Melepas Lajang

Melepas Lajang
Bab 60 #musuh


__ADS_3

Zidan pulang setelah semua pekerjaan di kantor selesai, Kiran sudah menunggunya di rumah. ana sudah pulang setelah ia selesai di bawanya satu loyang kue untuk Rendi suaminya. ana bahagia bisa menikah dengan laki-laki yang kini menjadi Suaminya, ia juga mendapatkan keluarga baru Kiran sangat menyayangi nya.


Mendengar suara mobil suaminya pulang Kiran sangat bahagia, di rapikan nya baju dan jilbabnya ia lalu keluar menyambut Zidan yang pulang dari kantor. Senyum terukir dari Zidan saat melihat istrinya sudah menunggu nya di depan. Senyum itu di balas oleh Kiran, ia salim lalu Zidan mencium kening istrinya.


" umi bahagia bi melihat mereka bahagia". ucap umi sembari merapikan buah di meja makan.


" Alhamdulillah umi doa yang umi lantunkan setiap malam Allah ijabah".


" semoga kita juga cepat punya cucu dari mereka ya bi, umi ingin rumah ini semakin ramai.". harapan umi melihat kedua pasangan bahagia itu.


" iya umi kita doakan selalu ya". umi mengangguk ia tersenyum.


" kak mau langsung mandi". tanya Kiran.


" iya sayang kakak lelah". Kiran mencoba melepaskan jas milik suaminya. Kiran ingat jika tadi suaminya tak memakai jas dan baju itu.


" kakak tadi mandi di kantor." Zidan menarik istrinya, lalu jatuh ke pangkuan Zidan. di kalungkan nya tangan Kiran ke leher Zidan.


" kakak kenapa ini memar mukanya". ketauan juga memarnya masih membekas.


" ada kejadian tadi sebelum kakak sampai di kantor sayang". Zidan menyusupkan wajahnya ke dada sang istri.


" apa. kakak kenapa, muka kakak memar gini". Kiran mengusap wajah Zidan pelan.


" jangan panik kakak tidak apa-apa, sebenarnya kakak tak mau cerita tapi memar ini tak bisa kakak sembunyi kan. kakak tak mau istri kakak ini khawatir seperti ini". Zidan mencubit hidung Kiran.


" iya tapi gimana bisa kakak memar, pastilah Kiran khawatir kak. kakak ini limited edition tak ada di dunia ini seorang Zidan Rafasha suami Kiran Adzkia ". Zidan memeluk pinggang Kiran.


" iya sayang, tadi ada preman yang menghadang kakak. empat lawan satu jadi kakak kena tinju tapi masih untung kebetulan Hamdan dan Tomi lewat mereka akan ke kantor ". ucap Zidan sembari memejamkan matanya merasakan hangatnya pelukan istri. dimanapun kita pergi pulang adalah tempat kembali yang paling nyaman.


" preman. ia mau minta apa kak, beri saja kak yang penting kakak selamat ".


" sepertinya ia mau nyawa kakak". Kiran langsung menutup mulutnya terkejut ia tau jika suaminya ini orang baik tak pernah ia punya musuh.


" astaghfirullah kakak punya musuh di luaran sana".


" kamu taukan sayang gimana kakak, separuh hidup kakak bersamamu dan kakak hanya menghabiskan waktu di kantor dan keluarga mana sempat kakak punya musuh".


" lalu siapa kak". tanya Kiran lagi.

__ADS_1


" kakak mau mandi ya sudah gerah nanti lagi sayang, ngga enak peluk kakak masih bau asem gini". Zidan melepaskan pelukannya ia lalu berdiri untuk mandi. kiran menyiapkan baju untuk sang suami.


***


Ke empat preman itu mendatangi bos mereka, bos mereka tau jika gagal misi hari ini. Keempat preman dengan badan kekar menunggu di ujung jalan kota yang begitu sepi di lewati oleh warga. Bos datang dengan mobil mewahnya menemui suruhannya.


" kenapa kalian bisa gagal menghadapi satu laki-laki saja. kalian ini laki-laki atau wanita," teriak bos.


" maaf bos ia di bantu temannya "


"lakukan dengan cara lain esok lagi aku ingin korban hidup-hidup kalian bawa ke sini".


" baik bos besok akan coba kami hadang lagi orang itu".


" aku tak akan membayar kalian jika pekerjaan kalian tak beres" . keempat preman tersebut mengangguk mereka hanya di beri uang untuk transpot saja.


" dasar bod** begitu saja tak becus" bos itu berjalan meninggalkan mereka.


" bagaimana, apa yang akan kita lakukan".


" sebenarnya sangat mudah jika kita bisa mendapatkan wanitanya itu adalah kelemahan baginya"


" jadi hanya pemuda itu tujuan kita". ..


" yah hanya itu". ucap preman atas diskusi nya.


***


" om ..." teriak Alif berlari menghampiri pamannya Zidan.


" Hay jagoan makin besar saja".


" Tante Kiran kenapa di sini tak pulang-pulang,". semua menahan tawa Alif secara halus mengusir Kiran yang duduk di samping Zidan.


" ini rumah Tante Kiran juga sayang".


" inikan rumah kakek dan nenek juga om Zidan, kenapa tiba-tiba jadi rumah Tante Kiran". Alif mulai penasaran ia melihat sejak kemarin Kiran tak pulang.


" kamu tau Abi dan umi nak". Alif mengangguk.

__ADS_1


" seperti itulah sekarang om Zidan dan Tante Kiran, dulu umimu juga tinggal di sini tapi setelah umi menikah dengan Abi ia harus ikut Abi di bawa ke rumah " terang Zidan.


" jadi kemarin itu om Zidan nikah beneran sama Tante Kiran,". semua tertawa mendengar celotehan Alif anak Hamdan.


" memang nya pernikahan itu main-main ".


" iya, seperti di sekolah Alif mereka menikah tapi hanya mainan".


" tidak sayang jika sudah dewasa, nanti kamu juga akan menikah". Alif mengangguk angguk kepalanya, anak itu mulai jiwa keponya muncul.


" Alif mau, Oma bawa apa nih makanan kesukaan Alif". Alif lalu berlari menemui Oma nya. umi bawa Alif kebelakang agar ia tak mendengar pembicaraan orang dewasa.


" gimana keadaan kakak, mas Hamdan cerita kakak di serang preman".


" Alhamdulillah kakak tidak apa-apa dek, kebetulan Hamdan dan Tomi lewat".


" kakak tau siapa yang ada niat untuk memukuli kakak". tanya kia penasaran.


" tidak dek, kakak mana tau kakak tiba-tiba saja di serang".


" tapi kakak memar".


" khawatir amat si sayang, ngga khawatir sama suamimu tadi juga mas kena pukul ". Kiran dan Zidan menahan tawa melihat Hamdan cemburu dengan Zidan.


" kan mas Hamdan baik-baik saja tidak apa-apa, liat kak Zidan memar mukanya ".


" semua itu tergantung amal dan perbuatan sayang, Zidan itu sudah ada yang mengkhawatirkan tuh istrinya ". Hamdan hanya mencoba mencairkan suasana saja. Zidan meremas tangan Kiran, ia begitu senang kini Kiran selalu di samping nya.


" iya ya mas, Zidan itu kakak kia wajarkan kia khawatir dulu saat belum bersama mas Hamdan kak Zidan yang selalu melindungi kia. sampai ada yang mengira kia istri kak Zidan". Zidan menutup mulutnya mendengarkan kia berceloteh itu mengingat kan Hamdan saat pertama kali ia mengira Zidan suami kia.


" jangan bahas itu" Hamdan malu jika ingat masa itu, masa terbodohnya.


" seharusnya kamu bersyukur Hamdan, kia itu dari kecil aku Lo yang menjaga. giliran tumbuh dewasa jadi gadis cantik kamu yang memilikinya, enakan kamu".


" aku juga menjaga kiran ".


" tapi kan kamu menjaga Kiran setelah Kiran besar".


" tapikan sama saja kini kamu tinggal mengambilnya". Kiran dan kia hanya geleng-geleng kepala melihat Zidan dan Hamdan bertengkar seperti itulah mereka selalu, menunjuk kan kasih sayang nya. bukan serius hanya mengisi masa ngobrolnya.

__ADS_1


___


__ADS_2