Married With Mr. Arrogant

Married With Mr. Arrogant
Air mata bahagia


__ADS_3

Beberapa hari ini Reqy berada di rumahnya, menemani istrinya di sana. Ia kembali cuti ketika dokter mengatakan padanya dan Adelia kalau Adelia harus tetap di rumah menunggu kelahiran bayi di dalam perutnya. Tentu saja hal itu membuat Adelia dan Reqy merasa gugup sendiri. Meskipun banyak yang menjaganya, namun Reqy tetap merasa tenang kalau ia sendiri yang menemani istrinya. Reqy bisa saja menjadwalkan operasi caesar Adelia sesuai tanggal yang dia inginkan, namun Adelia ingin menunggu sampai ia merasakan sakit diperutnya.


Kini Adelia tengah duduk di taman belakang rumahnya. Ia di temani Lumi, Emir, Nerissa dan Mika sahabatnya. Mika baru saja pulang dari Amerika setelah menyelesaikan pendidikannya di sana.


Ia dan Mika banyak bercerita di sana mengenai kuliahnya selama di Amerika. Bahkan Mika berencana mengajak Adelia untuk melakukan pameran lukisan di sebuah galeri seni milik temannya. Tentu saja Adelia menyutujui rencana Mika, namun ia harus menunggu kelahiran bayinya terlebih dahulu, baru akan melakukan pameran lukisannya.


Terlihat Reqy berjalan dari dalam rumahnya membawa segelas susu untuk Adelia. Ia berjalan menghampiri istrinya yang tengah bicara sambil tertawa dengan Mika, dan yang lainnya di sana.


“Kalian sedang membicarakan apa?” Tanya Reqy saat ia sudah berdiri di samping istrinya. Ia kemudian meletakkan susu yang ia pegang di meja, tepat di depan istrinya.


“Kami sedang cerita masa – masa kuliah di Amerika Tuan Reqy.” Jawab Mika.


“Oh...kalian sudah kenal sejak kapan?” Tanya Reqy sambil menarik kursi di samping istrinya, kemudian duduk di sana.


“Sudah lama sekali tuan. Kami bahkan tidak menyangka bisa bertemu di Amerika. Di kampus yang sama. Dulu...aku dan Adel bercita – cita menjadi pelukis, tapi aku berangkat duluan ke luar negri setelah berhasil masuk salah satu kampus di Amerika.” Jelasnya.


“Aku dan Mika selalu bersama di Amerika by,” Sambung Adelia sambil tersenyum.


“Oh... begitu.” Balas Reqy sambil memegang tangan istrinya, mencium tangannya dengan lembut.


Tiba – tiba saja Adelia merasakan nyeri di perutnya. Ia hanya diam memegang perutnya di sana tanpa memberitahu siapapun. Menurutnya itu hanyalah sakit perut biasa.


Ia kembali mengobrol dengan Mika yang sudah lama ia rindukan itu.


Beberapa menit kemudian, Adelia semakin merasakan sakit di perutnya. Ia tidak bisa menahan nyeri di perutnya sampai mencengkram lengan suaminya yang masih duduk di sampingnya.


Seketika Reqy menengok melihat Adelia. “Kenapa sayang?” Tanya Reqy dengan ekspresi khawatir.


“Sepertinya aku sudah mau melahirkan by. Sakit sekali.” Jawab Adelia ketika ia merasakan ada air keluar dari dalam Vaginanya.

__ADS_1


Lumi langsung berjalan menghampiri Adelia. “Nyonya, Anda sepertinya mau melahirkan. Air ketubannya sudah pecah.” Jelas Lumi melihar Air ketubannya berceceran di lantai.


Semua orang berdiri dari tempat duduknya saat mendengar ucapan Lumi, begitu pun dengan Reqy.


“Emir, cepat siapkan mobil. Kita ke Rumah Sakit sekarang.” Perintahnya dengan tegas.


“Baik tuan,” Dengan cepat Emir berlari masuk ke dalam rumahnya untuk mempersiapkan mobil seperti di perintahkan Reqy.


Sesaat setelah Emir pergi, Reqy langsung menggendong istrinya yang sudah meringis kesakitan.


“Tahan sayang. Tahan, kita akan ke Rumah Sakit.” Ucap Reqy dengan ekspresi panik yang ia tunjukkan.


Ia berjalan cepat sambil menggendong istrinya yang terlihat kesakitan. Dari luar rumahnya sudah terlihat Emir membuka pintu mobil untuk mereka berdua. Dengan cepat, Reqy memasukkan istrinya ke dalam mobil, diikuti dirinya yang juga ikut masuk ke dalam.


Emir langsung melajukan mobilnya dengan cepat saat kedua majikannya sudah berada di dalam mobil, sedangkan Mika dan Nerissa naik mobil lain mengikuti mobil Emir.


Tampak dari dalam mobil, Reqy terus mengusap – usap perut istrinya agar Adelia merasa sedikit nyaman, dengan tubuh Adelia bersandar di dadanya, sedangkan Adelia menarik nafasnya secara perlahan seperti yang di anjurkan dokter kandungannya ketika ia merasakan sakit perut yang hebat.


Reqy meletakkan istrinya di brankar yang sudah di sediakan dokternya itu. Dengan sigap, para dokternya mendorong brankarnya masuk ke dalam Rumah Sakit. Saat itu, Adelia terus – terusan menarik nafasnya secara berulang – ulang, sedangkan Reqy memegang tangan istrinya dengan ekspresi paniknya. Ia sangat kasihan melihat Adelia meringis kesakitan. Ia mengusap – usap kepala istrinya dengan lembut sambil berjalan mengikuti kemana dokter akan membawa istrinya.


Ketika sampai di depan ruang operasi, dokter langsung mendorong masuk brankar Adelia tanpa membiarkan Reqy masuk ke dalam menemani istrinya.


Reqy terlihat marah melihat dokter tidak membiarkannya masuk menemani istrinya.


“Kenapa kau menghalangiku?” Tanya Reqy memarahi dokternya.


“Maaf Tuan Muda, kami harus menjalani operasi seperti persetujuan Anda beberapa hari yang lalu. Anda tidak boleh berada di dalam selama kami menjalani operasi di dalam. Kecuali kalau Nyonya melahirkan secara normal, Anda bisa menemaninya.” Jelasnya.


“Bagaimana kalau istriku kesakitan, sementara aku tidak berada di sampingnya?”

__ADS_1


“Tenang Tuan Muda, nyonya tidak akan merasakan sakit. Kami akan membiusnya sampai operasinya berjalan lancar.”


Reqy sudah mulai menerima apa yang di katakan dokter kandungannya itu. “Baiklah.”


Dokter itu pun kembali masuk ke dalam ruang operasi untuk melakukan operasi Caesar setelah membungkuk hormat pada Reqy.


Beberapa menit kemudian, terlihat dari lorong rumah sakit, Mika, Nerissa, Pak Ferdi dan Bu Susan dengan langkah cepat menghampiri Reqy yang sudah duduk di kursi tunggu depan ruang operasinya. Mika dan Nerissa baru saja sampai ketika mereka menjemput paman dan bibi Adelia. Mereka semua ikut duduk di sana menunggu kelahiran bayi Reqy dan Adelia. Pak Ferdi dan Bu Susan sempat bicara pendek dengan Reqy mengenai Adelia, mereka mencoba menenangkan Reqy yang terlihat khawatir menunggu operasi istrinya.


Satu jam kemudian, terdengar suara tangisan bayi dari dalam ruang operasi. Reqy langsung berdiri dari tempat duduknya mendengar tangisan bayinya, begitu pun dengan Pak Ferdi dan Bu Susan yang ikut bahagia mendengar tangisan cucu pertamanya itu. Saat itu, Bu Susan langsung memeluk suaminya dengan senyum bahagianya mendengar cucu pertamanya lahir.


Mika dan Nerissa juga ikut bahagia mendengar tangisan bayi laki – laki itu yang tak henti – hentinya menangis. Mereka semua tersenyum bahagia.


Akhirnya Rumah Keluarga Abraham akan ramai dengan kehadiran bayi di rumah besar itu. Suara tangisannya akan terdengar di setiap ruangan di Mansion Abraham.


“Kalian dengar kan, anakku sudah lahir. Dia menangis sekarang. Aku sudah menjadi ayah. Aku sudah menjadi


ayah,” Ucap Reqy dengan wajahnya yang sangat bahagia menatap ke empat orang yang ada di depannya. Tanpa sadar ia meneteskan air matanya, kemudian menghapusnya dengan segera saat air matanya itu baru saja jatuh di pipinya.


Air mata bahagia mewakili perasaan bahagianya itu. Ia tidak bisa mempercayai dirinya kalau ia akhirnya menjadi seorang ayah. Jantungnya berdetak kencang mendengar tangisan bayinya di dalam ruang operasi. Tidak ada kata yang bisa mewakilkan kebahagiaannya saat ini. Begitu bahagianya ia, sempurna lah hidupnya dengan kehadiran bayi di tengah – tengah kehidupan pernikahan mereka berdua.


Tampak Reqy mondar – mandir di depan ruang operasi menunggu Dokter kandungannya keluar. Perasaannya campur aduk, antara senang dan khawatir dengan bayi dan istrinya.


Bersambung.


.


.


.

__ADS_1


.


Tekan LIKE ya, harus loh. Nggak boleh nggak, harus ya, hehehehe.... Tulis KOMENTAR kalian di bawah kolom komentar. Punya poin dan koin silahkan VOTE dedek bayinya ya. Semoga dedek bayinya menjadi anak yang berbakti untuk kedua orang tuanya, apalagi kalau ada yang VOTE.


__ADS_2