar dari lift rumahnya. Mereka berjalan bergandengan tangan ke arah pintu keluar rumahnya. Di luar sana sudah ada Pak Osmar yang sudah menunggu kedatangan Tuan Mudanya. Ia berdiri di samping mobil menunggu Reqy naik mobil.
Ketika Reqy sudah berada di dekat mobilnya, ia langsung mencium kening istrinya, kemudian naik ke dalam mobil setelah berpamitan pada Adelia.
Setelah melihat kepergian Reqy, Adelia menelfon Darel untuk mengajaknya bertemu. Tentu saja Darel langsung setuju dengan permintaan Adelia yang mengajaknya bertemu.
Adelia pun berangkat ke rumah sakit dimana ia akan bertemu dengan kakak sepupunya. Saat itu, ia diantar Emir menuju Rumah Sakit tempat kerja Darel.
Satu jam kemudian, mobil yang di kendarai Emir sudah berhenti tepat di depan Rumah sakit. Emir langsung turun dari mobil untuk membuka pintu mobilnya.
Adelia turun dari sana sesaat setelah Emir membuka pintu mobilnya. Ia masuk ke dalam Rumah Sakit di temani Emir yang sudah berjalan di belakangnya. Mereka berdua berjalan menelusuri lorong Rumah Sakit menuju ruangan Darel.
Ketika sudah berada di depan ruangan Darel, Adelia masuk tanpa di temani Emir. Karena memang pada saat itu Adelia menyuruh Emir menunggunya di luar ruangannya.
Ia masuk ke dalam dengan perasaan gugup yang sudah sejak tadi ia rasakan. Ia menghela nafasnya dengan pelan, kemudian masuk ke dalam ruangan Darel. Di sana ia sudah melihat Darel duduk di ruangannya dengan tatapan serius yang sudah menatapnya sejak ia masuk.
“Duduklah Del,” Pinta Darel dengan serius.
“Kakak tidak punya pasien.”
“Tidak, hari ini kakak sengaja mempercepat pemeriksaannya saat kau menghubungi kakak tadi. Sebenarnya kakak memang ingin bertemu denganmu.” Ujarnya.
__ADS_1
“Apa kakak tahu kenapa aku mengajak kakak bertemu?” Tanya Adelia.
“Kau pasti mau menanyakan tentang Rian kan,” Darel langsung mengatakan maksud kedatangan Adelia. Ia sudah tahu sejak Adelia menghubunginya kalau Adelia mengajak bertemu pasti karena Rian.
Seketika Adelia kaget mendengar ucapan kakak sepupunya.
“Jadi....kakak benar tahu tentang Rian.”
“Aku langsung ke intinya saja Del.”
Adelia menganggukkan kepalanya menatap serius kakak sepupunya itu.
Darel kembali bicara. “Rian masih hidup.”
“Apa?” Adelia langsung syok dengan mata melotot melihat Darel. "Kak Rian masih hidup."
Darel mengangguk. “Iya,”
“Apa Rian menghubungi kakak tadi malam?” Tanya Adelia.
“Iya, kakak chatingan dengannya tadi malam. Dia memberitahu semuanya pada kakak.Dia juga bilang kalau dia sudah mengirim email padamu, makanya kakak setuju bertemu denganmu.” Jelasnya dengan serius.
“Tapi...bagaimana bisa Kak Rian hidup. Kita semua melihat pemakamannya sendiri kan. Lalu polisi juga mengatakan kalau jasad yang mereka temukan adalah jasad Kak Rian?” Adelia masih tidak bisa mempercayai yang di katakan Darel.
“Awalnya kakak ragu Del. Tapi dia mengirim foto Rian yang sekarang pada kakak. Dia duduk di kursi roda. Dia bilang kalau dia sedang menjalani perawatan di sana.” Jelasnya dengan serius.
Saat itu Adelia menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Wajahnya syok tak percaya apa yang ia dengar dari Darel. Air matanya seketika jatuh di pipinya, ia tak menyangka jika Rian benar – benar hidup. Air mata kebahagiaan membasahi pipinya dengan tubuhnya yang ikut gemetar mendengar kenyataan tentang Rian.
“Ya tuhan....ini adalah keajaiban kalau Kak Rian masih hidup.” Adelia memegang tangan Darel dengan erat. “Dia hidup kakak, Kak Rian hidup.” Ucapnya dengan wajah antusiasnya.
"Apa kakak beritahu dia kalau aku sudah menikah?" Tanya Adelia dengan serius.
Darel menggelengkan kepalanya. "Tidak Del. Kakak tidak bisa mengatakannya. Dia terus menyebut namamu. Kakak tidak tega kalau menghancurkan hati sahabat kakak sendiri."
Adelia tampak diam di sana dengan wajah sedih yang ia tunjukkan di depan Darel.
Darel kembali bicara. "Del...kau harus merahasiakan tentang masalah ini.” Pintanya dengan serius.
“Apa maksud kakak?” Tanya Adelia penasaran.
“Apa Rian tidak memberitahumu tentang semua yang dia alami saat hari pernikahanmu?” Tanya Darel.
“Tidak, tadi malam aku tidak membalas emailnya.”
“Kakak akan beritahu padamu. Tapi kau harus janji kalau kau tidak akan syok mendengarnya.”
Adelia mengangguk. “Iya.”
“Rian di culik di hari kalian akan menikah. Makanya dia bisa mengalami kecelakaan itu. Ada seseorang yang berusaha membunuhnya Del.” Jelasnya.
Adelia lagi - lagi syok. “Kak Rian di culik. Apa yang kakak katakan ini benar?” Tanya Adelia
“Iya...”
__ADS_1
“Tidak mungkin. Kak Rian tidak punya musuh kak. Kakak pasti salah.”
“Rian sendiri yang mengatakan semuanya pada kakak kalau ada orang yang sengaja menculiknya. Orang itu ingin membunuhnya Del.”
“Bagaimana bisa ada orang yang mau membunuh Kak Rian. Aku tahu selama kenal dengannya dia sama sekali tidak punya masalah dengan orang?”
“Benar yang kau katakan itu Del. Rian sama sekali tidak punya musuh. Aku lebih dulu kenal dengannya. Dia tidak punya masalah dengan orang lain. Tapi...Del, kau tidak boleh mengatakan kalau Rian masih hidup. Dia tidak ingin kalau ada orang yang tahu dia masih hidup.”
“Apa alasan Kak Rian menyembunyikan itu kak?” Tanya Adelia penasaran.
“Dia ingin mencari tahu orang yang ingin membunuhnya itu.”
“Apa kakak tahu sesuatu?” Tanya Adelia yang semakin penasaran.
“Aku tidak yakin dengan yang aku pikirkan sekarang. Tapi....Rian bilang kalau orang yang menculiknya itu adalah orang yang berkuasa di negara ini Del.”
“Maksud kakak orang yang punya banyak uang. Begitu,”
Darel mengangguk. “Iya,”
“Siapa?” Tanya Adelia
“Suamimu.” Jawab Darel secara terang - terangan.
Adelia langsung berdiri dari tempat duduknya. “Apa?” Ia terlihat sangat syok. "Apa kakak sadar dengan yang kakak katakan?" Tanya Adelia dengan wajahnya yang terlihat tak terima mendengar ucapan Darel.
“Aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan,”
“Jaga ucapan kakak. Suamiku memang punya banyak uang, tapi dia tidak akan pernah melakukan hal rendah seperti itu.” Dengan ekspresi marah melihat Darel.
“Aku hanya mengatakan apa yang ada di pikiranku Del. Lagi pula, siapa lagi orang yang bisa mengendalikan semuanya di negara ini kecuali dia. Kau juga baru kenal beberapa bulan dengannya. Kau tidak tahu sifat asli suamimu?”
“Atas dasar apa kakak mengatakan kalau suamiku yang sudah melakukannya. Dia tidak akan pernah melakukan hal itu?” Ia sangat marah mendengar Darel menuduh Reqy.
“Kakak tidak akan mengatakannya kalau kakak tidak punya keyakinan Del. Coba kau pikirkan sendiri. Rian di culik di hari pernikahanmu, dan dia datang menggantikan Rian untuk menikah denganmu. Menurutku itu bukan kebetulan tapi di sengaja oleh seseorang.”
“Cukup." Teriaknya. "Kakak sangat keterlaluan. Kakak sudah berani menuduh Kak Reqy tanpa bukti. Aku tahu siapa dia di banding orang lain?”
“Terserah. Tapi aku tidak akan pernah menerima kalau suamimu yang sudah menculik Rian. Kalau dia terbukti bersalah pada Rian. Aku pasti akan memisahkanmu dari orang kejam seperti itu. Aku tidak akan pernah rela kalau kau punya suami monster seperti dia, meskipun kau memiliki anak darinya.”
“Aku percaya dengan Kak Reqy. Aku mempercayainya. Dia tidak akan membunuh orang. Tidak akan.” Teriaknya yang tidak terima ucapan kakaknya. Seketika air matanya berjatuhan sesaat setelah berteriak pada Darel.
"Maafkan kakak Del. Tapi....kakak tidak bisa menyembunyikan apapun padamu meskipun ini hanya lah kecurigaanku saja."
Adelia sudah tidak sanggup berada di sana, ia dengan cepat meninggalkan Darel tanpa membalas ucapan kakaknya lagi. Ia sangat sedih mendengar darel menuduh suaminya, sedangkan Darel hanya memejamkan matanya di sana melihat kepergian adik sepupunya.
Bersambung.
.
.
.
__ADS_1
.Ingat tekan LIKE ya. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Silahkan VOTE ya buat mereka.