Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 32 #desak hamdan


__ADS_3

tak usah membuat cerita yang memaksa kami untuk bersatu semuanya sudah jelas Kiran sudah ada yang mengkhitbah dan dalam ajaran agama itu tidak boleh jika orang lain mengkhitbah nya lagi


_


Tomi dan Hamdan banyak berbincang membicarakan rencana mereka untuk Kiran dan Zidan. Mereka harus secepatnya turun tangan agar tak menyesal di kemudian hari. meski percaya semua sudah di atur oleh pencipta namun kita di wajibkan untuk tetap berusaha.


" panggilkan Kiran aku mau bicara".


" mau bicara apa Hamdan kamu jangan macam-macam aku tak tega melihat Kiran ". Tomi meski punya sifat yang keras cepat emosi dan marah tapi ia penyayang, tak tegaan sama orang yang ia sayangi.


" aku mau dengar langsung dari mulut Kiran jika ia juga mencintai Zidan. ". ucap Hamdan.


" iya betul seperti apa yang ibu panti katakan jika Kiran sebenarnya juga mencintai zidan". Tomi keluar meminta Kiran untuk masuk.


" iya kak ada apa ". setelah Kiran masuk ia berhadapan dengan Hamdan langsung.


" sini dulu Kiran duduk kakak mau bicara sama kamu". pinta Hamdan lembut, Kiran pun langsung duduk namun masih tetap jika ia gelisah.


" apa yang harus Kiran kerjakan lagi kak ". tanya Kiran ia hanya mengalihkan pembicaraan dengan sengaja.


" iya ada, cukup kamu duduk di sini dan jawab semua pertanyaan kakak jangan kamu tutupi sedikit pun itupun jika kamu masih menganggap kami itu kakakmu. deg dada Kiran sudah mulai sesak, ia merasa sangat bersalah menyembunyikan kebenaran nya.


" siapa yang mengkhitbah mu dek" Kiran mendongak melihat ke arah Hamdan netranya bertemu.


" kak maafin Kiran, Kiran tak cerita sama kakak". ucap Kiran kemudian matanya sudah mulai berembun.


" kakak tanya siapa yang mengkhitbah mu".


" Tedy kak ia sudah mengkhitbah Kiran". Kiran mengucapkan nya dengan gugup.


" kamu terima". Kiran mengangguk.


" lalu dengan Zidan". Kiran tak bisa menjawab tenggorokan nya tercekat jatuhlah buliran air mata..


" maaf kak". Hamdan dan Tomi tak tega melihat Kiran menangis di hadapan mereka. namun mereka harus menguatkan supaya tak ada lagi kesalah pahaman.

__ADS_1


" kakak tanya kamu jawab dengan jujur ya, gimana perasaan mu dengan Zidan". Hamdan berusaha lembut ia tak ingin Kiran tertekan.


" Kiran..." Kiran tak bisa melanjutkan kata-katanya ia menangis mengingat Zidan saat datang mengkhitbah nya dengan harapan penuh di terima oleh kiran karena perjuangan nya beberapa tahun menunggu Kiran.


" kamu mencintai Zidan". Kiran semakin terisak ia menutup wajahnya dengan kedua tangannya.


" tangismu adalah bukti jika kamu mencintai Zidan, katakan pada kakak Kiran Jika kamu mencintai Zidan". Hamdan menekan suaranya. Tomi tak tega ia lalu mengusap kepala Kiran.


" dek katakan yang sebenarnya kami sudah tau semuanya jika kamu mau menikah dengan Tedy itu karena panti dan anak-anak kan". ucap Tomi kemudian. Kiran kembali mengangguk ia belum bisa mengatakan sesuatu.


" lihat mata kakak kiran". Kiran dengan perlahan kemudian menatap ke arah Hamdan. Hamdan menahan sesak dada nya ia juga tak tega melihat Kiran menangis.


" katakan pada kakak jika kamu mencintai Zidan". suara Hamdan kini lirih sembari menatap Kiran yang juga menatapnya.


" Kiran...hiks..hiks... Kiran mencintai kak Zidan kak". tangis Kiran pecah ia menutup seluruh wajahnya menggunakan tangannya, di situ Tomi merekam pernyataan Kiran. Hamdan pun menjatuhkan buliran air mata ia tak tega melihat Kiran. Hamdan lalu menghapusnya ia tak mau jika Kiran tau jika ia menangis.


" sebelum semuanya terlambat batalkan pernikahan mu dengan Tedy itu dek, kakak akan membayar harga tanah nya berapapun". ucap Hamdan sembari mengusap kepala kiran.


" Kiran tak bisa kak, Kiran sudah membuat perjanjian dengan nya hitam di atas putih. Taruhannya adalah adik-adik panti kak, Kiran tak mungkin membuatnya terlantar."


" mereka tak akan terlantar kita akan mengurusnya bersama".


" astaghfirullah... "Hamdan frustrasi ia mengusap wajahnya dengan kasar.


" maafkan Kiran kak maaf".


" dari dulu kakak selalu bilang denganmu Kiran katakan semuanya jika ada sesuatu, terbukalah dengan kakak jangan kamu tanggung semuanya begini dek". Kiran malah semakin terisak. ia menyesal tapi semuanya sudah tak ada artinya lagi, semua sudah terjadi.


" Sudah berhentilah menangis kakak akan coba perjuangkan untuk kalian".


" tidak kak biarkan Kiran menjalani nya, janagn halangi kak Zidan menikah dengan pilihannya"


" ia sudah memilihmu sejak awal tapi apa kamu mengecewakan nya, bukan pilihan nya tapi hanya pelarian karena kamu menolaknya. kamu lihat kan sekarang hari-harinya hanya di penuhi dengan pekerjaan". ucap Hamdan.


" zidan siang dan malam hanya pekerjaan yang ia lakukan".

__ADS_1


" di mana sekarang zidan, tom tolong panggilkan Zidan". pinta Hamdan lalu Tomi berlalu ke ruangan Zidan.


" masih sibuk bro, Hamdan ingin bicara". ucap Tomi , Zidan pun mengerutkan keningnya ia bingung.


" kenapa ia tak langsung datang ke ruangan ku"


" tadi ada perlu denganku"


" baiklah tunggu sebentar". Zidan lalu menutup laptopnya. Tomi pergi lebih dulu kemudian Zidan menyusul iapun tak curiga dengan gelagat Tomi. Zidan masuk di tatapnya Hamdan lalu matanya mengarah kepada Kiran ia menghela nafas kasar, Kiran masih dalam keadaan tertunduk.


" kamu memanggilku".


" iya kakak ipar ada yang penting". Zidan mengerutkan keningnya.


" cepat katakan aku masih banyak sekali pekerjaan". ucap Zidan ia tak peduli dengan Kiran di sampingnya. Tomi memutar rekaman pernyataan bahwa ia mencintai Zidan seketika Zidan mendongak ke arah suara, Kiran masih tertunduk ia sangat malu.


" jangan memaksakan kehendak orang lain tom". Zidan seolah tak peduli dengan bukti rekaman itu. sebenarnya wajah Zidan terlihat pucat ia tak makan siang dan sejak pagi hanya terisi beberapa suap nasi saja, nafsu makannya beberapa hari telah hilang.


" kenapa tidak kamu perjuangkan justru mencari pelarian lain". ungkap Hamdan kepada kakak iparnya.


" maaf Hamdan di sini adalah kantor yang kita bicarakan seharusnya pekerjaan bukan masalah hati". ucap Zidan.


" kakak ipar dia juga mencintai mu perjuangkan lah". ucap Hamdan.


" maaf aku tak punya waktu untuk ini". Zidan ingin keluar sebenarnya ia tak tega melihat Kiran yang menunduk sejak tadi bahkan matanya sembab.


"pikirkanlah baik-baik zidan masih ada waktu sebelum janur kuning kalian sama-sama melengkung,".


" sudahlah Hamdan tak perlu kamu memaksa Kiran ia sudah dengan pilihannya".


" ia melakukannya karena terpaksa demi panti dan anak-anak". seketika Zidan langsung menoleh ke arah Kiran, Kiran masih terisak.


" apa yang kamu katakan, tak usah membuat cerita yang memaksa kami untuk bersatu semuanya sudah jelas Kiran sudah ada yang mengkhitbah dan dalam ajaran agama itu tidak boleh jika orang lain mengkhitbah nya lagi". Zidan lalu beranjak pergi dari ruangan Tomi.


" aku permisi tak ada yang urgent dan di bicarakan lagi". Zidan menuju pintu dan tiba-tiba bugh...

__ADS_1


_


bersambung


__ADS_2