
🌹SELAMAT MEMBACA🌹
Pak Ferdi melemparkan tubuhnya di sofa setelah kepergian Pak Osmar. Istrinya terlihat khawatir melihat suaminya yang seperti itu. Ia ikut duduk di samping suaminya sambil menatapnya dengan wajahnya yang khawatir.
“Apa yang membuat ayah khawatir begini. Bukankah kita tadi bicara baik – baik pada Tuan Osmar. Kita tadi tidak menyinggungnya kan?” Tanya Bu Susan.
Pak Ferdi menghela nafasnya dengan pelan lalu menjawab pertanyaan istrinya itu.
“Ayah tidak tahu bu. Harus bicara apa pada Adelia. Ayah khawatir kalau dia tidak ingin menerima lamaran Tuan Reqy, bagaimana. Meskipun ayah tidak pernah bertemu dengan Tuan Reqy, tapi ayah tahu Tuan Reqy orang yang seperti apa. Dia pasti akan menghancurkan keluarga kita kalau kita menyinggungnya. Ayah sih baik – baik saja bu kalau tidak bekerja di restoran, tapi bagaimana dengan anak – anak kita. Darel baru saja selesai kuliah di kedokteran begitupun dengan Adel yang mengejar mimpinya menjadi seorang pelukis. Kalau Tuan Reqy sampai tersinggung atau kita menolak lamarannya, anak kita tidak akan pernah bisa bekerja dimana pun. Tuan Reqy itu punya banyak jejaring sosial. Dia begitu di hormati disini sedangkan kita hanyalah orang biasa.”
Melihat kearah istrinya. “Kita hanyalah orang miskin bu yang tidak punya apa – apa yang bisa di banggakan. Kita hanya punya harga diri.”
“Ayah...kebahagiaan anak – anak itu lebih penting dari apapun. Apalagi kalau Adelia menikah dengan Tuan Reqy, pasti hidupnya bahagia. Banyak kok orang menikah karena di jodohkan bahkan tidak pernah bertemu tapi mereka masih bahagia sampai sekarang. Buktinya....anaknya Pak Hartono, tetangga kita. Anaknya menikah karena di jodohkan. Awalnya dia benci sekali pada suaminya sampai kabur – kaburan. Tapi lihat sekarang, mereka sangat bahagia bahkan hamil lagi anak yang ke lima. Lebih baik kita bicara dulu pada Adelia. Besok kan Adelia sampai di Indonesia.”
“Iya bu. Semoga saja Adelia setuju dengan lamaran Tuan Reqy. Kalau tidak, ayah tidak tahu harus berbuat apa. Apalagi Tuan Osmar memberikan hadiah mahal ini untuk Adelia. Pihak mereka sudah menganggap kalau kita menerima lamarannya.”
“Iya...Ayah istirahat saja dulu. Tenangin pikiran sampai Adelia sampai ke Indonesia. ”
“Iya bu.”
Pak Ferdi berdiri dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya untuk istirahat sedangkan Bu Susan menyimpan semua hadiah lamaran yang di berikan Tuan Osmar tadi.
***
Abraham Group Company
Setelah dari rumah Adelia. Pak Osmar langsung datang menemui Tuan Reqy untuk memberitahu masalah lamarannya tadi.
Kini ia berdiri di depan Tuan Reqy yang tengah sibuk dengan para karyawan yang sedang meminta tanda tangan darinya.
Beberapa saat kemudian...
Para karyawannya itu pergi dari ruangan Tuan Reqy sambil membawa dokumen yang Tuan Reqy tanda tangani tadi.
Tuan Reqy kemudian menegakkan badannya dan kedua tangannya bertumpu di meja kerjanya dengan posisi kedua tangannya saling menggenggam.
Wajahnya terlihat datar menatap Pak Osmar. “Bagaimana paman. Apa mereka sudah menetapkan tanggal pernikahannya?” Tanya Tuan Reqy.
__ADS_1
“Maaf Tuan Muda. Masalah tanggal, mereka belum membicarakannya.”
“Kenapa?” sambil mengerutkan keningnya. “Apa mereka ingin bertunangan dulu. Itu sudah terlambat paman. Aku harus menikah tahun ini. Kenapa paman tidak memperjelas kepada mereka kalau aku ingin langsung menikah?”
“Bukan itu masalahnya Tuan Muda. Mereka ingin memberitahu Nona Adelia dulu tentang masalah lamaran Anda.”
Wajah Tuan Reqy langsung marah mendengar ucapan Pak Osmar.
“Aku kan sudah menegaskan pada paman. Kalau aku tidak suka mendengar kata tidak dan tidak suka dengan penolakan.” Sambil menunjuk – nunjuk Pak Osmar. “Apa paman tidak mengerti dengan ucapanku tadi pagi?” Tanya Tuan Reqy dengan suaranya yang tegas.
“Saya mengerti tuan. Anda tenang saja, mereka tidak akan menolak. Saya sudah menegaskan kepada mereka dan mereka juga sudah menerima hadiah yang Tuan Muda berikan.”
“Terus apa maksud paman tadi?”
“Mereka hanya ingin memberitahu Nona Adelia dulu tentang lamaran Anda lalu memberitahu Tuan Muda tentang tanggal pernikahannya. Mereka sama sekali tidak menolak lamaran Anda.”
“Berapa hari?” Tanya Tuan Reqy dengan wajah datarnya.
“Dua sampai tiga hari Tuan Muda.”
“Oke.....untuk saat ini aku akan menerimanya. Tapi dalam dua hari, aku ingin masalah tanggal pernikahan ini selesai secepatnya.”
“Baik Tuan Muda.”
Tuan Reqy berdiri dari tempat duduknya sambil merapikan setelan jasnya itu.
“Kita ke Ruang Rapat sekarang.” Tegasnya.
“Baik Tuan Muda.”
Tuan Reqy berjalan melewati Pak Osmar lalu keluar dari ruangannya itu disusul Pak Osmar yang berjalan di belakangnya. Tuan Reqy berhenti di depan ketiga karyawannya yang tengah berdiri membungkuk hormat di meja mereka masing – masing.
“Jeny...” Panggilnya pada sekertaris pribadinya itu.
“Iya Tuan Muda.”
“Kamu sudah siapkan berkas – berkas rapatnya.”
__ADS_1
“Sudah.”
“Bagus....cepat ikut aku ke ruang rapat sekarang.”
“Baik.”
Tuan Reqy kembali melanjutkan langkahnya masuk liftnya bersama Pak Osmar dan Sekertaris Jeny.
Mereka menuju lantai 15 tempat dimana rapatnya diadakan. Di sana sudah ada banyak karyawan yang menunggu kehadiran bosnya itu.
Tuan Reqy masuk ke dalam Ruang Rapatnya dengan kedua bawahannya yang ada di belakangnya. Para karyawannya yang sudah ada di Ruang Rapat langsung berdiri menyambut bos sombongnya itu sambil membungkuk hormat tanpa mengatakan apa – apa.
Saat Tuan Reqy sudah duduk di kursinya. Mereka semua kembali duduk di depan bosnya.
Jeny sudah mulai membagikan berkas – berkas yang ia sudah siapkan tadi kepada para karyawan yang sudah duduk berjejer di kiri kanan meja Ruang Rapatnya, tepat di depan Tuan Reqy.
Sedangkan Pak Osmar hanya berdiri saja di samping Tuan Reqy tanpa melakukan apapun. Ia hanya mendampingi Tuan Mudanya itu.
Setelah Jeny selesai membagikan berkas – berkasnya itu. Ia duduk di samping kanan Reqy sedangkan para karyawannya membuka dan melihat isi dari berkas yang di berikan Jeny tadi.
Reqy lalu bicara pada mereka semua. “Itu proyek baru yang sudah akan kita bangun selanjutnya.” Dengan suaranya yang lantang di depan semua karyawannya itu.
Seketika mereka semua langsung berbalik melihat bosnya yang menatap mereka dengan wajah datarnya.
Reqy kembali bicara pada mereka. “Pelajari baik – baik dokumen yang kalian pegang itu. Jeny akan menjelaskan detailnya pada kalian semua.” Jelasnya.
“Baik.” Sahut bersamaan.
Melihat kearah Jeny. “Aku beri 5 menit untuk menjelaskan pada mereka.”
“Baik Tuan Muda.”
Sekertaris Jeny pun naik mempresentasikan masalah proyek yang Reqy bahas tadi di depan semua orang.
Selesai Jeny melakukan tugasnya itu. Ia kembali duduk di tempat duduknya. Mereka semua saling mengeluarkan semua ide – ide mereka yang akan mereka tambahkan dalam proyek yang akan Reqy lakukan.
Pukul 16:00 sore....mereka semua selesai rapat. Tuan Reqy meninggalkan Ruang Rapatnya dan kembali ke ruangannya bersama dengan Pak Osmar dan Jeny.
__ADS_1
Bersambung.