
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Saat ini, Adelia dan Reqy berada di dalam mobil menuju salah satu Rumah Sakit terbesar di Kotanya. Dalam perjalanan menuju Rumah Sakit, Adelia tidak pernah tersenyum atau pun bicara pada Reqy. Ia hanya cemberut tanpa ingin bertatapan muka dengan suaminya.
Sementara Reqy yang duduk berdampingan dengannya di dalam mobil, merasa ada perubahan sikap yang di tunjukkan Adelia padanya. Ia berpikir kalau ada sesuatu mengganggu istrinya sampai membuat Adelia diam tanpa bicara sedikit pun dengannya.
“Del...apa kau lelah?” Tanya Reqy.
“Tidak....aku tidak lelah.” Jawab Adelia tanpa melihat suaminya. Ia hanya menatap lurus ke depan dengan wajahnya yang masih cemberut.
“Kalau aku sedang bertanya, kau harus melihatku.” Ucap Reqy dengan tegas.
Adelia langsung melihat suaminya disana, menatapnya dengan serius. “Aku tidak lelah by.” Adelia menjawab pertanyaan suaminya tanpa tersenyum seperti yang biasa ia lakukan.
Reqy masih merasa ada yang Adelia sembunyikan sampai dia menjadi seperti itu. Ia bisa merasakan kalau istrinya sekarang sedang bad mood dan tidak bersemangat.
“Kalau kau ingin mengatakan sesuatu yang tidak kau sukai, kau katakan saja. Jangan di pendam sendiri sayang.” Ucap Reqy dengan serius.
“Huh....sekarang sudah memanggilku sayang. Tapi dia sendiri punya sayang yang lain.” Gumamnya sambil memalingkan wajahnya ke samping jendela kaca mobilnya.
“Kau bilang apa sayang?” Tanya Reqy. Ia mendengar suara istrinya, tapi ia tidak mendengar dengan jelas kata – kata Adelia yang membuat ia penasaran.
Dengan sigap, Adelia berhadapan dengan Reqy dengan wajahnya yang sedikit kaget ketika Reqy bertanya padanya. Ia tidak menyangka kalau Reqy bisa mendengar suaranya yang bicara sendiri.
“Tidak...tidak..., aku tidak bilang apa – apa kok.” Ucap Adelia. Ia mengayunkan kedua tangannya di depan Reqy sambil memasang senyum paksa untuk membuat Reqy tidak penasaran dengan apa yang ia gumamkan tadi.
“Del....kalau kau ingin bertanya sesuatu, kau tanyakan saja. Aku tidak akan marah, kecuali kalau kau bertanya tentang pria di depanku. Aku pasti akan kesal dan marah.”
“Kalau aku bertanya tentang wanita, apa hubby juga akan marah?” Tanya Adelia.
“Wanita...” Jawab Reqy yang terlihat bingung dan tak tahu maksud istrinya.
Sementara Pak Osmar yang sejak tadi fokus menyetir tahu maksud Adelia ketika mendengar pembicaraan mereka. Memang ia sudah melihat perubahan wajah yang di tunjukkan Adelia saat Adelia keluar dari ruang kerja Reqy. Saat itu, Pak Osmar tak sengaja melihat wajah cemberut yang di tunjukkan Adelia ketika melihat Jeny.
“Sepertinya nyonya sedikit penasaran dengan Jeny. Apa Emir mengatakan pada Nyonya Muda kalau Jeny itu pernah di jodohkan dengan tuan?” Dalam hati Pak Osmar.
Reqy kembali bertanya apa yang di maksud istrinya.
“Siapa yang ingin kau tanyakan?”
“Tidak ada.” Jawab Adelia dengan santai tanpa melihat suaminya. Ia hanya melihat ke arah lain karena tidak ingin menunjukkan wajahnya yang masih penasaran dengan Jeny.
Reqy masih belum puas dengan jawaban yang di berikan istrinya. Menurutnya, Adelia pasti punya sesuatu yang membuatnya sampai tidak nyaman sepanjang perjalanan. Apalagi Adelia sudah menjadi seperti itu sejak Reqy bicara dengan istrinya di ruang kerjanya. Reqy berpikir kalau Adelia tidak mungkin masih marah padanya tentang masalah tadi malam. Karena saat itu, Adelia masih tersenyum padanya sampai tadi pagi ketika ia keluar berolahraga. Perubahan sikapnya berubah semenjak ia bicara di ruang kerjanya.
Seketika ia teringat tentang Jeny yang secara tiba – tiba datang ke rumahnya, dan pertanyaan Adelia yang mengatakan kalau ia ingin bertanya tentang seorang wanita.
“Dia tidak mungkin penasaran dengan Jeny kan. Sikapnya berubah waktu dia habis bicara denganku di ruang kerja. Jangan – jangan dia cemburu dengan Jeny. Ini kan baru pertama kalinya dia melihatku bersama dengan seorang wanita?” Dalam hati Reqy.
Reqy langsung menarik kedua sudut bibirnya dan tersenyum senang di sana. Reqy berpikir kalau Adelia sensitif karena cemburu dengan kehadiran Jeny.
Apalagi ia tidak memperkenalkan mereka berdua tadi pagi. Menurutnya, tidak penting juga kalau ia mengenalkan Jeny pada istrinya. Itu karena ia hanya menganggap Jeny sebagai karyawan biasa di kantornya, bukan seorang teman atau pun keluarga yang harus ia kenalkan pada istrinya.
Reqy kemudian bicara pada istrinya sesaat setelah tersenyum senang di sana.
__ADS_1
“Del....Adelia.” Panggilnya.
“Ya.” Adelia langsung menengok melihat suaminya saat panggilan kedua yang terdengar dari bibirnya.
“Apa wanita yang ingin kau tanyakan itu adalah Jeny?” Tanya Reqy dengan serius.
“Ah...” Jawab Adelia dengan mata melotot.
Ia langsung kaget mendengar pertanyaan suaminya. Ia tidak menyangka kalau Reqy bisa tahu apa yang ada di dalam pikirannya sekarang. Ia memang sangat penasaran tentang Jeny, tapi rasa malu dan gengsinya yang membuat ia tidak berani bertanya, apalagi ia tahu kalau Jeny adalah tunangannya.
Baginya, ia tidak punya hak untuk bertanya pada Reqy tentang Jeny atau wanita yang dekat dengannya, meskipun Reqy adalah suaminya. Itu semua karena ia tidak bisa memberikan hatinya pada Reqy.
“Apa kau cemburu dengan Jeny?” Tanya Reqy yang lagi – lagi membuat Adelia kaget.
“Tidak, aku tidak cemburu.” Jawab Adelia sambil menggerakkan kepalanya menghadap ke depan. Ia tidak sanggup melihat mata suaminya yang terus menatapnya. Ia merasa malu sendiri dengan tatapan yang di tunjukkan Reqy padanya, di tambah dengan pertanyaannya itu.
“Katakan saja kalau kau cemburu.” Reqy kembali menegaskan pertanyaan tadi.
“Tidak.”
Reqy memiringkan sedikit tubuhnya ke samping Adelia.“Kau cemburu kan.” Ucap Reqy sambil tersenyum tipis. Ia sengaja mau menggoda istrinya yang saat itu merasa malu dengan apa yang di katakan suaminya.
“Tidak.” Jawab Adelia yang masih melihat ke arah lain.
“Cemburu.”
“Tidak.”
“Cemburu.”
Sedangkan Reqy terkejut sampai ia menegakkan kembali badannya saat mendengar teriakan istrinya.
“Kau sudah berani berteriak padaku ya.” Ucap Reqy dengan suaranya yang terdengar tegas.
“Maaf....aku tidak sengaja berteriak karena hubby terus bicara begitu” Ucap Adelia dengan wajahnya yang terlihat bersalah.
“Tidak apa – apa, aku tidak marah. Aku malah senang, karena mendengar sesuatu yang langka.” Ucap Reqy sambil tersenyum tipis melihat Adelia.
“Se-sesuatu apa?” Tanya Adelia dengan gagap. Kata - kata yang di ucapkan Reqy membuat ia tidak bisa bicara santai, di tambah senyuman tipis yang di tunjukkan suaminya. Ia malu dengan kata iya yang di ucapkannya tadi secara refleks.
“Kau sudah mengakui kan, kalau kau cemburu aku dekat dengan seorang wanita.”
“Kapan aku mengakuinya?” Tanya Adelia. Karena rasa malunya itu membuat ia menyangkal sendiri dengan apa yang di ucapkannya tadi.
Reqy kemudian melihat Pak Osmar yang sedang fokus menyetir di depannya.
“Paman...”
“Ya tuan.”
“Apa kau mendengar semua yang di katakan Adelia?”
Pak Osmar langsung tersenyum melihat mereka berdua di cermin kaca tengah mobilnya.
__ADS_1
“Saya dengar semua tuan.” Jawab Pak Osmar. Memang sejak tadi Pak Osmar mendengar semua pembicaraan kedua majikannya itu.
Reqy kembali melihat Adelia yang menunduk malu mendengar kata – kata Pak Osmar.
“Kenapa sih aku harus mengatakan iya, gara – gara dia mendesakku terus, aku sampai tidak sengaja mengatakan iya. Aku malu melihatnya sekarang” Dalam hati Adelia.
“Kau dengarkan, paman juga mendengar apa yang kau katakan tadi. Kau tidak bisa menyangkal kata – katamu sendiri”
“Aku tidak sengaja mengatakan itu. Itu refleks.”
“Oooo....refleks.” Ucap Reqy dengan nada bicara mengejek.
“Iya, itu refleks. Kenapa juga aku harus cemburu dengan tunangan hubby?”
“Tunangan.” Balas Reqy sambil mengerutkan keningnya. “Kau bilang, Jeny adalah tunanganku?”
“Iya, dia tunangan hubby kan.” Tanya Adelia sambil menatap serius suaminya.
“Siapa yang bilang kalau dia tunanganku. Dia sama sekali bukan tunanganku. Selama aku hidup, aku cuma punya satu wanita yang selalu ku anggap sebagai tunanganku.”
“Siapa?” Tanya Adelia yang terlihat sangat penasaran.
“Aku akan bilang kalau kau mau mengatakan sesuatu yang ingin ku dengar.” Ucap Reqy tanpa melihat Adelia, ia hanya melirik istrinya dengan wajahnya yang tersenyum tipis.
“Apa?”
Reqy kemudian mendekatkan kepalanya di telinga Adelia.
“Kalau kau bilang kau mencintaiku, aku akan bilang siapa dia?” Bisiknya sambil tersenyum.
Adelia langsung kaget mendengar kata – kata suaminya. Ia sampai menggerakkan sedikit tubuhnya ke samping kiri untuk menghindari suaminya.
“Lupakan saja, aku tidak ingin tahu.” Ucap Adelia.
Reqy kembali menegakkan tubuhnya menghadap ke depan tanpa melihat istrinya.
“Kalau begitu, aku juga tidak akan mengatakan siapa dia?” Sambil tersenyum tipis. Sesekali ia melirik istrinya yang saat itu memalingkan wajahnya ke arah jendela kaca mobilnya. Ia terlihat senang karena bisa menggoda Adelia di sana, dan tentu saja wanita yang ia sebut sebagai tunangannya sendiri adalah Adelia.
Sementara Adelia yang masih penasaran, memilih diam sambil melihat jendela kaca luar mobilnya. Ia tidak ingin melanjutkan rasa penasarannya ketika Reqy menyuruhnya untuk mengatakan kata cinta padanya. Bagi Adelia, ungkapan cinta itu tidak mudah di ucapkan jika hanya untuk bermain – main.
“Aku bertanya serius. Dia malah menggodaku. Huh.....memangnya aku ingin tahu siapa dia. Meskipun dia bercanda tapi mengatakan cinta pada seseorang tidak bisa di anggap main – main. Dia benar – benar tidak mengerti apa itu cinta?” Dalam hati Adelia.
Bersambung.
.
.
Ingat tekan LIKE guys, harus. Tulis KOMENTAR kalian di bawah kolom komentar ya. Punya koin dan poin, silahkan VOTE Adelia supaya dia cepat menyadari cintanya pada Reqy.
Iklan dulu.
Sambil tunggu aku up date episode selanjutnya. Aku punya Rekomendasi novel bagus untuk kalian.
__ADS_1
Terima Kasih