
Zidan dan Tomi masih mengadakan meeting bersama karyawan nya, saat Kiran datang di kantor keadaan di dalam sepi. Kiran lalu mendudukkan dirinya ke kursi yang biasa ia pakai sehari-hari untuk bekerja, Kiran memang bukan termasuk karyawan inti ia hanya bekerja membantu saja di kantor. Hamdan yang membuat peraturan itu jika Kiran tidak di biarkan terlalu banyak terlibat masalah kantor. Hamdan tidak mau jika kuliah Kiran terganggu karena banyaknya masalah di kantor, Kiran hanya membantu pekerjaan Hamdan saat itu. Kini ia hanya membantu Tomi dan Zidan.
" sudah pulang Kiran". tanya Tomi setelah selesai rapat.
" belum kak masih di kantor". Tomi tertawa.
" iya tau kamu masih di kantor maksud kakak sudah pulang dari kampus".
" he... iya kak baru sampai".
" udah makan siang belum".
" belum kak mau ambil jatah" jawab Kiran.
" ya udah ayok makan" ajak Tomi ia langsung masuk ke ruangan Zidan di mana makan siang untuk mereka sudah ada kiriman dari kafe Hamdan. Zidan baru masuk ke ruangan setelah meeting.
" Lama bener baru datang, habis ngapain". tanya Tomi.
" ada beberapa berkas yang harus aku teliti, dan di bagian pemasaran ternyata kita kurang pekerja." ucap Zidan.
" ya sudah kita buka saja untuk lowongan pekerjaan, biar ada yang naik jabatan salah satunya". kata Tomi sembari membuka bungkusan makan siangnya.
" sepertinya untuk karyawan yang lain belum ada yang bisa menduduki jabatan itu," Tomi mengerutkan keningnya.
" Maksudnya menjadi kepala pemasaran".
" iya kita harus cari yang ahli, sudah berpengalaman dalam bidang ini". Tomi berfikir sejenak.
" udah kita makan dulu yuk, aku lapar kita bicarakan nanti sama Hamdan". nasi sudah Kiran siapkan untuk Zidan lengkap dengan lauk pauknya, hati Zidan berbunga-bunga seakan tanda love-love berterbangan keluar dari kepala nya.
" makan yang banyak Kiran biar cepet besar". ucap Tomi biasa menggoda Kiran.
" aku sudah besar kak, sudah dewsa jangan anggap Kiran seperti anak SMA lagi kak."
" Iya ya kadang kakak lupa, kamu kakak anggap masih seperti adik kita saat SMA. apalagi Hamdan tetap memperlakukan mu seperti bocah." Kiran manyun ia selalu mereka perlakukan seperti anak kecil.
" sebentar lagi Kiran lulus kuliah loh kak, liat badan Kiran sudah gede". Tomi terkekeh mendengar Kiran berceloteh.
__ADS_1
" Alhamdulillah akhirnya kamu akan lulus ya dek, dan kami akan menikahkan kamu. sudah punya calon belum".
" Jangan tanya calon kak, Kiran belum memikirkan itu biar Kiran lulus kuliah dulu.".
" baiklah fokus yah belajar nya".
" siap kak". Zidan diam saja ia mendengar Tomi dan Kiran berceloteh.
" ayo makan keburu sore kerjaan kita masih banyak".
Lagi-lagi membuat miris Zidan, dulu Zidan sudah pernah bertanya kepada Kiran namun apapun dan siapapun ia akan tetap menolak khitbah sebelum lulus.
'Di pandang lebih dalam zina mata, tak memandang rindu ' monolog Zidan dalam hati.
_
_
Zidan akan mengantar Kiran pulang karena saat itu sopir masih ada pekerjaan lain mengantar kan sesuatu. Tomi tak bisa bareng karena ia akan menemui Yara terlebih dahulu sebelum pulang.
" Kak mau aku kenalkan seseorang, dia saliha insyaAlloh dan sudah siap berumah tangga". ucap Kiran, ia tak ingin berharap lebih kepada Zidan karena umur mereka yang terpaut jauh. Dan Zidan adalah atasannya, siapa lah dia hanya seorang anak yatim yang hanya numpang hidup saja.
" iya yakin". Kiran memutar kan bola matanya.
" siapa dia ".
" kakak dari teman kampusku sudah lulus kuliah, ia baru saja pulang dari pesantren". jelas Kiran.
" gimana ya..."
" kok gimana sih kak, kakak sudah cukup umurnya untuk menikah. Tinggal kakak Lo yang belum menikah dan tua sendiri dari yang lain. kak Tomi bentar lagi menikah sama kak Yara".
" Katanya yang tua itu akan lebih matang, orang itu lebih suka sama yang matang. lebih manis..." Zidan terkekeh.
" ih kakak ngomongin apa kok malah ngomongin matang sih".
" yah itu ibaratnya Kiran jika buah, jarangkan pilih yang muda. rasanya asem kalau muda.".
__ADS_1
" Tapi kalau kematangan nanti busuk kak". Kiran tertawa.
" Ngga lah kakak ngga sampai kematangan tinggal tunggu setahun lebih dikit lagi kan". ucapan Zidan mengarah kepada Kiran namun Kiran tak mengerti. Sebenarnya Kiran sangat nyaman denagn Zidan, Zidan itu sangat menghormati perempuan ia sopan dan Soleh.
" Syukurlah berarti kakak sudah punya calon" tanya Kiran ia penasaran seperti nya.
" ya sudah Allah sudah menulis siapapun jodoh kita di lauhul Mahfudz jadi jangan khawatir jika tidak di pertemukan di dunia pasti nanti akan di pertemukan di akhirat. Jangan khawatir soal jodoh Kiran, apalagi kita juga sudah berusaha semaksimal mungkin mencari nya, memang Allah belum mentakdirkan nya sekarang". terang Zidan.
" Kiran jadi penasaran kak siapa tau nya jodoh gaib belum terlihat." Zidan terkekeh.
" apa kakak salah ngomong emangnya".
" ya ngga sih kak cuman yah...".
" yah kenapa, kenapa kamu ikut-ikutan kayak umi aja jodohin kakak".
" bukah gitu sih kak, biar kak Zidan ngga jadi bujang lapuk". Kiran keceplosan ia menutup mulutnya ngga enak sama Zidan ucapannya menohok.
" Bujang kok lapuk, ya ngga lah Kiran bujang itu ya bujang belum Dateng aja jodohnya. kakak ini bujang ting-ting loh". ucap Zidan sembari fokus menyetir. Kiran tergelak mendengar ucapan bujang ting-ting.
" iya iya ting-ting kok, tapi jangan bilang kalau kakak ngga suka sama wanita ya alias kepribadian ganda".
" Astaghfirullah... ya nggalah Kiran amit-amit,". Zidan begidik
" ha.... maaf kak, lagian dari semenjak kenal kakak. Kiran ngga pernah liat kakak deket sama wanita. Berbeda dengan yang lain udah pada nikah semua."
" la sekarang kakak dekat dengan kamu kan Kiran, masa telmi sih".
" maksud Kiran sama wanita dewasa gitu kak yang udah siap menikah".
" kakak ngga mau sesuatu hal yang di paksakan Kiran, hasilnya tak akan baik. Menikah itu ibadah seumur hidup, pahalanya banyak. kakak ngga mau sesuatu hal yang berpahala justru akan menjadi dosa". pungkas Zidan menerangkan. Kiran manggut-manggut akhirnya hening dan Kiran tertidur di mobil.
" kamu memang wanita hebat Kiran, kamu kuat bisa menjalankan peran mu dengan baik. meskipun ada yang melindungimu tak kamu sia siakan kamu sungguh luar biasa. semoga penantian panjang ku ini berbuah manis". monolog Zidan dalam hati sembari menyetir dan melihat Kiran dari arah kaca.
Zidan melajukan mobilnya dengan perlahan hingga sampai di panti dan membangun kan Kiran yang terlelap. Kiran terlihat sangat lelah sekali. Lalu Zidan pulnag karena hari sudah sangat sore.
____
__ADS_1
bersambung