
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Pukul 11:00 siang.
Adelia sudah berpakaian rapi dengan rambut sanggul di belakang kepalanya. Ia berencana pergi ke pertemuan amal untuk mewakili suaminya. Tadi pagi, Emir menjelaskan dengan panjang lebar semua kegiatan yang akan ia lakukan. Pertemuan amal ini di lakukan setiap tahun.
Para istri pengusaha yang sudah bekerja sama dengan perusahaan Abraham melakukan kegiatan amalnya setiap tahun, mereka selalu mengadakan pertemuan bersama satu kali setiap tahun untuk mengumpulkan dana yang akan mereka sumbangkan pada setiap panti asuhan yang ada di Indonesia mau pun di luar Indonesia yang membutuhkannya. Dan yang menjadi ketuanya tentu saja adalah Reqy sendiri, tapi karena ia sudah menikah, jadi yang menggantikannya adalah istrinya. Keluarga Abraham memang sejak dulu melakukan hal seperti itu.
Dulu waktu ibu Reqy masih hidup, ia yang melakukan semuanya itu. Keluarga Abraham membentuk acara amal ini untuk membantu orang yang membutuhkan. Dan sekarang Adelia yang harus menggantikannya.
Sekarang Adelia dan Emir sudah ada di dalam mobil menuju tempat pertemuan mereka.
“Emir,”
“Ya nyonya.”
“Jadi....aku hanya perlu duduk diam di sana.”
“Maksud saya tadi, tidak seperti itu nyonya, tapi...Anda bicara yang seperlunya saja. Tidak perlu terlalu dekat dengan mereka apalagi harus menunduk pada mereka karena mereka adalah bawahan Anda semua. Kalau ada yang Anda tidak suka pada mereka, Anda boleh menegurnya karena Anda itu ketua mereka.”
“Oh....begitu.”
“Iya, Anda jangan pernah menunduk di depan orang lain. Kalau tuan tahu, dia pasti akan marah lagi. Tuan itu tidak pernah menunduk pada orang, nyonya. Orang – oranglah yang menunduk padanya. Jadi Anda jangan membuat tuan sampai merasa malu melihat Anda menundukkan kepala di depan orang.” Ucapnya dengan serius.
Emir memang orang yang sangat serius ketika dalam bekerja. Ia sangat setia dengan keluarga Abraham. Apalagi sekarang ia menjadi asisten sekaligus pengawal pribadi Adelia yang baru saja masuk ke dalam keluarga Abraham. Jadi ia harus selalu mengingatkan Adelia tentang posisinya sekarang.
“Oh baiklah.” Balas Adelia.
“Dia bicaranya buat orang tersinggung, aku pikir dia orang yang suka bercanda. Kemarin dia berbeda sekali dengan hari ini.” Dalam hati Adelia.
Sementara di Perusahaan Abraham.
Reqy yang sedang sibuk memeriksa dokumen rapat yang baru saja ia lakukan tadi, terus memikirkan tentang Adelia. Pikirannya tidak fokus, ia terus membayangkan wajah istrinya.
“Kenapa aku mengingat dia terus, aku sampai tidak fokus. Aku ingin melihat wajahnya, aku ingin dengar suaranya. Bau wangi rambut dan tubuhnya masih terasa. Aku bisa gila, ada apa denganku hari ini. Kenapa aku seperti tidak normal setelah melakukan itu padanya. Jantungku sampai berdetak kencang mengingat wanita itu, tidak seperti biasanya. Apa jangan – jangan aku sakit jantung. Bagaimana bisa aku tiba – tiba punya penyakit seperti ini. Aku masih 30 tahun, ini tidak mungkin penyakit jantung.” Dalam hati Reqy yang terlihat gelisah.
Tanpa sadar, ia melempar pulpen yang ia pegang tepat di depan Pak Osmar. Hampir saja mengenai Pak Osmar yang sejak tadi berdiri di depannya.
Pak Osmar kaget melihat tuannya seperti itu.
“Apa ada masalah yang membuat Anda tidak nyaman, tuan?” Tanya Pak Osmar.
“Apa hari ini kegiatan pertama Adelia?” Tanya Reqy. Reqy tidak menjawab pertanyaan Pak Osmar malah menanyakan tentang istrinya.
“Iya tuan.”
“Sepertinya aku harus menghubunginya untuk mengingatkannya kalau dia tidak boleh mempermalukanku.”
“Oh...silahkan. Tapi, saya sudah memberitahu Emir untuk selalu mengingatkan nyonya.”
“Aku sendiri yang akan mengingatkannya. Dia pasti tidak akan mendengar orang lain lagi.” Ucapnya dengan datar.
“Baiklah.”
__ADS_1
Reqy pun menghubungi istrinya. Tentu saja itu hanya lah alasannya saja yang ingin mendengar suara Adelia.
Sementara Adelia yang masih berada di dalam mobil menuju tempat pertemuan amalnya, melihat nomor baru masuk di layar HP-nya.
“Ini nomor siapa?” Dalam hati Adelia menatap panggilan masuk di HP-nya.
Ia pun mnegangkat panggilan masuknya itu.
Suara Telfon.
“Halo..”
“Di mana kau?” Tanya Reqy di balik telfon.
“Siapa ini?”
“Hei...aku ini suamimu. Apa kau tidak bisa mengingat suara suamimu sendiri” Teriaknya di balik telfon.
“Eh...maaf kak. Aku tidak tahu kalau ini nomor Kak Reqy.”
“Simpan baik – baik,
kau menikah sudah berapa hari. Nomor suami sendiri tidak kau simpan.”
“Iya...akan ku simpan. Tapi, kenapa Kak Reqy menelfon. Apa ada hal yang penting?” Tanya Adelia penasaran.
Reqy terdiam sejenak di balik telfon, ia sampai tak tahu ingin mengatakan apa pada istrinya karena ia hanya ingin mendengar suara Adelia saja.
Ia kembali bicara pada istrinya.
“Ya..” Adelia terlihat bingung sampai mengerutkan keningnya mendengar ucapan suaminya. “Maksud Kak Reqy.”
“Aku kan tadi sudah bertanya, kau dimana. Terus kau tidak bertanya balik padaku, aku dimana, sedang apa, bersama siapa?” Ucap Reqy di balik telfon. Ia ingin Adelia bertanya kepadanya dan memperhatikan dirinya.
Adelia semakin bingung di buatnya mendengar suaminya mengatakan hal seperti itu padanya. Ia terdiam di sana mencoba mencerna maksud suaminya.
“Maksudnya apa ya, kenapa dia mengatakan begitu?” Dalam hati Adelia.
“Hei, cepat tanya?” Teriak Reqy di balik telfon.
Adelia pun menuruti ucapan suaminya.
“Kak Reqy ada di mana, sedang apa, bersama siapa?”
“Hei, apa kau tidak bisa bertanya satu – satu?” Teriaknya lagi membuat Adelia semakin bingung.
Ia menatap HP-nya dengan wajahnya yang bingung.
“Dia ini kenapa sih. Dia suruh aku mengatakan itu terus dia sendiri yang marah – marah. Apa sih maksudnya?” Dalam hati Adelia.
Ia kembali mendekatkan HP-nya di telinganya.
“Kau tidak mendengarku ya.”
__ADS_1
“Aku dengar kak.”
“Ah...sudahlah.”
Reqy langsung menutup telfonnya. Adelia semakin bingung dengan tingkah aneh suaminya itu. Ia sampai menggeleng – gelengkan kepalanya.
“Kirain ada hal penting yang mau di katakan.” Gumamnya.
“Apa ada masalah nyonya?” Tanya Emir sambil melihat Adelia di kaca mobil tengah.
“Tidak apa – apa, Emir.”
Emir kembali fokus melihat ke depan dan Adelia diam menatap jendela kaca luar mobilnya.
Sementara di perusahaan Abraham. Tepatnya di dalam ruangan kantor Reqy.
Reqy terlihat khawatir dengan dirinya. Jantungnya semakin deg-deg kan setelah mendengar suara Adelia.
“Sepertinya aku harus memeriksakan diriku ke dokter.” Gumamnya.
“Ada apa tuan, apa tuan sakit?” Tanya Pak Osmar.
“Pulang nanti, panggilkan Dokter Berry ke rumah. Aku harus di periksa, sepertinya jantung ku bermasalah.” Dengan wajahnya yang serius.
Reqy mengira jika dirinya punya penyakit jantung karena ia merasa kalau jantungnya berdetak tak normal. Apalagi itu pertama kali baginya ia merasakan hal seperti itu. Ia sudah jatuh cinta dengan istrinya sendiri, hanya ia tidak tahu dengan perasaannya sendiri. Bahkan pertama kali bertemu dengan Adelia, ia sudah kagum dan suka dengan wanita itu, hanya saja ia belum merasakan seperti yang di rasakannya sekarang.
Pak Osmar menjawab pertanyaan tuannya. “Tuan sakit jantung.” Dengan wajah khawatirnya.
“Eem..jantungku hari ini tidak normal. Tidak seperi biasanya. Detaknya terlalu cepat.” Jelasnya dengan serius.
“Apa sebaiknya kita periksa sekarang?” Tanya Pak Osmar.
“Selesaikan pekerjaannya dulu.”
“Tapi....kalau Anda sampai serangan jantung, bagaimana tuan. Ini tidak bisa di biarkan?”
“Tidak apa – apa, ini tidak parah. Lebih baik paman siapkan rapatnya sekarang.” Tegasnya.
“Baik tuan. Kalau begitu saya permisi.” Balas Pak Osmar sambil membungkuk hormat di depan Reqy.
Pak Osmar pergi meninggalkan Tuan Mudanya dengan perasaannya yang khawatir, tapi ia tidak bisa membantah perintah tuannya itu.
Bersambung.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Ingat tekan LIKE di bawah ya, harus. Tulis KOMENTAR kalian juga sebagai penyemangat Author. Terserah mau berkomentar apa, yang penting positif. Kalau punya kelebihan poin, silahkan VOTE untuk mendukung karya Author ini.
Terima kasih.