Melepas Lajang

Melepas Lajang
lapas


__ADS_3

Zidan dan Kiran sudah sampai di lapas ia tidak bertemu Rendi karena Rendi sedang menyelesaikan kasus penggrebekan narkoba. Zidan langsung menemui mertuanya tampak ayah Aldo sudah bersih, potong rambut dan sudah ngga brewokan lagi jadi ngga serem seperti tempo pertama kali bertemu. Ayah Aldo tersenyum bahagia saat Kiran dan Zidan datang sekarang ia merasa mempunyai keluarga sebelum nya tak ada satupun keluarga nya yang mengunjungi nya sesekali Datok dan mama Reyana saja yang berkunjung.


" assalamu'alaikum ayah". Kiran dan Zidan langsung Salim.


" wa'alaikumsalam ". terlihat ayah senyum sumringah hatinya sangat bahagia ternyata ada harta yang tertinggal dalam hidupnya.


" gimna ayah sehat ". Kiran langsung membukakan bekalnya yang ia bawa tadi.


" Alhamdulillah ayah sangat sehat sayang" Zidan pun ikut tersenyum melihat ayah mertuanya begitu bersemangat.


" makan dulu ayah ini Kiran bawakan makanan ".


" MasyaAlloh nak kenapa harus repot-repot kamu datang ke sini saja ayah sudah sangat bahagia " .


" tidak apa ayah Kiran juga bahagia, ayah makan yang banyak ya masa Kiran bawa ngga ayah makan". Kiran terlihat sedikit cemberut.


" iya pasti ayah makan nanti akan ayah habiskan, makanan yang kamu kirimkan selalu enak. kapan kembali dari rumah ibumu nak, kemarin Rendi bilang kalian ke sana."


" kemarin ayah, dan Kiran ke sini bawa kabar gembira untuk ayah". ayah Aldo mengerutkan keningnya ia penasaran.


" apa nih nak, ayah jadi penasaran".


" ayah makan dulu bekalnya nanti Kiran kasih tau." dengan lahap ayah menghabiskan bekal yang Kiran bawa.


" ayah Kiran hamil, ayah akan jadi kakek." ucap Kiran.


" benarkah sayang kamu hamil". ayah Aldo terkejut ia pun menitikkan air mata.


" Alhamdulillah ya Allah terima kasih, sungguh banyak kebahagiaan yang engkau berikan pada hambamu ini." Zidan mengusap punggung ayah mertuanya.


" Alhamdulillah ayah".


" Ayah rasanya ingin cepat keluar ingin bermain sama cucu ayah nanti, ayah ngga mau nanti jika cucu ayah bertanya kakeknya ada di lapas". wajah ayah terlihat sendu


" Semoga ayah cepat keluar ya Kiran juga ingin merawat ayah."


Setelah cukup lama berbincang Kiran dan Zidan pamit akan pulang. karena memang waktu besuk sudah habis. Kiran juga menurunkan pakaian ganti yang baru untuk ayahnya selimut, handuk juga beberapa makanan untuk sang ayah.


" Kak kita langsung pulang saja Kiran memikirkan kak ana." ucap Kiran.


" iya kita pulang, tadi kakak juga sudah mengirim pesan kepada Rendi jika istri nya ada di rumah kita."

__ADS_1


" syukurlah nanti kak Rendi kalau pulang bisa langsung ke rumah ya kak, kasihan kak ana sekarang saudaranya di sini kita kak".


" iya sayang". Zidan melajukan mobilnya dengan cepat merasa ada tanggung jawab untuk menjaga kakak iparnya di sini. tak bisa menyalahkan Rendi karena Rendi sebagai abdi negara sebelum nya pun sudah tau tugas Rendi dan sebagai istri memang harus mengerti.


_


Penggrebekan bandar narkoba sudah selesai, Rendi memang sengaja tadi mematikan teleponnya agar ia fokus menjalankan tugasnya. Di ambilnya dari saku celana benda kecil yang terselip itu, berharap ana menghubungi nya tapi ternyata justru pesan dari Zidan.


" ya Allah ana". Rendi langsung minta izin kepada atasannya, untung saja atasannya begitu baik Rendi diizinkan pulang. Ia bergegas pulang ke rumah dulu karena masih pakai baju dinas dan bawa motor. ia mandi


beralih membawa mobilnya, mobil yang baru di kasih sama pamannya Jack.


Terlihat ana dan Kiran duduk di depan menikmati sore, mereka melihat umi dan zidan menyiram tanaman. Rendi merasa lega istrinya terlihat baik-baik saja.


" assalamu'alaikum"


"wa'alaikumsalam". ana tersenyum melihat suami datang ia langsung berdiri menyambut suaminya dan Salim.


" maaf sayang "


" tidak apa-apa mas, ana baik-baik saja tadi umi dan Abi jemput ana.


" tadi aku tinggal dia baik-baik saja Zidan makanya aku keluar tugas dengan santai, ada tugas penting ngga mungkin aku izin lagi."


" Rendi besok jika kamu ke kantor lebih baik ana kamu antarkan ke sini dulu kasihan jika dia sendirian di rumah. ya kalau kamu cepet pulang jika ada tugas mendadak kamu ngga tau pulang nya kapan kan". ucap Abi menyiangi bunga kesayangan umi.


" iya Abi maaf, Terima kasih sudah datang menjemput ana. Sekarang bagaimana sayang".


" Alhamdulillah sudah hilang ".


" apanya ". teriak rendi, membuat Zidan geleng kepala Kiran pun tertawa.


" mualnya lah mas, tadi aku mual muntah-muntah sampai ana lemes untung ada umi dan Abi datang. jika tidak ana pingsan di rumah sendirian " kesal ana sama Rendi, ketika berbicara serius Rendi seraya bercanda.


" maaf maaf sayang". Rendi mengusap kepala ana, ana masih manyun.


" maaf tuh mudah di ucapkan setelah apa yang terjadi." kata Zidan menambah keruh suasana.


" besok jika mas tugas kamu mas antar ke sini saja, ada Kiran dan kalau di sini mas ngga khawatir".


" baru nyadar kenapa ngga tadi pagi". mata Rendi tajam memburu Zidan.

__ADS_1


" ya tadi pagi itu ana baik-baik saja dodol tak lemes ataupun mual muntah hanya sebentar bangun tidur saja." geram Rendi terhadap Zidan.


" Zidan sudah, kasihan Rendi baru pulang kerja. masuk nak makan dulu pasti lapar pulang kerjakan." Rendi nyengir benar kata umi dia lapar.


" enaknya dateng-dateng numpang makan".


" kakak..." seru Kiran, Zidan akan berhenti jika Kiran yang bicara. Rendi terkekeh.


" ayo kak masuk dulu ada makanan di meja makan".


" sayang tolong kakak sini". Kiran yang akan masuk di panggil Zidan, ia memang sengaja.


" dasar manja." teriak rendi lalu ia masuk bersama ana.


" manja sama istri halal". balas Zidan lagi.


" mau sama apa mas, ayam atau ikan nila." tanya ana melayani suaminya yang akan makan.


" ikan nila saja sayang, pakai sambel ya". Rendi lahap banget makannya, ana hanya melihat karena ia tadi sudah makan.


" gimna cerita nya Kiran tau jika kamu mual muntah hingga lemas".


" Kiran mau ke lapas dan dia tanya kabarku mas, pas ana muntah hebat. lalu Kiran menyuruh umi dan Abi untuk jemput ana".


" Alhamdulillah ya sayang banyak keluarga yang masih perhatian sama kita".


" iya mas Alhamdulillah, kalau mas kerja ana Anter ke sini saja mas di rumah ana bosan. "


" iya besok mas antar ke sini, kalau di sini umi dan Abi selalu di rumah mas malah tenang juga".


" Habiskan mas kalau lelah istirahat saja di kamar tamu, kita pulang nya nanti ya".


" iya mas tidur sebentar ya, ngga usah di temenin kamu ke depan aja dari pada nanti Zidan ngadi-ngadi lagi". ana malah terkekeh mendengar gerutuan suaminya.


" kalian ini memang cocok mas."


" cocok kenapa ".


" jadi sepasang kakak dan adik ipar ". Rendi meringis kemudian ia masuk ke kamar dan ana jalan ke depan.


__

__ADS_1


__ADS_2