Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Kau Duniaku


__ADS_3

Setelah makan malam tadi, Reqy menyempatkan dirinya untuk mengobrol dengan Pak Ferdi di ruang tamunya, meskipun ia tidak terlalu dekat dengan Pak Ferdi.


Ia mengobrol dengan biasa dengan Pak Ferdi seperti yang selama ini ia lakukan pada orang lain.


Sementara Adelia membersihkan tubuhnya setelah ia makan malam bersama keluarganya. Ia sama sekali tidak menemani suami dan pamannya mengobrol di ruang tamunya itu.


Kini Adelia tengah mempersiapkan kembali tempat tidurnya di sana untuk tidur setelah ia selesai mandi.


Baru saja Adelia ingin naik ke kasurnya, tiba – tiba ia menghentikan dirinya untuk naik ke sana ketika ia melihat Reqy masuk ke dalam kamarnya, apalagi saat ia melihat Reqy berjalan menghampirinya.


“Kau sudah selesai mandi sayang,” Reqy tersenyum melihat Adelia yang saat itu melihatnya dengan wajah biasa tanpa senyuman yang ia tunjukkan pada Reqy. Tentu saja, Reqy harus memaklumi sikap istrinya yang tidak ingin bicara dengannya, mengingat sikapnya tadi pagi yang secara refleks membentak Adelia.


Adelia kembali menggerakkan tubuhnya untuk naik ke kasurnya ketika selesai mendengar ucapan suaminya. Ia tidak peduli apa yang di katakan Reqy.


Tiba – tiba Bu Susan mengetuk pintu kamar Adelia.


“Del....ini bibi. Bibi bawa buah – buahan untukmu,” Bu Susan memanggil Adelia ketika ia selesai mengetuk pintu kamarnya.


Seketika Adelia mengangkat kepalanya melihat ke arah pintu kamarnya yang saat itu sudah berbaring di kasur. Begitu pun dengan Reqy yang melihat ke arah pintu.


“Biar aku saja yang buka, kau tidur saja sayang,” Ucap Reqy sambil melihat kembali istrinya yang sudah bangun dari kasurnya.


Adelia hanya duduk diam di tepi tempat tidurnya tanpa membalas ucapan suaminya itu, sedangkan Reqy melangkahkan kakinya ke arah pintu. Ketika ia sudah di depan pintu, ia langsung membuka pintu kamarnya. Di sana ia sudah melihat Bu Susan tengah berdiri di depannya dengan memegang piring yang berisi buah – buahan.


“Ada apa bu?” Tanya Reqy dengan serius menatap Bu Susan.


“Oh...bibi bawa buah untuk kalian makan. Adel terbiasa ngemil buah tengah malam nak Reqy.” Jawab Bu Susan.


“Terima kasih. Berikan saja padaku,”


“Baiklah.” Balas Bu Susan.


Bu Susan pun menyodorkan piring yang sedang di pegangnya di depan Reqy. Saat itu Reqy langsung menerima piring yang di berikan Bu Susan.


“Kalau butuh apa – apa kamu panggil saja bibi atau pamanmu” Ucap Bu Susan.


“Iya,” Balas Reqy dengan ekspresi biasa yang ia tunjukkan di depan Bu Susan.


“Bibi permisi ya.” Pamitnya sambil tersenyum.


Reqy hanya menganggukkan kepalanya melihat Bu Susan tanpa membalas lagi ucapan Bu Susan. Ia kembali menutup pintu kamarnya dengan rapat sesaat setelah kepergian Bu Susan di sana. Ia kembali menghampiri istrinya yang masih duduk di tepi tempat tidurnya. Ia langsung duduk di samping istrinya sambil memegang piring buahnya tadi.


“Apa kau mau aku kupaskan buah sayang?” Tanya Reqy sambil tersenyum.

__ADS_1


Adelia tampak diam di sana tanpa menjawab ucapan suaminya. Sesekali ia melirik buah yang di pegang suaminya tanpa sekalipun melihat wajah Reqy.


Ia sangat ingin makan buah yang di bawah Reqy, tapi...ia lebih mementingkan gengsinya yang tak ingin bicara pada Reqy ketimbang keinginannya itu.


Reqy kembali menghela nafasnya saat melihat Adelia hanya diam membisu bahkan tersenyum pun tidak ia dapatkan dari bibir manis istrinya.


Ia kemudian mengambil buah apel dan pisau kecil di piring yang ia pegang tadi. Ia mulai mengupaskan buah apel untuk Adelia. Saat itu, Reqy selalu melihat ke arah istrinya yang tak pernah mau melihat wajahnya.


Tiba – tiba saja ia punya pikiran aneh yang membuat ia sampai mengiris telapak tangannya sendiri. Itu sengaja ia lakukan agar ia mendapatkan perhatian dari Adelia.


Wajahnya tampak menahan sakit ketika ia mengiris telapak tangannya sendiri. Meskipun begitu, ia sama sekali tidak mengeluarkan suaranya yang menahan sakit. Ia kemudian menyodorkan tangannya tadi di depan Adelia dengan darah yang sudah berjatuhan di lantai.


“Sayang, tanganku teriris.” Keluhnya dengan suara yang terdengar pelan. Ia sampai memasang ekspresi kasihan di depan Adelia.


Adelia langsung kaget saat melihat tangan suaminya yang sudah bersimpah darah di telapak tangannya.


“Apa yang terjadi?” Tanya Adelia.


Dengan sigap, ia mengambil kotak obat yang tersimpan di lemari kecil dekat tempat tidurnya. Setelah mendapatkan obatnya, ia kembali duduk di samping Reqy dengan wajahnya yang sangat panik melihat keadaan tangan suaminya, bahkan ia tidak menatap wajah Reqy yang tersenyum ketika melihat dirinya yang panik. Adelia hanya menatap tangan Reqy yang terluka dengan ekspresi panik.


“By...kenapa tanganmu sampai berdarah begini?” Adelia kembali bertanya sambil melihat tangan suaminya.


“Aku tidak sengaja melakukannya sayang,” Jawab Reqy diikuti senyum di bibirnya.


Adelia kemudian mengobati luka di tangan Reqy dengan obat yang ia dapatkan tadi. Ia mengusap lembut darah di tangan Reqy sambil meniupnya pelan membuat Reqy semakin senang. Pandangannya terus tertuju pada wajah Adelia yang terus meniup telapak tangannya yang terluka.


Selesai meniup tangan Reqy, ia kemudian mengangkat kepalanya melihat suaminya.


“Apa sangat sakit?” Tanya Adelia.


Reqy hanya menganggukkan kepalanya dengan senyuman yang ia tunjukkan pada Adelia.


Adelia hanya bisa menghela nafasnya melihat suaminya yang tersenyum sambil membalut luka di tangan Reqy.


“Apa hubby tidak merasakan sakit sama sekali?” Tanya Adelia sambil sibuk membalut tangan Reqy dengan perban.


“Sakit sekali sayang.” Jawab Reqy dengan santai.


Adelia kembali bertanya. “Tapi aneh, kenapa telapak tangan hubby bisa kena pisau. Biasanya kan hanya teriris di telunjuk atau di jari – jari yang lain. Kenapa sampai telapak tangannya yang terkena pisau?” Ia tampak aneh melihat keadaan tangan Reqy yang teriris di telapak tangannya tanpa tahu kalau Reqy memang sengaja melakukannya.


Reqy kaget ketika mendengar pertanyaan istrinya, ia dengan cepat memberikan alasan pada Adelia agar Adelia tidak curiga padanya, kalau ia memang sengaja melakukannya.


“Ini karena aku terlalu semangat tadi. Aku juga tidak tahu kenapa sampai begini. Mungkin karena ini balasan karena sudah membentakmu tadi?” Jelas Reqy dengan tersenyum.

__ADS_1


Tentu saja Adelia mempercayai perkataan suaminya. Itu karena ia pikir kalau Reqy tidak mungkin sengaja melukai tangannya sendiri. Untuk apa Reqy melakukan hal itu? Pikirnya.


Selesai membalut luka, Adelia kembali mengangkat kepalanya melihat Reqy sambil memegang tangan suaminya yang terluka tadi.


“Lukanya jangan sampai kena air ya, nanti infeksi. Lukanya bisa tambah parah by.”


“Iya sayang.” Balas Reqy sambil tersenyum. “Apa kau sudah tidak marah lagi denganku?” Tanya Reqy.


“Tidak....aku tidak marah.” Jawab Adelia.


“Kalau kau tidak marah, kenapa sejak tadi tidak bicara denganku?” Tanya Reqy dengan serius.


Seketika Adelia memegang kedua pipi suaminya, kemudian mencium kening Reqy dengan lembut. Setelah mencium kening Reqy, ia kembali melihat wajah Reqy sambil tersenyum.


“Aku sudah tidak marah kok. Aku Cuma tidak mau bicara pada hubby karena masih kesal. Itu tidak di sebut marah kan.” Jawabnya.


Reqy langsung memeluk erat istrinya.


“Del, kalau suatu hari nanti aku membuat kesalahan yang sangat besar. Apa kau akan memaafkanku?” Tanya Reqy sambil memeluk erat istrinya.


“Memangnya hubby berbuat apa?” tanya Adelia.


“Tidak apa – apa kalau orang lain tidak bisa memaafkanku. Aku hanya berharap kalau kau bisa memaafkanku sayang.” Reqy tak menjawab pertanyaan istrinya. Ia hanya menanyakan pendapat istrinya tentang hal yang selalu menghantuinya itu.


“Hubby kenapa sih dari tadi mengatakan hal itu padaku. Apa ada yang ingin hubby katakan?” Tanya Adelia yang merasa bingung dengan kata – kata suaminya.


Reqy kembali melepaskan pelukannya, kemudian menatap dalam – dalam mata istrinya.


“Apa kau tahu, kau itu adalah duniaku. Aku tidak tahu kalau aku sampai kehilanganmu. Mungkin aku tidak akan bisa hidup sayang. Aku bisa memberikan segalanya untukmu, termasuk semua yang aku miliki sekarang”


“By...kenapa kamu mengatakan hal seperti itu. Apa ada yang kau sembunyikan dariku?” tanya Adelia yang semakin penasaran dengan semua kata – kata suaminya itu.


“Tidak ada sayang. Aku hanya ingin mengatakan padamu kalau kau itu segalanya, kau duniaku. Jangan pernah berpikir untuk meninggalkanku. Hem...”


“Iya, aku tidak akan pernah meninggalkan hubby. Aku sangat sayang dengan hubby.” Balas Adelia sambil tersenyum.


“Apapun yang terjadi?” Tanya Reqy kembali menyakinkan dirinya tentang ketakutannya itu.


“Iya, apapun yang terjadi pada hubby aku tetap berada di samping hubby.”


Reqy kembali memeluk istrinya.


“Aku ingin sekali mengatakan semuanya padamu tentang apa yang sudah kulakukan sayang. Tapi aku takut setelah kamu tahu kau akan membenciku, sampai menyalahkanku karena sudah membunuh mantan tunanganmu itu. Aku sama sekali tidak punya niat untuk membunuhnya. Maafkan aku karena sudah menjadi pria egois. Aku tidak ingin mengambil resiko kehilanganmu kalau aku memberitahu semuanya. Akan lebih baik kalau kau tidak tahu apa – apa. Jika aku kehilanganmu, duniaku juga akan hilang. Aku tidak bisa membayangkannya. Sekarang aku hanya punya kamu.” Dalam hati Reqy.

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2