
Zidan masih sibuk di depan cermin meski matanya yang sembab sudah sedikit normal tapi masih kelihatan seperti orang kurang tidur, ya benar dua hari ini Zidan sangat sulit untuk tidur. ia mencoba dengan gaya biasa nanti saat di kantor ketemu dengan Kiran, sampai kaca di ajaknya bicara. Jika Zidan tau kaca geleng-geleng melihat Zidan sejak tadi tak beranjak dari kaca.
" memang cinta itu bisa membuat gila, tapi Zidan itu tak gila hanya gendeng wkwkwk". ucap kaca yang masih terus di pelototi Zidan.
Hampir satu jam umi dan Abi yang menunggu di meja makan sampai pegal, mereka memang kebiasaan untuk makan bersama saat anggota keluarga lengkap di rumah. Zidan keluar sudah rapi ia akan berangkat ke kantor.
" lama sekali Zidan kamu ". desah Abi perutnya sudah keroncongan mereka biasa sarapan pagi.
" maaf umi masih ngerapihin jas".
" ya udah ayo sarapan nanti kamu terlambat, meskipun sebagai atasan kamu tak boleh memberi contoh tak baik". ucap umi.
" iya umi terimakasih nasehatnya selalu untuk Zidan, umi memang yang terbaik untuk Zidan". Zidan menyunggingkan senyumnya mencoba menstabilkan dirinya yang hancur.
" kalau bukan umi tak ada kamu"
" salah umi kalau tak ada Abi tak akan ada Zidan dan kia".
" isshhh... berebut kalau tidak ada kalian pasti tak ada Zidan emang bisa sendiri". umi dan Abi nyengir, umi menunduk malu-malu anaknya menggodanya.
" sudah baik hatinya, sudah siap ketemu Kiran di kantor". tanya Abi kemudian.
" insyaAlloh Abi, zidan tak mungkin menghindari Kiran. bukankah hidup akan tetap terus berjalan Abi, tak akan berhenti kecuali kematian. ustadz Yusuf bilang jika lelahnya kita memang dunia nanti istirahat nya jika sudah di surga". ucap Zidan menirukan gaya ustadz Yusuf bicara.
" baiklah kalau begitu tetap fokus, yang lalu biarlah berlalu Zidan. Abi tau anak Abi pasti bisa dan kuat menghadapi ujian nya penulis". Abi menyinggung penulis pula, penulis tiarap di bawah bantal.
" iya abi doakan Zidan anakmu yang tampan dan rupawan ini". umi terkekeh mendengar bualan Zidan.
_
Zidan mengembuskan nafas kasar agar dadanya tak sesak jika ketemu dengan Kiran, ia tak tau Kiran ke kantor atau ke kampus. Berjalan tegap gagah masuk ke kantor tanpa menoleh ke kanan dan kiri, ternyata ia masih gugup jantungnya berdetak hebat padahal belum ada Kiran di sana. entah apa yang membuatnya takut untuk bertatap mata dengan Kiran.
" Meeting sebentar yuk ada yang harus kita bahas pagi ini". Tomi menghampiri ia lebih rajin setelah menikah, datang selalu pagi.
" okey langsung ke ruangan meeting saja."
__ADS_1
" Kiran tak datang bersama mu"
" tidak aku dari rumah".
" Kiran tadi mengirim pesan ke saya pak badannya sedang tidak enak ia izin tak masuk". ucap Risa yang duduk di samping Kiran. deg hati Zidan bergetar ketika nama Kiran di sebutkan dan di kabarkan sakit.
" sakit apa dia". tanya Zidan langsung.
" tak tau pak, apa tak kirim pesan sama bapak biasanya ia dekat dengan bapak". ucap Risa yang tau jika Kiran memang dekat dengan keduanya.
" oh aku belum buka pesan". Zidan tetap tidak tega ketika diberi kabar jika Kiran sakit. Kini pikiran Zidan kembali kepada Kiran lagi, meeting tapi pikiran nya tak ada di situ.
" Zidan gimana pendapat mu". Zidan diam ia tak mengeluarkan suara.
" hey brother Zidan". Tomi menepuk bahu Zidan.
" iya ya bagus aku setuju." Tomi mendesah Zidan benar tak fokus.
" baiklah rapat kita tutup untuk sementara hasil dari rapat ini dulu kita lanjutkan esok". karyawan mengangguk lalu mereka keluar.
" tak apa, aku dua malam kurang tidur jadi tak fokus".
" kalau merasa sakit sebaiknya kamu istirahat saja".
" aku tak sakit hanya hati dan pikiran ku saja yang sakit". ucap Zidan keceplosan.
" katakan padaku ada apa". desak Tomi.
" tidak apa-apa". ucap Zidan lagi.
" ya sudah jika kamu tak mau bicara kepada ku, nikmati sendiri saja". Tomi langsung keluar ruangan menuju ruangannya.
Zidan khawatir dengan Kiran ia langsung mengirimkan pesan kepada kafe Hamdan agar mengirimkan makanan untuk Kiran.
_
__ADS_1
" nak masih pusing". tanya ibu panti melihat Kiran tak beranjak dari kamar sejak tadi.
" sedikit umi, biar Kiran istirahat dulu ya umi". ucap Kiran kepalanya benar-benar berat karena dua hari ini ia menangis saja.
" ya sudah kamu istirahat saja." ucap ibu panti lalu keluar.
" ibu ini ada kiriman makanan untuk kak Kiran". ucap Aurel sembari menenteng plastik.
" dari siapa nak". tanya ibu panti.
" katanya untuk kak Kiran dan ia enggan menyebutkan namanya". kemudian ibu panti masuk ke kamar Kiran untuk memberikan bungkusan itu. sudah dua hari Kiran hanya makan sedikit saja ia sangat tak berselera.
" Kiran nak ini ada makanan untuk mu ada seseorang yang mengirimkan nya". ibu panti meletakkan di meja dekat ranjang. Kiran bangun dengan lemah.
" dari siapa umi".
" pengirimnya tak menyebutkan namanya katanya untuk mu". di bukanya bingkisan itu dan di dalamnya ada tulisan ' untuk Kiran semoga lekas sembuh'.
ada ayam bakar dengan sayur asam juga ada minuman boba kesukaan Kiran. Kiran tersenyum ia yakin jika ini kiriman dari Zidan, Kiran senang dan tersenyum ia lalu memakannya sampai habis.
" terima kasih kak meski kamu marah padaku tapi kakak masih sangat memperhatikan Kiran. begitu dalam luka yang sudah Kiran torehkan, maaf." gumam Kiran.
Setelah selesai lalu ia mengambil handphone nya di ketiknya pesan untuk Zidan.
' Terima kasih banyak kak untuk kirimannya sudah Kiran habiskan tanpa tersisa, Kiran benar-benar minta maaf kak". di kirimkan nya pesan berupa foto jika makanan yang dikirim kan Zidan sudah habis. Ternyata meskipun tak ada namanya Kiran tau jika itu yang mengirimkan nya.
Zidan melihat ada notifikasi pesan yang masuk ia tersenyum senang namun tak membalasnya. Ini hanya bentuk peduli saja kepada Kiran, ia sudah tak mau membalas pesannya. Kiran sudah di khitbah oleh orang lain memang seharusnya Zidan menghindari dan mundur.
Di tunggu nya balasan dari Zidan tapi tak kunjung datang, perih rasanya hati kiran begini rasanya sakit hati jika di abaikan. Kiran lalu merebahkan tubuhnya kembali di lihatnya ponsel atas kebersamaan dirinya dan kakak-kakak nya juga ada Zidan di situ.
" kak apa kamu benar-benar marah dengan Kiran, maafkan Kiran ya kak. Kiran harus berkorban demi panti ini yang telah membesarkan Kiran, demi ibu juga adik-adik". gumam Kiran memandangi foto Zidan yang sedang tertawa lepas.
__
bersambung
__ADS_1