Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Alasan sakit gigi


__ADS_3

Saat ini, Adelia sudah berada di dalam mobil yang di kendarai Emir. Ia tampak diam di sana dengan wajahnya yang terlihat kesal dengan suaminya yang sudah membentaknya tadi. Ia duduk di sana bersama dengan Reqy yang juga ikut pulang bersamanya.


“Sayang, kau masih marah,” Reqy kembali bertanya pada istrinya ketika melihat Adelia masih menunjukkan wajah kesalnya di sana.


“Tidak.....” Balas Adelia tanpa melihat suaminya. Ia hanya menatap lurus dengan wajah cemberut yang ia tunjukkan di wajahnya.


Meskipun Reqy sudah minta maaf ketika ia masuk ke dalam mobil, tapi ia masih belum bisa meredakan kekesalannya mendengar teriakan suaminya tadi.


“Apa kau ingin bermalam di rumah paman dan bibimu. Aku bisa mengambil libur, dan menemanimu ke sana kalau kau mau?” Reqy berusaha membuat Adelia kembali tersenyum dengan mengajak Adelia ke rumah keluarganya.


Adelia seketika merubah ekspresinya dengan tersenyum, ia baru saja mau melihat Reqy dengan wajahnya yang tersenyum, tapi...ia kembali menarik sudut bibirnya, menyembunyikan rasa senangnya di depan Reqy. Ia hanya diam di sana tanpa mau melihat Reqy yang sejak tadi terus melihat ke arahnya.


Reqy kembali bicara pada Adelia saat melihat Adelia tidak membalas ucapannya itu.


“Baiklah kalau kau tidak mau ke sana, kita bisa pulang ke rumah.”


Adelia langsung membalikkan wajahnya ke arah Reqy.


“Siapa yang bilang aku tidak mau?”


“Dari tadi kau hanya diam saja tidak menjawabku. Aku pikir kau tidak mau ke sana.” Balas Reqy dengan serius.


“Aku mau ke sana, aku sakit gigi makanya tidak bisa bicara.” Ujar Adelia dengan ekspresi yang enggan melihat suaminya. Ia mengatakan alasan sakit gigi hanya karena tak ingin bicara pada Reqy.


“Kau sakit gigi sayang,” Reqy terlihat khawatir mendengar ucapan istrinya.


“Eem.” Balas Adelia tanpa melihat Reqy.


“Emir, kita langsung ke rumah sakit sekarang.” Perintah Reqy dengan ekspresi khawatir yang ia tunjukkan ketika bicara dengan Emir. Ia tak tahu maksud ucapan Adelia.


“Baik tuan.”


“Tidak perlu, gigiku akan sembuh kalau kalian berhenti bicara.” Adelia seketika bicara saat mendengar perintah suaminya pada Emir.


Reqy langsung melihat Adelia dengan mengerutkan keningnya saat mendengar ucapannya tadi, sedangkan Emir tersenyum di sana melihat kedua majikannya di cermin kaca tengah mobilnya. Ia tahu kalau Adelia begitu pasti karena ia masih kesal dengan Reqy yang tiba – tiba membentaknya tadi.

__ADS_1


“Haaaa....Nyonya Muda benar – benar marah sampai mengatakan alasan konyol begitu pada tuan muda. Tuan Muda juga tidak langsung mengerti dengan kata – kata Nyonya Muda. Mereka benar – benar pasangan yang sama – sama tidak peka. Cocok.” Dalam hati Emir.


Reqy kemudian menggerakkan tubuhnya mendekati istrinya yang saat itu melihat lurus ke depan.


“Sayang, kau yakin tidak mau ke rumah sakit. Bahaya kalau gigimu sakit begitu. Kita ke rumah sakit ya,” Reqy masih belum mengerti maksud Adelia kalau Adelia mengatakan itu padanya, karena tidak ingin mendengarnya terus bicara. Ia berpikir kalau Adelia benar – benar sakit gigi.


“Gigiku akan sembuh kalau hubby diam,” Kesalnya. Suaranya terdengar pelan namun tegas saat bicara pada Reqy.


Melihat wajah Adelia yang masih kesal, membuat Reqy mengerti kalau Adelia masih kesal dengannya, apalagi ketika ia mendengar ucapan istrinya yang menyuruhnya untuk diam.


Ia pun diam di sana tanpa bicara lagi dengan Adelia. Ia tidak ingin menambah amarah istrinya yang akan membuat Adelia sakit hati lagi. Hanya desahan nafas yang terdengar darinya ketika melihat wajah kesal Adelia.


***


Beberapa menit kemudian setelah pembicaraan mereka di dalam mobil, tiba lah mereka di depan rumah Pak Ferdi dan Bu Susan. Saat itu, mereka datang ke rumah Pak Ferdi tanpa membawa barang – barangnya sama sekali. Karena Reqy memang tidak punya rencana untuk pergi ke sana. Ia melakukan itu untuk meredakan kesedihan istrinya akibat perbuatannya tadi.


Reqy dan Adelia turun dari mobil saat Emir sudah membuka pintu mobil untuk mereka berdua. Saat itu, Adelia turun dari mobil ketika melihat Reqy sudah turun dari mobil. Ia memegang tangan suaminya untuk turun dari sana.


Setelah turun, Adelia menyuruh Emir untuk kembali ke Mansion Abraham. Ia ingin kalau hanya ia dan Reqy bermalam di rumah paman, bibinya tanpa di temani asistennya.


Sesaat setelah Emir pergi, Adelia kemudian mengetuk pintu rumah paman dan bibinya.


Dari dalam sudah terlihat Bu Susan yang berjalan ke arah pintu untuk membuka pintu rumahnya. Ia kaget ketika ia membuka pintu, ia melihat Adelia dan Reqy sudah berdiri di depannya dengan wajah tersenyum yang di tunjukkan Adelia. Berbeda halnya dengan Reqy yang tampak biasa saja menatap Bu Susan, tanpa menunjukkan senyumnya di depan Bu Susan.


“Adel, Nak Reqy. Kenapa kalian datang tidak memberitahu bibi?” Tanya Bu Susan sambil tersenyum.


“Aku merindukan bibi jadi aku langsung datang ke sini setelah dari kantor Kak Reqy. Kami rencananya mau bermalam di sini.” Jelasnya.


“Oh...begitu.” Balas Bu Susan. Bu Susan kemudian menggerakkan tubuhnya ke samping untuk membiarkan mereka masuk ke dalam rumah. “Ayo....masuk dulu sayang.” Ajaknya.


“Paman dan Kak Darel dimana bi?” Tanya Adelia sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


“Pamanmu masih ada di Restoran, kalau kakakmu ada di rumah sakit nak.” Jawab Bu Susan setelah ia menutup kembali pintu rumahnya. Ia lalu berjalan menghampiri mereka yang sudah berdiri di dekat sofa ruang tamunya.


Saat itu, Reqy melihat keadaan rumah Pak Ferdi yang terlihat sedehana. Ia tampak tak percaya melihat rumah kecil yang menurutnya hanya sebesar kamar pribadinya. Apalagi itu pertama kalinya ia melihat langsung keadaan rumah yang di tempati Adelia sejak kematian kedua orang tuanya.

__ADS_1


“Ayo duduk Nak Reqy,” Bu Susan mempersilahkan Reqy duduk di sofa ruang tamunya ketika ia melihat Reqy hanya berdiri diam sambil terus melihat sekeliling rumahnya.


Reqy duduk di sofa sesaat setelah Bu Susan mempersilahkannya duduk di sana, sedangkan Adelia dan Bu Susan masih berdiri di depannya tanpa mengikutinya duduk di sofa.


Bu Susan kembali fokus melihat Adelia yang masih berdiri di sampingnya.


“Del.... kamu buatkan teh manis untuk suamimu dulu ya. Bibi akan rapikan kamarmu dulu. Bibi belum mengganti sprai semenjak kamu tidak ada di sini.” Ucap Bu Susan sambil tersenyum memegang tangan Adelia.


“Ya bi.” Balas Adelia.


Bu Susan pun melangkahkan kakinya menuju kamar Adelia yang letaknya tak jauh darinya, sedangkan Adelia berjalan menuju dapurnya. Di sana ia membuatkan teh untuk Reqy seperti yang di perintahkan Bu Susan tadi.


Tak menunggu lama, ia kembali menghampiri suaminya dengan membawa teh yang sudah ia buat itu. Ia langsung meletakkannya di sana tanpa mengatakan apa – apa pada suaminya. Ia hanya menatap sebentar Reqy yang juga ikut menatapnya. Mereka saling bertatapan sejenak saat Adelia meletakkan teh di meja, tepat di depan Reqy. Ia kembali memalingkan wajahnya ketika Reqy tak berhenti menatapnya. Itu karena Adelia masih kesal dengan suaminya yang membentaknya tadi.


Meskipun Reqy sudah meminta maaf padanya, tapi rasa kesalnya masih tetap ada. Ia sakit hati mendengar bentakan Reqy, seakan menggapnya seperti orang lain, apalagi ia melihat Jeny di dalam ruangan suaminya yang membuatnya semakin kesal.


Ia kemudian membalikkan badannya untuk pergi ke kamarnya. Tiba – tiba....Reqy menarik tangannya di sana dengan posisinya yang masih duduk di sofa.


“Sayang...apa kau tidak bisa menemaniku duduk di sini?” Tanya Reqy sambil tersenyum.


Adelia langsung duduk di samping Reqy tanpa mengatakan sepatah kata pun, sedangkan Reqy hanya bisa menghela nafasnya melihat Adelia yang sejak tadi diam tak ingin bicara dengannya.


Bersambung.


.


.


.


.


Tekan LIKE ya sayangku. Punya koin dan poin silahkan VOTE Reqy N Adelia.


Terima kasih

__ADS_1


__ADS_2