
Sebuah keajaiban datang pada Reqy. Ia bisa di selamatkan oleh para dokter yang menanganinya tadi. Jantungnya kembali berdetak setelah para dokternya melakukan kejut jantung selama beberapa menit, bahkan Reqy bisa melewati masa kritisnya itu.
Dokter yang menanganinya hanya bisa menggeleng – gelengkan kepalanya melihat keajaiban itu terjadi. Ia menyaksikannya sendiri jantung Reqy berdetak kembali hanya karena mendengar suara istrinya yang bicara sambil menangis di dekatnya tadi. Memang kekuatan cinta, kasih sayang lebih besar dari apapun.
Semua orang yang mendengarnya juga ikut tersenyum bahagia. Begitu pun dengan Pak Osmar. Setelah mendengar Tuan Mudanya selamat dari kematian, ia meninggalkan rumah sakit menuju kantor polisi. Ia memang berencana menyerahkan dirinya ke polisi ketika melihat keadaan Reqy.
Sementara Adelia masih terbaring lemah tak sadarkan diri di sebuah kamar pasien. Ia mulai membuka matanya secara perlahan – lahan, kemudian melihat sekeliling ruangannya yang terlihat asing baginya. Ia melihat Bu Susan duduk di sofa, tepat di samping tempat tidurnya.
“Bibi....” Panggil Adelia.
Bu Susan langsung menoleh ke arah Adelia. Ia berdiri dari tempat duduknya, kemudian berjalan ke arah Adelia.
“Apa kau sudah merasa baikan sayang?” Tanya Bu Susan.
“Bibi...aku dimana?” Tanya Adelia sambil bangun dari tempat tidurnya.
“Kamu ada di kamar pasien nak. Tadi kamu pingsan. Darel yang membawamu kesini.” Jawab Bu Susan sambil memegang lengan Adelia.
“Bibi....aku mau melihat suamiku.” Ucap Adelia.
“Istirahatlah sebentar. Dokter bilang kalau kau harus istirahat lebih banyak lagi, karena kau sedang hamil sayang.”
“Aku hamil,” Tanya Adelia kembali memastikan apa yang ia dengar dari bibinya.
“Iya nak..” Jawab Bu Susan sambil mengusap rambut keponakannya.
Adelia terlihat tersenyum bahagia sambil memegang perutnya, menundukkan kepalanya melihat tangannya mengelus perutnya itu.
Ia kembali mengangkat kepalanya melihat Bu Susan.
“Bibi...aku mau melihat suamiku. Aku mau melihatnya...” Ucap Adelia memohon – mohon pada bibinya.
Bu Susan menghela nafasnya melihat Adelia memohon padanya. “Baiklah....bibi akan bawa kamu ke sana. Suamimu sekarang sedang berada di kamar pasien sayang. Dia sudah melewati masa kritisnya.” Jelas Bu Susan.
Seketika Adelia tersenyum bahagia mendengar suaminya baik – baik saja.
“Benarkah....hubby selamat. Hubby hidup kembali,” Tanya Adelia memastikan ucapan Bu Susan.
“Iya sayang. Dia selamat. Sungguh sebuah keajaiban dari tuhan.” Jawab Bu Susan.
“Aku mau melihatnya bi. Aku mau ke sana.” Ucap Adelia dengan antusias.
__ADS_1
“Baiklah....”
Adelia kemudian turun dari ranjang sambil di pegang oleh Bu Susan. Ia berjalan pelan keluar menuju ruangan yang di tempati Reqy sambil di tuntun Bu Susan.
Setelah sampai di kamar Reqy, Adelia langsung mendorong pintu kamarnya, kemudian masuk ke dalam bersama dengan Bu Susan. Di dalam sana sudah terlihat Darel, Nerissa dan Pak Ferdi sedang duduk di sofa menemani Reqy yang masih terbaring lemah. Adelia berjalan menghampiri suaminya yang belum sadarkan diri dengan masker oksigen yang masih menempel menutupi hidung dan mulutnya. Ia duduk di samping Reqy sambil memegang tangan suaminya. Ia kembali menangis di sana melihat keadaan Reqy. Namun, kali ini ia sedikit lega melihat suaminya yang sudah lolos dari kematian. Meskipun begitu, Adelia masih merasa khawatir kalau kalau Reqy kembali kritis.
“Terima kasih tuhan. Engkau sudah mengembalikan suamiku lagi. Terima kasih banyak.” Dalam hati Adelia sambil menundukkan kepalanya memegang erat tangan suaminya.
Ia sangat bersyukur, tuhan yang maha kuasa masih memberikan suaminya kesempatan untuk hidup bersamanya. Betapa bahagianya Adelia melihat suaminya sudah kembali ke sisinya, meskipun belum sadarkan diri. Namun, ia yakin kalau Reqy pasti akan cepat sadar kembali.
Dua bulan kemudian.
Hari ini....Rian berencana untuk pergi ke Thailand sendiri tanpa di temani siapapun. Memang rencana awalnya sebelum menikah dengan Adelia dulu, ia berencana untuk bekerja di sana. Dan ini sudah waktunya ia untuk pergi meninggalkan Indonesia bersama kenangannya dengan Adelia.
Bahkan ia menolak perasaan Leta yang beberapa hari Leta ungkapkan setelah Leta tahu rencana keberangkatan Rian.
Bagi Rian, ia tidak bisa membiarkan Leta terus – terusan berada di sampingnya, mengingat dirinya yang masih belum mencintai Leta. Ia merasa tidak pantas untuk terus – terusan memberikan harapan pada Leta yang sama sekali tidak ia cintai. Ia berharap, Leta mendapatkan pasangan yang jauh lebih baik darinya.
Saat Rian ingin masuk untuk cek in, tiba – tiba saja ia mendengar suara Adelia memanggil namanya. Ia menoleh ke belakang dan sudah melihat Adelia berlajan cepat dari kejauhan menuju ke arahnya. Ia menghentikan langkahnya sambil tersenyum melihat Adelia.
Setelah Adelia sudah berada di depan Rian, ia menarik nafasnya, kemudian bicara pada Rian.
“Iya..” Balasnya sambil tersenyum.
“Apa kamu tidak akan kembali lagi ke Indonesia?” Tanya Adelia. Ia terlihat merasa bersalah melihat Rian pergi. Pikirnya kalau Rian pergi karena dirinya.
“Tentu saja aku akan kembali. Ini adalah negara kelahiranku. Lagi pula ibu dan ayah masih ada di sini. Aku ke sana kan memang cita – citaku dari dulu. Kamu pasti tahu itu kan.” Jawab Rian.
Adelia mengangguk. “Iya...” Seketika Adelia meneteskan air matanya di depan Rian.
“Hei, kenapa kau menangis. Kalau suamimu melihatmu menangis karena aku. Dia pasti akan menculikku lagi?” Rian tersenyum ketika mengatakan itu, mencoba bercanda dengan Adelia yang terlihat sedih.
“Kak Rian...” Adelia langsung cemberut melihat Rian.
Rian memegang atas kepala Adelia sambil tertawa melihat wajah cemberut Adelia.
“Sudah lah...jangan cemberut begitu. Sebentar lagi aku akan pergi. Semoga kita bisa bertemu kembali. Kau harus hidup bahagia ya Del bersama dengan suamimu.” Ucap Rian.
Adelia kembali mengangguk. “Eem...iya” Wajah Adelia terlihat sedih melihat Rian yang ingin meninggalkan Indonesia.
“Sebelum pergi...apa aku boleh memelukmu sebentar?” Tanya Rian sambil tersenyum.
__ADS_1
Adelia mengangguk dengan air mata yang menetes di pipinya.
Rian langsung memeluk erat Adelia. Seketika air matanya jatuh di sana saat berada di pelukan Adelia. Namun, dengan cepat ia menghapus air matanya, lalu melepaskan kembali pelukannya. Ia membalikkan badannya membelakangi Adelia, kemudian berjalan meninggalkan Adelia di sana tanpa mengatakan apa – apa lagi. Ia berjalan membelakangi Adelia tanpa mau menoleh ke belakang. Ia tidak mau memperlihatkan kesedihannya pada Adelia.
“Selamat tinggal Kak Rian.” Teriak Adelia yang sudah melihat Rian berjalan menjauhinya.
Rian hanya bisa melambaikan tangannya dengan posisi membelakangi Adelia.
“Terima kasih atas semuanya yang sudah Kak Rian lakukan.” Gumamnya sambil menatap kepergian Rian yang sudah jauh dari jangkuan penglihatannya.
Sementara di rumah sakit.
Reqy siap – siap untuk keluar dari rumah sakit. Saat itu, ia di dampingi Emir, tidak ada lagi Pak Osmar yang selalu berada di samping Reqy. Ia sudah berada di penjara menebus semua kesalahan yang sudah ia lakukan pada Rian.
“Kenapa bukan kau yang mengantar Adelia ke bandara?” Tanya Reqy sambil merapikan setelan jasnya, membelakangi Emir.
“Nyonya tidak mau tuan. Nyonya meminta Nona Nerissa yang mengantarnya sendiri.” Jawab Emir.
Reqy tidak lagi menanggapi ucapan Emir. Ia hanya berjalan keluar dari kamarnya itu dengan langkah kaki pelannya.
Setelah berada di luar, Reqy melihat istrinya dan Nerissa yang sedang menggendong Ikrar berjalan menghampirinya. Saat Adelia sudah dekat, ia langsung berlari ke arah suaminya, kemudian melempar tubuhnya di pelukan Reqy.
“Hei, kau siapa. Tiba – tiba saja datang memelukku?” Tanya Reqy mengerutkan keningnya melihat Adelia yang terus tersenyum padanya.
“By.....aku ini istrimu.” Jawab Adelia sambil memasang wajah cemberutnya.
“Benar kah. Kenapa aku sampai lupa ya?” Tanya Reqy sambil memutar bola matanya ke samping, tak melihat istrinya.
“By....” Jawab Adelia yang semakin cemberut.
Reqy kembali menatap Adelia sambil menghela nafasnya, kemudian memegang dagu istrinya. “Aku pikir kau sudah berada di dalam pesawat bersama mantan pacarmu yang baik itu.”
“Mana bisa aku pergi dengannya, sementara ada pria hebat disini.” Balas Adelia sambil melingkarkan kedua tangannya di leher Reqy.
Reqy langsung mencium pucuk kepala istrinya, kemudian memeluknya dengan erat.
“Terima kasih sayang. Kau sudah menerima pria kejam sepertiku. Kalau mau di bandingkan dengannya. Aku tidak ada apa – apanya. Aku tidak punya hati yang besar yang dimiliki Rian. Aku hanya punya cinta yang bisa kuberikan padamu.” Ucap Reqy yang semakin memeluk istrinya.
Adelia mengangkat kepalanya melihat suaminya. “Aku memang hanya butuh cintamu.” Balas Adelia.
Adelia dan Reqy kemudian berciuman tanpa peduli dengan kehadiran Emir dan Nerissa yang sedang menggendong Ikrar. Namun, mereka hanya bisa memalingkan wajahnya melihat kemesraan mereka berdua. Mereka berdua ikut bahagia melihat Adelia dan Reqy sudah kembali bahagia setelah ujian besar yang menimpa rumah tangga mereka.
__ADS_1