Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 14 #kecemburuan tomi


__ADS_3

Hari ini Aurel sudah di perbolehkan pulang, Zidan izin akan berangkat siang ke kantor. Zidan menyuruh Kiran untuk tidak masuk kerja dulu biar Kiran istirahat.


" terima kasih ya nak Zidan". ucap ibu panti setelah mengantar Aurel sampai panti.


" iya ibu sama-sama, Zidan pamit pulang ya Bu mau ke kantor ".


" iya hati-hati nak". ibu panti tersenyum mengantar Zidan hingga depan.


Di jalan Zidan tersenyum sendiri mengingat semalaman ia bisa menemani Kiran. hatinya bener-bener sudah terpaut oleh Kiran.


Zidan berangkat ke kantor di siang hari, sebenarnya ia ngantuk semalam tak bisa tidur sesekali ia menengok Kiran dan Aurel ke dalam. Untung saja berkas kantor hari ini tak begitu banyak, Zidan tidur ia letakkan kepalanya di meja baru kali ini ia tidur di kantor. Tomi mengetuk pintu beberapa kali tak di jawab lalu ia masuk melihat Zidan sedang tidur tapi Tomi bukan mengiranya tidur takut jika Zidan pingsan.


" Zidan bangun Zidan bangun ya Allah kamu kenapa". Tomi panik, Zidan akhirnya menggeliat merasa terganggu.


" kenapa sih tom pekerjaan ku tak begitu banyak aku ngantuk sekali".


" ya ampun ngapain kamu tidur di kantor gini kirain tadi kamu pingsan, habis begadang semalam telepon cewek yang mana sih". umpat Tomi.


" semalam aku temani Kiran di rumah sakit tom, Aurel masuk rumah sakit". Tomi terkejut ia tidak tau.


" innalilahi kenapa kamu tak hubungi aku, terus gimana keadaan nya sekarang".


" sudah pulang tadi pagi hanya kelelahan saja"


" syukurlah kalau begitu, kasihan anak itu masih kecil di beri ujian sakit yang teramat". ucap tomi.


" iya Aurel anak yang kuat, ngapain kamu ke ruangan aku". tanya Zidan.


" ini berkas dari papa nya Yara kamu tolong berikan ke orang nya , aku malu Zidan. "


" kenapa mesti malu tom sama calon mertua sendiri"


" tolonglah Zidan tak mungkin aku memerintah calon mertuaku tak enak hatilah, kamu kan rekan kerjaku akan lebih afdol jika kamu yang melakukannya". Tomi merajuk supaya Zidan mau.

__ADS_1


" kamu ini menyusahkan ku saja". keluh Zidan ia meskipun ngomel masih mau membantu Tomi.


" thanks brother ku doakan kamu lekas dapat jodoh"


" aamiin" senyum Zidan memgembang ia senang jika ada yang mendoakan. Zidan lalu mencari pak Ahmad ke tempat kerjanya ia tak enak hati jika menyuruh untuk datang ke ruangan nya. pak Ahmad dengan senang hati mengerjakan pekerjaannya kini kerjasama yang baik sedsng berjalan.


" kenapa pak Zidan antarkan ke sini tak panggil saya saja*.


" jangan panggil pak dong pak Ahmad kesannya saya terlihat tua, panggil nama saja pak apalagi sebentar lagi bapak jadi mertua teman saya" pak Ahmad tersenyum ia senang ternyata bos di sini ramah dan baik-baik orang nya sangat hormat kepada orang yang lebih tua meskipun bawahan mereka.


" baiklah nak zidan, panggilan itu sepertinya lebih pantas". Zidan tersenyum kemudian ia pamit kembali ke ruangan nya.


" jadi bapak ini calon mertua pak Tomi, kenapa bapak harus di tes dulu tak langsung di terima saja". ucap Jay salah satu pekerja.


" aku masuk ke sini Tomi belum tau, bapak juga ngga tau jika nak Tomi bekerja di sini jadi bapak sesuai aturan yang berlaku masuk ke perusahaan ini. Nak Tomi baru tau kemarin saat bapak mengantarkan berkas ke ruangannya". jelas pak Ahmad


" oh begitu, Alhamdulillah pak bapak dapat menantu yang baik jujur pak Tomi bekerja nya sangat profesional dan ia baik sama kita-kita." ucap Jay mengatakan yang sebenarnya.


" jadi Tomi anak yang baik ya".


" siapa Kiran".


" yang membantu pekerjaan mereka, tidak masuk dalam daftar karyawan".


" kok gitu".


" iya Kiran itu mereka anggap adiknya, bos Hamdan yang meminta Kiran bekerja di sini. Kiran itu masih kuliah dan ia anak panti". pak Ahmad mengangguk kemudian ia kembali bekerja.


Pak Ahmad penasaran dengan nama Kiran, ia ingin mencari tau sendiri. pak Ahmad tak mau nasibnya seperti Yara yang di selingkuhi, untung mereka belum menikah.


Zidan masuk ke ruangan Tomi mengajaknya berangkat meeting kali ini di kafe milik Hamdan, Tomi senang karena di sana ada calon istrinya.


" tom ayo berangkat keburu siang" ajak Zidan.

__ADS_1


" iya sebentar". Tomi merapikan baju jas rambut, ia buat serapi mungkin seperti biasa tapi bukan untuk tebar pesona namun ia bertemu dengan Yara calon istrinya.


" udah ngga usah keren-keren kamu sudah keren, apalagi sudah laku itu tandanya kamu tampan.". ucap Zidan tanpa memikirkan ucapan nya.


" oh ya, berarti kamu tak tampan dong karena tak laku-laku ".


" asem.... Tomi" Tomi tertawa ngakak.


" kamu sendiri yang bilang" Zidan memukul kan berkas yang ada di tangannya Tomi mengaduh.


Mereka berjalan bersama menuju kafe rekan kerja sudah menunggu namun Tomi mendapati Yara sedang asyik mengobrol dengan laki-laki. Tomi ingin menghampiri namun tidak jadi karena rekan bisnis yang mengajaknya meeting hari ini sudah datang.


" fokus Tomi jangan berfikir macam-macam sebelum ada penjelasan dari Yara". bisik Zidan kemudian Tomi berusaha untuk fokus.


Zidan dan Tomi naik ke atas ke ruangan VVIP, yah di kafe itu si lengkapi ruangan terbaik untuk kepentingan privat.


Meeting sudah selesai sementara Tomi melihat Yara masih bersama lelaki yang tadi bahkan mereka tertawa lepas.


" Tom jangan gegabah sebelum ada penjelasan dari Yara, turunkan emosimu. tarik napas hembuskan pelan awas bocor belakang". ucap Zidan sembari terkekeh, Tomi mendelik rasanya ingin menjitak kepala Zidan. Zidan mengikuti langkah Tomi takut temannya itu tak mengontrol emosi nya di tempat umum malu kan mereka masih berpakaian rapi.


" Hay tom kak Zidan, sini gabung dengan kami" ucap Yara, namun mata Tomi mendelik ke arah laki-laki itu. Yara tau jika Tomi menyimpan rasa kesal.


" kak kenalkan ini Tomi calon suamiku dan ini rekan kerjanya kak Zidan". ucap Yara, Tomi melihat ke arah Yara meyakinkan melihat ketidak bohongan Yara.


" Hay aku Ega kakak sepupu Yara". ia mengulurkan tangan langsung di sambut oleh zidan kemudian Tomi mengikuti.


" datang ya kak kami akan menikah lusa insyaAlloh". ucap Yara.


" pasti Yara aku akan datang sama papa dan mama, om Bonar juga sudah menelepon kami". Yara tersenyum akhirnya Tomi juga bisa tersenyum.


" maaf kakak harus pergi, aku senang bisa bertemu dengan mu di sini . kakak pamit ya kita bertemu esok di pernikahan kalian". Ega pergi Tomi menghela nafas membuat Zidan tertawa.


___

__ADS_1


bersambung


__ADS_2