Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Sampai Kapan Kau Tidak Mau Melihatku


__ADS_3

Hai semua Aku Dewi, Jangan Lupa Like And Komen ya Untuk Novel ini. Berikan Vote Kalian Juga ya.


🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Darel yang sejak tadi berada di samping Adelia terus memijat telapak kakinya sambil sesekali mengangkatnya agar darah mengalir ke jantung dan otaknya. Dan Bu Susan yang habis mengambil makanan untuk keponakannya itu hanya bisa duduk di samping Adelia sambil memijat tangannya.


Sementara Reqy hanya duduk di sofa tepat di samping sofa yang di tempati Adelia. Ia duduk dengan posisi tubuh miring, kaki ia silangkan, siku bertumpu di sofa dengan meletakkan tangan di pelipisnya untuk menahan kepalanya itu.


Ia memejamkan matanya di sana sambil menunggu Adelia bangun. Sedangkan  Pak Osmar terus berdiri mendampingi Tuan Mudanya.


Tak lama kemudian, Adelia membuka matanya secara perlahan – lahan. Ia melihat Darel dan bibinya yang masih dengan kesibukannya tadi.


“Bibi...” Panggil Adelia dengan suara yang masih terdengar lemah.


Bu Susan langsung melihat wajah Adelia yang terlihat pucat itu.


“Adel.......kamu sudah bangun nak.” Tanya Bu Susan.


Reqy langsung membuka matanya yang masih dengan posisinya tadi. Ia menegakkan tubuhnya kembali sambil melihat Adelia dengan wajah datarnya.


Darel yang melihat adiknya sudah sadar langsung menghentikan aksinya dan membantu Adelia yang ingin bangun dari sofa.


“Bagaimana perasaanmu Del?” Tanya Darel yang memegang lengan Adelia dan menatapnya dengan wajahnya yang masih khawatir.


“Aku tidak apa – apa kak.” Dengan suara pelan.


Bu Susan meraih gelas yang berisi air di meja samping sofa yang di duduki Adelia.


“Minum dulu sayang.” Sambil menyodorkan gelas yang ia pegang di depan Adelia.


Adelia meminum air yang masih di pegang bibinya itu. Setelah minum, Bu Susan meletakkan kembali gelasnya dan meraih piring yang sudah berisi makanan yang sudah ia ambil tadi.


“Kamu makan dulu ya nak. Sejak pagi kamu belum makan.”


“Aku tidak lapar.”


“Del....kamu sudah pingsan dua kali. Kamu harus makan sedikit agar tubuhmu itu tidak lemah.” Sahut Darel.


Adelia memalingkan wajahnya ke samping karena perasaan tak senang melihat mereka berdua menyuruhnya untuk makan.


“Apa kamu mau membuat ayah marah lagi untuk kedua kalinya. Kalau dia marah, jantungnya bisa kambuh lagi. Kamu tidak mau kan?” Darel kembali bicara pada adik sepupunya itu.


Adelia langsung meraih piring yang di pegang Bu Susan. Ia enggan sekali untuk makan tapi mendengar ucapan Darel membuatnya harus menuruti kemauan Darel dan Bu Susan. Ia menyendok makanan di piringnya dan memaksakan dirinya untuk makan.


Reqy yang sejak tadi duduk di samping sofa yang di tempati Adelia hanya bisa diam tanpa bicara sedikit pun. Pria keturunan Indonesia – Inggris itu tak bisa apa - apa, pria berwajah blasteran dengan tubuh tinggi dan berbadan atletis itu hanya bisa melihat Adelia dengan wajah datarnya.


Sedangkan Adelia tidak pernah sekalipun melihat atau pun melirik ke arah orang yang sudah menikahinya itu. Ia menganggap Reqy seperti tidak ada di sana.


Tak lama kemudian Adelia pun selesai makan, Reqy yang melihat Adelia selesai makan langsung menatap Pak Osmar, dengan sigap Pak Osmar berjalan menghampiri Adelia.


“Nona....silahkan tanda tangani dokumen ini.” Sambil menyodorkan dokumen di depan Adelia.

__ADS_1


Adelia hanya diam saja tanpa mengambil dokumen yang di berikan Pak Osmar. Bu Susan yang melihat Adelia seperti itu langsung meraih dokumen yang di pegang Pak Osmar.


“Ini dokumen apa pak?” Tanya Bu Susan.


“Surat nikah Bu Susan.”


Bu Susan langsung membuka dan menyodorkan di depan keponakannya.


“Adel sayang. Kamu harus tanda tangan ini ya. Ini adalah surat nikah yang harus Adel tanda tangani. Bagaimana pun juga kamu sudah menikah dalam islam nak?” Dengan wajah seriusnya.


Adelia memejamkan matanya di sana sambil menghela nafasnya dengan pelan. Ia kemudian mengambil dokumen yang di pegang bibinya.


Dan Pak Osmar langsung memberikan pulpen untuk Nyonya Mudanya itu.


Adelia mengambil pulpen yang di pegang Pak Osmar dengan wajahnya yang tak senang. Ia kemudian menanda tangani surat nikahnya di depan mereka semua.


Ketika Reqy melihat Adelia yang sudah menandatangani surat nikahnya itu, ia langsung berdiri dari tempat duduknya.


“Paman....aku tunggu di mobil. Selesaikan dengan cepat.” Perintahnya sambil melihat Adelia.


Adelia masih tak sudi melihat wajah Reqy.


Reqy hanya berwajah datar melihat Adelia yang tak pernah menatapnya itu.


“Baik Tuan Muda.”


“Huh....sampai kapan kau tidak mau melihat wajahku?” Dalam hati Reqy yang menatap Adelia.


Ketika Reqy berada di luar, Pak Ferdi langsung berjalan menghampirinya.


“Nak Reqy sudah ingin pergi.”


Reqy menghentikan langkahnya. “Aku harus ke kantor. Nanti sore ada orang yang akan menjemput istriku.” Jawabnya dengan wajah datarnya.


“Baik.”


Reqy kembali berjalan dan keluar dari gedung pernikahan yang sederhana itu sedangkan tamu – tamu hanya bisa menatapnya tanpa berani mendatanginya karena melihat para pengawal berbadan kekar yang berada di belakangnya.


Ketika ia sudah ada di luar, salah satu pengawalnya membuka pintu untuknya. Ia masuk ke dalam mobilnya dan menunggu Pak Osmar di sana.


Sedangkan Pak Osmar yang ada di dalam berbicara pada Adelia yang tengah duduk di sofa.


“Nyonya Muda. Nanti sore saya akan datang menjemput Anda. Tuan Muda mengijinkan Anda di sini bersama keluarga Anda dulu. Anda tidak perlu membawa barang – barang Anda karena Tuan Muda sudah menyiapkan semua yang Anda butuhkan di rumah.” Ucapnya dengan sopan.


Adelia hanya diam saja mendengar ucapan Pak Osmar. Bu Susan yang melihat Adelia diam kemudian bicara pada Pak Osmar.


“Terima kasih pak. Anda sudah repot – repot. Anda juga mengijinkan Adelia di sini sampai sore. Terima kasih sekali lagi.”


“Tidak masalah Bu Susan. Ini memang sudah seharusnya saya lakukan.” Sambil tersenyum di depan Bu Susan.


Ia kembali melihat ke arah Adelia. “Saya permisi Nyonya Muda.” Sambil membungkuk hormat.

__ADS_1


Adelia masih tak bicara bahkan melihat Pak Osmar pun tidak ia lakukan.


Setelah berpamitan pada Adelia, Pak Osmar keluar dari sana. Ketika ia di luar, ia mencari tempat sepi untuk menghubungi orang suruhannya yang sudah menculik Rian.


Suara Telfon.


“Halo tuan.”


“Apa kedua pria itu sudah sadarkan diri?”


“Belum tuan. Saya memang memakai obat bius dosis tinggi pada mereka.”


“Kau bereskan kedua pria itu hari ini.”


“Bukan kah tuan bilang besok.”


“Lakukan saja sesuai perintahku. Jangan banyak bertanya.”


“Baik. Saya akan lakukan sesuai perintah Anda.”


Telfonnya pun di tutup.


Pak Osmar yang selesai menghubungi orang suruhannya tadi langsung berjalan keluar dari sana. Ia datang menghampiri Pak Ferdi yang tengah sibuk dengan tamu – tamunya itu.


“Pak Ferdi.” Panggilnya.


Pak Ferdi menengok melihat Pak Osmar. “Eh....Tuan Osmar.”


“Panggil Pak Osmar saja pak.”


“Oh....baiklah Pak Osmar.”


“Saya akan titip Nyonya Muda saya. Nanti sore baru saya akan datang menjemputnya.” Ucapnya dengan sopan.


“Baik pak.”


“Kalau begitu saya permisi pak.” Sambil tersenyum pada Pak Ferdi.


“Iya...silahkan.”


Pak Osmar kemudian melihat ke arah para tamu yang melihatnya. Ia menyapa mereka dengan menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


Pak Osmar memang orang yang sopan dan baik pada semua orang tapi jika menyangkut Tuan Mudanya, sifatnya itu bisa berubah menakutkan. Ia bisa melakukan apa saja pada orang yang berani mengusik Reqy, orang yang sudah ia lihat sejak lahir.


Pak Osmar melanjutkan langkahnya keluar dari sana menuju mobilnya yang ia parkir di depan gedung.


Ia langsung masuk ke dalam mobil dan melihat Reqy yang tengah memejamkan matanya sambil bersandar di sana.


“Maaf Tuan Muda. Saya sudah membuat Anda menunggu.”


Reqy tak menanggapi ucapan Pak Osmar. Ia hanya diam dengan posisinya itu. Pak Osmar kemudian melajukan mobilnya meninggalkan gedung pernikahan bersama dengan kedua mobil yang di belakangnya.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2