Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Merasa Diabaikan


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Pukul 9:00 pagi.


Adelia baru saja selesai mandi. Gaun santai panjang berwarna putih sudah ia kenakan di tubuh rampingnya. Saat ini, ia berdiri di depan cermin melihat seluruh tubuhnya, ia terlihat memegang pingggang dan perutnya di depan cermin untuk melihat perubahan dalam tubuh rampingnya itu.


“Kata orang, kalau sedang hamil itu, tubuh juga akan bertambah gendut. Tapi kok belum ada yang berubah sih, sama saja. Hanya perutku yang berubah.” Gumamnya yang tak berhenti melihat perutnya di sana. Ia mengelus lembut perutnya diikuti senyum bahagia dari bibirnya itu.


Tok....tok.....tok....


Tiba – tiba tedengar suara ketukan pintu dari seorang pelayan yang membuatnya langsung menengok ke arah pintu kamar pribadinya.


Adelia menghentikan aksinya tadi lalu berjalan dengan langkah santai ke arah pintu kamarnya. Ia langsung memegang gagang pintunya dan membuka pintunya di sana. Ia melihat pelayannya itu berdiri sambil memegang susu panas di nampang yang ia bawa.


“Nyonya, saya bawakan susu untuk Anda.” Ucap si pelayannya itu.


Adelia langsung menyodorkan kedua tangannya untuk mengambil nampang yang di bawa pelayannya.


“Oh....berikan saja padaku.”


“Tidak nyonya, biar saya bawakan ke dalam. Ini masih panas nyonya.” Ucap Pelayannya dengan suaranya yang terdengar pelan.


“Oke...masuklah.” Adelia mempersilahkan pelayannya masuk dengan menarik pintu kamarnya ke samping.


Pelayannya itu pun masuk ke dalam diikuti Adelia yang juga ikut masuk setelah ia menutup kembali pintu kamarnya. Ketika pelayannya sudah berada di dekat tempat tidur Adelia, ia langsung meletakkan gelas susu di atas meja nakas, tepat di samping tempat tidur majikannya itu.


“O ya, mba.” Ucap Adelia setelah melihat pelayannya meletakkan gelas susunya di atas meja nakas.


“Ya nyonya.”


“Apa suamiku masih ada di bawah?” Tanya Adelia.


“Oh... tuan sudah tidak ada di bawah. Selesai olahraga, Tuan Muda langsung menuju Ruang Kerjanya saat Nona Jeny datang, nyonya.” Jawabnya dengan sopan.


“Jeny,” Adelia langsung kaget mendengar nama Jeny yang di sebut pelayannya itu.


“Iya nyonya. Waktu saya kesini, saya melihat pintu Ruang Kerja tuan terbuka lebar. Beliau bersama dengan Nona Jeny di dalam.”


“Apa Pak Osmar juga ada di sana?” Tanya Adelia yang penasaran.


“Tidak ada nyonya, saya hanya melihat tuan dan Nona Jeny saja.”

__ADS_1


“Baiklah, terima kasih. Mba boleh pergi sekarang.”


“Baik nyonya.” Jawab pelayannya sambil membungkuk hormat di depan Adelia. “Kalau begitu, saya permisi dulu nyonya.”


“Silahkan.” Balas Adelia sambil tersenyum.


Pelayan itu pun berjalan keluar sesaat setelah pamit pada Adelia. Ia meninggalkan Adelia yang tengah berdiri diam memikirkan perkataannya tadi.


“Bukannya Jeny itu tunangannya hubby, kenapa dia ke sini di jam segini. Ini kan masih pagi?” gumamnya. Ia merasa aneh sendiri mendengar kedatangan Jeny untuk bertemu suaminya. Apalagi ia mendengar perkataan pelayannya tadi, kalau mereka hanya berdua di sana tanpa di temani Pak Osmar.


“Tumben sekali Pak Osmar tidak menemaninya, atau mereka memang mau bicara berdua.” Pikirnya.


Tiba – tiba ia mengingat tentang jadwal pemeriksaannya ke dokter kandungan yang di sarankan Lumi. Tadi malam, Lumi memang memberitahu Tuan Mudanya kalau Adelia harus periksa ke doker kandungan untuk memperjelas usia kandungannya saat ini.


“Hari ini kan hubby harus mengantarku ke rumah sakit untuk periksa. Apa sebaiknya aku ke sana untuk mengingatkannya kembali?” Gumamnya.


Ya, Reqy memang sudah berjanji pada istrinya kalau hari ini ia akan menemani Adelia periksa ke dokter kandungan. Dan tentu saja, hal itu Adelia jadikan sebagai alasan untuk melihat Jeny dan Reqy di Ruang Kerjanya. Terlihat sekali di wajahnya kalau ia merasa penasaran dengan wanita yang pernah di sebutkan Lumi sebagai tunangan suaminya.


Ia pun berjalan keluar dari kamar pribadinya menuju ruang kerja suaminya. Ketika berjalan mendekati ruang kerja suaminya, ia melihat pintu ruang kerja Reqy terbuka lebar seperti yang di katakan pelayannya tadi.


Seketika ia menghentikan langkahnya saat hampir sampai di ruang kerja Reqy. Ia terlihat sedikit gelisah untuk masuk ke dalam sana sampai ia menggigit kuku ibu jarinya sendiri.


“Apa aku masuk atau tidak ya. Kalau hubby marah karena aku mengganggunya, bagaimana?” Gumamnya. “Sebaiknya....aku kembali saja ke kamar. Buat apa juga aku menanyakan hal itu padanya. Kalau dia ingin menemaniku. Dia pasti akan datang memanggilku ke kamar.” Gumamnya.


Terlihat Pak Osmar yang baru saja keluar dari lift, langsung mendatangi Adelia yang saat itu melangkah pelan ke arah kamar pribadinya.


“Nyonya,” Panggil Pak Osmar.


Adelia langsung membalikkan badannya ke arah Pak Osmar.


“Pak Osmar.....ada apa pak?” tanya Adelia.


“Saya lihat, Anda mau masuk ke dalam waktu saya keluar dari lift. Kenapa Anda tidak masuk ke dalam?” Tanya Pak Osmar dengan serius. Ia terlihat bingung melihat Adelia yang tidak jadi masuk ke dalam ruang kerja suaminya.


“Aku takut mengganggu pak.”


“Ayo masuk nyonya. Tidak apa – apa, nyonya sama sekali tidak mengganggu tuan. Saya baru dari lantai bawah mengambil berkas – berkas yang di minta tuan. Sejak tadi saya menemani tuan di dalam.”


"Jadi Pak Osmar selalu di dekat hubby, kupikir mereka cuma berdua."


"Nyonya..." Panggil Pak Osmar saat melihat Adelia diam tak menjawabnya.

__ADS_1


"Ya."


"Ayo masuk." Ajak Pak Osmar.


“Nanti saja pak.” Balas Adelia sambil tersenyum.


“Nyonya pasti ingin mengatakan hal penting kan pada tuan. Masuk saja nyonya, tidak apa - apa.” ucap Pak Osmar.


“Baiklah.”


Adelia pun melangkah masuk ke dalam ruang kerja suaminya bersama dengan Pak Osmar. Ketika sudah melewati pintu ruang kerja Reqy, matanya langsung tertuju pada sosok wanita cantik, anggun dan sexi yang berdiri di depan meja kerja Reqy, yang tak lain adalah Jeny. Jeny saat itu, berdiri menunggu berkas kantor yang belum selesai di tanda tangani Reqy.


Ketika Reqy menyadari kedatangan Adelia yang berjalan menghampirinya, ia langsung mengangkat kepalanya melihat Adelia yang berjalan mendekati meja kerjanya.


“Apa kau butuh sesuatu sayang?” Tanya Reqy dengan serius melihat istrinya.


“Tidak by, aku cuma ingin bertanya pada hubby, tentang jadwal chek up kita ke dokter kandungan.” Ucap Adelia yang sudah berdiri di dekat meja kerja suaminya. Ia berdiri membelakangi Jeny yang jaraknya tidak jauh darinya.


“Iya, sebentar sayang. Tunggu 10 menit. Kau istirahat dulu di kamar. Sebentar lagi aku akan selesai mengerjakan ini. Kalau ini sudah selesai, kita akan pergi ke Rumah Sakit.” Pinta Reqy sambil tersenyum melihat istrinya.


Reqy menyuruh Adelia kembali istirahat ke kamarnya karena ia tidak ingin kalau Adelia sampai lelah menunggunya di sana. Lain halnya dengan Adelia, perasaannya kesal mendengar Reqy yang menyuruhnya kembali ke kamarnya. Tapi, perasaan kesalnya itu ia sembunyikan di depan Reqy dengan senyuman yang ia tunjukkan pada suaminya.


Ia langsung membalikkan badannya membuat ia berhadapan dengan Jeny. Jeny langsung menyapa Adelia dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum. Begitu pula dengan Adelia yang juga ikut tersenyum melihat Jeny yang menyapanya dengan sopan. Ia kembali melangkahkan kakinya untuk keluar dari Ruang Kerja Reqy, sesekali ia menengok melihat Reqy yang saat itu sibuk dengan berkas – berkas yang ia tanda tangani, tanpa sekalipun melihat kepergiannya.


Ia berjalan keluar menuju kamar pribadinya dengan perasaannya yang kesal dengan suaminya.


Tanpa ia sadari kalau saat ini ia sedang cemburu melihat Jeny berdiri di depan meja kerja suaminya, rasa cemburunya bertambah ketika Reqy menyuruhnya untuk menunggunya di kamar. Ia berharap kalau Reqy menyuruhnya duduk di sofa menunggu dirinya selesai bekerja. Seperti yang biasa di lakukannya.


Ketika sudah berada di dalam kamar pribadinya, ia langsung duduk di tepi tempat tidurnya menghadap ke arah pintu kamarnya. Wajahnya cemberut mengingat Reqy. Ia berpikir kalau Reqy tidak peduli dengannya sekarang, apalagi dengan kehadiran Jeny tadi.


“Kenapa dia menyuruhku menunggu di sini, apa dia tidak mau di ganggu, apa dia tidak bisa leluasa bicara dengan tunangannya yang cantik dan sexi itu, kalau aku di sana. Huh....kenapa juga aku harus ke sana, seharusnya aku tidak menemuinya tadi. Menyebalkan.” Gumamnya.


Adelia merasa kalau ia di abaikan karena kehadiran Jeny. Memang itu hanyalah perasaannya saja. Namun kenyataannya tidak seperti yang ia bayangkan. Reqy sama sekali tidak mengabaikan dirinya, hanya ia ingin menyelesaikan berkas penting yang di bawa Jeny dari kantornya, apalagi sekarang Reqy cuti demi dirinya yang mengharuskan Jeny datang langsung ke rumah Abraham, kalau ia butuh tanda tangan Reqy.


Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


Ingat tekan LIKE ya sampai berwarna merah. Tulis KOMENTAR positif kalian di bawah kolom komentar. Tolong di VOTE juga, yang seikhlasnya kakak2.


Terima kasih, love you


__ADS_2