
Pernikahan Kiran dan Tedy akan di laksanakan lusa, mereka harus cepat bergerak menyelesaikan masalah ini. Tak ingin jika Kiran harus bersedih selalu, apalagi kakak ipar dari sahabatnya itu sudah menunggu begitu lama.
Sampai di rumah Tedy, Rendi dan Fadil permisi kepada satpam. kebetulan masih berada di rumah Tedy tadi, ia belum berangkat ke kantor. Tedy masih asyik bermain bersama anak perempuan kecil dan seorang perempuan sedang menyiapkan cemilan. pukul sembilan pagi Rendi serta Fadil memencet tombol yang berada di samping pintu. bibik membukakan pintu.
" ia pak mencari siapa" bibi melihat keduanya dari atas ke bawah, tidak mencurigakan mereka memakai seragam clining servis AC.
" saya servis AC di panggil untuk datang ke rumah ini".
" sebentar saya panggilkan bapak ".
" kalau boleh tau siapa tuan anda". tanya Rendi.
" pak Tedy "
" oh ia pemilik rumah ini, sudah beristri".
" sudah dan punya satu anak, sebentar saya panggilkan ibu" Rendi mengangguk.
" Bener kan y si Tedy itu sudah beristri dan punya anak" fadil berbisik di telinga Rendi.
" diam lebih baik kita liat kenyataannya dulu kamu jangan berisik". Rendi memukul kepala Rendi.
" bu ada servis AC di depan". Laura mengerutkan keningnya heran.
" saya ngga panggil tukang AC semua masih baik AC di rumah". ucap Laura.
" mereka menunggu di depan Bu".
" ada apa ma". tanya Tedy.
" apa papa memanggil servis AC"
" tidak memang ada masalah dengan AC kita, yang mana". tanya Tedy.
" di depan ada tukang AC ".
__ADS_1
" mungkin mereka salah alamat ma, pak Tedy di komplek ini ada dua mungkin yang rumah di belakang kita. Ya sudah papa temui dulu". Tedy berjalan ke depan di ikuti oleh Laura istrinya, ya benar ternyata Laura adalah istri dari Tedy dan anak perempuan kecil itu adalah anaknya.
" Kami tidak memanggil tukang AC mungkin anda salah alamat, nama Tedy di sini ada dua yang satu rumahnya ada di belakang rumah saya".
" oh ya maaf pak, anda juga namanya pak Tedy dan ini istri anda".
" ya betul..." Rendi lega tanpa harus mereka masuk mengotak-atik AC nya padahal mereka sama sekali benar-benar tidak tau.
" maafkan kami pak, kami salah alamat. kami permisi". Tedy mengangguk kemudian ia menutup pintunya.
Rendi dan Fadil sangat senang, mereka berhasil mengorek informasi dan yang mereka datangi benar itu Tedy yang wajahnya mirip sekali dengan calon Kiran.
" yesss..." ucap Rendi.
" kurang seru pak penyidikan nya" ucap Fadil.
" sudah lah tak peduli aku seru atau tidak yang jelas Kiran tidak akan jadi menikah dengan Tedy bear itu". Rendi senyum-senyum menyalakan mobilnya kembali ke kantor. sebelum nya ia sudah mengirim pesan kepada Niko tentang penyamarannya hari ini.
" okelah pak". Fadil ikut tertawa melihat Rendi sejak tadi senyum-senyum.
Niko membaca pesan dari Rendi ia sangat senang lalu memeluk istrinya yang berada di samping nya. Anita aneh saja melihat sang suami terlihat bahagia. Niko sangat mengeratkan pelukannya kemudian ia menciumi wajah sang istri.
" mas kenapa sih mas".
" Semoga ada titik terang sayang, mas ikut senang semoga Kiran dan Zidan bisa bersatu. pernikahan Kiran bersama Tedy bear tinggal besok lusa, Rendi sudah mengetahui jika Tedy itu ternyata sudah punya istri dan anak". ucap Niko menerangkan.
" tapi ngga gitu juga mas, aku sesak sejak tadi kamu peluk terus". Niko terkekeh, saking semangatnya Niko memeluk istrinya hingga erat.
" maaf sayang mas terlalu bahagia, mas bisa membantu mereka. Kasihan melihat Zidan sampai masuk rumah sakit dan Kiran sekarang kurus".
" memang ngga enak menikah tanpa cinta". ucap Anita.
" maafkan mas sayang sudah memaksamu dulu" Anita tertawa ia menarik hidung suaminya yang mancung itu.
" kok jadi mas yang baper, Anita cinta banget sama mas. kalau ngga cinta ngga mungkin Anita mau jadi istri mas. I love you mas sayang". lagi ingin di manja. Niko tersenyum ia memeluk istri nya dengan erat, mereka jadi mengingat kisahnya sewaktu mau menikah. Silahkan yang kepo kisah Niko dan Anita, baca di novel sebelum nya " Mujahadah Cinta Zakia Humaira" sudah tamat.
__ADS_1
" makasih ya sayang". Anita mengangguk Niko melerai pelukannya.
_
Panti sudah di hias sedemikian rupa indahnya, Tedy mengirimkan yang terbaik untuk pernikahan nya besok. Kini taman panti menjadi begitu indah layaknya taman yang sangat indah di penuhi lampu dan bunga-bunga.
Anak panti berlari kesana kemari karena senang, baru kali ini di panti akan di adakan pesta meski tak ada undangan hanya tetangga saja. Tedy tidak ingin mengundang siapapun di situ, mungkin ia takut jika ketauan. Tedy hanya mengizinkan yang datang tetangga kanan dan kiri tak boleh lebih dari lima belas orang. Meskipun di komplek situ banyak orang yang tak mengenal Tedy, tapi jika orang luar yang di undang pasti akan ada yang tau.
Kiran berdiri melihat ke arah jendela, ia tersenyum melihat adik-adik panti yang terlihat bahagia meski luka di hatinya begitu dalam. tak bisa ikhlas sepenuhnya seperti apa yang ia harapkan, semakin ke sini cinta itu semakin terlihat terhadap Zidan.
" Nak Kiran makan dulu, ibu lihat sejak pagi kamu hanya makan sedikit. Kamu terlihat kurus sekali nak, ibu merasa sangat bersalah melihatmu begini". Kiran memegang tangan ibu lalu tersenyum.
" Biar kebayanya besok muat Bu, tak bagus juga jika pengantinya terlalu gemuk. Kiran masih kenyang tadi sudah sarapan".
" Ini sudah saatnya makan siang Kiran bukan lagi sarapan, makan ya nak". Aurel berjalan membawakan satu piring makanan untuk Kiran.
" kak makan dulu, kalau kakak tak makan kami juga tak akan makan". ucap Aurel.
" iya kami juga mogok makan". anak-anak panti di kondisikan oleh Aurel supaya bisa merayu Kiran.
" lihatlah mereka, kamu sudah berkorban untuk mereka sekarang mereka berkorban untuk mu." ibu panti menunjuk wajah-wajah anak panti itu.
" iya kak ayo makan kami temani". ucap Albi salah satu anak panti yang kini kelas 2 SD.
Kiran rasanya ingin menangis, sebentar lagi ia akan meninggalkan mereka tak tau kapan lagi bisa bertemu karena Tedy akan membawanya. kemudian Kiran meraih piring yang ada di tangan Aurel, Kiran makan di temani anak-anak duduk di lantai.
" Kalian adalah hidupku, kakak sangat berterima kasih".
" Kakak juga hidup kami, jika kakak sedih kami juga akan sedih".
" jangan tinggalkan kami kak hiks... hiks..." Indira gadis cantik yang masih berumur lima tahun itu menangis, Kiran mencoba menahan air matanya agar tak tumpah.
" doakan kakak ya bisa sering main ke sini terus". Suara Kiran tercekat sembari ia menyendokkan nasi ke mulutnya.
____
__ADS_1