Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 68 #gelisah


__ADS_3

Ergha berguling ke kanan dan ke kiri mengingat kata-kata Zidan tentang khitbah. Ergha hanya mengagumi Aisyah dalam diam, ia tak berani mendekati apalagi sampai mengkhitbah. Ergha merasa tak pantas bersanding dengan wanita yang begitu saliha, menurut ergha Aisyah itu sempurna. Senyumnya manis dan sopan, pintar juga tidak sombong selalu menghormati yang lainya.


" aagrrrhhh"


Ergha menutup wajahnya dengan bantal, ia pusing apalagi mengingat ancaman Zidan. laki-laki beneran atau banci, ia begidik mendengarnya.


" apa yang harus aku lakukan, aku tak punya nyali untuk mendekati Aisyah." ucapan Erga yang hanya ia dengar sendiri.


" Bagaimana ini hanya Aisyah yang bisa membuat hatiku bergetar". gumam ergha lagi dalam kamar nya.


" yah di situlah perjuangan Erga, kakak dekatkan terus diri kakak kepada Allah biarlah Allah yang mengatur kehidupan kakak bagaimana selanjutnya. Berharap kepada manusia itu akan terasa sakit Erga namun ketika kita berharap kepada Allah, Allah akan menuntun kita pada jalanNya di mana itu yang terbaik untuk kita"


Ucapan Zidan ini melayang terus dalam pikiran Erga, Erga langsung ke kamar mandi di ambilnya air wudhu kemudian ia shalat taubat. seperti yang pernah Zidan katakan ' bertaubat lah Erga agar kamu pantas bersanding dengan nya'. Erga mengangkat tangannya berdoa kepada Allah memohon ampun lalu di ambilnya kita suci yang masih bagus itu, keliatan saking bagusnya jarang dibuka. Semoga Erga saja ya tidak dengan pembaca yang sudah lusuh karena di baca setiap hari. Alhamdulillah.


Satu ayat dua ayat di baca hati Erga merasa tenang dan tenteram. tes,,, satu bulir air mata jatuh, ia merasakan adanya rasa nyaman hatinya terasa tenang bahkan kegelisahan itu berangsur menghilang. Hingga lima lembar Erga selesaikan membacanya, sebenarnya Erga bisa ia juga lancar membaca kitab nya hanya saja ia sedang futur. Mama Reyana selalu mengingatkan agar tak lupa membaca Alquran setiap hari, namun Erga sedang asyik dengan dunianya.


" ya Allah kenapa aku lalai bahkan aku lupa untuk membaca surat cinta darimu. Engkau berikan banyak kenikmatan untuk ku orang tua, keluarga yang utuh mama Reyana yang sangat baik hati bahkan kini engkau tambah lagi keluarga untuk ku. darinya aku mulai mengingat Mu kembali, maafkan Erga ya Allah". Erga menangis di atas sajadah nya.


Malam semakin dingin hanya terdengar suara katak yang bernyanyi, cicak pun hanya diam, Erga masih terjaga matanya masih melek, di ingatnya lagi wajah Aisyah yang tersenyum manis.


" ya Allah apa yang harus aku lakukan". lagi-lagi ia gelisah.


" khitbah aku akan mengkhitbah nya aku harus berani seperti apa yang kak Zidan katakan, wanita akan suka dengan laki-laki yang berani datang padanya untuk mengkhitbah ia akan beranggapan jika aku tak main-main". gumam ergha lagi dalam kamarnya sendirian.


Erga lalu berdoa dan memejamkan matanya untuk tidur. ia mulai tenang mendapat kan jawaban atas kegelisahan nya. Apapun jawaban yang akan Aisyah berikan setidaknya ia sudah berani datang untuk mengkhitbah nya. Erga tak akan merasakan kegelisahan seumur hidupnya.


***


Semua berkumpul di meja makan, pagi itu begitu ramai karena semua kumpul tanpa terkecuali. Erga turun paling belakangan m, semuanya heran hari ini Erga tak memakai baju kantor nya.


" kamu ngga ke kantor ga". tanya mama masih menyiapkan makanan untuk papa.


" Erga mau libur ma, hari ini saja ada hal penting". ucap Erga sambil tersenyum.

__ADS_1


" sepenting apa hingga kamu tak ke kantor "


" penting banget pa demi masa depan Erga". iza mencebik kali ini kakaknya Erga lebay.


" masa depan mu ada di perusahaan papa ga, kamu anak papa laki-laki satu-satunya siapa lagi kalau bukan kamu". ucap papa sembari menyeruput minuman juz jeruk hangat.


" kalau itu pasti pa, Erga akan terus bantu papa tapi ini masa depan yang lain pa," kembali Erga tersenyum yang paling manis.


" masa depan yang lain maksudnya apa". papa heran baru kali ini Erga mengatakan hal yang papa nya tak mengerti.


" seperti mama adalah masa depan papa, itu Lo pa maksud Erga". semua tertawa.


" oalah ga bilang aja soal wanita pakek kata pengganti segala." papa terkekeh. Erga nyengir.


" siapa kak kenalkan pada kami dong ". ucap iza penasaran.


" rahasia belum saatnya." iza mencebik.


" iya ma Erga selalu ingat, Erga tak akan lupa mama sayang. Erga tak akan pernah pacaran, belum ada kok satupun mantan Erga".


" alah bilang aja ngga laku kak". ucap iza lainnya tertawa.


" isshhh... adek awas jika kamu pacaran, kakak cincang halus pacar kamu." iza begidik.


" iza masih kuliah kak tak akan, iza juga ingat kok apa yang selalu mama katakan ".


" adek pinter..." Erga mengusap kepala iza.


" siapa sih kak, iza penasaran ".


" nanti jika sudah waktunya kakak kenalkan ya,".


" Erga saja kamu percaya dek, paling lara tetangga sebelah."

__ADS_1


" ya Allah kak jangan begitu, gini-gini Erga juga menjaga kualitas lo kak. kak ana dapet kak Rendi jelas abdi negara, kak Kiran dapet kak Zidan jelas pengusaha hebat, masa Erga dapet Lara ya ampun kak makin lara hati Erga". tawa renyah terdengar di meja makan.


" Mama tak pernah memandang status sosial Erga, mama hanya mau menantu yang menyayangi mu juga keluarga kita. Tak perlu kaya ataupun cantik Erga ". ucap mama mengingat kan anak-anaknya.


" iya ma tapi setidaknya yang pantas Erga ajak kondangan kan". semua terkekeh Erga kali ini bikin semua tertawa di pagi hari.


" huueeekkk". Kiran merasa mual ia berlari ke kamar mandi di ikuti Zidan.


" sayang kamu tidak apa-apa"


" aku mual kak". Zidan memijit tengkuk Kiran.


" kita ke dokter ya sayang".


" tidak apa-apa kak, kata mama biasa di pagi hari orang hamil akan mengalami begini. Kiran sudah reda ia kembali ke meja makan.


" sudah Erga lanjutkan makannya kamu liat tuh Kiran sampai muntah mendengarkan mu". ucap ana.


" kak Kiran emang begitu kak lagi ngidam, besok kakak kalau ngidam juga begitu".


" aamiin ". Rendi menyahut, ana tersipu malu.


" sudah-sudah lanjutkan sarapan nya kasihan nasinya dari tadi mendengarkan kalian". ucap papa.


" papa mau ke kantor ". tanya mama.


" ngga ma, papa mau libur dulu. Masih lelah juga papa ingin bersama anak dan menantu papa mumpung mereka di sini." mama senang itu yang mama harapkan dari kemarin, ternyata papa bisa membaca pikiran mama.


" iza kuliah ". tanya mama lagi, itu kebiasaan mama tiap pagi mengabsen semuanya.


" tidak ma tak ada jam kuliah iza mau sama kakak-kakak di rumah." senyum itu terukir dari bibir mama, tampak kebahagiaan di wajah mama. papa yang melirik melihat ke arah mama juga ikut bahagia.


__

__ADS_1


__ADS_2