Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Periksa Kandungan


__ADS_3

🌹SELAMAT MEMBACA🌹


Mobil Pak Osmar dan mobil para pengawal yang mengikutinya tadi sudah berhenti di salah satu Rumah Sakit yang terlihat besar dan mewah di sana. Beberapa pengawal segera turun dari mobil dan berdiri tegak di dekat mobil, menunggu tuan dan nyonya mereka turun dari mobil.


Pak Osmar yang sudah memarkirkan mobilnya di depan Rumah sakit segera turun dari mobil sesaat setelah para pengawalnya itu turun. Ia lalu membuka pintu mobilnya untuk Reqy dan Adelia yang masih duduk di dalam mobil.


Saat itu, Reqy langsung turun lalu menggendong Adelia yang baru saja ingin turun.


“Aku tidak perlu di gendong. Aku bisa jalan sendiri by.” Ucap Adelia dengan wajahnya yang terlihat sangat malu di gendong suaminya.


“Aku akan menggendongmu terus sampai kita selesai periksa di dokter kandungan. Kalau dokter kandungannya bilang kau bisa jalan sendiri, maka aku akan membiarkanmu jalan sendiri. Tapi kalau dia bilang kau lemah, aku akan menggendongmu terus seperti ini.” Tegasnya.


“Terserah lah.” Balas Adelia tanpa melihat suaminya. Wajahnya hanya melihat ke arah lain, karena tak suka melihat suaminya yang terus – terusan memaksa mengikuti kemauannya. Ia kemudian melingkarkan kedua tangannya di leher suaminya sambil menyembunyikan wajahnya di dada Reqy.


Reqy pun tersenyum melihat istrinya yang menuruti setiap kemauannya. Ia begitu bahagia bisa memperlakukan istrinya dengan manja, hanya dengan memanjakan Adelia, membuatnya sangat bahagia dan senang.


Ia kemudian masuk ke dalam rumah sakit sambil menggendong Adelia ala ala bridal style. Untung saja saat itu tidak banyak pengunjung rumah sakit yang datang ke sana.


Ya, memang Pak Osmar sengaja mengurangi pengunjung rumah sakit agar kedua majikannya bisa dengan santai di sana. Apalagi rumah sakit itu di danai oleh keluarga Abraham sendiri. Jadi Pak Osmar bisa dengan mudah memerintah pihak rumah sakit.


Reqy berjalan menyelusuri lorong rumah sakit dengan langkah kaki tegasnya sambil menggendong istrinya. Ia di dampingi Pak Osmar dan beberapa pengawal yang berjalan tegak di belakangnya.


Tampak sangat sepi lorong rumah sakit yang di masuki Reqy, tidak ada satu pun yang datang menyambut kedatangan mereka. Tidak seperti biasa jika Reqy datang ke sana. Baru berada di depan rumah sakit saja, Reqy langsung di sambut beberapa dokter dan kepala rumah sakit, tapi kali ini berbeda. Tidak ada satu pun dokter yang menyambut kedatangannya di depan Rumah Sakit. Memang Reqy sengaja tidak ingin di sambut, karena ia tidak ingin membuat Adelia merasa tidak nyaman jika melihat orang yang begitu ramai menyambutnya.


Ketika sudah berada di depan ruangan dokter kandungannya, Reqy dan Adelia langsung di sambut Dokter Sinta yang merupakan dokter kandungan yang cukup berpengalaman.


“Selamat datang tuan.” Sapa Dokter Sinta sambil membungkuk hormat di depan Reqy dan Adelia.


“Eem.” Balas Reqy dengan santai.


Dokter Sinta kemudian membuka pintu ruangannya dengan lebar agar Reqy bisa leluasa masuk ke dalam.


“Silahkan masuk tuan.” Ia mempersilahkan Reqy dan Adelia masuk ke dalam ruangannya setelah ia membuka lebar pintu ruangannya. Ia menutup kembali pintunya ketika Reqy dan Adelia masuk ke dalam.


Sementara Pak Osmar dan beberapa pengawalnya itu hanya menunggu mereka di depan ruangan.


Ketika di dalam ruangan, Reqy langsung menurunkan istrinya di atas tempat tidur pasien yang biasa di gunakan Dokter Sinta untuk periksa. Di sana Adelia duduk di kasur sambil terus memegang tangan suaminya yang tengah berdiri di sampingnya. Saat itu, ia tidak sadar memegang tangan Reqy. Itu karena rasa gugupnya yang baru pertama kali melakukan pemeriksaan kandungan.


“Ada apa?” Tanya Reqy melihat Adelia yang terlihat gugup.


“Tidak apa – apa.” Jawab Adelia yang berusaha santai di depan suaminya.


Dokter Sinta berjalan ke arah mereka sambil tersenyum melihat Adelia.

__ADS_1


“Saya langsung USG saja ya nyonya, untuk memastikan usia kandungan Anda.” Ucap Dokter Sinta.


“Baik dok.” Balas Adelia.


“Silahkan berbaring dulu nyonya.” Pinta Dokter Sinta.


“Iya dok.” Balas Adelia. Ia melepaskan genggamannya dari tangan Reqy lalu berbaring terlentang di sana.


Dokter Sinta kemudian melihat ke arah Reqy yang saat itu masih berdiri di tempatnya tadi.


“Tuan Muda bisa duduk di samping kiri nyonya, silahkan tuan, saya sudah sediakan kursinya di sana.” Dokter Sinta mempersilahkan Reqy duduk di kursi, tepat samping kiri kasur yang di tempati Adelia.


“Okay.” Reqy pun berjalan ke arah kiri Adelia lalu duduk di sana sambil memegang tangan istrinya.


Meskipun baru tahap awal kehamilan Adelia, tapi tampak jelas di wajah Reqy, kalau ia juga merasa gugup untuk melihat janin yang ada di kandungan istrinya. Begitu pun dengan Adelia.


Dokter Sinta pun mulai melakukan pemeriksaan USG pada Adelia. Ia terlihat menggerakkan transducer di perut Adelia sambil melihat keadaan janin yang ada di layar komputernya. Ia kemudian menggeser layar komputernya ke arah Reqy untuk memperlihatkan janin yang ada di dalam perut Adelia.


“Silahkan di lihat Tuan Muda.” Menunjuk ke layar komputernya. “Janin yang di kandung nyonya masih sebesar biji kacang kecil. Usia kehamilan nyonya sudah memasuki 4 minggu.” Jelasnya.


Reqy kemudian mengulurkan tangannya dan menyentuh layar komputer yang tampak jelas janin yang di kandung istrinya.


“Ini anakku.” Ucap Reqy sambil tersenyum bahagia.


“Iya tuan.”


Lain halnya dengan Adelia, ia hanya melihat wajah suaminya yang terlihat sangat bahagia melihat layar komputernya.


Adelia kemudian melihat ke arah Dokter Sinta.


“Dok.”


“Ya nyonya.”


“Apa kandungan saya lemah?” Tanya Adelia dengan serius.


“Awal kehamilan memang kadang lemah nyonya, tergantung dari fisik seseorang. Nanti saya akan meresepkan obat penguat kandungan untuk Anda.” Jawab Dokter Sinta.


“Baik dok.”


Dokter Sinta kemudian berdiri dari tempat duduknya dan berhadapan dengan Adelia yang masih baring di kasur.


“Saya sudah selesai periksa, silahkan bangun nyonya.”

__ADS_1


“Baik.” Balas Adelia.


Ia pun bangun dengan perlahan dari sana di bantu Reqy yang saat itu langsung berdiri dari tempat duduknya. Ketika Adelia duduk, ia langsung mengangkat tubuh Adelia untuk menurunkannya dari sana.


Sedangkan Dokter Sinta melangkah pelan ke arah meja kerjanya.


“Mari Tuan Muda. Kita duduk di sana.” Dokter Sinta menunjuk meja kerjanya yang letaknya dekat dengan tempatnya tadi. Ia menuntun mereka berdua menuju ke sebuah kursi di depan meja kerjanya itu.


Reqy dan Adelia berjalan mengikuti Dokter Sinta dan langsung duduk di depannya.


Dokter Sinta kemudian fokus melihat Reqy dan Adelia.


“Saya mau beritahu pada nyonya, biarpun saya meresepkan obat untuk Anda. Tapi nyonya tidak boleh terlalu stress dan kelelahan yang bisa membuat kandungan Anda lemah. Ini baru tahap awal kehamilan Anda. Nyonya harus menjaga kondisi badan Anda agar tetap sehat” Jelasnya sambil menatap serius Adelia dan Reqy.


“Baik dok.” Balas Adelia.


“Jadi maksudmu, dia tidak boleh melakukan hal apapun.”


“Iya tuan. Kalau sudah melewati masa kehamilan 3 bulan. Nyonya bisa melakukan aktivitas kembali. Untuk sementara, nyonya harus banyak istirahat di rumah selama 3 bulan itu.”


“Apa kau bisa menyediakan kursi roda untuknya?” Tanya Reqy pada Dokter Sinta.


“Aku baik – baik saja by, aku tidak perlu pakai kursi roda.” Ucap Adelia ketika mendengar pertanyaan suaminya.


“Benar tuan, nyonya tidak memerlukan kursi roda. Nyonya kuat kok kalau hanya berjalan saja.” Ucap Dokter Sinta membenarkan kata – kata Adelia.


“Kau bilang kandungannya lemah. Dan dia tidak boleh kelelahan kan. Jadi dia harus memakai kuris roda untuk sementara.” Ucap Reqy dengan tegas.


“Maksud saya bukan seperti itu tuan. Nyonya masih bisa kuat berjalan, yang saya maksud, nyonya tidak boleh melakukan hal yang membuatnya kelelahan. Seperti beraktivitas seharian di luar rumah yang bisa menguras tenaganya”


“Aku sudah bilang kalau kau harus sediakan dia kursi roda. Apa kau tidak mengerti dengan kata – kataku tadi.” Tegasnya dengan suara yang sedikit tinggi.


“Baik.” Balas Dokter Sinta.


Walaupun Adelia tidak perlu memakai kursi roda, tapi Dokter Sinta tetap menuruti kemauan Reqy. Ia takut kalau sampai ia membuat Reqy marah – marah di sana.


Sementara Adelia hanya diam cemberut melihat tingkah laku suaminya yang menganggapnya wanita lemah. Ia juga tidak berani membantah kemauan suaminya itu.


Bersambung


.


.

__ADS_1


Ingat tekan LIKE sayang, harus ya. Tulis KOMENTAR positife kalian juga. Setiap hari aku baca komentar - komentar kalian tapi maaf kalau aku ngga balas  satu - satu ya. Kalau punya koin dan poin silahkan VOTE ya.


Terima kasih


__ADS_2