
Zidan hanya menurunkan kedua orang tuanya di rumah, ia lalu melesat pergi menggunakan mobilnya dengan sangat kencang. Hatinya sangat hancur remuk bagaikan pecahan kaca yang sulit untuk di susun kembali. Tak tau arah kemana ia akan melangkah nafasnya tercekat, jantungnya seakan berhenti berdetak dan darahnya berhenti mengalir. Rasa sesak di dadanya begitu sesak seakan tidak akan ada celah nafas untuk berhembus melewatinya.
" Zidan nak mau kemana". tanya umi ia panik.
" biarkan umi, biarkan ia meluapkan kemarahannya. Zidan anak kita Abi percaya dia tidak akan berbuat dosa". ucap Abi menenangkan umi.
" ya Allah nak jangan bertindak yang merugikan dirimu atau orang lain nak, hiks..." umi menangis di peluknya oleh Abi.
" kita doakan saja umi semoga Zidan akan baik-baik saja". ucap Abi kembali menuntun umi untuk masuk ke dalam.
Mobil Zidan melesak jauh ia datangi pantai di malam hari, Zidan menangis di dalam mobil lalu ia keluar ke pinggir pantai ia berteriak sekencang-kencangnya agar sesak di dadanya lega. Zidan kembali duduk ia tumpukan kaki di letakkan kepalanya menunduk ke bawah dan menangis. pedih perih, itulah hati Zidan kini yang ia rasakan.
Begitupun dengan Kiran di sana ia masuk ke kamar menangis sejadi-jadinya. ibu panti sangat iba melihat Kiran keputusan nya membawa kehancuran bagi cintanya. Sangat terasa kali ini bahwa ia juga sangat mencintai Zidan. Di biarkan nya Kiran oleh ibu panti agar ia menangis sepuasnya, tak ada lagi yang bisa di ubah dengan keputusan Kiran bahwa ia menyetujui menikah dengan Tedy laki-laki yang berumur 35 tahun itu.
" ya Allah beginikah ujian cintaku, setelah sekian tahun aku menunggu nya tapi ia memilih laki-laki lain. lalu bagaimana dengan jawaban di shalat istikharah ku apa itu tidak benar. jelas ya Allah Engkau datangkan kiran di shalat istikharah ku itu tak hanya sekali bahkan berkali-kali." Zidan bergumam sendiri terus mengalir air mata nya.
Bertubi-tubi yang ia jalani dalam hidup setelah orang tua nya bangkrut dan kini ia di pertemukan dengan Abah hingga bisa berbesanan dengan Abah berkat Zakia yang di nikahi oleh Hamdan. Zidan melindungi keluarga nya dari apapun tapi untuk dirinya ia tak bisa melindungi hatinya sendiri. marah, ya dia sedang marah kepada dirinya sendiri kepada takdir yang telah mempermainkan nya. umurnya sudah menginjak di angka 30 tahun, tapi belum menemukan takdir cintanya.
Zidan luapkan segala kemarahan nya hingga tengah malam, hatinya sudah sedikit lega. Kemudian Zidan berjalan menuju mobil ia pergi di datangi nya masjid di kota itu ia bersimpuh di hadapan Allah meminta ampun. Zidan berfikir mungkin itu adalah kesalahan nya beberapa tahun berbuat zina mata terhadap Kiran yang belum menjadi halal baginya. Zidan shalat taubat, tahajjud hingga dua belas rakaat, dan ia tutup dengan witir tiga rakaat. Ia tumpahkan semuanya kepada Allah sang pemilik hatinya, ia serahkan kemana akan melangkah lagi. Zidan ingin melupakan segalanya tentang Kiran ia bermunajat kepada Allah agar Kiran terhapus dari dalam hatinya. kembali Zidan menangis merintih kemudian ia mengambil Kitab suci ia baca bertilawah agar hatinya cukup tenang. Zidan merasakan ada yang menepuk pundaknya dari belakang setelah ia selesai bertilawah ia tutup kembali kitab nya. di tolehnya ternyata ustadz Yusuf.
" Serahkan semuanya kepada Allah nak, semua ikhtiar mu sudah maksimal. Allah lebih tau yang terbaik untuk dirimu".
" iya ustadz mungkin dosa Zidan terlalu banyak hingga Zidan harus menerima semua ini" Zidan terisak ia menangis menunduk.
__ADS_1
" Allah sedang menguji mu nak seberapa kuat ketahanan mu, tak ada yang tak mungkin bagiNya. tetap berada di jalur yang terarah dan terus berdoa jangan pernah lelah ketuklah pintu langit terus menerus hingga terbuka untuk mu dan doamu akan di aminkan". ucap ustadz menasehati Zidan hingga adzan subuh berkumandang.
Zidan pulang setelah adzan subuh, umi semalaman juga tak bisa tidur. umi menunggui Zidan di ruang tamu berharap anaknya pulang. Ketika setelah shalat subuh umi mendengar suara mobil Zidan pulang ke rumah.
" assalamu'alaikum".
" wa'alaikumsalam, nak". Zidan tersenyum kepada uminya, ia tak ingin uminya khawatir.
" Zidan ngantuk mi tolong jangan ganggu Zidan sebelum Zidan sendiri yang bangun ya".
" tapi nak". Abi memegang pundak umi agar umi membiarkan apa kemauan Zidan .
Lalu Zidan masuk ke dalam kamarnya ia bebersih dan tidur, rasanya sangat ngantuk sekali semalaman ia tak tidur dan matanya masih sembab. Umi menangis lagi di peluknya Abi, ia ikut merasa kan apa yang di rasakan anak laki-laki nya.
Zakia datang Alif sejak tadi merengek minta di antarkan ke rumah neneknya, ia hafal jika ini hari libur dan pasti om nya Zidan berada di rumah. Alif langsung berlari masuk setelah mengucap salam, ia lihat pintu kamar om nya masih tertutup. Zakia juga heran rumahnya tampak sepi biasanya jika libur begini Zidan sudah ada di belakang ikut mengurus peliharaan Abi nya.
" sayang om sedang tidur jangan ganggu ya". Zakia kaget tumben kakaknya jam segini masih tidur apa sakit.
" kenapa kakak umi apa sakit". tanya kia hanya itu kemungkinan terbesar nya.
" tidak katanya ngantuk tadi pulang habis subuh". ucap Abi menanggapi supaya umi tak cerita dulu masalah Zidan.
" dari mana emangnya kakak pulang sampai subuh".
__ADS_1
" itikaf ke masjid sama ustadz Yusuf". ucap Abi kemudian sekenanya.
" Alif ayo sini main sama kakek saja". ajak kakek agar Alif tak kecewa sebenarnya ia ingin bersama Zidan. Kakek langsung menggendong Alif di ajaknya ke belakang.
" Kirain kakak sakit umi tak biasanya kakak tidur jam segini". umi tersenyum saja namun bagi kia nampak aneh, wajah umi seperti menyembunyikan sesuatu. Namun kia tak ingin mendesak ia tak mau jika umi tak berbicara terlebih dahulu, mungkin emang pribadi sehingga umi tak bicara.
" masak apa umi" tanya kia melihat masakan uminya.
" ini umi bikin sate Madura kesukaan kakakmu, mau makan apa umi bikinin". ucap umi menawarkan.
" tak usah umi ini saja, kia ingin makan sate saja".
" kemana Hamdan ia tak ikut".
" tadi sedang lari pagi, kia pamit ke sini karena Alif minta ke sini sejak bangun tidur". ucap kia sembari memasukkan satu tusuk sate ke mulut nya.
" ayo habiskan umi bikin agak banyak nanti kamu bungkus di bawa pulang untuk Hamdan, Abah dan umi". itulah umi ia selalu membuat makanan dan dikirimkan kepada besannya. masakan umi memang sangat enak. Alif masih bermain bersama kakeknya, kia pamit Alif ia tinggal di rumah kakeknya.
__
bersambung
jangan lupa untuk tinggal kan jejak ya reader.
__ADS_1