
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Mobil yang di kendarai Emir sekarang sudah terparkir sempurna di depan rumah mewah Keluarga Abraham. Satu jam yang lalu, mereka baru saja sampai di Indonesia menggunakan pesawat pribadi.
Sebenarnya Reqy masih punya banyak waktu untuk liburan di Italia, tapi karena istrinya sedang hamil, akan lebih baik kalau mereka kembali pulang ke Indonesia lebih cepat dari jadwalnya. Baginya yang paling penting sekarang adalah kehamilan istrinya yang menurut Lumi masih tahap awal, apalagi Dokter Lumi mengatakan jika kondisi Adelia sangat lemah.
Emir segera turun dari mobil dan langsung membuka pintu mobilnya untuk mereka berdua.
Sesaat setelah Emir membuka pintu mobil, Reqy langsung turun dari mobil di susul Adelia yang juga ingin ikut turun. Baru saja Adelia menunrunkan kakinya untuk turun dari sana, tapi tubuhnya langsung di gendong Reqy yang membuat Adelia kaget. Karena pada saat itu, Reqy sama sekali tidak memberikannya aba – aba jika Reqy akan menggendongnya.
“Hubby, turunkan aku, aku bisa jalan sendiri. Lagi pula kita sudah ada di depan pintu kan.”
“Kau tidak boleh banyak bergerak sekarang. Kau tidak dengar apa yang di katakan Lumi kemarin.” Jelasnya dengan serius. Ia menatap wajah Adelia yang saat itu malu karena ia secara tiba – tiba menggendong tubuh istrinya.
Adelia terlihat diam kaku melihat ekspresi serius suaminya, ia hanya bisa menuruti kata – kata suaminya dan membiarkan ia di gendong Reqy masuk ke dalam rumah.
Saat masuk ke dalam, terlihat Pak Osmar yang berdiri menyambut kedatangannya bersama para pelayan yang berdiri di dalam rumah Abraham.
Reqy menghentikan langkahnya ketika sudah berada di depan Pak Osmar, begitu pun dengan Emir dan Dokter Lumi yang sejak tadi mengikuti kedua majikannya itu dari belakang.
“Selamat Tuan Muda, nyonya.” Pak Osmar langsung mengucapkan selamat sambil membungkuk hormat di depan Reqy dan Adelia. Ia kembali mengangkat kepalanya melihat Reqy yang saat itu masih menggendong Adelia ala – ala bridal style. “Saya dengar dari Emir kalau Nyonya Muda tengah hamil muda. Saya turut senang dan bahagia tuan.” Lanjutnya.
“Eem. Terima kasih paman.”
Pertama kalinya Reqy mengucapkan terima kasih pada orang lain, itu karena ia begitu senang dengan kehamilan istrinya sekarang. Bahkan Pak Osmar dan Emir yang tahu tentang sifat Reqy membuat mereka berdua tercengan mendengar kata terima kasih dari Tuan Mudanya itu.
Reqy lalu berjalan melewati Pak Osmar yang saat itu berdiri di depannya. Ia melangkahkan kakinya menuju lantai tiga kamar pribadinya diikuti Pak Osmar yang berjalan di belakangnya. Sementara Emir dan Lumi hanya berdiri melihat kepergian mereka.
Beberapa saat kemudian, mereka sampai di lantai 3, Reqy berjalan masuk ke dalam kamar pribadinya bersama Pak Osmar. Di dalam sana, Reqy meletakkan tubuh Adelia di kasur dengan pelan. Tampak di wajahnya kalau ia merasa takut ketika meletakkan tubuh istrinya.
Memang sejak ia tahu kalau kehamilan Adelia masih tahap awal, ia sangat hati – hati memperlakukan Adelia, apalagi Lumi mengatakan kalau Adelia tidak boleh terlalu capek. Bahkan ketika dalam perjalanan pulang, Reqy menyuruh Emir untuk menjalankan mobilnya dengan pelan yang membuatnya sangat lama sampai di rumah.
“Kenapa by?” Tanya Adelia yang saat itu sadar dengan ekspresi wajah yang di tunjukkan Reqy di depannya.
“Apa kau tidak merasa sakit?” Tanya Reqy menatap istrinya dengan sedikit khawatir.
__ADS_1
“Tidak sama sekali. Aku baik – baik saja.”
Reqy kemudian duduk di tempat tidurnya, tepat di samping istrinya. Ia memegang tangan istrinya sambil mengelus – elus perut Adelia dengan lembut.
“Aku takut sekali kalau janin di kandunganmu ini kenapa – napa. Dia ini masih kecil sayang, kalau tidak hati – hati, nanti kau bisa keguguran. Aku tidak bisa membayangkan kalau itu terjadi.” Ucap Reqy.
Setelah mengatakan itu pada istrinya, ia mencium punggung tangan Adelia dengan lembut diikuti senyuman yang ia tunjukkan di depan Adelia. Saat itu, Adelia kembali merasakan kehangatan yang di berikan lelaki yang sudah mencintainya itu.
“Hubby tenang saja. Aku akan menjaganya dengan baik sampai dia lahir.” Ucapnya yang berusaha menenangkan kekhawatiran Reqy pada janin yang di kandungnya.
“Kau ingin makan apa hari ini, katakan padaku. Aku akan menyiapkan semua yang ingin kau makan?” Tanya Reqy dengan antusias.
“Tidak ada. Aku masih tidak lapar. Tadi di pesawat aku sudah makan banyak kan.”
“Itu kan dua jam yang lalu Del. Kau harus makan lagi yang banyak.”
“Baiklah, terserah hubby.”
Reqy lalu menengok ke belakang melihat Pak Osmar yang masih berdiri menunggu perintahnya.
“Iya Tuan Muda.”
“Paman suruh koki di bawah untuk masak makanan yang bergizi.” Pintanya.
“Baik Tuan Muda.” Balas Pak Osmar sambil membungkukkan tubuhnya.
Setelah menerima perintah Reqy, ia pun keluar meninggalkan kedua majikannya itu dengan langkah tegasnya.
Reqy kembali fokus pada istrinya yang masih ia pegang tangannya di sana.
“Selama tiga bulan, aku akan selalu menenamimu di rumah. Kemana pun kau pergi akan ku temani.” Ucap Reqy sambil tersenyum pada istrinya.
“Tidak usah, aku baik – baik saja di sini. Lagi pula banyak pelayan di sini, ada Emir dan Lumi juga kan.”
“Apa kau tidak menginginkan aku yang menemanimu?” Tanya Reqy yang terlihat mengerutkan keningnya mendengar penolakan yang di lontarkan istrinya.
__ADS_1
Seketika Adelia menjelaskan maksud penolakannya itu ketika melihat wajah suaminya yang tidak suka dengan ucapannya.
“Tidak....tidak, bukan begitu by. Aku hanya takut kalau gara – gara aku pekerjaan hubby terganggu.”
“Aku tidak ingin melewatkan setiap perkembangan kehamilanmu sayang. Kau tenang saja, perusahaan tidak akan bangkrut kalau aku cuti selama tiga bulan. Aku akan bekerja di rumah saja. Mereka bisa datang ke rumah kalau mereka butuh tanda tangan dariku”
“Terserah hubby saja. Aku hanya tidak mau kalau pekerjaan hubby terganggu.”
Reqy lalu mengelus lembut kepala istrinya di sana.
“Semua itu tidak penting di banding dirimu sayang. Jika perlu, aku akan bekerja di rumah sampai kau melahirkan.” Ucap Reqy yang diikuti senyum di bibirnya menatap Adelia. Saat itu Adelia kaget mendengar kata – kata suaminya yang membuatnya tersentuh.
Reqy kembali bicara.
“Istirahat lah, aku ingin mandi dulu. Kau pasti lelah dengan perjalanan kita ke sini kan. Aku akan membangunkan kalau makan malam sudah siap.”
“Iya.”
Reqy kemudian berdiri dari tempat duduknya lalu mencium kening istrinya. Seketika Adelia kembali merasakan detak jantung yang tak beraturan ketika ia merasakan bibir Reqy menempel di keningnya. Matanya melotot dengan tatapan lurus ke depan. Saat itu ia merasakan kelembutan yang di berikan Reqy padanya sampai membuat jantungnya berdetak kencang.
Setelah mencium kening Adelia, Reqy berjalan menuju kamar mandinya dan masuk ke dalam sana. Sementara Adelia langsung memegang dadanya dengan wajahnya yang masih diam kaku.
“Kenapa aku sampai deg – deg kan begini saat dia memperlakukanku seperti tadi, apalagi ketika dia mencium keningku. Ya tuhan, ini yang kurasakan ketika aku masih bersama Rian. Apa aku benar – benar sudah jatuh cinta dengannya, atau hanya kagum dengan kelembutan yang dia berikan hari ini. Jika ini memang cinta, aku takut sekali untuk menerimanya, aku takut kalau nasibnya sama dengan Rian.” Dalam hati Adelia.
.
.
.
Bersambung.
.
.
__ADS_1
.