Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 29 #mulai menyelidiki


__ADS_3

Kamu tidak bersalah itu hak kamu, aku hanya sedang mengobati luka hatiku yang aku buat sendiri.


______


Seperti biasa kegiatan Zidan pergi ke kantor pagi sekali dan pulang larut malam. Kiran memesan taksi ia juga ingin berangkat pagi untuk menemui zidan karena Kiran khawatir. Sesampainya di kantor Kiran melihat mobil Zidan sudah terparkir di sana, belum ada banyak karyawan juga datang hanya OB dan security saja. Kiran mengetuk pintu Zidan sebelum masuk ke ruangan nya. Zidan terkejut ada yang mengetuk pintunya, namun ia berfikir jika itu adalah OB.


" masuk.." Zidan masih memeriksa berkasnya.


" kak..." suara Kiran tercekat ketika Zidan mengangkat kepala untuk memandangnya. Zidan juga kaget melihat Kiran sepagi ini sudah ada di kantor.


" ada perlu apa Kiran ini masih pagi kamu sudah berangkat, apa ada pekerjaan mu yang serius". tanya Zidan masih melotot ke arah Kiran.


" Kiran minta maaf kak". ucap Kiran matanya sudah mulai berembun.


" Maaf untuk apa kamu tidak salah ngga ada yang perlu di maafkan Kiran, sudahlah lupakan saja anggap kemarin itu hanya mimpi saja".


" Kiran khawatir jika kakak sakit, kakak berangkat sepagi ini dan pulang larut malam". ucap Kiran berharap Zidan mau menatapnya kembali.


" Aku hanya bekerja tidak ada hal lain tak perlu kau peduli kan aku". perih hati Kiran mendengar ucapan Zidan yang tidak lagi menyematkan kata kakak tapi aku.


" Kiran minta maaf kak". Kiran sudah tak sanggup lagi menahan tangisnya, akhirnya buliran air mata itu jatuh. berkali-kali ia mengucapkan kata maaf.


" Tolong jangan menangis di hadapan ku Kiran, keluarlah tak ada yang perlu kita bicarakan lagi. kamu tidak salah kakak saja yang terlalu yakin jika kamu akan menerima khitbah kakak ternyata kakak salah kamu lebih memilih laki-laki lain. Kamu tidak bersalah itu hak kamu, aku hanya sedang mengobati luka hatiku yang aku buat sendiri". Suara Zidan tercekat ia menahan tangis.


Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata dan telinga yang mendengar dan melihat keduanya dalam keadaan sama-sama sedih. Tomi memang datang lebih pagi seperti yang mereka rencanakan bahwa Tomi akan menyelidiki dengan jalur kantor, kebetulan juga saat itu Kiran datang dan ia tak menutup pintu karena tau tak ada siapa pun di sana. Tomi terkejut mendengar percakapan mereka berdua.

__ADS_1


Brugh...


Tomi berbalik akan pergi setelah ia tau informasi yang akurat, ia menabrak OB yang sedang berjalan. Tomi meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya meminta agar OB tak menyuarakan namanya, Tomi berlari kecil masuk ke ruangan nya.


Zidan dan Kiran yang mendengar suara itu mereka langsung keluar takut jika ada yang mendengar percakapan mereka, OB sedang memunguti alat pel dan embernya yang jatuh.


" ada apa Agus". tanya Zidan


" maaf pak saya terpeleset di sini ternyata masih licin, permisi pak saya mau membersihkan ruangan sebelah" Zidan dan Kiran lega ternyata tidak ada yang mendengar percakapan mereka, Zidan lalu masuk lagi membiarkan Kiran berdiri mematung di sana lalu Zidan menutup pintunya.


Di dalam tanpa di ketahui siapapun Zidan merasakan pedih yang teramat ia menangis. Kiran kembali ke pekerjaan nya meski hatinya masih merasa pedih tapi ia tetap bekerja.


Tomi mengirim pesan kepada Hamdan ia ingin bertemu, lalu Hamdan membalas jika siang ini bertemu di kafe. Tomi tak menyangka jika masalah Zidan kali ini adalah Kiran, dulu Tomi mengira jika Zidan itu sama menganggap Kiran sebagai adik ternyata perhatian nya hingga ke hati menumbuhkan cinta. Seperti yang Tomi liat tadi Kiran juga sepertinya mencintai zidan, tapi entah Tomi bahkan tak tau siapa yang sudah mengkhitbah Kiran. kiran sama sekali tidak cerita itu membuat Tomi kecewa.


Ada meeting Zidan dan Tomi jalan bersamaan menuju ruangan meeting, namun Tomi mengajak Kiran untuk ikut.


" maaf kak tak usah biar Kiran selesaikan pekerjaan Kiran saja" namun Tomi menarik tangan Kiran agar ia ikut. Tomi sengaja ia ingin tau reaksi Zidan, tapi Zidan hanya diam saja.


Semuanya fokus pada meeting, Zidan menerangkan poin-poin yang penting tatapannya fokus kepada para karyawan dan kini bertemu dengan netra Kiran. limbung Zidan merasa pusing, entah ia hilang fokus. ucapan demi ucapan Kiran terngiang di kepalanya, Tomi sejak tadi fokus memperhatikan keduanya. Akhirnya Zidan berhenti menerangkan ia serahkan pada Tomi, Tomi tau kenapa Zidan begitu. meeting berjalan lancar saat sudah selesai Zidan keluar lebih dulu.


Tomi yakin apa yang ia dengar sejak tadi pagi benar adanya, jika Zidan berada dalam fase nyesek.


" Dek kamu makan siang sama Zidan ya kakak ada perlu keluar sebentar, makan siang di luar ketemu teman kakak". ucap Tomi agar tak kelihatan seolah ia tak tau masalah Kiran dan Zidan.


" iya kak tak apa". karena biasanya Kiran makan bersama Tomi.

__ADS_1


Kiran sudah tak berani lagi menemui Zidan, sikap Zidan sangat terlihat jika ia menghindari Kiran. Kiran siang itu hanya makan satu potong roti saja yang masih tersisa di tas nya. ia tak pergi kemanapun untuk makan siang, Zidan makan siang di kantin ia juga tak tau jika Kiran siang itu tak makan.


Setelah shalat Zuhur Kiran fokus lagi dengan pekerjaannya, ia pun tak melihat Zidan berlalu melewati nya. Tedy malam ini akan datang, ia memenuhi janjinya untuk memperlihatkan sertifikat yang ia telah buat atas nama Kiran. Tedy sering mengirim pesan untuk Kiran tapi tak pernah Kiran peduli kan.


Kembali fokus Kiran hilang hari pernikahannya semakin dekat, karena tak perlu menunggu Kiran wisuda.


_


Hamdan sudah duduk menunggu Tomi datang, ia sudah menghabiskan satu gelas jusnya. Tomi datang dengan sedikit tergesa kali ini ia kena macet bikin kesal saja.


" Sudah pegel aku tungguin kamu, lama bener sih." kesal Hamdan.


" sory bro aku kena macet tadi".


" Cepat aku ada urusan penting mau ketemu klien dengan Mr jack".


" iya ya, titik masalah nya Kiran menolak khitbah Zidan. dan terkejutnya lagi Kiran sudah ada yang mengkhitbah dan ia menerimanya.". Hamdan membelalakkan mata seperti tak percaya, Kiran bahkan tidak cerita kepadanya.


" serius kamu tom, kenpa Kiran tak cerita dengan kita ia sudah ada yang mengkhitbah". Hamdan makin penasaran.


" nah itu yang harus kita cari tau, siapa yang mengkhitbah Kiran dan kenapa Kiran tidak cerita dengan kita. Terkejut nya lagi aku lihat Kiran juga mencintai Zidan".


" lalu apa yang harus kita lakukan".


" terus menyelidiki sampai kita tau, tugas ku ke panti bertanya ke ibu panti dan kamu ke mertuamu. aku tak tega melihat mereka cinta namun tak bisa memiliki". Hamdan setuju mereka hanya bertemu sebentar kemudian balik ke aktivitas nya masing-masing.

__ADS_1


____


bersambung


__ADS_2