
Cinta itu tak bisa di paksa kan. perasaan cinta itu datang dengan begitu saja, tanpa kita yang memintanya.
___
Malam ini geng Hamdan berkumpul, mereka bertemu di kafe milik Hamdan. Setelah mereka mengikuti kajian ba'da Maghrib ustadz Subkhi, selepas shalat isya mereka berkumpul. Tentunya sudah izin dengan pasangan nya masing-masing, Hamdan, Tomi, Aris, Niko dan Rendi hanya berlima.
" kemana Zidan ia tak datang". tanya Aris memperhatikan sejak tadi tak ada bayangan zidan sekalipun.
" Tadi aku mampir ke rumahnya kata umi masih di kantor, emang pekerjaan apa yang penting hingga Maghrib belum pulang". ucap Hamdan sembari menelisik, Hamdan tak pernah menyuruh karyawan nya lembur hingga larut malam. jikapun lembur harus ada izin dari Hamdan.
" Dia belum pulang, ya ampun Zidan sudah satu minggu ini ia selalu begitu. Jika waktu pulang ia belum pulang aku juga tak tau, padahal pekerjaan kita biasa saja ngga ada yang urgent." Tomi menjelaskan tentang Zidan satu Minggu ini yang lembur terus.
" terus apa yang membuatnya hingga lembur, ada masalah apa dia". Hamdan bingung bahkan ia tak tau hal ini.
" adik ipar tak perhatian, kakaknya sedang gusar malah tak tau". ucap Niko menimpali.
" bukan begitu aku benar tak tau jika ia ada masalah, kamu tau sendiri kan bagaimana Zidan ia selalu menutup diri." Hamdan masih berfikir ada apa dengan kakak iparnya bahkan kia juga tak mengatakan sesuatu pun.
" Lagi galau mungkin belum dapat jodoh, di antara kita ia yang paling tua juga belum menikah. Sama seperti aku tapi umurku masih standar tidak seperti Zidan bahkan sudah punya dua keponakan." ucap Rendi sembari menyeruput minumannya, cappucino kesukaannya.
" Ia sudah taaruf beberapa kali tapi tak pernah ada yang cocok satu pun, bahkan ia menolaknya". Hamdan kembali menjelaskan kepada teman-teman nya bukan karena Zidan tak laku tapi belum ada yang cocok dengannya.
" kenapa dia harus sulit memilih, apa yang berta'aruf dengan nya hanya standar kabupaten saja". Aris terkekeh mendengar ucapan Tomi.
" tidak, standar nasional bahkan standar internasional juga ada. tapi entahlah apa yang ia cari". sanggah Hamdan.
" Cinta,,,". kata Niko.
"Cinta itu tak bisa di paksa kan. perasaan cinta itu datang dengan begitu saja, tanpa kita yang memintanya. " Niko melanjutkan ucapannya.
__ADS_1
" benar sih tidak salah, menjalani hidup berumah tangga dengan adanya cinta akan lebih berwarna". Aris senyum-senyum ingat Aulia istri nya. Rendi mencebik mendengar bualan Aris dan Niko.
" Gini saja tom kita tak bisa memaksa ia untuk berbicara, kita cari sendiri solusinya. kamu cari tau dia lewat jalur kantor, aku akan coba tanya umi dan Abi. mereka pasti tau tentang Zidan, Zidan tak akan pernah menyembunyikan sesuatu pun kepada umi.".
" oke Dil setuju, kita main detektif-detektifan". Tomi terkekeh.
" seharusnya itu adalah bagian ku". Rendi tak di ajaknya.
" ini urusan kekeluargaan Rendi bukan kriminal, untuk sementara biar aku dan Tomi yang menyelidiki. nanti jika memang aku butuh kalian, pasti kalian akan aku libatkan". terang Hamdan ia akan mencobanya bersama Tomi diam-diam.
" oh ya Niko, bisa kita menyadap handphone Zidan". tanya Rendi.
" bisa insyaAlloh".
" okey kita bisa lanjutkan misi, aku menunggu instruksi dari kalian". Rendi juga penasaran dengan Zidan kenapa sikapnya kelihatan sekali berubah.
Zakia tak akan tidur jika suaminya belum pulang, ia masih menunggu di ruang televisi sembari mengulang-ulang hafalannya. Terdengar suara motor milik Hamdan, kali ini ia tak pakai mobil. cuaca terang dan katanya kangen kepengen naik motor gedenya, yang ia datangi malam itu tak begitu jauh dari rumah. Setelah mengucap salam dan kia menjawabnya mereka berlalu ke kamar nya.
" sayang jika ngantuk langsung tidur saja tak perlu menunggu mas" kata Zidan sembari melepaskan jaketnya kia pun membantu.
" kia khawatir jika mas belum sampai rumah". jelas kia, Hamdan justru menarik pinggang kia agar mereka dekat dan lebih merapat.
" tak apa sayang, tidur dulu saja.". Hamdan mulai menatap istrinya dengan intens. Hembusan nafas Hamdan mengenai wajah kia yang membuatnya mulai meradang, hangat. Hamdan tau jika istri nya juga terbawa hawa panas, kia selalu melayani suaminya dengan penuh kebahagiaan.
" Wudhu dulu yuk ". ajak Hamdan melerai pelukannya. kia tersipu malu ia tersenyum lari ke kamar mandi. Hamdan selalu menggodanya.
Kia sudah berganti dengan pakaian tidur begitu juga dengan Hamdan. Hamdan dan kia tidur dengan saling memeluk, merasa nyaman.
" sayang ada sesuatu dengan zidan kah". tanya Hamdan mencoba mencari tau tentang diri Zidan.
__ADS_1
" Kia tidak tau mas, selama ini begitu kan kak Zidan sedikit tertutup. memang ada apa mas."
" tidak apa-apa ". kia tak mau bertanya lagi, jika tentang Zidan kia akan mencari tahu sendiri.
" tidur yuk ngantuk mas, kamu juga tak bisa malam ini di ajak partner". kia terkekeh benar saat ini kia sedang haid. ia menelusup kan kepalanya di dada milik suaminya.
***
Malam ini zidan pulang setelah isya, membuat kedua orang tuanya khawatir. sudah satu minggu ini Zidan melakukan hal yang sama.
" Lembur lagi nak". tanya Abi melihat badan lelahnya Zidan.
" iya Abi ada sedikit yang harus Zidan selesaikan".
" sudah satu minggu ini kamu pulang malam terus, jaga kesehatan juga jangan kamu habiskan waktumu untuk bekerja seperti itu". Zidan terdiam ia tau abinya pasti mengetahui yang di alami Zidan. Yang paling tau Zidan adalah abinya, karena Zidan juga begitu dekat dengan abinya.
" iya Abi maaf ". tak ada yang bisa Zidan katakan kecuali kata maaf.
Zidan masuk ia bebersih setelah bersih langsung aja ke kamar. Memandang atap yang sejak tadi sama, namun bukan Anisa yang ada di angan tetaplah Kiran yang terbayang. Senyuman nya canda tawanya, bahkan semuanya Zidan menyukai.
" astaghfirullah". Zidan mengusap kasar wajahnya lalu ia menarik selimut hingga kepalanya, berharap wajah Kiran hilang dari bayangannya. Semakin Zidan berusaha melupakan semakin lekat angannya.
Hal yang sama di alami oleh Kiran, ia terus menerus mengingat Zidan. setiap ia shalat malam selalu mendoakan Zidan agar baik-baik saja. Kiran semakin khawatir dengan Zidan, jika ia terus menerus lembur kesehatan nya pasti akan semakin menurun.
" ya Allah berikanlah kesehatan untuk kak Zidan, ikhlaskan hatinya untuk menerima takdir dari Mu. Hamba sangat merasa bersalah, hamba seorang munafik. Hamba mencintai kak Zidan ya Allah, jika ini yang terbaik untuk Kiran jauhkan Kiran dari kak Zidan. Hapus nama Kiran dalam hati kak Zidan begitupun sebaliknya hapus nama kak Zidan dari hati Kiran agar kami tak melakukan dosa zina hati". Kiran menangis di atas sajadahnya di malam yang dingin ia bersujud hanya Kokok ayam dan suara jangkrik yang terdengar.
___
bersambung
__ADS_1