
Persiapan acara sudah siap, hanya acara kecil saja tak ada tiup lilin hanya potong kue ulang tahun yang di bikinkan nenek. Alif sangat tampan ia di dandani layaknya tuan muda. Alif tak bisa diam membuat semuanya kewalahan menangani Alif, ia lari ke sana ke mari. Hanya om nya Zidan yang bisa buat Alif diam. Hamdan dan kia berpegangan tangan melihat anak laki-lakinya kini sudah bisa bicara, Alif belum akan mulai jika om nya belum datang. Zidan masih menjemput Kiran dan Aurel di panti, para sahabat Zidan satu persatu datang.
" ayo kita mulai semuanya sudah berkumpul sayang" ucap kia di samping Alif.
" sayang Alif itu tak akan mau mulai jika Zidan belum datang". seperti biasa memang begitu, kadang juga jika Alif tak mau makan hanya Zidan yang bisa merayu Alif. Tak tau apa yang di miliki Zidan pesonanya membuat Alif suka.
Di lihatnya Zidan datang bersama kiran, Aurel juga ibu panti ikut. Terlihat Alif tersenyum bahagia melihat Zidan datang apalagi sama Aurel yang membawakan kado untuk nya. Alif langsung berlari menghampiri Aurel, di berikan nya kado itu untuk Alif.
" makacih" ucap Alif ucapannya masih belum lancar.
" ayo kita mulai sayang kasihan yang lain menunggu, om Zidan sudah datang". Zidan lalu menggendong satu-satunya keponakan Zidan. Belum nambah semoga Hamdan dan kia segera hamil lagi.
Menyanyikan lagu ulang tahun juga doa-doa di ucapkan untuk Alif. Suasana bahagia apalagi seperti biasa Rendi dan Aris menyanyi, anak Aris ikut berlari bernyanyi bersama papa nya.
" Kiran sebentar lagi kamu lulus belum adakah rencana membuka hati untuk seseorang". tanya Zidan to the point.
" nanti lah kak Kiran belum pikirin". Kiran masih memakan makanan tekwan rasanya seger sekali.
" oh ya kak gimana soal kakak temannya kiran ia bersedia ketemu kakak"
" ngga lah Kiran kakak lagi males ngelakuin ta'aruf". jawab Zidan.
" emang kenapa kak siapa tau kan memang jodoh". ucap Kiran.
' kok ngga peka banget sih ini bocah, aku masih sangat berharap dirinya". batin Zidan.
" biarlah Allah yang mengatur mempertemukan aku dan calon istri ku, kan Allah sudah mempersiapkan tinggal kita menjemputnya. Sepertinya jodoh kakak saat ini masih enggan untuk di jemput". Kiran mengkerut kan keningnya.
" memang siapa kak"
" ha... kepo ya..."
" ih kakak siapa tau Kiran kenal nanti Kiran bantu untuk ngomong langsung ke orang nya" .
__ADS_1
" kamu memang kenal"
" siapa dong kak". Kiran cemberut.
" rahasia..."
" awas ya kakak sekarang main rahasia- rahasiaan sama kiran, Kiran marah sama kak Zidan".
" kakak suka kalau kamu marah, lucu..." kiran cemberut sembari melahap makanannya.
" jangan marah tak baik nanti cepat tua ngga asik tua sebelum umurnya, masa belum nikah udah tua". Zidan terkekeh.
Semua masih asyyik bernyanyi kini aurel nyanyi bersama Tomi, suasana jadi semakin meriah.
Baby twins Ammar dan Ameer sudah besar ia datng bersama ayah dan bundanya kini umurnya sudah 5 tahun, Aisha pun sedang hamil saat ini usia kandungannya memasuki empat bulan. Ammar dan Ameer terlihat sangat tampan, perpaduan antara Azzam dan Aisha tapi mereka mempunyai siffat yang bertolak belakang. Ammar anaknya pendiam sikapnya dingin sedangkan Ameer periang banyak tingkah nya aktif sekali hampir sama seperti Alif.
" Ammar sana main sama adek Alif kok diem aja" ucap Aisha.
" Ammar temenin bunda saja sama adek ". ammar mengusap perut bundanya yang sudah terlihat sedikit menonjol.
" Aisha mau ammar punya temen mas". Azzam tersenyum mungkin memang ammar itu sifatnya sama seperti Hanafi dulu ia hanya punya teman sedikit karena tak mau bergaul.
Ameer bermain bersama Aurel, Alif juga yang lainnya. Ammar hanya memandang satu persatu pada mereka.
" kenapa tak ikut main sama yang lain Ammar, itu sana sama adek Alif" tanya kia.
" ngga asik Tante mainan anak-anak cuma kek gitu doang". semua melongok mendengar ucapan Ammar. ia lebih suka mengamati yang lain dari pada anak-anak.
" om gimana caranya bisa sukses, kata ayah om Hamdan sukses masih menjadi mahasiswa". tanya Ammar tiba-tiba. Tomi dan Aris menengok ke arah Ammar anak sekecil itu bertanya hal yang seharusnya bukan menjadi pertanyaan nya.
" belajar, yang penting Ammar belajar yang giat dulu nanti Ammar juga bisa sukses di usia muda". jawab Hamdan.
" kenpa Ammar bertanya seperti itu, ingin jadi pengusaha juga ". Ammar mengangguk.
__ADS_1
" tak ingin jadi dokter sama seperti ayah".
" Aku lebih suka dengan bisnis om, lebih menantang lebih keren. Om Hamdan ada banyak di majalah-majalah bisnis, keren..." ucap Ammar, ia akan cerewet jika membicarakan bisnis dengan orang dewasa. Hamdan dan yang lainnya terkekeh.
" Kalau gitu mulai sekarang Ammar harus belajar yang rajin, nanti kalau sudah dewasa baru jadi pengusaha sukses". Ammar mengangguk di usapnya kepala Ammar oleh hamdan.
Suasana pesta masih ramai mereka menikmati hidangan dari Hamdan. Anak-anak saudara dan tetangga Alif cukup banya semuanya masih bermain bercanda ria.
" masih marah nih Kiran, luntur cantiknya kalau kelamaan marah". goda Zidan mendekati Kiran lagi.
" ngga kak rugi juga marah sama kakak nanti Kiran hutangnya di tagih belum gajian sabar ya kakak". Kiran nyengir, membuat Zidan meringis padahal ia sudah melupakannya dan tak mungkin akan menagih.
" udah ngga perlu di balikin, kelamaan juga tunggu kamu gajian. kakak sudah Nerima uang kontrakan lagi".
" huh sombong..." ucap Kiran , Zidan terkekeh.
" bukan sombong kakak cuma ngasih tau biar kamu tau kalau uang kakak banyak, ha..." Zidan tertawa.
" iya ya juragan kontrakan".
" bukan masalah banyak sedikitnya Kiran tapi rasa syukur yang kita miliki seberapa pun uang kita yang penting di peroleh dari hasil halal dan insyaAlloh berkah jangan lupa pula untuk sedekah. masih banyak orang yang membutuhkan uluran tangan kita" . terang Zidan.
" iya bener kak, tapi sayang wajah tampan, kaya, belum punya istri ". Kiran tertawa.
" kakak sumpahin kamu jadi istri kakak"
" Ups,,,, ngga akan manjur sumpah kakak itu" ucap Kiran sambil tertawa.
" siapa bilang kakak akan buktikan". Kiran masih terus tertawa.
Alif menarik-narik Zidan untuk di ajaknya menaiki mobil yang Zidan belikan. "Benar-benar mengganggu anak kecil itu, tapi tak apa ia menghindarkan ku dadi zina mata." monolog Zidan dalam hati.
" ada apa Alif, mau naik mobil". Zidan mengangkat Alif untuk naik ke mobil, Zidan ajarkan cara memakainya. Mobil itu akan aman tidak bisa melesat cepat karena sudah di stel sangat pelan seperti jalannya mobil puso yang penuh muatan.
__ADS_1
___
bersambung