Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 34 #zidan siuman


__ADS_3

" Yang memantaskan jodoh kita siapa yang tepat itu Allah dek, siapapun jodoh kita nanti. kita harus ikhlas menerima semua kebaikan maupun kekurangan nya. bersama-sama menjalin hubungan baik mengarungi bahtera rumah tangga penuh dengan rasa sayang".


___


Terlihat pergerakan oleh Zidan, kini ia sadar di sampingnya ada umi dan abinya. yang lainnya menunggu di luar, Zidan melenguh ia merasakan kepala nya yang pusing. Zidan mulai membuka mata di lihatnya sekeliling, yah dia ada di rumah sakit. Zidan hanya ingat saat itu ia ada di ruangan Tomi bersama Hamdan, Tomi dan Kiran setelah itu ia tak ingat apa-apa mungkin karena langsung pingsan tadi.


" Alhamdulillah sudah sadar nak". umi mendekat mengambil kan minuman untuk nya.


" umi, Zidan ada di rumah sakit". Zidan berusaha duduk lalu di bantu oleh Abi.


" iya tadi di kantor kamu pingsan".


" astaghfirullah, maafkan Zidan umi kepala Zidan sakit". ucap Zidan membenarkan posisi duduknya.


" kamu itu laki-laki Zidan seharusnya kamu lebih kuat, baru di beri cobaan gitu aja kamu udah kena virus cinta". ucap Abi.


" virus cinta apa itu bi".


" terlelap saja masih nyebut nama Kiran". ungkap Abi membuat Zidan melongo tak percaya.


" Abi jangan bercanda, Zidan sudah mulai melupakan Kiran Abi mana mungkin Zidan menyebut nama Kiran lagi."


" semakin kamu melupakan semakin ia terpatri dalam benak mu nak, kamu masih sangat mencintai Kiran. Kenapa kamu tak menanyakan Kiran kenapa ia memilih laki-laki lain dari pada dirimu. Abi yakin Kiran punya alasan tersendiri, perjuangan mu untuk mendapatkan Kiran belum maksimal". ucap Abi .


" tapi Abi bukankah jika wanita sudah ada yang mengkhitbah nya ia sudah terikat dengan khitbah itu, kita sudah tidak boleh mengganggu nya". Zidan termasuk laki-laki yang taat dalam agama dan ia tau hukum nya.


" iya betul yang kamu katakan, tikung di sepertiga malam bukankah itu bisa kamu lakukan. berdoa sama Allah ketuk pintu langit, bukankah kamu pernah bilang jika kamu akan memaksa untuk menjadikan Kiran sebagai jodohmu". Abi terkekeh mengingat kata-kata Zidan tempo hari.

__ADS_1


" iya Abi, tapi..."


" ya sudah sembuhlah dulu berfikir lah dengan baik, jangan kamu menyakiti dirimu sendiri dengan tidak makan dan minum menghabiskan waktu mu untuk bekerja tanpa ingat waktu. Bukannya kamu melupakan Kiran justru ia melekat dalam benakmu. berdzikir Zidan mengingat Allah." terang Abi.


Zidan termenung kata-kata Abi benar yang ia lakukan selama ini bukanlah berdzikir mengingat Allah. Zidan belum ikhlas dengan takdir yang terjadi dalam hidupnya.


Umi keluar memberitahu kepada semua jika Zidan sudah siuman. mereka senang kemudian semua ikut masuk, Kiran takut jika Zidan marah ia hanya berdiri mematung saja. Tomi yang melihatnya kemudian menarik kiran untuk ikut masuk.


" ayo dek ikut masuk".


" Kiran takut kak".


" udah ngga apa-apa jika memang dia cinta sama kamu ia pasti ngga akan marah, kakak yakin Zidan itu laki-laki yang bijak". ucap Tomi kemudian Kiran ikut masuk tapi ia berdiri di belakang Tomi.


" gimana kak masa sampai pingsan sih, malu-maluin kia saja". ucap kia merengut melihat kakaknya lemah hanya karena cinta.


" gitu aja kamu lemah sih Zidan, Cemen... laki-laki itu harus kuat penuh perjuangan". kata Tomi.


" iya seperti Tomi tuh tiga kali melamar baru di terima". Hamdan terkekeh mengingat sahabat nya itu yang butuh banyak sekali perjuangan demi Yara Istrinya.


Zidan melihat Kiran berdiri di belakang Tomi, sejak tadi Kiran hanya mendengar kan celotehan kakaknya itu. Zidan merasa iba ia kasihan dengan Kiran, beberapa hari setelah kejadian itu Zidan mengabaikan Kiran. bahkan ia marah dan menghindari Kiran, semua diam melihat tatapan Zidan ke arah Kiran.


" kenapa kamu nyumput di situ, tak apa aku tak marah denganmu. Kakak sudah mulai ikhlas dengan semuanya, maaf kakak tak menanyakan mu sebab dari semua tindakan mu". yang lainnya lega menghembuskan nafas pelan, Zidan tak marah dengan Kiran dan kini ucapannya lembut tidak seperti kemarin yang terus membentak Kiran.


" kita keluar yuk biar kia yang menemani Kiran bicara dengan Zidan". ucap Hamdan mereka memang butuh privasi, namun harus ada yang menemani tak boleh hanya berduaan di satu ruangan.


" aku akan tutup telingaku dengan headset". ucap kia ia ingin mereka leluasa berbicara dari hati ke hati.

__ADS_1


Kiran menarik baju Tomi ia takut, Tomi hanya mengusap kepalanya memberi tanda bahwa ia ada di luar jika ada sesuatu. Akhirnya yang lainnya keluar hanya tersisa Zidan, Kiran dan Zakia. seperti janji kia ia akan menaruh headset di telinganya tak ingin menguping.


" Mungkin semuanya sudah takdir, meskipun kakak berusaha menunggu mu hingga bertahun-tahun kalau memang akhirnya begini kakak akan ikhlas Kiran. kakak hanya berdoa semoga kamu bahagia dengan pilihan mu. dan terimakasih untuk cintamu, cinta tak harus memiliki bukan. tapi cinta membiarkan orang yang kita cintai itu bahagia itulah arti cinta sesungguhnya. Kakak tanya siapa laki-laki yang telah mengkhitbah mu, kamu bilang cinta sama kakak tapi justru memilih orang lain". tanya Zidan kemudian sembari memandang Kiran dengan mata Kiran yang sudah berembun.


" Maaf kak Kiran harus melakukan ini, maaf Kiran tak bisa menjelaskan". Zidan mengerutkan keningnya ia tau pasti ada yang tidak beres dengan diri Kiran.


" ya sudah tak apa kalau kamu tak cerita, di saat kamu menikah nanti maaf jika kakak tak bisa datang. kakak tak akan sanggup melihat mu bersanding dengan orang lain. karena sejak awal kamu adalah harapan kakak, kakak akan mencoba ikhlas maaf jika kakak harus menjauhi mu". Kiran menjatuhkan air mata nya yang sudah tak bisa di bendung lagi di matanya.


" Maafkan Kiran kak." Kiran sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


" Kakak minta sama kamu jangan menangis lagi ya, kakak ngga mau melihat mu menangis begini. Kakak tak bisa menghapus air matamu dengan tangan kakak sendiri". perih hati Zidan melihat Kiran menangis di hadapan nya.


" Kiran juga berharap kakak bahagia dengan pilihan kakak, Anisa ia cantik kak juga saliha sangat cocok sekali dengan kakak". Zidan menajamkan matanya melihat kiran.


" kamu sudah tau".


" tadi ia ke sini menjenguk kakak tapi sudah pulang". ucap Kiran.


" siapa yang memberitahu nya,". Kiran menggeleng.


" Yang memantaskan jodoh kita siapa yang tepat itu Allah dek, siapapun jodoh kita nanti. kita harus ikhlas menerima semua kebaikan maupun kekurangan nya. bersama-sama menjalin hubungan baik mengarungi bahtera rumah tangga penuh dengan rasa sayang".


" kamu juga wanita baik, makanya dulu kakak memilihmu tapi sayang kakak kalah. kurang kuat dalam berdoa". Zidan terkekeh ia menyadari jika dirinya mungkin tak pantas untuk Kiran.


" sekarang kamu pulanglah dek istirahat, kakak tidak apa-apa besok insyaAlloh kakak akan pulang. Ingat ya berdzikir biar hatimu tenang". Kiran mengangguk kemudian ia pamit dengan Zidan. setelah Kiran keluar Zidan baru menangis, rasanya pedih sekali.


____

__ADS_1


__ADS_2