
Bukan begini terus berusaha tersenyum untuk menutupi luka, berusaha bahagia untuk menutupi kesedihan.
______
Ustadz Yusuf sudah mengatur rencana Zidan untuk berta'aruf dengan Anisa anaknya ustadz Jefri, lulusan Kairo, seorang dosen di universitas ternama. Baru saja anisa lulus tahun ini dan ia langsung di jodohkan dengan Zidan. Paras cukup cantik, manis siapapun yang melihatnya pasti akan terpikat.
Keputusan yang Zidan ambil sudah final, ia mau berta'aruf menerima orang lain lagi dalam hatinya. Hanya Abi yang tau jika Zidan itu tak tulus untuk ta'aruf, masih ada dalam hatinya seorang Kiran. ia menyimpan cintanya berberapa tahun lamanya, kini di waktu yang sudah ia rencanakan semuanya tidak sesuai dengan harapan nya.
Zidan di pertemukan dengan Anisa hari ini, tak ada perasaan gugup sama sekali. Zidan tenang setenang air dalam ember, pikirannya masih teringat kiran. Abi mendesah melihat Zidan ia benar-benar tidak tulus untuk berta'aruf. Seperti biasa Zidan menunggu Kiran, tak seperti saat ia bertemu kiran. Ketika nama Kiran di sebut ataupun bertemu dengan nya, genderang jantung yang berdetak sangat kuat.
" Nak jangan gegabah ambil keputusan".
" iya Abi, insyaAlloh Zidan siap ".
" kamu tak tulus nak". ucap Abi sejak tadi melihat Zidan yang tenang, sangat tenang tapi tenangnya bukan tenang menerima ta'aruf ini tapi tenang dalam pikiran kosong.
" maafkan Zidan Abi, ini keputusan Zidan". Abi mendesah
" semoga kamu tak menyesal di kemudian hari". Abi hanya tak ingin anaknya menyesal, menikah dengan orang yang tidak di cintai pasti tak enak. menjalani hari-hari tanpa cinta itu sangat menyiksa, Abi teringat saat temannya bercerita jika ia tak bahagia meski di paksa kan cinta itu tak akan pernah bisa tumbuh.
Proses ta'aruf terlaksana, alangkah bahagia umi ketika ia melihat Anisa. anaknya saliha juga cantik sopan dan santun, tak jauh berbeda dengan Kiran.
" Silahkan kalian boleh melihat calon pasangan kalian sebentar". ucap ustadz Yusuf, Zidan biasa saja melihat Anisa ia hanya nyengir berbeda dengan Anisa yang gugup.
" tak boleh lama nanti adanya zina mata". ustadz Yusuf menggoda, Anisa menunduk malu. Berbeda dengan zidan hanya meringis ketika ustadz mencairkan suasana antara keduanya. Hanya Abi yang tau bagaimana Zidan sesungguhnya, ia tak tulus melakukan ta'aruf bahkan pikiran Zidan masih di penuhi oleh Kiran.
" Sudah sampai pada tahap saling bertemu, tinggal bagaimana mengambil keputusan. Bagaimana Zidan, nak Anisa silahkan kalian ambil keputusan bagaimana kelanjutan nya". Umi begitu bersemangat tapi tidak dengan Abi.
" Pertemuan untuk hari ini mungkin cukup sampai di sini, Zidan ambillah keputusan setelah kamu benar-benar mantap dengan keputusan mu".
__ADS_1
" Zidan akan meneruskan ta'aruf ini ustadz, bismillah".
" tak ingin berfikir dulu Zidan, mungkin mau shalat istikharah." ucap ustadz.
" tidak ustadz, Zidan akan mantapkan insyaAlloh". ustadz mengangguk.
" bagaimana dengan nak Anisa". Anisa Malu-malu hanya menunduk lalu mengangguk.
" Alhamdulillah jadi kita akan lanjut, baru sekali pandang saja mereka sudah menerima satu sama lain" . ustadz Yusuf senang bisa langsung melanjutkan proses ta'aruf.
Umi tampak bahagia kini Zidan akan segera menikah meskipun bukan dengan yang tidak ia cintai. Abi melihat raut wajah yang berbeda dengan Zidan, terlihat berfikir namun entah kemana pikiran nya itu.
Pertemuan sudah selesai mereka pulang.
_
" sudah hampir satu Minggu ini Zidan bekerja lembur terus" ucap Tomi yang masih fokus menyetujui mengantar Kiran terlebih dahulu.
" lembur, memang terlalu banyak kah pekerjaan kak Zidan hingga lembur". Kiran bertanya untuk memastikan.
" Pekerjaan kita sebenarnya seperti biasa, bisa di lakukan besok lagi. ada apa dengan nya ya, tau ngga dek kenapa dengan Zidan. ia selalu berangkat lebih pagi dan pulang hingga larut". ucap Tomi.
Kiran menggeleng, miris perih hati Kiran mendengar penjelasan itu. Kiran merasa sangat bersalah semua karenanya.
" ia tak mau terbuka kali ini, ". Tomi mendesah selama bertahun-tahun bekerja bersama Zidan baru kali ini ia melihat Zidan seperti tak terarah. Kiran hanya diam mendengarkan Tomi berbicara, rasanya sesak sekali dada Kiran.
Setelah menurunkan Kiran Tomi langsung beranjak pulang tak sabar juga ia bertemu dengan istrinya. Semenjak hamil Yara sangat sensitif sekali, cemburuan, curigaan, Tomi berusaha untuk menuruti kemauan istri agar ia tak ngambek. kalau sudah ngambek Yara tak akan pernah mau membukakan pintu untuk Tomi. Ujian lagi ya Tomi sabar....
Sepulang dari kantor Kiran hanya merenung di kamarnya, melihat Zidan yang benar-benar tak mau bertatap muka dengan nya membuat Kiran sedih. dulu Zidan sangat perhatian dengannya, tapi kini menghindari lebih baik untuk hatinya.
__ADS_1
" Ibu tau nak kamu mencintai nak Zidan kan". ucap ibu panti masuk ke kamar Kiran. semenjak kejadian itu Kiran lebih sering mengurung dirinya di kamar.
" ibu cinta tak harus memiliki ibu, tidak apa Kiran akan tetap menikah dengan bang Tedy"
" Kita masih punya waktu untuk membatalkan semuanya nak". ucap ibu merasa sedih melihat Kiran yang hanya pura-pura bahagia di depan ibu dan anak-anak.
" tidak ibu, kita tak boleh mengingkari janji. itukan yang selalu ibu ajarkan pada Kiran". ucap Kiran tersenyum kepada ibu menyembunyikan lukanya.
" iya tapi ini untuk hidup mu nak, masa depan mu". terang ibu lagi berharap Kiran mau berubah pikiran.
" tak ada yang tau Bu masa depan kita nanti bagaimana, bismillah semoga Allah memberi kemudahan dan kebahagiaan untuk masa depan Kiran juga adik-adik panti". ibu panti mendesah sudah beberapa kali ia membujuk Kiran tapi tetap saja Kiran tak mau.
" Ibu sangat berharap kehidupan mu juga anak-anak panti akan bahagia selalu, sekarang ataupun masa depan nanti. Bukan begini terus berusaha tersenyum untuk menutupi luka, berusaha bahagia untuk menutupi kesedihan. Ibu sedih jika kalian juga bersedih". Kiran tersenyum memegang tangan ibu panti.
" Doakan saja Kiran Bu, semoga Allah selalu memberikan kebahagiaan untuk Kiran juga adik-adik".
" itu selalu nak, ibu selalu mendoakan kalian. Kita belum mengenal siapa Tedy nak, seperti nya ia ..." ibu menggantungkan kata-katanya penuh kecurigaan dengan Tedy.
" ibu kita tak boleh berprasangka buruk, Kiran selalu ingat jika yang baik pasti akan mendapatkan yang baik pula. Jika memang bang Tedy itu jodoh Kiran, mungkin memang Kiran pantas mendapatkan suami yang seperti itu". Kiran lalu memeluk ibu dengan erat, ia menenangkan ibu tak ingin membuat nya khawatir.
Ibu seseorang yang lemah lembut ia tak mau jika anak-anak nya tak bahagia apalagi ada yang menyakiti.
___
bersambung
Tolong bantu othor berikan hadiah sebanyak-banyaknya.
trimakasih
__ADS_1