
Jam kantor sudah selesai saatnya pulang, Kiran akan langsung pulang namun security memberi tau jika sopir tidak bisa mengantar Kiran masih ada pekerjaan lain. Zidan yang mendengarnya langsung menghampiri Kiran yang sibuk mencari handphone nya, ia akan memanggil taksi.
" kakak antar saja Kiran".
" Kiran naik taksi saja tidak apa-apa kak". jawab Kiran sambil nyengir
" jangan, ingat kata Hamdan kamu tak boleh pulang sendirian nanti kakak bisa kena marah kalau Hamdan tau kamu pulang sendirian". Zidan ngeles.
" kak Hamdan kan ngga tau".
" udah ayo bareng kakak jangan bandel". Zidan tanpa sengaja menarik tangan Kiran namun mereka tidak bersentuhan kulit, Zidan memegang lengan Kiran yang terbalut baju.
Akhirnya Kiran menurut ia di antar oleh Zidan namun semenjak setahun terakhir Kiran tidak duduk di kursi depan namun belakangan hanya pada Zidan kalau pada yang lain misal Tomi Kiran duduk di depan.
Sesampainya di panti kebetulan Zidan tak langsung pulang ia menemui anak-anak yang sedang bermain bola. Kiran menelusuri panti mencari keberadaan ibu panti, namun tak ada. lalu Kiran keluar menemui anak-anak yang sedang bermain bola.
" dek ibu panti ke mana ". tanya Kiran.
" ke rumah sakit kak, tadi Aurel pingsan". Zidan langsung mendongak kan kepalanya mendengar Aurel pingsan.
" innalilahi Aurel sakit, ada di rumah sakit mana".
" ngga tau kak". Kiran panik ia bingung.
" ayo cepat kita cari Aurel Kiran, kemungkinan ada di rumah sakit tempat kak Azzam bekerja." Kiran mengangguk langsung masuk ke dalam mengambil tas nya. Dari awal penyakit Aurel Azzam yang menanganinya, jadi Azzam tau bagaimana perkembangan Aurel.
" jangan menangis Kiran, Aurel itu anak yang kuat. kasihan Aurel jika ia tau kamu menangis begini. hapus air matamu ya". Zidan memberikan tisu untuk Kiran.
" ada apa dengan Aurel kak hiks..."
" sudah tolong kamu diam, wajahmu sangat jelek jika menangis". ucap Zidan mengejek, Kiran justru tambah terisak.
Ibu panti sedang menyuapi Aurel makan sore, Aurel sudah siuman. juga ia mulai makan. Zidan dan Kiran menghampiri nya terlihat Aurel tersenyum senang.
" kamu kenapa dek bisa masuk rumah sakit ginj". Kiran mengusap kepala Aurel dan mencium nya.. Aurel hanya nyengir saja.
" kata dokter Aurel kelelahan". jawab ibu panti.
" kan sudah di kasih tau, Aurel tak boleh terlalu lelah jadi gini masuk rumah sakit lagi".
" maaf kak". Kiran menggantikan ibu panti menyuapi Aurel.
__ADS_1
" lekas sembuh dek besok ikut kakak Zidan tidak".
" kemana kak" tanya Aurel penasaran.
" lusa kak Tomi akan menikah akan ada pesta di rumah kak Yara, makanya Aurel harus sehat supaya bisa ikut ke acara kak Tomi.". ucap Kiran sembari menyuapi Aurel.
" Aurel mau ikut kak" Aurel tersenyum senang.
" habiskan makanannya minum obat supaya lekas sehat". Aurel mengangguk lalu menghabiskan makanannya.
" ibu pulang saja ke rumah kasihan anak-anak yang lain, biar Kiran yang jaga Aurel". ucap Kiran ia membenarkan selimut Aurel
" nanti malam saya temani untuk jaga Aurel Bu, sekarang ibu pulang saja saya antar sekalian Zidan pulang mau mandi" kemudian ibu panti ikut pulang Zidan, karena di rumah tak ada orang dewasa kasian anak-anak. ibu panti seorang janda suaminya meninggal sepuluh tahun yang lalu.
_
" umi, Zidan minta izin ya mau ke rumah sakit nanti Zidan menginap".
" siapa yang sakit nak". tanya umi.
" Aurel mi, tadi siang masuk rumah sakit. di sana hanya ada Kiran kasihan umi ".
" nak umi mau tanya, kamu menyukai Kiran. Umi lihat kamu selalu mengistimewakan Kiran, Aurel selalu kamu jadikan alasannya". ucap umi, Abi hanya diam saja mendengar ibu dan anak sedang mengobrol.
" nak umi ini ibumu umi juga bisa merasakan apa yang kamu rasakan, Kiran anak baik umi tau itu. khitbah lah nak jangan terlalu dekat kalian bukan muhrim, umi tau kalian tidak akan berbuat apa-apa namun umi akan lega jika kalian sudah menjadi mahrom". jelas umi.
" Kiran masih sekolah umi".
" adikmu KIA dulu saat menikah dengan Hamdan juga masih sekolah nak".
" itu beda umi, Zidan sudah menanyakan dulu umi tapi jawaban Kiran tidak ingin memikirkan hal itu sebelum ia lulus kuliah. ia tak mau di khitbah oleh siapapun".
" jadi kamu menunggu nya sampai ia lulus". tanya umi ingin dengar jawaban Zidan.
" iya umi, doakan Zidan ya umi. saat ini Zidan hanya bisa berdoa semoga Kiran itu jodohku kalau dia bukan jodohku Zidan minta sama Allah supaya di jadikan jodoh Zidan saja". Abi terkekeh.
" itu namanya maksa Zidan," ucap Abi sembari tertawa.
" uangmu banyak sekarang Zidan kamu bisa membiayai sekolahnya". ..
" andai itu mudah meyakinkan Kiran umi, ". Zidan lemas, umi mengusap kepala anak laki-laki nya itu.
__ADS_1
" jadi kamu menolak semua wanita hanya karena Kiran".
" Zidan juga ngga tau umi, setiap ta'aruf dan melaksanakan istigharah tak ada satu wanita pun yang masuk di hati zidan. dari pada nantinya akan menyesal atau tak ada kebahagiaan dalam rumah tangga Zidan mending Zidan mundur umi. maafkan Zidan umi belum bisa memenuhi keinginan umi". Zidan mengecup tangan uminya.
" mungkin memang Allah belum mempertemukan jodohmu nak, ".
" izinkan Zidan ya umi ke rumah sakit, kita tidak akan berdua ada Aurel juga para suster."
" baiklah nak, bawakan Kiran makanan nanti umi siap kan".
" trimakasih umi, doakan Zidan semoga Kiran bisa luluh sama Zidan"
" aamiin, semoga kalian lekas di pertemukan di pelaminan".
" aamiin".
Zidan makan malam bersama kedua orang tuanya, umi lalu menyiapkan makanan untuk Kiran supaya Zidan tak perlu mencari nya di luar.
" jangan lupa pakai strategi itik". Zidan dan umi melongo.
" apa itu Abi,". tanya Zidan.
" itik itu jalannya pelan tapi ia tak pernah tertabrak saat nyebrang beda dengan ayam larinya kenceng tapi sering tertabrak.".
" ada-ada saja Abi ini" Zidan dan umi tertawa.
"itik itu pelan tapi pasti, ia akan memperoleh tujuan yang di inginkan tidak terlalu tergesa-gesa. begitulah cara mendekati wanita, seperti umi mu dulu Abi mendekati nya perlahan sebelum khitbah. Umi mu tergila-gila duluan sama Abi, langsung deh umi menerima khitbah Abi".
" jadi sebelum nya Abi dekat sama umi".
"tidak Zidan kami tau batas, Abi hanya sering saja memberi hadiah umi mu, hanya kecil bunga di ilalang di pinggir jalan itu lewat teman Abi".
" Abi mu dulu ngga modal". Zidan tertawa.
" Dulu aku masih sekolah umi belum punya penghasilan, "
" gitu sudah berani-beraninya mengkhitbah umi".
" tapi umi mau kan". Abi menaik turunkan alisnya. umi tersenyum malu.
" sudah Abi Zidan mau pamit ke rumah sakit, silahkan jika Abi sama umi mau lanjut bermesraan". Abi terkekeh. Zidan lalu pergi ke rumah sakit.
__ADS_1
___
bersambung